Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Karin's Hope


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu, Fauzi menemui Farhan untuk membahas masalah dia yang ingin resign dari pekerjaannya dan hanya akan fokus untuk menjaga sang istri yang tengah mengidap Alzheimer  saja. Hasil pembeciraannya dengan Farhan yang memberikan Fauzi titik terang waktu itu, akhirnya membuahkan hasil setelah Fauzi bertemu dengan Ayah Farhan, dan Ayah Farhan cukup mengerti dengan kondisi Fauzi.


Ayah Farhan tetap menawarkan posisi direktur jika nantinya Fauzi berniat kembali ke dunia kerja. Ayah Farhan yang dulu membuat laki-laki beranak satu itu sedikit segan setiap kali dia datang bermain ke rumah Farhan, sekarang berubah jadi mitra kerja yang begitu hangat memperlakukannya. Ya, kinerja Fauzi memang sangat memuaskan, wajar saja jika orangtua Farhan tidak ingin melepas Fauzi begitu saja. Perusahaannya benar-benar mengalami kemajuan di bawah kendali Fauzi.


“Aku mengerti kondisimu, ini memang bukan hal yang mengharuskanmu tetap mengurusi pekerjaan sedang keadaan istrimu sangat membutuhkan kamu di sisinya” Kata Ayah Farhan saat pertemuan kemarin. “Tapi Fauzi, bukannya saya ingin menahanmu lebih lama, tapi seperti yang kamu ketahui sendiri kalau sudah ada beberapa proyek yang sedang dijalankan dengan kamu yang memulainya. Juga saya tidak bisa serta merta memindahkan pekerjaanmu pada calon direktur baru yang sudah saya pilih. Jadi saya berharap, sembari menunggu orang itu datang, kamu tetap mengerjakan yang bisa kamu kerjakan dulu”


“Iya Pak, sebagaian juga hampir selesai dan akan segera saya selesaikan”


“Saya tahu meskipun ada beberapa yang sudah hampir selesai, tapi masih ada beberapa juga yang masih sangat banyak harus dilakukan untuk menyelesaikannya dan itu akan membutuhkan waktu lama untuk kamu menyelesaikan semuanya, jadi saya menyarankan untuk kamu menyerahkannya pada direktur baru nantinya, jadi konsultasikan itu pada dia dan aturlah bagaimana baiknya agar proyek yang kamu jalankan tidak terbengkalai”


“Baik Pak..”


“Bagaimana dengan kerjasama yang sudah kamu ajukan dengan perusahaan ternama terakhir ini?”


“Itu berjalan dengan baik Pak, dan sekarang sedang dalam masa penyusunan pelaksanaannya..”


“Aku dengar, yang turun tangan langsung direkturnya juga kan?”


“Benar pak, dia yang mengambil alih secara khusus proyek ini”


“Nah itu juga harus kamu urus dengan baik. Dia adalah seorang direktur, sama sepertimu. Saya tidak ingin dia berpikiran saya memilih direktur yang tidak bertanggung jawab jika kamu langsung memindahkan pekerjaanmu pada direktur baru nantinya. Atur bagaimana caramu agar kalian bertiga bisa saling menyetujui satu sama lain sebelum kamu resign. Kamu jadilah penengah antara calon direktur baru yang saya pilih dengan direktur yang tengah menjalankan proyek bersamamu.


“Baik Pak..”


Ayah Farhan terdiam sejenak, kemudian perlahan bangkit dari duduknya dan menghampiri Fauzi. Fauzipun beranjak, memperlihatkan etikanya ketika orang yang lebih tua menghampirinya.


“Fauzi, saya tahu betul kamu anak yang baik. Jadi jangan sungkan pada saya, kamu tidak harus berbicara dulu dengan Farhan jika ingin membahas hal seperti ini sama saya”


Fauzi hanya terdiam, meski bersyukur karena pembicaraan ini lancar, namun ia masih sempat mengecam Farhan dalam hatinya. “CK bocah itu mengadu?”


“Sedari remaja kamu bermain di rumah kami, bagaimana bisa kamu masih sungkan begini terhadap saya?”


“Maafkan saya pak”


Ayah Farhan mendekat, meraih Fauzi dalam pelukannya.


“Kamu sudah seperti putra saya sendiri. Saya turut prihatin atas apa yang terjadi pada istrimu..”


Mata Fauzi mulai berkaca-kaca. Rasa terharu mendapat perlakuan hangat dari Ayah Farhan, bercampur dengan pilu mengingat keadaan istrinya yang sekarang.


“Terimakasih Pak..”


