
Pagi mulai menyambut setelah malam yang gelap dengan hitamnya berlalu. Matahari perlahan mulai menyapa dari ufuk timur, memberi cahayanya dengan rasa hangat yang menenangkan. Butiran-butiran embun yang sebelumnya asyik bertengger pada dedaunan, perlahan menguap keudara dan hilang tanpa meninggalkan jejak.
Salwa mulai terjaga setelah semalaman terlelap di temani mimpi yang seketika membuatnya lupa ketika terbangun. Mata yang masih sayu, dan kesadaran yang masih berusaha dikumpulkan satu persatu, membuat Salwa masih menikmati posisinya sekarang. Hingga perlahan ia sadar akan tangan Fauzi yang melingkar tenang di pinggangnya.
Salwa sedikit terkejut, meski seharusnya itu bukan lagi hal yang bisa membuatnya terkejut, mengingat enam tahun terakhir ini, hal seperti itulah yang selalu ia temui tiap bangun pagi.
“Ta-tangan siapa?” Gumam Salwa.
Meski awalnya ragu-ragu, namun rasa penasaran Salwa memaksanya untuk berbalik.
“Fa-Fauzi??”
Salwa memperjelas penglihatannya, memastikan apa yang ditangkap indra penglihatannya pagi ini adalah benar, dan....
“HUWAAAA KAMU NGAPAIN ADA DISINI?????”
Teriakan Salwa sontak membuat Fauzi terkejut. Lelap yang sedari malam menemaninya, seketika buyar saat teriakan istrinya menghantam gendang telinganya dengan tidak terduga-duga.
Salwa bangun, mundur beberapa langkah menjauh dari Fauzi.
“Kamu ngapain disini?? Apa yang kamu lakukan hah??”
“Sa-sayang.. Ada apa?” Tanya Fauzi dengan kesadaran yang dikumpulkannya lebih cepat dari bangun tidur sebelum-sebelumnya.
“Kamu ngapain disini Ozi??”
Ada rindu, namun menyimpan sebuah tanda tanya besar.
Setelah menikah, Salwa jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah memanggil Fauzi dengan panggilan Ozi. Panggilan itu sering Salwa sebutkan saat dia masih status pacaran 11 tahun yang lalu.
“Ma-maksudnya? A-aku kan memang selalu disini sayang..”
“Keluarr....”
“Keluar?”
“Keluar dari kamarku..”
“Ta-tapi kenapa??”
“Aku tahu kita saling sayang, saling mencintai, tapi gak seperti ini Ozi”
“Seperti ini gimana??”
“Kamu tanya gimana??? Ah pokoknya keluar, sebelum Ayah dan Ibu lihat”
“Memangnya kenapa kalau Ayah sama Ibu lihat? Lagian mereka kan gak disini, mereka gak akan bisa lihat kita”
“Oh, jadi kamu ngambil kesempatan karena tahu Ibu sama Ayah gak dirumah”
Fauzi kembali dibuat bergelut dengan tanda tanya yang sedang bermain di kepalanya. Ribuan pertanyaan mengenai istrinya pagi ini, berburu meminta jawaban.
“Maksud kamu apa sih sayang?”
“Kamu masih nanya juga?? Yang kita lakuin ini tuh salah Ozi. Aku tahu kita punya rencana menikah, tapi bukan berarti kita bisa tidur bareng sekarang”
Rencana menikah??? Apa Salwa sedang delusi lagi sekarang??
__ADS_1
“Rencana menikah? Kita kan sudah men...”
“Keluarrrr...”
“Sayang.. Kita kan sudah..”
“Keluarr!!”
“Sayangg..”
“Aku gak nyangka kamu bisa ngambil kesempatan seperti ini. Hal seperti ini tidak boleh kita lakukan meski kita saling mencintai. Tidur bersama itu hanya dilakukan oleh sepasang suami istri, bukan pasangan yang masih pacaran seperti kita”
Deegg...
Misteri dalam otak istrinya benar-benar sesuatu yang sangat handal membuat Fauzi terkejut dan kebingungan. Namun dari semua hal aneh yang pernah Salwa katakan, hal inilah yang paling menyakitkan bagi Fauzi. Bagaimana bisa istri kesayangannya itu lupa akan status mereka? Bagaimana bisa dia melupakan semua kenangan dalam pernikahan mereka.
Airmata Fauzi mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasa takut yang dalam semakin merasukinya. Apakah ini awal dari ingatan istrinya yang terganggu tentang dirinya? Pagi ini, wanita tercintanya lupa akan status dan hubungan mereka saat ini. Lalu, hari-hari kedepannya apa lagi yang akan dia lupakan? Apakah akhirnya melupakannya juga? Hanya dengan berpikiran seperti itu, rasa sakit semakin menjadi-jadi menggrogoti Fauzi. Aku tidak ingin dilupakan sama kamu Salwa.
“Keluar Ozi....”
“Sayang..”
Salwa melangkah mendekati Fauzi, menarik Fauzi dengan seluruh tenaganya, mendorong Fauzi hingga Fauzi keluar dari kamar mereka.
Fauzi tentu bisa menahan tarikan Salwa yang tidak seberapa kuat itu jika di bandingkan dengan tenaga Fauzi. Namun desakan istrinya membuat Fauzi merenggangkan sedikit kekuatannya.
Fauzi masih berusaha menjelaskan pada Salwa tentang status mereka, di tengah-tengah Salwa yang tengah berjuang keras mengusir Fauzi dari kamar tidur mereka.
