Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Yang terakhir..


__ADS_3

Suara yang tidak asing, aku cukup mengenalnya meski menggunakan nomor telfon yang berbeda.


"Ka kak Farhan?" Tanyaku memastikan.


"Iya, ini aku. Apa besok bisa ketemu?"


"Gak, kita udah berakhir kak, aku gak mau lagi seperti yang kemarin.."


"Iya aku tahu, aku juga sadar apa yang kita lakukan kemarin itu sebuah kesalahan besar. Aku gak akan minta kamu untuk kembali"


"Te terus, mau ketemu untuk apa?"


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


"Apa? Kenapa gak ngomong di telfon saja?" Tanyaku.


"Rasanya tidak enak membicarakannya lewat telfon, aku perlu ketemu sama kamu sekalian mau pamit"


"Mau pamit?"


"Iya.."


"Kakak mau kemana?"


"Hem.. Besok bisa ketemu gak? Aku beneran gak bermaksud yang lain-lain"


Aku berfikir sebentar, apa aku harus pergi atau tidak. Tapi Farhan bilang dia mau pamit, kalau itu benar rasanya aku jahat sekali kalau menolak bertemu.


"I itu.."


"Kamu takut ketemu sama aku?"


"Kenapa aku harus takut"


"Lah terus kenapa gak mau ketemu.."


"Emh..  iya aku bisa"  Kataku setelah berfikir sejenak.


"Besok kita langsung ketemu saja, nanti aku share lokasinya"


"Oke.."


"Yasudah aku matikan dulu, selamat beristirahat Salwa.."


"Kakak juga.."


Telfonpun terputus.


Aku sudah mengiyakan ajakan Farhan. Farhan benar-benar terasa berbeda dari biasanya, jika sebelumnya Farhan pasti akan memaksa untuk menjemputku.


Setelah mengiyakan ajakan Farhan, aku jadi bingung sendiri. Haruskah ini kuberitahu pada Fauzi atau tidak? Jika kuberitahu kemungkinan Fauzi tidak akan mengizinkanku atau kemungkinan besar Fauzi akan salah paham lagi padaku. Jika aku tidak memberitahunya, bagaimana jika kemudian hari dia tahu dari oranglain? itu akan lebih bahaya lagi. Ah aku pusing sendiri memikirkannya. Sebaiknya aku mencoba melihat respon Fauzi dulu.


"Halo" Suara Fauzi terdengar dari seberang telfon setelah telfonku terhubung.


"Kamu belum tidur?"


"Kan aku sudah bilang, aku harus nyelesaiiin tugas dulu sayang. Kenapa?"


"Ah tidak, aku cuman susah tidur jadi nelfon kamu.."


"Ada yang lagi ngeganggu pikiran kamu?"


"Kamu kok nanyanya gitu?"


"Ya biasanya kan kalau kamu nelfon malam-malam begini berarti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan.."


"Emhh itu.." Aku kembali berfikir, haruskah ini kuberitahu atau tidak. "Aku cuman kangen aja sama kamu "Aku masi ragu untuk menanyakannya.


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya.."


"Hem.. semoga beneran kamu cuman kangen sama aku, aku gak mau ribut lagi sama kamu seperti kemarin"


Sepertinya aku cuman akan cari masalah kalau aku membahas ini sama Fauzi.


"Gak kok, yasudah kamu kerjain tugasnya dulu aku mau siap-siap tidur"


"Beneran kan kamu gak papa?" Tanyanya memastikan.


"Iya, aku gak papa. Aku tutup telfonnya dulu, semangat ngerjain tugasnya.."


"Iya, selamat  tidur sayang.."


Telfon terputus.


Aku menghempaskan tubuhku ketempat tidur. Besok kasi tahu Fauzi atau tidak ya? Pikiran itu terus-terusan berputar dikepalaku membuatku jadi sulit tidur malam ini.


.


.


.


Aku sudah bersiap-siap, kembali mengecek penampilanku di depan cermin untuk memastikan penampilanku terlihat baik-baik saja.


Semalaman aku berfikir tentang memberitahu hal ini pada Fauzi atau tidak dan aku memutuskan untuk tidak memberitahunya, Fauzi bisa salah paham lagi jika aku memberitahunya dan kejadian kemarin bisa saja terulang lagi, membayangkannya pun aku tidak mau. Aku sudah berusaha keras kemarin untuk memperbaikinya, aku tidak ingin hal itu rusak lagi.


Aku tiba di lokasi yang dimaksud Farhan. Aku memasuki sebuah cafe, melempar pandanganku mencoba mencari keberadaan Farhan.


"Salwa.." Panggilnya sambil melambaikan tangannya.


Aku berjalan menuju meja Farhan.


"Pesan makan minum dulu" Kata Farhan memberiku daftar menu.


"Kakak sudah pesan?" Tanyaku tanpa melihatnya karena fokus dengan daftar menu.


"Ini kakak pesan, aku sudah.." Kataku memberinya daftar menu.


Pesanan kami sudah diserahkan ke pelayan, kami harus menunggu beberapa waktu.


"Terimakasih sudah mau datang" Kata Farhan tersenyum.


"Iya.."


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, karena sudah memanggilmu datang hari ini"


"Tidak apa.."


"Aku juga mau minta maaf untuk semuanya yang kemarin, karena keegoisanku kamu dan Fauzi jadi.."


"Aku sudah baikan sama Fauzi, jadi tidak perlu merasa bersalah"


"Tetap saja aku merasa bersalah.."


"Semua sudah baik-baik sekarang.."


