
Semakin hari, semakin banyak kejutan-kejutan yang Salwa sajikan untuk Fauzi. dan hari ini, kejutan yang ia berikan bukan hanya untuk suaminya saja, melainkan juga untuk ibunya.
Fauzi harus menahan sakit yang luarbiasa, tatkala istrinya itu tidak lagi mengingat status yang mengikat mereka. Memorinya kembali di masa lalu, dimana mereka masih berstatuskan pacaran saat itu.
Ibunya dibuat begitu bingung dengan apa yang Salwa katakan pagi ini. Entah hal aneh apalagi yang tengah menganggu di memorinya pagi ini, sampai ia lupa akan status dengan suaminya. Dalam kebingungan, Ibunya tetap berusaha menjelaskan dan memberi pemahaman pada putrinya agar kembali mengingat, status apa yang sudah mengikatnya dengan Fauzi, orang yang begitu membuatnya terkejut pagi ini dengan kehadiran disampingnya.
Salwa perlahan menyadari akan dirinya yang sudah berstatus sebagai istri dari Fauzi, meski ia tidak begitu yakin. Salwa perlahan berjalan menuju arah pintu. Berdiam sejenak di depan pintu dan dengan ragu-ragu yang berselimut kebingungan, Salwa membuka kunci dan memutar engsel pintu. Hingga ia tarik dan nampak wajah Fauzi dengan airmata yang membanjiri wajahnya.
“Sayang...”
Ketika mata yang dibanjiri dengan airmata bening itu menangkap keberadaan istrinya, ia berhambur memeluk melepaskan semua kegelisahannya.
“Kita udah nikah?” tanya Salwa kebingungan dalam pelukan Fauzi yang semakin erat.
“Iya sayang.. Kita udah nikah”
“Kapan??”
Airmata yang mengalir semakin deras saja tatkala istrinya mempertanyakan hari bahagia mereka. Hari yang membuat mereka begitu bahagia dulunya, ternyata bisa terhapuskan dari memori Salwa, semakin membuat Fauzi ketakutan akan dia yang bisa saja suatu hari nanti juga dilupakan.
Fauzi memeluk Salwa lebih erat lagi. salwa diam saja tanpa merespon.
“Kita sudah menikah sayang, kita sudah menikah. Kamu harus ingat kalau kita sudah menikah, tolong jangan lupakan itu”
Berulang-ulang Fauzi mengatakannya agar istrinya itu bisa menanamkan tentang status mereka diingatannya. Namun hal seperti itu tidak akan berpengaruh pada ingatan Salwa yang semakin hari semakin menurun.
Fauzi melepas pelukannya, lalu mengarahkan istrinya kembali masuk ke kamar.
Fauzi mulai membuka lemari mereka, mengeluarkan semua yang berhubungan dengan pernikahan mereka. Salwa yang duduk di tepi ranjang hanya terdiam mengamati Fauzi yang sibuk ke kanan dan ke kiri mengambil semua benda yang sekiranya bisa membangkitkan ingatan istrinya tentang pernikahan mereka.
“Sayang, kamu lihat ini? Ini adalah gaun yang kamu pakai saat resepsi pernikahan kita” Kata Fauzi sembari mengangkat gaun berwarna nude itu di depan Salwa. “Dan kamu pakai baju adat waktu akad..” Fauzi bergegas meletakkan gaun yang dipegangnya dan beralih mengangkat bingkai besar yang berisikan foto mereka di hari pernikahan. “Ini baju yang kamu gunakan saat kita akad, tapi kamu gak punya baju ini, karena ini gak di sediakan untuk kita”
Salwa hanya memperhatikan Fauzi. entah yang dijelaskan Fauzi dapat ia mengerti, atau hanya sekedar menonton Fauzi menjelaskan semuanya.
“Ini adalah sandal yang kamu pakai, dan ini adalah bando pengantin yang mati-matian kamu mita sama MUAnya sampai mereka ngasih ke kamu”
Fauzi menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidakk pernah menyangka, akan ada hari yang membuatnya harus menjelaskan semua detail tentang pernikahan mereka.
Fauzi beralih mengambil album, membuka satu persatu foto sembari menjelaskan keadaan waktu itu pada istrinya. Fauzi terus menjelaskan dengan airmatanya yang tidak berhenti mengalir meski selalu ia seka.
Perlahan Salwa mendekat dan memeluk Fauzi dengan hangat. Lagi airmata Fauzi mengalir, sembari tersikuk-sikuk balas memeluk istrinya.
“Sayang, kamu sudah ingat??”
__ADS_1
“Tidak”
Jawaban Salwa sekali lagi memberi tembakan yang tepat sasaran mengenai hati Fauzi. rasa sakit yang makin menjadi-jadi terus saja menerjang perasaannya.
“Aku gak ingat, tapi aku percaya”
Fauzi terdiam saja, hanya tangisnya yang masih dia tahan agar tidak meledak.
