
Faiq yang terjebak dengan triknya sendiri itu, berhasil mendapat persetujuan dari Karin untuk bertemu sore ini. Ia akhirnya berhasil menemukan cerita buruk tentangnya yang akan ia beritahu pada Karin, agar wanita yang sedikit berpengaruh dalam dunia bisnis di wilayahnya dikarenakan Ayahnya itu, bisa memandangnya negatif sehingga memilih jalan untuk tidak mengenalnya lebih lanjut.
Namun hal yang tidak di duga-duga oleh Faiq ialah, respon Karin yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Wanita itu tidak memberikan respon buruk seperti apa yang dia harapkan, melainkan sebuah pengertian, seolah ia paham akan kondisi Faiq.
Melihat hal itu, Faiq kembali menyebutkan hal negatif tentangnya, meski itu hal yang sama sekali tidak pernah ia lakukan. Sebelumnya ia mendapati respon Karin yang begitu terkejut setelah ia mengatakan kebohongannya, ia sempat mengucapkan kata ‘berhasil’ dalam hati. Namun lagi-lagi, hasil yang dia dapatkan, bukan seperti apa yang dia inginkan.
Niat hati, Faiq ingin membuat Karin terkejut dan memandanganya buruk, namun yang terjadi malah dia yang dibuat terkejut oleh respon Karin.
“Kenapa?” Tanya Faiq setelah Karin mengatakan hanya kata ‘sempat’ yang ia selipkan pada pandangan negatifnya.
“Ya karena aku bukan kamu”
“Maksudmu??”
“Aku bukan kamu yang berada di posisimu waktu itu”
Faiq memandang Karin dengan tatapannya yang bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang Karin katakan dan bingung dengan pola dan cara berpikir Karin.
“Semua orang punya caranya sendiri menjalani hidupnya, termasuk meluapkan kemarahan atau stress. Mungkin hanya hal seperti itu yang bisa kamu jadikan pelampiasan waktu itu. Aku gak membenarkan pilihanmu yang jelas-jelas salah itu, tapi kembali lagi seperti yang aku bilang, kalau aku bukan kamu yang ada di posisi waktumu itu. Kamu saat itu stress dan kesal karena Ayahmu yang mengharuskan kamu kuliah disana, jadi kamu buta akan langkahmu dan melenceng melakukan hal negatif seperti ini” Jelas Karin dengan penuh pengertian.
Faiq tercengang mendengar penjelasan Karin. “Apa dia memang selalu berpikiran jauh seperti ini?”
“Ja-jadi menurutmu aku orang yang seperti apa, setelah kamu tahu aku orang dengan jejak langkah yang buruk seperti itu”
“Hebat” Jawab Karin tegas dengan senyum yang berhias dibibirnya yang berselimutkan lipstik berwarna nude.
“Hebat??”
“Iya, kamu orang yang hebat. Kamu pernah berada dalam keadaan terpuruk seperti itu, pergaulanmu buruk dan kelakuanmu juga buruk. Tapi kamu perlahan melangkahkan kakimu keluar dari sana dan berjuang hingga berada di posisimu saat ini. Orang yang sukses sedari awal jelas memiliki perbedaan dengan orang yang sebelumnya pernah terjerumus kemudian memilih bangkit dan memulai semuanya dari nol” Jelas Karin.
Meski keinginannya untuk membuat Karin berpikiran negatif tentangnya tidak tercapai, namun Faiq tidak sepenuhnya dipenuhi rasa sedih, melainkan ada rasa terharu yang mulai menyentuh hatinya mendengar jawaban Karin dengan pikirannya yang luas dan penuh pengertian. Perlahan Faiq menyimpan rasa kagum pada pemikiran luas Karin, juga Karin yang memandang sesuatu tidak dari satu arah saja.
Faiq mengalihkan pandangannya, ia juga masih berusaha mencerna lebih baik lagi apa yang dikatakan Karin, juga berpikiran respon seperti apa yang akan dia berikan pada Karin selanjutnya.
“Jadi kamu sama sekali tidak menilai negatif tentang aku?”
__ADS_1
“Memangnya aku ada hak apa untuk menilai kamu seperti itu? Itu hidupmu, dan kamu yang tahu tentang apa yang sudah kamu lalui. Kalaupun aku berpikiran negatif sama kamu, apa hak ku untuk menyampaikan hal itu, dan kamu tidak harus memikirkan pandanganku kan?”
Faiq kembali terdiam sejenak, rencananya yang gagal bukan lagi prioritas utama yang dia pikirkan sekarang.
“Ka-kalau.. Ini aku hanya memberi contoh, hanya sesuatu yang seandainya. Semisal kamu dapat laki-laki seperti aku nanti, bagaimana menurutmu?”
“Aku? Ya aku bersyukur, karena bisa sama orang yang sukses”
“Kamu gak peduli sama masa laluku yang buruk?”
Karin memperbaiki posisi duduknya, sedikit menggeser tubuhnya sehingga berhadapan tepat dengan Faiq.
“Faiq, laki-laki itu tidak dinilai dari masa lalunya, tapi yang dilihat dari laki-laki adalah masa depannya dan pertanggung jawabannya. Seburuk apapun masa lalumu, kalau sekarang kamu sudah berubah, itu tidak akan berpengaruh. Malahan itu adalah poin positif karena kamu berhasil lepas dari jerat-jerat negatif yang dulunya mengikatmu. Berbeda dengan kita perempuan”
“Berbeda?”