“Salwa, dengerin aku dulu..”
Salwa dengan cepat menutup kamarnya, membuat pandangan Fauzi pada istrinya jadi terhalang.
“Sayang.. Buka pintunya...”
Salwa tidak mendengarkan apa yang Fauzi katakan. Panggilan Fauzi dan penjelasan Fauzi dari balik pintu tidak dihiraukannya.
Salwa bergegas mengambil ponselnya, mencari kontak Ibunya dan sesegera mungkin menelfonnya.
“Halo sayang”
Suara lembut dari seberang telfon, menyambut indah di telingah Salwa.
“I-ibu dimana??”
“Dirumah sayang. Ada apa? Kenapa suaramu panik begitu??”
“Di-dirumah? Ja-jadi Ibu ada dirumah sekarang?”
“Iya, kenapa? Ada apa Salwa?”
“Ibuuu.....”
Panggilan Salwa yang panjang disertai tangisnya yang meledak, membuat Ibunya begitu khawatir. Fauzi yang mendengar tangisan Salwapun semakin memperkuat panggilannya dengan frekuensi yang lebih sering. Namun sesering apapun Fauzi memanggil, tetap saja tidak dihiraukan oleh Salwa.
“Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi???” tanya Ibunya dengan khawatir. Segala pikiran-pikiran buruk mulai menghampiri Ibunya. Dari yang sah-sah saja terjadi, hingga pikiran tentang putrinya yang munkgin saja disakiti oleh suaminya saat ini.
“Ibuuu... Maafin aku, aku juga gak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini. Ibu aku gak ngapa-ngapain, aku gak tahu apa-apa. Ibu maafkan aku..”
__ADS_1
“Maafkan apa sayang? Kamu habis ngapain? Apa yang terjadi?”
“O-Ozi Bu...”
“Fauzi? Fauzi kenapa sayang??”
“Fauzi tidur sama aku.. dia tidur disampingku Bu..”
Rasa khawatir yang sedari tadi menyerbu Ibunya, seketika berubah dan menjadi kebingungan dengan level tinggi. Mengapa putri semata wayangnya itu menangis dan ketakutan saat mendapati suaminya tidur disampingnya.
“Aku beneran gak ngelakuin apa-apa Bu, sungguh!. Aku juga gak tahu kenapa Ozi tiba-tiba ada disampingku. Bu, aku gak bermaksud ngebuat Ibu malu, maafin aku Bu...”
Salwa menjelaskan kronologi kejadian yang menurutnya salah itu, sembari menangis-nangis.
“Memangnya kenapa sayang kalau Fauzi tidur di sampingmu?”
“Ibu kok bilangnya begitu?? Meskipun aku sama Ozi berencana untuk menikah, tapi kan tetap saja aku gak boleh tidur sama Ozi kalau masih pacaran” jelas Salwa.
Tidak beda jauh dari apa yang dirasakan Fauzi, kebingungan dan khawatir mulai merasuki perasaan Ibunya lebih dalam, meski keduanya memiliki jenis perasaan khawatir yang berbeda, mengingat Fauzi yang mulai terbiasa dengan hal-hal aneh yang terjadi pada istrinya, sedang Ibunya belum tahu apa-apa tentang apa yang terjadi pada putrinya.
“Pa-pacaran?? Kamu ngomong apa sih sayang?? Fauzi itu kan suamimu”
“Suami??” tanya Salwa memperjelas apa yang dikatakan Ibunya. “Fauzi itu suamiku? Sudah jadi suamiku? Sejak kapan?” pertanyaan beruntun mulai Salwa luncurkan.
“Ka-kamu gak ingat?”
“Bu, Fauzi beneran udah jadi suamiku?”
Salwa tidak memberi jawaban dari pertanyaan Ibunya, melainkan pertanyaan baru yang dia layangkan kembali pada Ibunya.
“Iya sayang. Nak, kamu baik-baik saja??”
Salwa menoleh ke arah pintu. Panggilan Fauzi masih terdengar dari sana.
“Salwa, kamu baik-baik saja nak??”
Tanya Ibunya ulang, namun Salwa yang terlanjur fokus akan pikirannya mengenai Fauzi yang sudah menjadi suaminya saat ini, membuatnya tidak menghiraukan pertanyaan Ibunya dari seberang telfon. Salwa fokus mencerna keadaan dengan tatapannya yang tidak lepas dari pintu yang terus-terusan terdengar ketukan Fauzi disana.
Kebingungan kembali melanda Salwa, pikirannya yang perlahan sulit mencerna sesuatu yang disediakan untuknya, membuatnya begitu lamban memahami situasi.
“Halo sayang.. Salwaa..”
Panggilan Ibunya dengan nada yang sedikit tinggi, berhasil menangkap perhatian Salwa.
“I-iya Bu, aku baik-baik saja..”
“Apa yang terjadi nak?”
“Gak ada Bu, semuanya baik-baik saja”
“Kamu yakin?”
“Iya, Bu. Bu, aku matikan dulu telfonnya”
Belum Salwa mendapat izin mematikan telfon dari Ibunya, ia sudah menekan layar ponselnya dengan keterangan endcall.
Salwa perlahan berjalan menuju arah pintu. Berdiam sejenak di depan pintu dan dengan ragu-ragu yang berselimut kebingungan, Salwa membuka kunci dan memutar engsel pintu. Hingga ia tarik dan nampak wajah Fauzi dengan airmata yang membanjiri wajahnya
__ADS_1