Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kebingungan.


__ADS_3

Fauzi baru saja kembali setelah mengurus beberapa administrasi yang berhubungan mengenai perawatan Salwa di Rumah sakit. Dengan senyum manis, Fauzi melangkahkan kakinya masuk kembali keruang perawatan istrinya.


“Fauzi, Ibu sama Ayahku mana?”


Barulah Fauzi tersadar, bahwa dia belum mengabari orangtua dan juga mertuanya perihal Salwa yang mengalami kecelakaan pagi tadi. Meski begitu, pertanyaan Salwa yang tertangkap oleh telinganya sekarang terasa sedikit berbeda dari biasanya. Salwa tidak pernah lagi memperjelas menyebut Ibu dan Ayahnya dengan kata 'ku', karena bagi Salwa setelah menikah kemarin, Ibu dan Ayahnya adalah Ibu dan Ayah Fauzi juga. Namun Fauzi tidak peduli itu setelah ingatannya kembali mengingat bahwa ia belum juga mengabari keluarganya.


“Astaga.. Aku lupa ngabarin mereka. Mana ponselnya sayang? Aku harus ngasih tahu mereka kalau kita disini”


Salwa menyerahkan kembali ponsel milik Fauzi.


"Kamu kenapa pulang?"


"Pulang? Pulang dari mana sayang?"


"Ka-kamu gak kuliah? Kamu kan gak kuliah disini?"


Fauzi menatap Salwa, apa yang tengah istrinya itu pertanyakan sekarang adalah hal yang terjadi di masa lalu.


"Sayang, apa kamu bisa ingat hal yang lainnya sekarang??"


"Hal apa?" Tanya Salwa bingung.


"Hal yang terjadi di masa lalu? Seperti tentang aku yang kuliah gak disini?"


Salwa menatap Fauzi dengan bingung.


"Kenapa itu di masa lalu? Bukannya sekarang kamu...??"


Fauzi mendapatkan notif pada ponselnya, membuatnya mengalihkan pandangan dari Salwa dan membuka ponselnya.


"Astaga aku kan tadi mau nelfon Ibu sama Ayah"


Fauzi tidak lagi melanjutkan obrolannya bersama Salwa, perhatiannya teralihkan untuk menelfon Ibu dan Ayahnya.


"Ng.. Fauzi.."


"Iya sayang?" Respon Fauzi cepat.


“Ka-kalau kak Farhan? Apa dia tau aku ada disini?” Tanya Salwa ragu-ragu.


“Farhan??” Tanya Fauzi bingung. Kenapa istrinya itu bertanya perihal Farhan. Apa ingatannya menyentuh tentang Farhan sekarang. “A-aku rasa dia gak tahu kalau kita ada disini, aku belum ngasih tahu Farhan kalau kamu kecelakaan sayang. Kenapa?”


“Ga-gak kok, aku cuman tanya saja” Kata Salwa tersenyum canggung.


Fauzi bingung, kenapa tiba-tiba istrinya itu bertanya perihal Farhan. Dan hal yang lebih membingungkan lagi, adalah Salwa yang terlihat seolah mengingat semuanya. Meski dia memperlihatkan eskpresinya yang kebingungan, namun lebih jelas lagi terlihat kalau dia seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


Fauzi yang sebelumnya berniat menghubungi Ibu dan Ayahnya, harus tertunda karena ponselnya kini berdering panggilan masuk dari Farhan.


“Ah Farhan, kenapa tiba-tiba menelfon” Gumam Fauzi.


“Si-siapa??” Tanya Salwa terkejut.


“Farhan, sayang..”


Salwa terlihat sedikit ketakutan mengetahui bahwa panggilan masuk yang akan Fauzi jawab itu, adalah panggilan masuk dari Farhan. Melihat ekspresi istrinya, jelas menciptakan banyak tanda tanya di benak Fauzi, namun ia tidak menghujani istrinya itu dengan pertanyaan mengingat Salwa baru saja sadar dari kecelakaan yang menimpanya.


