Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Jadian..


__ADS_3

Aku sedikit terkejut mengetahui tentang Nina yang akan dijodohkan. Nina temanku yang sangat realistis masalah hubungan, yang tidak pernah pacaran entah karena sengaja menghindari hubungan yang seperti itu atau karena memang belum ada laki-laki yang bisa menyentuh hatinya atau saja mungkin karena pikirannya yang terlalu realistis itu sampai membuatnya tidak juga berpacaran sampai di usianya yang sekarang.


"La terus?"


"Mama bilang dia cuman lebih tua sekitar setahun sampai tiga tahun dari kita.. Berarti dia sibuk karena kuliah mungkin.."


"Syukurlah kalau begitu, gak kebayang kan kalau kamu sampai dijodohkan sama Om-Om.."


"Ishh.. ya gak lah.."


"Tapi kenapa? Kok sampai dijodohkan? Apa karena Mamamu khawatir kamu gak bisa nemuin cowok gitu makanya mau dijodohkan.."


"Ck.. Salwa minta ditabok ya.. segitunya kamu mikir kalau aku gak bisa dapet cowok.. Bukannya gak bisa ya, aku cuman malas galau aja kayak kamu.."


"Alesan aja.."


"Serius.. Ntar juga kalau kuliah aku bakalan punya cowok, ya kali cuman satu bisa jadi dua tiga mungkin sampai puluhan.."


"Ckckck kayaknya minat banget mau punya cowok banyak ya.." Kataku denga nada setengah meledek.


"Iya lah.. buat nunjukin sama kamu ntar.."


"Hahahaha.. Tapi kenapa mamamu mau ngejodohin?"


"Gak tau juga, kata mama cowok itu anaknya temen papa, jadi ya mungkin untuk mempererat pertemanan aja.. lagian kan mama sama papaku gak maksa.."


"Ada-ada aja.."


"Jangan bilang sama siapa-siapa tentang ini.."


"Lah, aku mau ngomong sama siapa juga.."


"Ya pokoknya jangan bilang-bilang.."


"Iya iya nyonyaa.."


Cerita sama Nina sejenak membuatku lupa tentang Farhan yang menganggu pikiranku akhir-akkhir ini. Tapi setelahnya masalah dengan Farhan kembali membuatku uring-uringan. Aku juga tidak mau menghubungi Farhan, aku bingung sendiri.


Jam pelajaran terakhir selesai, hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur tiga hari pasca ujian tengah semester. Karena perasaanku yang tidak karuan, aku memilih berangkat menggunakan Taxi ketimbang bawa sepeda, aku khawatir terjadi apa-apa dijalan nantinya mengingat aku yang kurang fokus akhir-akhir ini.


Kuraih ponselku dalam saku yang berdering, panggilan masuk dari Farhan. Entah perasaan lega atau bagaimana, aku sampai tidak sadar mematung sejenak menatap layar ponselku yang terus berdering.


"Halo.."


"Kenapa wajahmu seperti itu?"


Aku terkejut, Farhan berkata seperti itu berarti Farhan sedang melihatku sekarang. Aku mengangkat kepalaku. mencari Farhan disekitarku sampai akhirnya aku melihatnya diseberang jalan. Aku memandangnya cukup lama..


"Sudah mau pulang?"


"Iya.." Jawabku


"Tunggu aku disitu.." Kata Farhan. Kulihat Farhan berjalan menghampiriku dari seberang jalan.

__ADS_1


Aku masih sedikit terkejut. Farhan datang entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ayo kuantar pulang.." Kata Farhan tersenyum sambil meraih tanganku dan menggandeng tanganku. Aku mengikut saja dengan Farhan yang menuntunku menyebrang menghampiri mobilnya yang diparkir diseberang jalan. Tidak ada kata yang keluar dari mulutku, Farhan membukakan pintu mobilnya dan aku masuk saja.


"Sini aku bantu pasang sabuk pengamannya.." Kata Farhan sambil memasangkan sabuk pengaman. Aku terdiam saja.


Ada banyak pertanyaan dikepalaku yang ingin aku tanyakan pada Farhan, ada banyak kata-kata yang ingin aku katakan tapi pada akhirnya aku hanya terdiam berusaha memahami apa yang sedang terjadi sekarang. Aku bingung, yang aku tau hanya ada perasaan lega melihat Farhan yang datang menghampiriku. perasaanku yang berkecamuk akhir-akhir ini karena Farhan yang tidak menghubungiku yang terus kutahan seperti mau meledak.


"Maafkan aku datang terlambat.." Kata Farhan membuka percakapan sambil menyetir.


Aku menatapnya. Dia berbalik dan kembali menatapku dan tersenyum lalu kembali fokus menyetir.


"Kurasa aku egois sekali hari itu, sampai kemarin pun aku masih saja dengan egoku. Maaf.."