“Ya... Menurutku, laki-laki itu tidak dinilai dari masa lalunya karena yang dilihat adalah masa depannya. Berbeda dengan perempuan, yang dilihat adalah masa lalunya meskipun masa depannya juga tetap menjadi acuan. Aku tahu, tidak ada yang tahu tentang masa depan, dan perempuan pun tetap memiliki hak untuk mengubur masa lalunya dan memulai hidup yang baru. Namun perempuan, apa yang pernah terjadi pada hidupnya di masa lalu, akan menjadi pertimbangan orang lain ketika dia menginginkan sesuatu untuk dilakukan di masa depan”
“Kenapa begitu??”
Faiq tidak bisa memungkiri, selain rasa terharu yang sebelumnya ia temui dari Karin, sekarang ia juga dibuat berdecak kagum, dengan cara berpikir Karin yang luas. Meskipun Karin terbilang anak yang di manja orangtuanya, namun itu bukan hal yang membuatnya menjadi perempuan dengan pemikiran yang dangkal.
“Aku merasa dihargai..”
Kedua alis Karin yang terukir indah, berkerut mendengar apa yang dikatan Faiq. Lagi-lagi ia gagal paham dengan maksud apa yang di maksud dari perkataan Faiq.
“Dihargai?”
“Iya.. Kamu bisa melihat sesuatu dari sudut pandangku saat itu, dan bisa memposisikan diri sebagai aku waktu itu. Kamu tidak serta merta menghakimiku karena kesalahanku, melainkan bisa mengerti keadaanku”
Faiq tertunduk dengan senyum tipisnya.
“Aku kira, kamu akan menghindar setelah tahu seperti apa aku yang dulu, tapi ternyataa...”
“Ck, kenapa berpikiran dangkal begitu sih?”
__ADS_1
“Entahlah...” Jawab Faiq tersenyum smrik.
“Sebenarnya, kamu sendiri pun tidak berhak menilai buruk dirimu sendiri, kamu harusnya memuji dirimu karena berhasil menjadi orang yang seperti sekarang. Kamu harus mencintai dirimu dan berusaha menjadi lebih baik dari kamu yang sebelumya. Ck, apaan sih aku, udah kayak Mario teguh saja sok-sok-an make bahasa bijak” Kata Karin disusul dengan tawanya.
Faiq melirik Karin yang tertawa renyah, dia tidak pernah menyangka jika wanita yang duduk di sampingnya itu ternyata memiliki pemikiran yang cukup luas.
Hari mulai malam, Karin dan Faiq akhirnya meninggalkan tempat dimana keduanya sempat larut dalam obrolan dengan sedikit melodrama. Rencana jelas sudah gagal lagi, namun tidak membuat Faiq merasa kesal akan itu. Sebaliknya, dia yang mengetahui sisi lain dari Karin, membuatnya merasa nyaman dan sedikit lega telah bercerita mengenai masa kelamnya dan mendapat respon berbeda dari orang lain.
Faiq merasa mendapat dukungan dan dorongan untuk menjadi lebih baik setelah mendengar jawaban bijak dari Karin, ada rasa dihargai dan haru yang perlahan menyelimuti hatinya.
.
.
.
.
Tubuh tinggi itu ia hempaskan pada kasur empuk dengan bedcover berwarna abu-abu polos. Matanya sibuk memandangi langit-langit kamar tanpa objek tertentu yang menjadi fokusnya. Pikirannya mengembara mencari sesuatu yang diapun tidak tahu, hingga akhirnya kembali setelah ingatannya menyentuh akan Sasa, sosok wanita yang menjadi ratu dihatinya beberapa tahun terakhir.
“Kalau Sasa tahu bagaimana aku yang dulu, apa dia masih bisa nerima aku? Apa dia bisa berpikiran seperti Karin dan mau kembali sama aku?”
Tanpa sadar, Faiq mulai membanding-bandingkan wanita yang dicintainya bertahun-tahun itu, dengan wanita yang baru ia kenal beberapa waktu yang lalu.
“Kenapa aku berpikiran hal bodoh seperti ini? Kenapa aku berpikiran apa Sasa masih mau kembali sama aku sedang aku tidak tahu, apa diingatannya masih ada aku atau tidak. Ataukah dia masih ingat kalau aku pernah ada di kehidupannya”
Pikiran miris yang membuat airmatanya mulai mengumpul dikelopak matanya, siap tumpah untuk menebus pilu yang menghampiri relung hatinya saat ini.
“Ayah benar, Sasa tidak mungkin lagi mau sama aku. Aku pergi tanpa pamit, tanpa kabar dan menghilang begitu saja. Mungkin saja dia benci sama aku atau menyimpan dendam. Ya, aku laki-laki yang buruk”
Dengan lembut, airmata yang sedari tadi bertengger di kelopak matanya mulai tumpah dan mengalir dengan lembut melewati kulit wajahnya yang mulus.
“Sa, aku merindukanmu...”
Malam yang sunyi seolah merengkuh insan yang tengah di landa pilu akibat pikirannya yang berkecamuk juga rindunya yang tak bisa ditebus. Detak jam di dinding menjadi nyanyian yang bermain ditelinganya, sedikit memecah keheningan malam yang beranjak semakin larut.
__ADS_1