Jika yang melihat adalah orang yang tidak mengenal keduanya, orang itu pasti beranggapan jika dua laki-laki beda usia itu, adalah Ayah dan anak.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Fauzi tidak ingin membuang-buang waktunya, segera saja ia menghubungi Karin selepas bertemu dengan Ayah Farhan. Dia sadar, Karin bukannya wanita yang memiliki waktu senggang untuk selalu bisa memiliki waktu bertemu dengannya ketika dia menginginkannya. Namun, Karin yang sudah sangat memperlihatkan ketertarikannya pada Fauzi, dengan mudah membatalkan semua kegiatannya jika mendapat ajakan bertemu oleh Fauzi.


Fauzi yang tengah menunggu Karin, berusaha memijat dan mengatur kondisi mata sembabnya akibat airmata yang sempat banjir karena rasa terharu yang dia dapatkan saat mendapat wejangan seorang Ayah dari Ayah Farhan. Tak lupa, Fauzi tetap memonitoring aktifitas istrinya agar tidak kecolongan seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Keteledorannya hari itu, menyimpan trauma tersendiri baginya.


Matanya masih sembab, bahkan wajah sedih masih jelas terlihat, namun Fauzi mampu tersenyum hanya dengan melihat istrinya yang tengah sibuk melakukan aktifitas tak jelas dirumahnya.


“Hai...” Sapa Karin dengan senyuman manis yang berhias di bibirnya. Jelas sekali terlihat, mood Karin yang sangat bagus hari ini. Entah karena kerjaannya yang baik hari ini atau sekedar rasa bahagia yan ia dapatkan setelah mendapat telfon ajakan telfon bertemu dengan Fauzi. Karin dengan cepat mengambil posisi duduk di kursi kosong depan Fauzi.


Fauzi mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, dan balas tersenyum pada Karin, sekaligus sebagai sambutan untuk wanita yang menaruh hati padanya.


“Sudah pesan minum??”


Hal yang tidak terlewatkan saat bertemu dengan Karin ialah, dia yang tidak bisa mengobrol tanpa ditemani cemilan ataupun makanan berat, mungkin juga itu hanya alasan agar ia bisa merasa lebih santai saat bersama Fauzi.


“Belum”


Karin dengan cepat membuka buku menu, menyapu daftar menu dengan pandangannya sembari memikirkan, hal nikmat apa yang harus melalui tenggorokannya siang ini.


Seperti biasa, Fauzi tidak akan banyak memilih menu makanan ataupun minuman, sehingga Karin tidak lagi bertanya pada Fauzi dan hanya memesan segelas kopi untuk laki-laki yang memiliki tempat istimewa di hatinya itu.


“Hem ada apa? Tumben ngajak ketemu” Tanya Karin memulai pembicaraan sekaligus menanyakan tujuan Fauzi memangginya untuk bertemu siang ini.


“Sebelumnya aku minta maaf, aku tahu kalau kamu sibuk, tapi aku..”


“Skip skip.. aku sudah ada disini sekarang, berarti aku punya waktu untuk ketemu kamu”


“Makasih..”


Senyum ramah tampil dengan cantik di bibir tipis berselimut lipstik berwarna mauve milik Karin.


“Aku mau ngebahas masalah kerjasama yang sebelumnya kita sepakati dan sudah kita bahas beberapa kali itu”


“Iya, kenapa?”


“Karin, seperti yang kamu tahu, keadaan istriku semakin hari semakin memburuk, jadi aku harus selalu ada disampingnya untuk mengarahkan segala sesuatu yang keliru dia lakukan”


Keantusiasan Karin hilang seketika ketika Fauzi mulai membahas tentang istrinya. Perkataan Fauzi memicu rasa iri di hati Karin.


“Iya, terus?”


“Aku akan berhenti kerja”


“A-apa?? Berhenti kerja??” Tanya Karin memperjelas apa yang baru saja indra pendengarannya tangkap.


“Iya. Aku akan berhenti kerja”


“Ta-tapi kenapa? Terus proyek kita gimana?”


“Karena itulah aku manggil kamu buat ketemu hari ini. Aku mau ngebahas proyek kita yang akan aku lepas”


“Kenapa tiba-tiba? Tidak, maksudku bagaimana bisa kamu melepas tanggung jawab sama pekerjaanmu semudah ini?”


“Aku benar-benar minta maaf, tapi memang kondisiku sudah tidak bisa untuk mengharuskan aku tetap bekerja”

__ADS_1


“Bukannya sebelumnya kamu tetap bekerja dengan kondisi Salwa yang sekarang?”


“Iya. Hanya saja beberapa hari yang lalu, aku sempat kehilangan Salwa”


“Kehilangan bagaimana maksudmu?”


