
Fauzi sudah memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu menahu tentang hubungan Salwa dan Farhan, untuk sekarang itu adalah pilihan yang terbaik menurut Fauzi. Fauzi melangkah menuju kamar rawat inap Salwa sambil terus berusaha mengontrol perasaannya dan ekspresi wajahnya. Dan lagi, saat tiba didepan kamar Salwa yang Fauzi temui adalah Salwa yang sedang berduaan dengan Farhan. Karena tidak ingin mendengar hal apapun yang Farhan dan Salwa bahas, Fauzi dengan cepat masuk dengan izin agar Salwa dan Farhan tahu kalau dia ada diluar.
Fauzi meneruskan rencananya untuk pura-pura tidak tahu, Fauzi pura-pura tidak ingat bahwa sebelumnya Farhan sudah ada di kamar Salwa, Fauzi ingin membuat keduanya menjadi tenang agar lebih mudah menebak perasaan mereka agar Fauzi bisa tahu untuk menentukan langkah apa yang akan dia ambil setelahnya.
Fauzi setelah mendapat izin dari Ibunya dan juga Ibu Salwa dia memutuskan untuk menginap di rumah sakit menemani Salwa, meski Fauzi berusaha berpura-pura tidak tahu semuanya tetap saja ada waktu dimana Fauzi termenung dengan pandangan kosongnya yang harus ditegur dulu oleh Salwa baru kembali sadar.
Salwa akhirnya tertidur setelah meminum obatnya untuk malam ini. Fauzi terus-terusan memandang wajah Salwa dan lagi airmatanya menetes, dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang tertidur pulas didepannya saat ini, orang yang sangat dia cintai sekarang sedang berkhianat dan menjalin hubungan spesial dengan sahabatnya sendiri.
Entah karena apa Salwa terjaga membuat Fauzi harus berpura-pura tidur, Fauzi dengan cepat meletakkan kepalanya ditepi brankar dimana Salwa berbaring. Fauzi merasakan Salwa yang terbangun dan melihat bekas sisa airmatanya. Fauzi kembali berusaha mengendalikan perasaannya sebelum pura-pura terbangun.
"Loh kok kamu bangun sayang??" Tanya Fauzi berpura-pura meregangkan ototnya agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur.
"Kamu nangis?" Tanya Salwa. Terlihat jelas dimata Fauzi bagaimana Salwa khawatir melihatnya yang sedang menangis.
"Ah aku hanya mimpi buruk.." Jawab Fauzi berbohong.
"Cuman mimpi buruk?" Tanya Salwa memperjelas jawaban Fauzi.
"Biasa kan? Salwa pasti juga pernah kalau mimpi buruk sampai kebawa nangis.." Jawab Fauzi mencoba tersenyum.
"Kamu tidurnya gak baca doa.."
"Hehe mungkin, tapi aku senang.."
"Kok senang.."
"Ya karena cuman mimpi, aku udah bangun kayak sekarang hal yang buruk dalam mimpiku udah hilang.."
"Memangnya mimpi apa?"
"Hem.. pokoknya mimpi buruk, yang jelas sekarang kenyataannya kamu masih ada sama aku" Jawab Fauzi tersenyum.
__ADS_1
"Kenyataannya seperti itu? Jadi mimpimu?"
"Kebalikan dari kenyataan yang sekarang.."
"Aku hilang?" Terlihat jelas ekspresi Salwa yang sedikit ragu-ragu
"Kamu pergi ninggalin aku.. Udah gak usah dibahas, toh faktanya sekarang kamu masih ada sama aku.." Jawab Fauzi tersenyum, tapi lagi airmatanya menetes. Fauzi belum sepenuhnya bisa mengendalikan perasaannya.
"Ozi.. Kamu nangis lagi.." Tanya Salwa dengan khawatir dan bingung.
"Haha aku juga gak tau, ini airmata kenapa keluar terus sih.." Kata Fauzi tertawa ringan masih menyembunyikan ekspresi sedihnya namun masih terus-terusan terbawa dengan perasaan sedihnya yang membuat airmatanya lagi-lagi menetes.
"Mimpinya seburuk itu?"
Fauzi mengangguk dengan airmatanya yang masih saja terus menetes. "Kehilangan kamu itu sangat menyakitkan Salwa, bahkan meskipun itu cuman sekedar mimpi. Jadi tolong apapun alasanmu jangan hilang dari kehidupanku" Fauzi seolah-olah sedang membahas mimpinya padahal dia sedang serius mengatakan agar Salwa tidak pergi meninggalkannya. Fauzi tidak lagi bisa menahan airmata juga ekspresinya, sekarang dia benar-benar memperlihatkan bagaimana sedihnya dia, bagaimana takutnya dia dan bagaimana sakitnya perasaannya saat ini.
Salwa sempat tercengang melihat Fauzi yang menangis di depannya.
"Sudah jangan dipikirkan, aku gak akan ngebuat mimpi burukmu itu menjadi kenyataan" Kata Salwa mencoba menenangkan Fauzi.
