Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Masih?


__ADS_3

Faiq mengakhiri cerita panjangnya dengan hembusan nafas yang dalam. Ia menunduk, tidak mampu menatap Sasa yang sedari tadi mendengarkan ceritanya dengan saksama, ia bercerita semua tentangnya yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, tak terkecuali cerita buruk yang telah mencoreng jejak langkahnya hingga sekarang.


“Aku buruk bukan?” Tanya Faiq pada Sasa dengan masih tidak mampu mengangkat wajahnya untuk menatap Sasa.


“Iya” Jawab Sasa singkat, yang membuat Faiq semakin tidak mampu menatap Sasa. “Lalu kenapa cerita hal seperti ini sama aku kalau kamu tahu ini adalah cerita burukmu”


“Aku hanya tidak mau menyembunyikan sesuatu dari kamu, termasuk hal buruk tentangku”


“Kenapa? Aku tahu ataupun tidak hal burukmu, itu tidak ada hubungannya sama aku. Aku hanya mau tahu, alasan kamu ninggalin aku tanpa kabar dan tanpa pamit”


Perlahan Faiq mengangkat kepalanya, menatap Sasa yang sedari tadi menatapnya.


“Sa, aku menceritakan semuanya sama kamu tadi. Apa kamu tidak merasakan sesuatu?? Aku melakukan semuanya untuk menjadi sukses agar di hari seperti ini, aku bisa kembali memintamu untuk jadi…”


“Waktu sudah berlalu lama Faiq. Kita yang dulu..”


“Jadi kamu udah gak cinta sama aku? Kamu sama sekali gak ada lagi perasaan sama aku meskipun kamu tahu kalau aku masih sangat cinta sama kamu??”


Sasa terdiam mendapat pertanyaan beruntun dari Faiq. Ia tidak bisa memungkiri perasaannya yang masih memberi Faiq tahta dalam hatinya. Waktu berlalu yang cukup lama pun tidak mampu membuat ia melupakan cinta pertamanya itu.


Sasa sadar, akan perasaannya yang cepat atau lambat pasti diketahui Faiq, mengingat ia pun sudah pernah bercerita pada Fauzi akan perasaannya. Namun sulit sekali bagi hati dan mulutnya untuk sinkronisasi mengakui apa yang ada dalam hatinya. Ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah berpisah beberapa tahun, dan dia tidak memiliki kesiapan untuk mengakui apa yang ada dalam hatinya saat ini.


“Kenapa diam? Apa kamu benar-benar udah gak ada perasaan lagi sama aku, Sa?”


Faiq bertanya dengan sedikit desakan untuk meminta jawaban.


“Ayahmu tidak suka sam…”


“Tidak, tidak.. Ayahku bukannya tidak suka sama kamu sampai minta aku buat mutusin kamu dulu. Ayah cuman mau aku gak habisin waktu masa mudaku buat pacaran, Ayahku hanya mau aku sukses. Dan sekarang aku sudah sukses Sa, Ayahku tidak lagi ngelarang aku buat ngejalin hubungan dengan siapapun”


Sasa hanya terdiam mendengar penjelasan Faiq yang panjang lebar. Dia tidak bisa memungkiri perasaan bahagianya mendengar apa yang dikatakan Faiq. Bagaimana tidak, laki-laki yang masih bertahta dihatinya itu, juga masih memiliki perasaan yang sama dengannya meski mereka sudah berpisah lama.


“Sa, kamu beneran udah gak ada rasa lagi sama aku?” tanya Faiq ulang memperjelas apa yang sebelumnya Sasa katakan


“Memangnya kenapa?? Gak ada alasan kan buat aku harus tetap cinta sama kamu?”


Faiq tertunduk dengan wajah lusuhnya, dan itu malah terlihat lucu bagi Sasa.


“Iya, tapi aku maunya kamu tetap cinta sama aku. Seperti aku yang..”


“Yang apa?” Tanya Sasa memotong perkataan Faiq.


Faiq mengangkat kepalanya, memandangi Sasa yang tampak begitu cantik di matanya.


“Harusnya aku gak bilang ini lagi sama orang yang udah gak ada perasaan lagi sama aku” Jawab Faiq lesuh.


