
Seperti malam-malam biasanya jika tak ada tugas. Aku akan asyik dengan komputerku menatap layar yang dipenuhi wajah-wajah artis korea yang kerap kupanggil oppa. Menghayal atau yang lebih sering disebut fangirl sebagai ngeHalu.. Membayangkan idolaku dengan segala imajinasiku yang tidak jelas.
"Ah.. Siapa yang mengizinkan kalian terlahir tampan seperti ini sih??" *Pertanyaan yang sangat tidak berbobot kan gaess*
"Tentu saja kalian tampan seperti ini karena ibu mertua yang cantik kan?"
*Wahai engkau Salwa sang Fangirl yang kurang asupan micin, siapa yang kau sebut ibu mertua itu?*
Aku jadi tersenyum cengengesan meskipun mataku masih agak sedikit sembab karena sempat melanjutkan tangis yang kurang lengkap tadi saat sama Farhan di taman.
"Sayang.."
Notif pesan dari Fauzi mengalihkan pandanganku dari layar komputer.
Kuraih Handphoneku.
"Iya kenapa?" balasku pada pesan chatnya.
"Seharian kamu latihan ya, sampai nomornya gak di aktifin?" balasnya lagi.
"Iya.." Kataku berbohong.
Sebelum Farhan mengantarku pulang sore tadi, aku berpesan sama Farhan untuk tidak bilang kalau aku datang melihat pertandingan. Aku tidak ingin Fauzi menjadi merasa bersalah karena itu.
Ya meskipun aku memikirkan perasaan Fauzi agar tidak merasa bersalah tetap saja aku ada sedikit rasa kesal.
"Aku nelfon kamu boleh?"
Belum sempat kubalas..
Handphoneku sudah berdering panggilan masuk dari Fauzi.
"Aku gak ganggu waktu istirahat kamu kan sayang?" Tanyanya dari seberang telfon.
"Gak, kenapa?" Jawabku
"Ya gak kenapa-kenapa? Aku cuman kangen sama kamu.."
"Ohiya.." Jawabku singkat.
"Kamu kenapa?" mendengar jawabanku yang singkat membuatnya jadi bertanya.
"Aku kenapa?" Tanyaku kembali
"Kamu marah?"
"Aku? Marah? Kenapa?"
"Oh gak ya.. Ya gak papa sayang"
Kudengar suaranya jadi sedikit baik.
"Udahan ya.." kataku dengan nada sedikit mengeluh
"Kok udah, aku masih kangen. Seharian kamu juga gak ada kabar sayang"
"Ya kan aku latihan Fauzi, lagian kamu sibuk motret juga kan aku gak pernah ganggu kamu"
"Aku ngeganggu kamu?"
"Gak, udah ya.. Aku ngantuk.."
"Oh iya yaudah, kamu pasti capek.. Maaf aku ngeganggu kamu sayang.. Selamat Istrahat" katanya penuh perhatian.
"Iya.." Kataku memutuskan telfon.
Entah mengapa aku jadi merasa kesal, aku tahu ini bukan kesalahan Fauzi, Fauzi sudah mencoba untuk mengabariku, tapi aku yang menghalangi Fauzi.
Ah aku menjadi kesal sendiri, entah kesal sama Fauzi atau kesal sama diri sendiri.
Kulemparkan ponselku dikasur. Aku kembali pada komputerku. Menatap layar dan mulai melihat foto, video dan hal-hal yang bisa membuat moodku kembali membaik.
Selang beberapa saat.
Tingtongg 🎶🎶
Notif pesan masuk..
Kuraih kembali telfon genggamku, ada satu pesan dari Farhan.
__ADS_1
"Kamu gak papa?" Tanyanya..
"Gak papa apanya kak?" Tanyaku kembali.
"Aku telfon ya.."
"Iya.."
Panggilan masuk dari Farhan.
"Ah maaf kalau aku jadi ganggu waktu istirahat kamu"
"Gak papa kak.. Kenapa kak?"
"Kamu baik-baik saja kan?"
"Iya, aku baik-baik aja, kenapa?" Tanyaku "Oh, tentang tadi sore? Aku udah baikan kok kak" kataku seketika sudah mengerti dengan yang dimaksud Farhan.
"Tadi Fauzi nelfon aku"
"Fauzi nelfon kakak? Kenapa?"
"Katanya kamu aneh?"
"Aneh apanya? Perasaan biasa aja"
"Ya gak tau, dia cuman bilang lagi kangen sama kamu, tapi katanya kamu aneh.."
"Oh itu, aku cuman kecapean doang kok kak"
"Oh gitu.. Setelah dipikir-pikir bukan kamu yang aneh sekarang, tapi si Fauzi.."
"Lah.. Kok bisa?"
"ya iya.. Katanya kangen sama pacarnya, tapi nelfonnya aku.. Kan aneh, kesannya kayak hubunganku dengan Fauzi gak normal.. Hahaha"
"Hahaha.. Iya iyaa.." kataku jadi ikut tertawa.
"Jadi takut sama Fauzi, ya kali aku jadi pelampiasan rindunya Fauzi.. Haha kok kesannya jahat ya..."
"Haha ya kakak kenapa ngeladenin?"