Fauzi meraih dan memeluk Salwa. "Makasih.." Katanya lirih dengan penuh harapan Salwa benar-benar hanya akan menjadi miliknya seorang.
Fauzi berusaha menenangkan perasaannya dibantu oleh Salwa, malam terasa panjang dan Salwa mulai membuka pembahasan mengenai perselingkuhan. Fauzi tahu betul kalau apa yang ditanyakan Salwa itu untuk melihat seperti apa pandangan dirinya mengenai perselingkuhan dan lewat jawabannya Fauzi berusaha menggambarkan seperti apa sebenarnya yang terjadi. Fauzi berusaha tahu sebenarnya bagaimana perasaan Salwa terhadap dirinya dan bagaimana perasaan Salwa terhadap Farhan. Fauzi berusaha memberikan jawaban yang bisa mengarahkan Salwa untuk mengambil sebuah keputusan memilih bersamanya atau meninggalkannya dan pergi bersama Farhan. Fauzi memberikan jalan pada Salwa untuk dia bagaimana mengetahui perasaannya yang sebenarnya, apakah masih pada Fauzi atau benar sudah berpindah pada Farhan ataukah hanya menjadikan Farhan bagian dari pelarian perasaannya selagi jauh dari Fauzi.
Fauzi dan Salwa terus-terusan membahas masalah bagaimana perselingkuhan itu hingga waktu hampir pagi, Fauzi yang kelelahan yang seharian tadi berlari-larian belum lagi sakit perasaannya akhirnya tertidur pulas. Ada perasaan lega di hati Fauzi setelah menjelaskan semua arahannya pada Salwa, Fauzi berharap Salwa mengerti dengan apa yang dia maksud.
.
.
.
__ADS_1
.
Hari-hari berlalu, terakhir Fauzi menemani Salwa di Rumah sakit dan memaparkan pandangannya tentang perselingkuhan itu dan Fauzi merasakan Salwa yang masih ada di sisinya sekarang, sesekali Salwa terlebih dahulu menelfon Fauzi yang membuat Fauzi yakin bahwa Salwa sudah menentukan pilihannya dan pilihannya itu adalah Fauzi, hal itu membuat Fauzi menjadi lega kembali. Sebelumnya Fauzi sudah meniatkan, asalkan Salwa mengambil keputusan dengan cepat, bersamanya ataupun bersama Farhan, Fauzi akan tetap memaafkannya karena yang menjadi permasalahan bagi Fauzi adalah ketika Salwa tidak bisa memilih diantara keduanya dan malah asyik menikmati perselingkuhannya. Fauzi tidak akan marah atau membenci Salwa andaikata Salwa memlih Farhan ketimbang dirinya karena Fauzi sadar bahwa perasaan dan cinta itu tidak bisa dipaksakan meski tidak memungkiri perasaannya akan sangat sakit dan kecewa.
Hari ini adalah hari terakhir Salwa ujian, Fauzi yang baru keluar kelas sibuk memainkan ponselnya dan menemukan postingan Cheesa teman Salwa kalau mereka sedang berada disuatu cafe untuk sekedar merayakan selesainya ujian mereka. Melihat itu membuat Fauzi berniat untuk memberikan Salwa surprise, Fauzi dengan cepat memesan tiket pesawat pulang hari ini.
Fauzi tiba setelah mengudara kurang lebih tiga puluh menit. Sebelum menghampiri Salwa, Fauzi menyempatkan diri singgah di toko bunga untuk diberikan pada Salwa sebagai ucapan selamat atas Salwa yang sudah menyelesaikan ujiannya.
Fauzi tiba di cafe dimana Salwa dan teman-temannya berkumpul, melihat Nina dan yang lainnya duduk sambil bercanda tapi tidak melihat Salwa membuat Fauzi jadi bingung sendiri.
"Apa aku salah liat tadi??" Gumam Fauzi sambil berjalan mendekati Nina yang asyik bercanda dengan teman-teman yang lainnya.
"Kak Fauzi.." Tegur Nina yang melihat Fauzi berjalan mendekati mereka.
Fauzi tersenyum.
"Salwanya mana??" Tanya Fauzi.
"Loh bukannya kakak nyuruh kak Farhan ngejemput Salwa tadi??"
Jlebb... "Jadi sekarang Salwa sedang bersama Farhan??" Ada perasaan sakit di hati Fauzi.
Fauzi berusaha tersenyum menyembunyikan perasaan sakit.
"O ohh.. Farhan udah datang? Aku kira dia belum datang makanya aku langsung kesini.." Kata Fauzi berbohong, akan terlihat aneh jika Fauzi menyela mengenai kedatangan Farhan.
"Udah kak..."
"Jadi mereka dimana sekarang??"
"Tadi sih kesana.." Jawab Cheesa menunjuk kemana arah Farhan pergi dengan Salwa tadi.
__ADS_1
"Oh iya makasih ya.." Fauzi tersenyum kemudian berlalu.
Ada rasa sakit yang berusaha Fauzi tahan sekuat mungkin