Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Salwa's memory


__ADS_3

Maafkan aku, maafkan aku..


maafkan aku karena gak pernah sadar sama diriku yang sudah gak sehat ini..


Maafkan aku yang hanya bisa ngebuat kamu kesulitan dan menderita..


Sungguh, aku gak tahu tentang penghapus yang sudah ada di kepalaku ini...


Aku gak tahu sudah berapa lama penghapus itu ada, aku gak tahu..


Kamu pasti terluka sama ingatanku, kamu pasti kesulitan menghadapi aku..


Tolong maafkan aku..


Maafkan aku karena melupakan kenangan kita, maafkan aku karena udah ngebuat putri kita ketakutan, maafkan aku..


Aku tidak tahu apa saja yang udah aku katakan sama kamu, tapi kamu harus percaya kalau aku sama sekali gak bermaksud buat nyakitin kamu..


Aku sayang sama kamu Ozi, aku sayang sama Fauzi, suamiku, cintaku, belahan jiwaku..


Maafkan aku yang tidak bisa mengingat semua kenangan kita, maafkan aku yang melupakan semuanya..


Aku ingin menyimpan semua kenangan itu, aku ingin selalu merasakan cintaku yang berkobar untuk kamu setiap harinya, aku ingin semua ingatanku tentang kamu dan putri kita selalu ada..


Tapi aku hanya ingin, bukan aku bisa..


Aku pergi, aku gak mau ngerepotin kamu lagi..


Aku gak bisa sembuh, jadi hanya penderitaan yang akan aku kasi ke kamu kalau aku tetap disini..


Apa aku egois kalau minta kamu tetap ingat aku sedang aku bisa melupakanmu kapan saja?? Sungguh, aku mau selalu ada dihatimu, diingatanmu, dan dicintai sama kamu..


Jaga putri kita, besarkan dia tanpa menyakitinya.. jangan membuatnya ketakutan, seperti apa yang sudah ibunya ini lakukan..


Aku tidak becus menjadi istri dan Ibu.. aku bukan perempuan yang baik.. Maafkan aku..


Aku menulis ini selagi ingatanku masih baik, aku menulis semua apa yang aku ingat saat ini..


Kalau suatu hari nanti kamu ketemu sama aku, tolong sapa aku dan perkenalkan dirimu lagi. aku yakin, aku pasti bisa mengenalimu, karena cintaku yang luarbiasa untukmu, Fauziku..


Maafkan aku, aku mencintaimu..


.


.


.


Fauzi menggenggam erat sepucuk surat yang ditinggalkan istrinya, hatinya sakit tidak terjabarkan, airmatanya yang mengalir deras menjadi bukti rasa pilu yang tengah menerjangnya saat ini.


Fauzi berbalik dan berlari keluar, sekiranya istrinya itu belum jauh dari rumah sehingga masih bisa ia temukan.


Hal serupa sudah pernah terjadi sebelumnya, hanya waktu dan kondisi saja yang membedakan. Fauzi yang berlari tanpa arah, menyapu pandangan di sekitarnya, berbalik ke kanan dan ke kiri mencari sosok istri tercintanya.


Fauzi tidak peduli lagi dengan pandangan orang terhadapnya, airmata yang tidak bisa hentikan kini menjadi perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya.


“Kenapa kamu masih saja sama sayang?? Kenapa suka sekali menyimpulkan sesuatu hanya dengan pikiranmu dan sesukamu?? Ini bukan kali pertama kamu menyimpulkan perasaanku dan bertindak semaumu..”

__ADS_1


Fauzi kembali mengingat, bagaimana istrinya yang sangat mudah mengambil keputusan sendiri atas pikirannya yang tidak berdasar.


“Kamu dimana sekarang??? Ketiadaanmu lebih menyakitkan, lebih merepotkan daripada kondisimu seperti ini..”


Tak ada rasa lelah yang Fauzi rasakan, hanya kegelisahan, kekhawatiran dan rasa takut yang sedari tadi menyelimuti perasaannya. Perasaan lelah tidak ada artinya dibandingkan semua perasaan sakit yang membanjirinya saat ini.


Fauzi meraih ponselnya, sekiranya wanita yang dicintainya itu kembali kerumah orangtuanya. Meski awalnya Fauzi tidak ingin membuat khawatir Ibu mertuanya dengan keadaan ini, namun Fauzi tidak bisa lagi menahannya.


“Bu, apa Salwa ada disana?” Tanya Fauzi seketika, ketika telfonnya tersambung.


“Tidak ada, apa apa? Dimana Salwa??”


“Aku tidak tahu Bu, aku sudah mencarinya sedari tadi. Tapi...”


Terdengar jelas oleh Fauzi dari seberang telfon, bagaimana tangis mertuanya pecah, membuatnya merasa bersalah.


“I-ibu maafkan aku...”


“Ibu akan keluar mencari Salwa juga, segera hubungi Ibu kalau sudah ketemu..”


“Iya Bu..”


Ada sedikit penyesalan yang Fauzi rasakan karena telah menghubungi Ibu mertuanya. Bukan keberadaan Salwa yang dia temui, hanya kekhawatiran yang ia berikan pada Ibu mertuanya dan rasa bersalah yang perlahan juga mulai merasukinya saat ini.


Fauzi melanjutkan pencariannya, berlarian tak tentu arah sambil sesekali meneriaki nama Ibu dari putri kesayangannya itu.


Entah berapa lama Fauzi berkeliling mencari Salwa, namun tidak juga ia temukan. Ia juga belum mendapatkan kabar dari Ibu mertuanya yang sekarang ikut mencari Salwa.