"Ah, sekarang yang aneh aku jadinya.. Iya ya ngapa jadi ikut ngeladeni kangennya Fauzi"
"Haha, kakak gak takut kalau Fauzi beneran naksir sama kakak"
"Bukannya kamu yang harusnya takut?"
"Kok aku?"
"Lah, kalau Fauzi naksir sama aku, kemungkinan besar kamu bakalan diselingkuhin kan? Ingat ya, aku sekelas sama Fauzi, lirik-lirikkan mata sama Fauzi itu hal yang sangat bisa terjadi, dan orang-orang gak bakal ada yang curiga"
"Hahaha, ikhlas aku kak.. Ikhlas banget malah kalau Fauzi selingkuhnya sama kakak" kataku sambil tertawa pecah.
"Haha.. Kalau aku jadi kamu bakalan sakit hati banget.. Secara pacarku selingkuhnya bukannya sama cewek malah sama cowok tulen.. Haha selama ini dia nganggep kamu apa coba?"
"Haha iya iyaa.. Kok aku jadi ngeri ngebayanginnya.."
"Haha makanya jangan dibayangkan"
"Udah terlanjur dibayangkan kak, haha"
"haha.. Aduh jadi keterusan cerita, niatnya cuman mau nanya kamu baik-baik aja apa gak, malah keterusan.. Yaudah istirahat gih, maaf ya aku jadi ngeganggu waktu istirahat kamu"
"Gak papa kak.. Aku makasih malah, kakak udah ngebuat aku ketawa"
"Yaudah, selamat istirahat Salwa.."
__ADS_1
"Engg... Kak..." kataku menyela.
"Heem ya? Kenapa?"
"Aku salah ya?"
"Salah? Salah kenapa?"
"Aku tau, hari ini bukan salah Fauzi.. Tapi aku terus-terusan merasa kesal sama Fauzi"
"Jadi karena itu kamu jadi gak ngerespon Fauzi tadi?"
"Iya, bawaannya aku selalu kesal sama Fauzi"
"Hemm... Aku ngerti, kamu gak salah kalau emang ngerasa kesal Fauzi, sebenarnya itu juga bukan rasa kesalmu, itu rasa kecewamu karena ekspektasimu gak sesuai?"
"Ekspektasi?"
"Iya, secara kamu udah ngebayangin Fauzi bakalan terkejut dan bahagia karena ngeliat kamu datang, tapi nyatanya gak seperti itu. Itu cuman rasa kecewamu saja Salwa"
"Iya mungkin gitu kak.."
"itu bukan hal yang salah, tapi sebenarnya yang kamu lakuin ke Fauzi itu yang Salah"
"Hem?"
"Kamu gak bilang sama Fauzi tentang kejadian hari ini, Fauzi yang gak tau apa-apa tapi kamu jadikan tempat pelampiasan kekecewaanmu. Fauzi beneran khawatir Salwa, aku bisa ngerasain sewaktu dia nelfon aku tadi"
"Jadi aku harus gimana kak?"
"Ya kamu minta maaf aja sama Fauzi"
"Tapi aku gak mau bilang tentang tadi siang"
"Ya gak usah bilang, kamu kan bisa minta maaf dalih-dalih marah tadi karena kecapean, Fauzi pasti ngerti kok"
"Gitu yaa"
"Udah sana telfon Fauzi.. Biar khawatirnya dia bisa ilang"
"Iya.. Makasih ya kak.. Maaf kakak harus ngedengar curhatan aku"
"Hemm.. Kan aku udah bilang Salwa, kamu bisa cerita apapun ke aku. Jangan sungkan"
"Iya, makasih kak"
"Yaudah aku matiin telfonnya, cepat minta maaf"
"Iya.."
Telfon dengan Farhan terputus.
Benar yang dikatakan Farhan. Aku tidak seharusnya merasa kesal sama Fauzi, aku yang memilih untuk tidak memberitahu Fauzi tentang apa yang terjadi siang tadi, jelas Fauzi kebingungan dengan sikapku tadi.
Aku mencoba menelfon Fauzi, aku harus meminta maaf tentang perlakuanku tadi. Aku sudah benar-benar keterlaluan.
Tidak ada jawaban dari Fauzi. Aku kembali mencoba menelfonnya tapi tetap tidak ada jawaban.
Bekali-kali aku mencoba menghubungi Fauzi tapi hasilnya tetap sama tidak ada panggilanku yang terjawab.
"Katanya khawatir sama aku, tapi ini telfonku kenapa jadi dianggurin sih?" pikirku kembali mulai kesal.
Aku terus-terusan mencoba menghubungi Fauzi, entah sudah berapa panggilan tak terjawabku di Ponsel Fauzi yang tak terjawab. Hingga akhirnya aku mulai menyerah.
"Apa aku telfon kak Farhan lagi?" pikirku..
"Ah gak gak, aku bakal ngeganggu waktu kak Farhan" seketika niatku menelfon Farhan jadi berubah.
Aku kembali menelfon Fauzi, tapi lagi dan lagi tidak ada jawaban dari Fauzi.
"Sudahlah..." kataku menyerah dan meletakkan telfon genggamku.
__ADS_1
"Semoga hari besok menjadi lebih baik" Harapku