“Halo, Han?”


“Zi, Lu di Rumah sakit?”


“Iya, gue di Rumah sakit. Lu tau darimana?”


Fauzi melirik Salwa yang terlihat kelagapan sekarang.


“Lu bareng Salwa sekarang??”

__ADS_1


“Iya, kenapa?” Tanya Fauzi kebingungan.


“Share lokasi Rumah sakitnya, gue perlu kesana buat ngelurusin sesuatu”


“Ada apa sih, Han?”


“Udah kirim aja lokasinya”


Telfon Fauzi terputus dan kebingungan semakin melandanya sekarang. Masalah apa yang ingin Farhan luruskan dan lagi, Farhan tahu dari mana kalau mereka sedang di rumah sakit.


“Sayang, kamu ngasih tahu Farhan kalau kita di Rumah sakit?”


Salwa terkejut, meski tetap memperlihatkan senyum yang jelas terlihat canggung bercampur ketakuan.


“I-iya.. Apa yang kak Farhan bilang?”


“Dia bilang, dia mau kesini buat ngelurusin sesuatu”


“A-apa? Ngelurusin apa??”


“Aku juga gak tahu sayang, dia cuman bilang seperti itu”


Ekspresi takut bercampur gelisah semakin jelas terlihat di wajah Salwa, membuat Fauzi tidak lagi tahan untuk tidak bertanya, perihal apa yang membuat istri kesayangannya itu terlihat begitu khawatir.


“Kamu kenapa sayang? Ada apa?”


“Ah?? Eng gak apa-apa” Jawab Salwa berusaha menutupi kegelisahannya.


“Kalau ada sesuatu, bilang sama aku sayang. Kamu terlihat khawatir dan gelisah, ada apa?”


Salwa menggeleng kecil dan tersenyum. “Gak ada apa-apa kok” Jawabnya kemudian.


Fauzi tidak lagi bertanya, jelas terlihat istrinya tengah menyembunyikan sesuatu saat ini, namun ia tidak ingin membuat istrinya tertekan dengan pertanyaannya.


“Ga-gak ada kok” Jawab Salwa tersenyum canggung. “Farhan sudah jalan kesini?”


“Iya, tadi dia minta aku kirim lokasi kita dan kayaknya dia langsung kesini”


“O-oh gitu..”


Salwa mengalihkan pandangannya, ia menekan jari jemarinya satu sama lain, semakin memperlihatkan bahwa dia tengah gugup sekarang.


“A-anu.. Sayang..”


“Iya..” Jawab Fauzi cepat.


“A-aku mau makan roti, kamu bisa gak beliin aku roti?”


“Kamu mau roti apa sayang, biar aku minta Farhan singgah beli”


“Ga-gak.. Aku maunya kamu yang beliin”


Fauzi menatap istrinya bingung.


“Aku mau makan roti yang dibeliin sama kamu..” Rajuk Salwa.


Fauzi tersenyum, dan membelai pipi istrinya.


“Yasudah, tunggu disini sebentar” Kata Fauzi tersenyum.


Salwa bernafas lega ketika Fauzi melangkahkan kakinya keluar, ia berharap bisa bertemu dengan Farhan dulu sebelum Fauzi kembali dari membeli roti yang dia inginkan.


Keinginan Salwa terwujud, pintu kamar rawat inap miliknya di ketuk, dan seseorang melangkahkan kaki masuk yang tidak lain adalah Farhan.


“Kak Farhan..” Seru Salwa. “Kakak kenap..” Belum Salwa menyelesaikan ucapannya, dia dibuat terkejut dengan seseorang yang ikut berjalan masuk di belakang Farhan. “Ni-Nina???” Tanya Salwa memastikan apa yang dia saat ini.

__ADS_1


Nina dengan perutnya yang mulai membesar, mengekor dibelakang suaminya dengan tangannya yang di genggam erat oleh Farhan. Salwa yang melihat Farhan menggenggam erat tangan Nina, dibuat bingung dan keheranan.