Kemeja berwarna abu-abu yang digunakannya, sudah basah akan keringatnya. Sebagian rambutnya pun sudah basah dan terlihat acak-acakan, penampilannya sudah tidak karu-karuan lagi.


Fauzi berhenti sejenak, duduk di tepi jalan sembari memegangi kepalanya dengan pikiran yang tidak karu-karuan. Fauzi tidak bisa berpikir jernih lagi.


Fauzi menyapu layar ponselnya, telfon yang sangat ia harapkan itu rupanya bukan dari Ibu mertuanya, melainkan dari sahabatnya, Farhan.


“Lu dimana?” tanya Farhan ketika Fauzi menjawab panggilannya.


“Gue?” Fauzi menyapu sekitar dengan pandangannya. Dia pun tidak sadar sedang berada dimana saat ini. Sedari tadi dia hanya berlarian tidak jelas mencari keberadaan istrinya. “Gue ada disekitar rumah, kenapa Han?”


“Sekitar rumah Lu? Gue ada di rumah Lu, ngantar Salwa”


Fauzi beranjak dengan cepat. “Lu bilang apa tadi? Salwa di rumah sekarang?”


“Iya, cepat balik gih..”


Tak ada lagi kata-kata yang diucapkan Fauzi, dia mematikan ponselnya dan dengan cepat berlari kearah rumahnya.


Farhan sudah berdiri dengan Salwa disampingnya. Fauzi yang berlarian segera menghampiri mereka. Senyum Salwa terpancar manis ditujukan untuk suaminya.


Fauzi berhambur memeluk Salwa, melepaskan segala kegelisahan yang sedari tadi menyelimutinya.


“Kamu dari mana saja sayang?? Aku sedari tadi nyariin kamu..”


“Maaf sayang, aku juga bingung tadi mau kemana. Untungnya ketemu Farhan di jalan, dan dia nganter aku pulang”


Mendengar apa yang di katakan Salwa, sepertinya istri tercintanya itu sudah tidak ingat lagi dengan surat yang dia tulis sebelum memutuskan untuk pergi dari rumah.


“Han, makasih banget..”

__ADS_1


Farhan hanya mengangguk sembari tersenyum.


“Ayo masuk dulu..”


Fauzi mengantar istrinya ke kamar untuk beristirahat, sedang Farhan menunggu di ruang tamu.


Fauzi kembali ke ruang tamu menemui Farhan dengan segelas air ditangannya.


“Makasih Han, gue udah keliling nyari Salwa tadi, gue gak tahu gimana jadinya kalau Lu gak nemuin Salwa”


Farhan hanya mengangguk, sembari meneguk segelas air yang Fauzi sediakan untuknya.


“Kenapa Lu bisa kelepasan?”


“Gue ngerjain dokumen tadi, padahal baru sebentar aja gue gak memonitor Salwa, dan hal seperti ini sudah terjadi..”


“Lain kali, Lu harus lebih waspada lagi..”


“Iya Han. oh ya, Lu ketemu Salwa dimana?”


“Dekat Rumah sakit di depan sana. Gue liat dia udah kebingungan, jadi gue ngajak dia balik. Gue tahu, dia gak sadar diri sampai disana”


“Syukurlah karena Lu ngebawa Salwa balik. Lu sendiri ngapain di RS?”


“Gue meriksa kandungan Nina, akhir-akhir ini mualnya semakin sering”


“Tapi dia baik-baik aja kan?”


“Iya..”


Hening tercipta sejenak, Fauzi maupun Farhan terdiam tanpa bahasa. Seolah ada yang mereka ingin katakan, namun masih dipikirkan baik-baik sebelum dibicarakan.


“Han..” Fauzi akhirinya angkat bicara lebih dulu.


“Ya?”


“Salwa hari ini keluar dari rumah, bukan karena dia tidak sadar. Melainkan karena kesadarannya normal sejenak, sampai dia memutuskan untuk keluar dari rumah”


“Maksud Lu?”


Fauzi mengeluarkan surat yang ditulis Salwa dari sakunya, dia berikan pada Farhan.


Farhan memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan, namun tetap meraih selembar kertas yang dia tak tahu isinya itu.


“Gue gak tahu apa-apa, karena Lu juga anak kesehatan, mungkin Lu tahu sedikit tentang ini. Apa iya, ada kemugkinan Salwa bisa berpikir rasional atau tiba-tiba bisa mengingat semuanya seperti yang terjadi tadi?”


Farhan mengelus pelan dahinya, sedikit mengamati yang terjadi pada Salwa barusan.


“Gue gak terlalu yakin sih, tapi dari apa yang gue pelajari dulunya, emang penderita Alzheimer kadang-kadang bisa mengingat beberapa hal yang realita, bukan sekedar delusi saja. Tapi itu bukan suatu tanda dia akan sembuh atau membaik. Maaf Zi, bukannya gue mau memperjelas akhir dari apa yang akan terjadi pada Salwa, gue cuman gak mau Lu jadi berharap lebih karena hal ini”


Fauzi terdiam sejenak.


“Ya, seharusnya emang gue gak berharap lebih. Yang bisa gue lakuin sekarang hanya menjaga Salwa dan terus berusaha memperlambat alzheimernya..”


“Yang Sabar, Zi”


Fauzi hanya memaksakan diri tersenyum.

__ADS_1


Melihat keadaan Fauzi, Farhan akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang ingin dia katakan sebelumnya.


__ADS_2