Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Orang yang sama.


__ADS_3

Terlalu asyik mengobrol dengan Annisa membuatku tidak memperhatikan sekitar.


Bbuukk..


Aku tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat laporannya jatuh berserakan dilantai.


"Maaf.." Aku membantunya memunguti laporannya.


"Tidak apa-apa.." Katanya ikut memunguti laporannya lembar demi lembar. "Loh Salwa.."


Aku menengok mendengarnya memanggil namaku.


"Ka Kak Farhan?" Aku sedikit terkejut melihat Farhan di depanku. Sudah berapa lama aku tidak berkomunikasi dengan Farhan sampai aku tidak lagi mengenali suaranya.


"Kamu kuliah disini?" Tanyanya tersenyum.


Aku hanya mengangguk


"Wah, kok bisa kebetulan kita satu kampus. Fakultas apa?"


"Farmasi.."


"Haha, sampai jurusannya juga sama. Kebetulannya sangat lucu.." Katanya tertawa kecil sambil terus memunguti laporannya.


Aku sedikit bingung, kenapa bisa aku bertemu dengan Farhan disini setelah satu tahun tidak saling mengabari. Kenapa dikampus ini dan kenapa dengan Fakultas yang sama. Aku tahu Farhan memutuskan pindah Universitas tapi aku tidak menyangka kalau dia lanjut kuliah disini.


"Aku duluan ya, laporanku harus segera diperiksakan.."


"Oh oke.." Jawabku dengan masih kebingunan.


Farhan berlalu sambil berlari kecil membawa laporannya. Aku masih diam tertegun berusaha mencerna apa saja yang baru terjadi.


"Salwa, kamu kenal dia?" Pertanyaan Annisa menyadarkanku.


"Ah.. I iya.. Dia kak Farhan, kakak kelasku sewaktu SMA" Jawabku, aku tidak mungkin bilang pada Annisa kalau dia adalah mantanku atau lebih tepatnya selingkuhanku.


"Oh.. Yaudah ayo ke kantin."


Aku dan Annisa kembali melanjutkan perjalanan menuju kantin.


.


.

__ADS_1


.


Perkuliahan hari ini selesai, mungkin karena baru perkenalan mata kuliah jadinya jam kuliah hanya sebentar.


Aku berdiri depan gerbang kampus menunggu Grab yang sudah aku pesan tadi. Karena sekarang aku harus kuliah jauh dari Ibu dan Ayah jadi tidak ada lagi yang menjemputku. Aku juga tidak mungkin menggunakan sepeda disini sedang Ayah dan Ibu masih tidak mengizinkanku untuk mengendarai.


"Salwa.."


Aku menoleh, kulihat Farhan berjalan menghampiriku. Aku sebenarnya sedikit canggung mengobrol dengan Farhan, entah karena lama tidak mengobrol atau karena sesuatu hal yang terjadi diantara kami setahun silam.


"Lagi ngapain di depan gerbang begini?"


"Lagi nunggu grab kak" kataku sambil mencoba tersenyum.


"Kamu pesan grab? Mau pergi kemana?"


"Aku mau pulang.."


"Oh sudah mau pulang?"


"Iya, kuliahnya cuman sebentar hari ini"


"Iya masih sebentar, kan baru perkenalan matakuliah saja.."


"Kamu tinggal dimana disini? Orangtuamu ikut kesini?"


"Dekat Rumah sakit umum daerah  kak, aku tinggal sendiri disini karena Ibu gak bisa nemenin ikut tinggal disni. Cuman sesekali Ibu ngejenguk aku disini." Jawabku. Aku belum tau banyak daerah sini karena masih baru. Aku hanya mengingat kalau sekitar tempatku tinggal ada Rumah sakit umum daerah.


"Wah gak jauh dari tempatku tinggal. Mau ikut balik sama aku? Kita searah" Katanya menawarkan.


Aku terdiam sejenak memikirkannya.


"Jangan sungkan dan canggung begitu. Kita kan berakhir baik-baik jadi gak ada salahnya kalau kita saling membantu disini" Jelasnya yang seolah bisa membaca ekspresiku.


"Ta tapi nanti aku ngerepotin kakak.."


"Ya gak lah, kan kita searah.."


Aku kembali berfikir sejenak.


"Jadi gimana?" Tanyanya lagi.


"Maaf, karena harus merepotkan kakak.."

__ADS_1


"Gak apa, besok-besok kan bisa saja aku yang nerima pertolongan dari kamu"


Aku akhirnya pulang bersama Farhan hari ini. Farhan mengantarku pulang sampai dirumah tempatku tinggal sementara disini selama kuliah.