"Tidak apa.." Jawabku pelan.


"Aku tidak menghubungimu dengan berharap kamu akan menghubungi lebih dulu, aku bilang untuk ngehubungi aku ketika kamu butuh aku lagi tapi pada kenyataannya sampai hari ini kamu sama sekali tidak menghubungiku. Aku lupa kalau yang butuh adalah aku, bukan kamu.." Jelasnya.


Aku terdiam saja.


"Dari hari itu sampai kemarin aku terus dengan egoku, menunggu dan berharap kamu akan ngehubungi aku, aku terus-terusan menahan diri untuk gak ngehubungi kamu, tapi hari ini aku sudah sampai pada batasku, aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak melihatmu Salwa.."


Hatiku terasa sakit mendengar perkataan Farhan, sakit dan sedikit terharu. Aku ini benar-benar cengeng sekali hanya dengan kata-kata Farhan yang seperti itu mataku sudah berkaca-kaca.


"Maaf.." Kataku menunduk.


"Maaf untuk apa? Kamu tidak salah.."


"Hey, kamu kenapa?" Tanya Farhan menghentikan mobilnya.


"Maaf, aku terlalu egois. Aku terlalu memaksakan kehendakku dan selalu melihat kakak berdasarkan standar Fauzi. Aku selalu membanding-bandingkan kakak dengan Fauzi padahal kakak sudah berusaha jadi yang terbaik buat aku.."


"Gak apa, itu resiko yang harus aku tanggung. Aku memintamu untuk tetap tinggal sama aku berarti udah seharusnya aku menanggung resiko yang seperti ini.." Kata Farhan mencoba menenangkanku.


Aku memandang Farhan "Aku merasa kehilangan kakak seminggu ini.."


Farhan terdiam sejenak. "Maafkan aku.."


"Gak, karena ini juga aku jadi bisa memahami perasaanku sama kakak.."


Farhan memandangku dengan tatapan bingung.


"Memahami perasaan apa?" Tanyanya.


"Aku merasa kehilangan, aku bingung dan aku.."


"Kamu?"


"Mungkin aku gak lagi melihat kakak sebagai orang dibelakang Fauzi, aku gak lagi menganggap hubungan kita sebuah keterpaksaan, tapi.."


"Tapi..??"


"Aku rasa hubungan ini serius.."

__ADS_1


"Maksud kamu apa?"


"Kejadian kemarin ngebuat aku sadar kalau takut kehilangan kakak, negbuat aku jadi tau perasaanku yang sebenarnya ke kakak kalau aku suka sama kakak.." Kataku dengan pelan.


"Kamu bilang apa barusan?" Tanya Farhan sedikit terkejut.


"Aku suka sama kakak... aku gak mau kakak hilang kayak kemarin.."


"Ka.. kamu serius??" Tanya Farhan dengan suara sedikit kuat.


Aku mengangguk.


Farhan menghambur memelukku.


"Kata 'suka'mu sama aku gak boleh ditarik, pokoknya gak boleh.." Kata Farhan memperat pelukannya.


Aku hanya mengangguk.


"Salwa ini beneran kan? Kamu gak lagi ngerjain aku kan? Kamu gak lagi bercanda kan?" Tanyanya bertubi-tubi untuk memastikan pernyataanku.


Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.


"Aku gak lagi mimpi kan? Ini beneran kan?" Kata Farhan mencubit sedikit lengannya.. "Ah sakit, berarti ini beneran.." Kata Farhan menatapku dengan senyumnya yang semakin melebar tapi matanya berkaca-kaca.


Farhan kembali memelukku.


"Terimakasih Salwa.. aku senang sekali.." Kata Farhan terisak.


"Ka.. kakak menangis?" Tanyaku.


"Ah..? Aku hanya sedikit terharu.." Katanya melepas pelukannya sambil menyeka airmatanya. "Aku senang sekali Salwa.. Aku senang sekali..."


Aku hanya tersenyum.


Farhan meraih tanganku.. "Pipiku panas kan? Pipiku memanas karena terlalu senang.." Kata Farhan meletakkan tanganku diwajahnya.


"Kakak berlebihan.."


"Aku gak tau harus mengekspresikan bagaimana rasa senangku Salwa, aku benar-benar bahagia sekarang. Terimakasih.." Katanya dengan tersenyum.


Aku balas tersenyum "Iya.." Jawabku.


"Bagaimana ini? Aku jadi tidak ingin mengantarmu pulang, aku mau sama kamu terus.."


"Kakak gak kuliah?"


"Ada satu matakuliah hari ini tapi aku gak mau masuk, aku mau jalan sama kamu saja hari ini.."


"Tapi.."


"Gak terlalu penting kok.. Hari ini kita jalan yaa..."


"Iya.." Jawabku tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2