Sasa sedikit kesal mendapat jawaban Faiq yang tidak sesuai ekspektasinya. Ia berharap, Faiq akan menjawab dengan lantang tentang perasaannya, namun yang ada Faiq malah menarik kembali kata-katanya.


“Oh..”

__ADS_1


Sasa memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rasa kesal yang mulai menghampirinya setelah mendapat jawaban putus asa dari Faiq.


“Sa, aku masih sangat cinta sama kamu” Kata Faiq mengutarakan perasaannya meski tanpa semangat. “Aku masih belum bisa ngelupain kamu”


Perasaan kesal yang tadi sempat menghampirinya seketika hilang setelah mendengar pengakuan Faiq yang begitu dalam. Sasa masih memalingkan wajahnya dengan berusaha menahan senyum akibat rasa bahagia yang dia dapatkan.


“Aku berharapnya kamu juga ngerasain hal yang sama. Tapi aku juga mengerti sama apa yang kamu bilang. Ya wajar saja perasaanmu berubah, kita sudah lama gak ketemu. Dan lagi, memang tidak alasan yang mengharuskan kamu buat cinta lagi sama aku”


Sasa berbalik menatap Faiq, perasaan kesal kembali menghampirinya mendengar Faiq yang semakin terdengar putus asa itu.


“Seharusnya aku sadar dan tahu diri kalau perasaanmu pasti sudah berubah”


“Sejak kapan aku bilang kalau perasaanku berubah?” Tanya Sasa menatap lekat wajah Faiq.


Faiq dengan cepat mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya pada Sasa yang sudah lebih dulu menyorotinya dengan tatapan yang Faiq pun tidak mengerti dengan maksud tatapan itu.


“Ka-kamu memang gak bilang kalau perasaanmu berubah, ta-tapi kata-katamu…”


“Aku kan cuman bilang kalau udah gak ada alasan lagi buat aku suka sama kamu”


“i-itu kan maksudnya sama saja ka-kalau perasaanmu udah berubah”


“Siapa yang bilang itu sama?”


Faiq menatap Sasa dengan tatapannya yang kebingungan. Dia tidak mengerti dengan maksud perkataan Sasa yang seolah bertolak belakang dengan pernyataan yang sebelumnya sudah dia katakan.


“Ya bukannya sama, tapi kalau kamu bilang gak ada lagi alasan buat suka sama aku kan, berarti kamu udah gak suka lagi sama aku”


Sasa mulai terang-terangan setelah sebelumnya ia di penuhi rasa kesal akibat Faiq yang terlihat putus asa dalam menyatakan perasaannya, sedang ia masih sangat berharap Faiq akan mengatakan perasaannya dengan semangat berapi-api.


Faiq tersenyum lebar mendengar perkataan Sasa, ia mulai menangkap tentang maksud perkataan yang dikatakan Sasa barusan.


“Ja-jadi kamu masih suka sama aku??” Tanya Faiq antusias dengan senyum sumringah yang mengembang di wajahnya.


Sasa tidak memberi jawaban dari pertanyaan Faiq, ia hanya menatap Faiq dengan senyum tipis yang berhias di bibirnya.


“Sa, jawab aku. Jadi perasaanmu masih sama? Kamu masih sayang sama aku? Masih cinta??”


Pertanyaan beruntun Faiq luncurkan, ia sangat tidak sabar menunggu jawaban Sasa. Namun jawaban yang dia tunggu-tunggu tak kunjung Sasa berikan melalui kata-kata, hanya senyuman manis yang tidak memberikan penegasan sebagai jawaban dari pertanyaan Faiq.


“Sa, iyakan?? Kamu masih cinta sama aku kan??” Sekali lagi Faiq bertanya dengan penuh desakan.


“A-aku…”


Belum Sasa menyelesaikan jawabannya, Fauzi dan Salwa sudah lebih dulu datang menghampiri mereka.


Sasa tidak lagi melanjutkan kata-katanya dan hanya tersenyum menyambut kedatangan Fauzi dan Salwa kembali ke meja mereka.