Farhan terdiam sejenak


"Kakak mau kemana?" Tanyaku.


"Ke provinsi sebelah.."


"Menetap disana?"


"Iya, mungkin pulangnya setiap libur semester saja.."


"Kakak kan sudah kuliah disini?"

__ADS_1


"Aku berhenti, aku akan kuliah disana"


"Kenapa tiba-tiba?"


"Aku rasa ini pilihan yang terbaik, aku harus memperbaiki diriku. Selama ini aku buruk sekali, mulai dari aku memintamu menjadi kekasihku sampai menahanmu untuk terus tinggal di sisiku padahal aku tahu kamu itu siapa dan siapa orang yang sedang aku khianati" Jelasnya.


Aku terdiam mendengarkannya.


"Saat melihat ekspresi Fauzi kemarin, aku jadi sadar akan apa semua yang sudah aku lakukan. Melihat tanggapan Fauzi yang berusaha keras untuk bertahan membuatku menyadari kesalahanku. Dulunya aku selalu berfikir Fauzi akan marah dan mungkin saja akan berbuat kasar padaku saat dia tahu tentang hubungan kita sehingga aku selalu mempersiapkan diri jika kapan-kapan kepalan tangan Fauzi akan mengenai wajahku. Tapi respon Fauzi kemarin benar-benar diluar dugaanku" Jelasnya.


Farhan berhenti sejenak, aku hanya menatapnya menunggunya melanjutkan kata-katanya.


"Respon Fauzi kemarin memperlihatkan bagaimana dewasanya dia menanggapi hubungan kita, hubunganmu dengannya dan hubunganku dengannya. Aku tau kemarin dia sangat kecewa dan pastinya sangat marah, tapi dia tetap menahan semuanya karena dia lebih melihatku sebagai sahabatnya ketimbang orang yang telah merebut pacarnya"


Akupun menyadari betapa kuatnya Fauzi menahan perasaannya kemarin.


"Dulu aku selalu memintamu untuk jadi pacarku, karena setelah melihat apa yang Fauzi lakukan padamu aku merasa dia tidak cukup pantas menerima cinta dari wanita yang kucintai, aku yang awalnya ingin menyerah tentangmu akhirnya memutuskan untuk memperjuangkanmu kembali karena merasa aku bisa lebih baik dari Fauzi yang sudah membuatmu tak berdaya malam itu. Tapi ternyata aku salah"


Aku jelas melihat sebuah penyesalan di wajah Farhan.


"Aku tidak jauh lebih baik dari Fauzi. Mungkin kami sama-sama pernah menyakitimu tapi Fauzi jauh lebih bisa mengendalikan egonya daripada aku. Setidaknya Fauzi tidak pernah memaksamu apalagi sampai membuatmu merasa terdesak" Jelasnya.


Aku diam saja mendengarnya.


"Maafkan aku Salwa, aku benar-benar sudah banyak bersalah sama kamu. Aku juga berterimakasih, setidaknya kamu tidak pernah menceritakan semua kebenarannya sama Fauzi tentang aku yang terus memaksamu"


"Buat apa aku cerita tentang hal itu kak? Itu hanya akan membuat Fauzi terluka kalau dia tahu sahabatnya yang sangat dia percaya bisa seagresif itu sama pacarnya sendiri. Kakak tidak perlu berterimakasih tentang hal itu karena aku melakukannya bukan untuk kakak tapi untuk Fauzi"


"Iya, aku tahu" Dia menghembuskan nafas sedikit lega setelah mengatakan semuanya. "Salwa, aku ingin berakhir secara baik-baik, bagaimanapun juga kita adalah teman sebelumnya. Aku sadar, aku sudah banyak bersalah sama kamu dan meminta mengakhiri ini baik-baik adalah bagian dari keegoisanku, tapi tetap saja aku berharap kita semua baik-baik saja"


"Iya.."


"Apa aku.." Perkataan Farhan terhenti melihat ponselku yang kuletakkan diatas meja berdering panggilan masuk dari Fauzi.


Aku diam saja, menunggu ponselku mati kembali.


"Kenapa tidak diangkat?" Tanyanya.


"Aku gak mau bohong lagi sama Fauzi. Kalau aku mengangkatnya gak mungkin aku bilang kalau sekarang lagi sama kakak, itu bisa ngebuat Fauzi salah paham lagi"


"Yasudah, aku akan mengatakan semuanya biar kamu bisa pulang lebih cepat. Fauzi akan curiga kalau kamu gak ngangkat telfonnya"


"Iya.."


"Eng.. Apa aku bisa minta tolong untuk yang terakhir kalinya sama kamu?" Farhan sedikit ragu-ragu.


"Tentang apa?"


"Tolong sampaikan permintaan maafku sama Fauzi. Aku benar-benar pengecut, aku gak berani ngomong langsung sama Fauzi"


"Kenapa? Fauzi gak akan marah"


"Iya aku tahu, aku hanya butuh waktu untuk menceritakan semuanya pada Fauzi"


"Iya, nanti aku sampaikan.."


"Makasih Salwa.." Katanya tersenyum.


Farhan berdiri "Untuk yang terakhir kalinya, semoga kedepannya kita bisa baik-baik saja" Katanya sambil mengajukan tangannya.


Aku menyalaminya "Iya.." Jawabku tersenyum.


"Aku berharap banyak, semoga kamu bahagia.."


"Aku juga, kakak semoga bahagia.."


.


.

__ADS_1


.


Hikss.. Maafkan, hari ini telat Up :'(


__ADS_2