“Salwa, bagaimana keadaanmu??” Kata Nina dan dengan cepat melangkah mendekati Salwa.


Salwa tidak menjawab, ia terperangah melihat apa yang ditangkap oleh indra penglihatannya saat ini.


“Sayang pelan-pelan..” Seru Farhan yang mengkhawatirkan Nina.


Salwa semakin dibuat heran melihat Farhan yang memanggil Nina dengan panggilan 'sayang', dan jelas terlihat begitu mengkhawatirkan Nina.


“Ke-kenapa kalian datang barengan? Dan lagi.. Sayang?? Kak Farhan manggil Nina sayang??” tanya Salwa yang semakin bingung dan heran dengan keadaan yang disajikan untuknya.


Farhan dan Nina saling bertatapan mendengar pertanyaan Salwa.


“Mungkin Salwa lupa lagi sekarang..” Kata Nina pada Farhan. Sesuai yang diketahui Nina bahwa Salwa tengah mengidap Alzheimer sekarang, sehingga ingatannya bermasalah.


“Tapi aku rasa bukan sayang, kamu ingat kan pesan yang dikirim Salwa tadi..”


“Kak Farhan ngasih liat Nina pesanku?” Tanya Salwa yang terkejut. “A-apa Nina tahu tentang kita sekarang?”


Bukan hanya Salwa yang kebingungan sekarang, Farhan dan Nina pun ikut bingung. Seperti ada kesalahan pada pemahaman mereka dengan pemahaman yang dimiliki Salwa saat ini.


“Salwa.. Aku sama..”


Nina berusaha menjelaskan pada Salwa tentang apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Nina bingung, apa ingatan Salwa yang bermasalah akibat ia menderita Alzheimer atau kah hal lainnya. Namun Nina harus menjelaskan segalanya agar kesalahpahaman Salwa bisa di luruskan.


“Nina, perutmu kenapa? Kenapa besar begitu? Kamu sakit??” Tanya Salwa memperlihatkan kekhawatirannya juga memperjelas keadaan Nina yang membuatnya kebingungan.


Nina memegangi perutnya, mengelus pelan buah hatinya bersama Farhan yang kini masih dalam kandungan.


“Perutku besar, karena aku lagi hamil Salwa” Jawab Nina menjelaskan kondisinya.


“Ha-hamil?? Kamu hamil?? Kenapa bisa?? Kamu hamil anak siapa Nina?? Ke-kemarin kan perutmu masih kecil..”


Nina dan Farhan kembali saling bertatapan, dibuat bingung dengan apa yang Salwa katakan. Farhan maupun Nina tidak lagi sadar bahwa Salwa adalah penderita Alzheimer. Apa yang Salwa perlihatkan sekarang, membuat Farhan dan Nina lebih bingung lagi dari kondisi yang pernah Salwa perlihatkan sebagai penderita Alzheimer.


"Ya-ya, a-aku hamil anak Farhan..”


Kornea mata Salwa melebar, dia begitu terkejut dengan jawaban Nina.


“A-anak kak Farhan??”


“Iya, Farhan kan suamiku..”


Salwa lebih terkejut lagi sekarang mendengar jawaban Nina. Dia tidak lagi bertanya dan hanya menganga seolah tidak percaya dengan apa yang Nina katakan.


“Oh, kamu sudah datang...” Kata Fauzi yang baru kembali setelah memberi roti yang diinginkan Salwa.


Fauzi bingung, dia yang baru datang disambut oleh tatapan heran dari mata Farhan maupun Nina, ditambah lagi istrinya yang terlihat begitu syok sekarang.


“Ada apa?” Tanya Fauzi kebingungan.


“Fa-Fauzi.. Nina hamil? Anak Farhan? Farhan suami Nina?” Tanya Salwa beruntun pada suaminya yang menghampirinya dengan plastik berisi roti yang dia inginkan.


“Iya sayang, ada apa??”


“Se-sebenarnya apa yang terjadi???”


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2