Faiq berbalik menatap Sasa, kembali meminta jawaban Sasa yang sempat tertunda dengan kedatangan Fauzi dan Salwa. Namun sepertinya Sasa tidak lagi bersedia melanjutkan jawabannya, ia hanya tersenyum memberi penolakan yang halus akan permintaan Faiq sebelumnya.

__ADS_1


Faiq balik menatap Fauzi dengan memperlihatkan wajah kesalnya. Faiq menyalahkan kehadiran Fauzi yang tiba-tiba sehingga membuat Sasa harus tidak melanjutkan jawabannya.


Fauzi bingung dengan tatapan Faiq yang diarahkan padanya, tatapan yang seolah ingin menerkamnya dengan ganas.


“Sudah kembali?” Tanya Sasa setelah Salwa dan Fauzi kembali duduk pada tempat mereka yang sebelumnya ditinggalkan.


“Iya, padahal aku masih mau disana tadi” Keluh Salwa dengan wajah lesuh, memperlihatkan dia yang masih ingin menikmati tempat yang sebelumnya di perlihatkan Fauzi padanya.


“Kenapa gak disana dulu, kalau memang masih kepengen disana Salwa?” Tanya Faiq memperjelas akan dirinya yang masih mengingikan waktu berdua dengan Sasa.


Sasa balik menatap Faiq, memberi teguran pada Faiq melalui tatapannya.


“Salwa masih mau disana?” Tanya Sasa pada Salwa yang terlihat lesuh setelah kembali.


Salwa hanya mengangguk.


“Kamu tahu kan tempatnya dimana? Mau aku temani kesana??”


Salwa yang sedari tadi memasang wajah lesuh, seketika berubah menjadi baik setelah mendengar ajakan Sasa. Ekspresi bertolak belakang yang dimiliki Faiq. Bagi Faiq, Sasa yang belum menyelesaikan jawabannya tadi adalah sebuah kesialan, terlebih lagi saat ini Sasa menawarkan diri untuk menemani Salwa, yang berarti Sasa akan menghilang dari pandangannya.


“Yaudah ayo aku temani kesana”


“Sa, maaf jadi merepotkan” Kata Fauzi dengan perasaan sungkannya.


“Gak apa, aku ikut kesini kan memang buat nemenin Salwa”


Sasa beranjak dari duduknya, menuntun Salwa dan berlalu meninggalkan Fauzi dan Faiq. Faiq mengantar Sasa dengan pandangan tak rela, rasanya dia ingin sekali menahan Sasa tetap berada di depannya sehingga pandangannya terus-terusan bisa menjangkau wanita yang dicintainya itu, wanita yang membuatnya merindu beberapa tahun terakhir ini.


“Kenapa baliknya tiba-tiba sih?” Tanya Faiq pada Fauzi setelah Sasa dan Salwa berlalu. Pertanyaan yang berbaur dengan nada kesal itu membuat Fauzi merasa bersalah.


“Ya maaf, aku kiranya kalian udah selesai bicara pribadinya”


“Belum lah, malah baru mau dimulai..”


“Lah? Aku udah ninggalin kalian berdua sejam lebih, dan kamu bilang baru mau ngemulai?? Sejam duduk berdua ngapain aja weei??”


“Haisss.. Pokoknya kamu datangnya kecepatan. Aku sampai belum dapat jawaban Sasa”


“Jawaban apa? Kamu nembak dia lagi?”


Faiq menggeleng. “Aku tanya tentang perasaan dia ke aku”


“Lah kan aku udah pernah bilang markonah, Sasa itu masih cinta sama kamu, dia sendiri yang bilang sama aku. Ck gak percaya banget sih”


“Iya, tapi kan aku mau ngedenger Sasa yang bilang langsung”


“Ribet.. lagian udah sejam berlalu. Kamu jangan lupa kalau kita ada janji dengan orang lain, sebentar lagi dia akan datang dan bisa-bisa dia ngira kita gak datang kalau gak ngeliat aku ada disini”


Faiq baru sadar akan tujuan lain yang membuat mereka berada disana saat ini. Ia sempat lupa akan janji temu pada orang yang akan membahas pekerjaan bersama mereka.

__ADS_1


Faiq hanya mendengus kesal, ia masih menginginkan waktu berdua dengan Sasa untuk membahas hal-hal pribadi diantara keduanya.


__ADS_2