“Salwa keluar rumah, dan aku gak bisa menemukannya. Karena itu, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti kerja dan tinggal dirumah saja menemani Salwa”


Terlihat jelas bagaimana Karin kecewa saat ini. Dia begitu antusias mengerjakan proyek yang dilakukan bersama Fauzi. Melalui proyek ini lah, dia mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu Fauzi lebih sering dan memiliki waktu cukup untuk bersama laki-laki idamannya.


“Jadi bagaimana dengan pekerjaan kita?”


“Tentang itu, aku sangat minta tolong sama kamu Karin. Aku tidak akan bisa resign jika tidak mendapat persetujuan pelepasan penanggung jawab kinerja dari kamu. Aku benar-benar minta tolong. Jangan khawatir, Ayah Farhan sudah memilih orang yang lebih handal untuk menggantikan aku, dia akan bekerja lebih baik dari aku”


Aku bukannya butuh orang yang lebih handal dari kamu. Sesiapapun itu, sehandal apapun orang itu, tetap tidak akan bisa menggantikan nyamannya bekerja sama kamu.


“Kalau aku bilang tidak mau, bagaimana?”


Fauzi terkejut mendengar penolakan Karin. Ia menatap mata Karin yang terpancar kekecewaann disana.


“Ke-kenapa?”


“Aku memulai proyek ini sama kamu Fauzi, jadi bagaimana bisa aku menjalankannya bersama oranglain dan menyelesaikannya dengan oranglain nantinya. Ini bukan perjanjian dalam kontrak sebelumnya”


“Karin, aku benar-benar minta maaf. Kondisiku sama sekali tidak memungkinkan untuk lanjut bekerja”


Karin terdiam saja menatap Fauzi, dia benar-benar merasa tidak ikhlas dengan keputusan Fauzi. Dia sadar akan kehilangan kesempatannya untuk bisa lebih dekat bersama Fauzi dengan Fauzi yang mengambil keputusan ini.


Karin memiliki hak untuk tidak membiarkan Fauzi menghentikan segala pekerjaannya pada proyek yang sedang mereka kerjakan bersama saat ini, juga hak untuk membatalkan kerja sama yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Yang bisa saja membuat Fauzi mendapatkan sanksi dari perusahaan atau kehilangan kepercayaan dari beberapa orang yang sudah mengaguminya atas hasil kinerja baik yang selama ini Fauzi dapatkan.


Namun lagi-lagi, cinta bertahta diatas segalanya, ada rasa tidak ingin melihat orang yang dicintainya mengalami masa sulit apalagi memohon dengan sangat kepadanya. Wajah penuh harap yang dimiliki Fauzi menggoyahkan keinginan Karin untuk memmaksa laki-laki yang dicintainya itu bertahan pada pekerjaannya.


“Baiklah..” Jawab Karin setelah berdiam cukup lama.


“Kamu serius?”


Fauzi yang sebelumnya sempat mendapat penolakan dari Karin, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tatkala wanita yang duduk didepannya itu mengiyakan permintaannya.


Karin mengangguk, meski ekspresinya tidak memperlihatkan kesetujuannya. Sedang Fauzi tidak peduli dengan ekspresi apa yang Karin perlihatkan, ia hanya berfokus pada jawaban yang diberikan oleh Karin.


“Ja-jadi, kita gak bisa ketemu lagi??” Tanya Karin memperlihatkan kekhawatirannya yang sebenarnya.


“Tentu bisa, aku selalu siap menerimamu kalau bertamu kerumahku..”


Karin tersenyum simpul. “Entah kamu terlalu polos atau sengaja” gumamnya.


“Oh ya, beberapa ke depan aku akan mengajakmu bertemu lagi”


“Kapan?” Tanya Karin antusias. Pernyataan Fauzi barusan seperti sebuah air yang memenuhi dahaga Karin akan kekhawatirannya yang kemungkinan tidak lagi memiliki alasan untuk bisa bertemu dengan Fauzi.


“Nanti, aku pasti akan mengabarimu..”


Karin tersenyum. Dalam hati kecilnya ia berharap, pertemuan berikutnya bukanlah pertemuan seperti yang hanya untuk mengurus pekerjaan saja. Besar harapannya, pertemuan berikutnya adalah pertemuan yang lebih baik, mungkin seperti ucapan terimakasih Fauzi terhadapnya. Bukan dari segi imbalan yang Salwa inginkan dari pertemuan mereka yang akan datang, melainkan keadaan dimana mereka bisa nyaman berbicara satu sama lain tanpa membahas pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2