"Kamu kenapa bisa kuliah disini?" Tanya  Farhan memecah keheningan sambil menyetir.


"Aku cuman milih Universitas yang gak jauh banget dari rumah, udah ngedaftar di beberapa Universitas lainnya dan keterimanya disni" Jawabku.


Sebenarnya aku sedikit canggung berbicara dengan Farhan seperti ini, tapi sepertinya Farhan biasa saja. Mungkin karena dia benar-benar sudah menganggapku sebagai teman.


"Hehe sudah seperti takdir saja bisa ketemu kamu disini, kuliah dikampus yang sama jurusannya juga sama"


Aku tersenyum saja menanggapinya, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkan kecanggunganku didepan Farhan.


"Kamu tinggal sendiri kan disini?" Tanyanya.


Aku mengangguk.


"Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang ke aku, selagi aku bisa aku pasti bantuin kamu. Kalau ada tugas yang kamu kurang mengerti kamu juga bisa tanya ke aku. Hehe aku gak terlalu pintar sih, tapi setidaknya ada lah yang bisa aku ajarkan. Kalau masih seputar mata kuliah semester satu aku masih bisa kok" Katanya tertawa kecil.


"Iya kak.. Makasih.."


"Aku juga punya beberapa handbook dan beberapa buku pelajaran dasar Farmasi, kalau kamu butuh kamu bisa bilang ke aku, nanti aku bawakan.."


"Iya kak,.."


"Nomorku masih yang dulu Salwa, jadi kapanpun kamu butuh kamu bisa ngehubungi aku.." Katanya melihatku dengan tersenyum.


"Makasih kak.." Jawabku sambil balas tersenyum.


.


.


Malam menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit, karena baru pindah dan tidak terbiasa memasak, aku jadi lebih sering dilevery makanan atau makan diluar ketimbang memasak, toh aku cuman sendiri. Masak sendiri dan makan sendiri rasanya tidak enak sekali. Aku menyiapkan peralatan kuliahku untuk besok, dari catatan sampai baju yang sudah disetrika dan siap dipakai besok, tidak lupa juga aku membereskan beberapa peralatan lab sederhana yang tadi diberikan pihak kampus untuk digunakan pada praktikum percobaan pertama nanti. Ditengah kesibukanku membereskan peralatan kuliah sesekali aku masih kepikiran dengan apa yang tadi siang, seperti sebuah takdir yang menuntunku kembali bertemu dengan Farhan."Kenapa harus di kampus yang sama?" Pikirku berulang-ulang.


Aku kembali mengingat waktu-waktu yang kulalui bersama Farhan dulu. Dari bagaimana kami yang awalnya berusaha mejadi teman setelah sama-sama berusaha menghilangkan kecanggungan masing-masing karena Farhan yang mengungkapkan perasaannya. Bagaimana Farhan yang selalu menyembunyikan perasaannya padaku yang pada akhirnya dia ungkapkan lagi setelah melihatku terluka karena perbuatan Fauzi. Ah waktu itu aku sendiri yang memilih terluka karena menolak mendengar penjelasan Fauzi, andaikan hari itu aku bisa sedikit saja menjadi orang yang berfikir jernih mungkin kesalahpahaman antara aku dan Fauzi tidak akan terjadi dan hubunganku yang salah dengan Farhan tidak akan pernah ada.


Mengingat semuanya kembali membuatku teringat dengan Fauzi. Ah iya andai saja waktu itu aku memiliki kesabaran untuk mendengar penjelasan Fauzi, tidak akan ada Farhan yang datang menemuiku menangis ditengah jalan dan tidak akan ada hubunganku dengan Farhan. Andaikan itu tidak pernah terjadi, mungkin saja saat ini aku masih bersama dengan Fauzi.


Aku meraih ponselku, aku kembali mencoba menghubungi nomor Fauzi dengan beraharap nomor itu bisa tersambung. Tapi lagi, hanya kekecewaan yang kudapatkan aku masih belum bisa menghubungi nomor Fauzi. Entah nomorku yang masih masuk dalam blacklist di ponsel Fauzi atau Fauzi sudah menggunakan nomor yang lain sekarang. Iya aku kecewa, namun mungkin karena sudah terlalu sering panggilanku tidak sampai, aku sudah tidak terlalu kecewa seperti sebelumnya.


Sekali lagi aku berfikir, kenapa aku sampai harus bertemu dengan Farhan lagi disini? Tapi sudahlah, memang sudah jalannya aku bertemu dengan Farhan lagi disini, tentang apa yang terjadi sebelumnya seharusnya itu tidak menjadi sesuatu yang menganggu pikiranku.

__ADS_1


__ADS_2