“Aku percaya dengan apa yang kamu bilang. Kalau kamu bilang kita sudah menikah, ya aku percaya itu. Aku juga senang, meski aku gak ingat kalau kita sudah menikah, tapi aku senang mengetahui kalau kita sudah menikah. Aku sayang sama Ozi”
Airmata Fauzi semakin deras saja mengalir. Sakit yang tidak ada habisnya, namun juga bercampur dengan rasa bahagia dan haru. Dia begitu sakit mengetahui fakta tentang istrinya yang tidak mengingat status mereka yang telah menikah meski ia sudah menunjukkan semua hal yang berhubungan dengan pernikahan mereka. Namun rasa haru dan bahagia juga turut mengambil peran memenuhi perasaannya, saat sang istri tercinta tetap percaya padanya meski di ingatannya tidak lagi momen pernikahan mereka, juga kata cinta yang masih istrinya ungkapkan dengan tulus.
“Ya begitupun tidak apa. Kamu tidak bisa memaksakan ingatanmu untuk bisa mengingat semuanya, jadi yang harus kamu lakukan hanya percaya sama aku saja, dan terus mencintaiku” pinta Fauzi dengan airmata yang tidak bisa ia hentikan.
Salwa hanya memeluk suaminya, tidak merespon dengan satu katapun.
“Kamu harus terus cinta sama aku Salwa, kamu harus percaya sama aku”
Lagi tidak ada respon dari Salwa.
“Sayang.. Kamu dengar aku kan???” tanya Fauzi sembari ingin melepas pelukannya untuk menyadarkan Salwa yang lagi-lagi tidak mendengarkannya. Namun belum juga Fauzi melepas pelukannya, Salwa dengan cepat menariknya kembali.
“Maafkan aku sayang.. Maafkan aku..”
“Maafkan aku karena sempat lupa sama moment bahagia kita. Maafkan aku..”
Tangis Salwa pecah seketika, pelukannya menjadi lebih erat.
“Ka-kamu sudah ingat? Sudah ingat pernikahan kita??” tanya Fauzi memperjelas.
Perlahan Salwa merenggangkan pelukannya.
“Maafkan aku..” kata Salwa menunduk dengan airmatanya yang terus mengalir.
“Tidak apa, tidak apa kalau sempat lupa, asal sekarang kamu sudah ingat”
“Salwa hanya mengangguk”
“Makasih karena sudah mengingatnya”
Fauzi kembali berhambur memeluk istriya yang sudah di banjiri airmata.
Fauzi tahu, semakin hari akan semakin banyak hal yang terhapus dari ingatan istrinya, dan akan semakin banyak luka-luka yang akan dia rasakan. Dia sadar, dia tidak bisa memaksa istrinya untuk mengingat semua kenangan yang pernah mereka lalui, meski di dalam hati Fauzi masih sangat berharap agar istrinya tetap bisa mengingat kenangan indah mereka.
__ADS_1
.
.
.
.
Fauzi duduk termenung di pinggir ranjangnya, pikirannya terbagi-bagi tak karuan. Dia masih sulit menerima keadaan istrinya yang semakin hari semakin buruk, juga menolak mempercayai bahwa suatu hari nanti, diapun akan dilupakan oleh istrinya. Sementara istrinya tengah mandi untuk sekiranya menenangkan perasaannya dari sakit hati yang dia rasakan setelah sadar akan dirinya yang lupa pada moment istimewa dalam hidupnya.
Ponsel yang Fauzi yang diletakkan diatas meja samping tidur berdering, satu panggilan masuk dari Ibu mertuanya.
“Iya Ibu..” Jawab Fauzi.
“Nak, kamu dimana?”
“Aku dirumah, Bu. Ada apa?”
“Kalian baik-baik saja?”
Pertanyaan Ibunya yang seolah paham akan keadaan mereka saat ini.
“I-iya, kami baik-baik saja, Bu”
“Syukurlah. Ibu dibuat pusing dengan Salwa barusan. Mungkin dia sedang mimpi buruk atau bagaimana. Dia nelfon Ibu sembari minta maaf karena dia tidur sama kamu”
Perlahan airmata Fauzi menetes, mengingat apa yang terjadi padanya pagi ini.
“Dia berpikiran kalau kalian masih pacaran. Ck anak itu, dia masih saja sama seperti dulu, perasaannya suka terbawa dengan mimpinya”
Fauzi semakin tidak tahan, airmatanya terus mengalir, hingga suara isak tangisnya terdengar dari seberang telfon oleh Ibu mertuanya.
“Fauzi, kamu kenapa nak? Ada apa??”
Tangis Fauzi semakin menjadi-jadi saat mendengar pertanyaan dari Ibu mertuanya. Entah sudah berapa banyak airmata yang Fauzi keluarkan hari ini, terhitung dari pagi tadi.
“Fauzi?? jawab Ibu”
Fauzi menyeka airmatanya. Ia sadar, dia tidak akan bisa menyembunyikan keadaan Salwa dari Ibu mertuanya. Salwa adalah satu-satunya putri mereka, dan mertuanya berhak tahu akan keadaan Salwa.
“Salwa sakit, Bu”
“Apa??”
__ADS_1