Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Cerita Salwa


__ADS_3

Aku berusaha menghindar dari pertanyaan Nina meski aku sadar itu tidak akan mungkin. Aku berdiam berdiri cukup lama memandangi dua gelas yang sudah terisi dengan air hingga penuh. Pertanyaan Nina tadi kembali mengingatkanku pada Fauzi dan lagi aku tidak bisa menangani perasaanku.


Perlahan airmataku mulai menetes, aku tidak bisa menahan perasaan sedih yang kembali merasuk kedalam perasaanku mengingat tentang Fauzi.


"Salwa.." Panggil Nina menyusulku ke dapur.


Aku dengan cepat menyeka airmataku agar Nina tidak melihatnya.


"Iya?" Jawabku berbalik melihat Nina dan berusaha tersenyum.


"Kamu kenapa?" Tanya Nina


"Aku? Aku baik-baik saja. Kamu kenapa kesini?" Tanyaku berusaha menyembunyikan rasa sedihku.


"Aku nyusul kamu ke dapur karena kamu kembalinya lama" Kata Nina menatapku lekat.


"Oh, Ha ha ha Maaf, yaudah ayo balik ke kamar"


"Kamu kenapa?" Nina bertanya ulang.


"Aku gak papa" Jawabku tersenyum.


Nina mendekat lalu menyeka sisa airmata disudut mataku "Jangan bohong"


Aku terdiam saja melihat Nina menatapku.


"Ada apa? Ada apa dengan Fauzi?" Tanya Nina bingung bercampur khawatir.


Aku mengalihkan wajahku dari tatapan Nina.


"Kamu??" Belum selesai pertanyaan Nina, dia terhenti karena melihat airmataku yang mulai menetes.


Nina tidak bertanya lagi hanya berjalan semakin dekat denganku lalu memelukku, airmataku yang sedari tadi berusaha aku tahan akhirnya tumpah semua membuat pipiku jadi basah. Nina bergantian mengusap punggung dan kepalaku perlahan tanpa bicara satu katapun, dan aku hanya menangis di pelukan Nina.


Baju Nina mulai basah karena airmataku, aku mencoba menahan tangisku dan berusaha mengendalikan perasaanku.


"Menangis saja dulu kalau itu bisa ngebuat perasaanmu menjadi lebih baikan"


Aku kembali menumpahkan semua airmataku, menangis tersedu-sedu dipelukan Nina dan melepaskan semua beban diperasaanku yang tiba-tiba saja menumpuk setelah mendengar nama Fauzi.


Cukup lama aku menangis, dan Nina diam saja membiarkanku meluapkan semua beban di perasaanku.


.


.

__ADS_1


.


"Apa? Putus? Sejak kapan?" Nina sangat terkejut setelah aku memberitahunya kalau aku sudah tidak bersama Fauzi lagi.


"Setahun yang lalu?"


"Sudah selama itu? Kenapa bisa?"


"Entahlah.."


"Jadi kamu.."


"Iya, selama itu aku gak bisa dihubungi. Aku gak pernah ngejawab panggilan dari siapapun juga gak pernah ngereply pesan dari siapapun, setiap hari aku hanya nungguin Fauzi ngabarin aku tapi sampai hari ini gak pernah sekalipun Fauzi ngabarin aku.."


"Kok kak Fauzi jadi kayak gitu.."


"Semua karena salahku.."


"Salahmu? Kamu habis ngelakuin apa?"


"Kesalahan yang gak bisa dimaafin?"


"Kesalahan apa yang gak bisa dimaafin?"


"Tunggu-tunggu.. Aku masih gak ngerti, kamu bilang kak Fauzi mutusin kamu lewat pesan? Udah gitu doang?"


Aku mengangguk.


"Wah kak Fauzi jahat banget.. Nanti aku minta kak Farhan buat ngomong langsung sama kak Fauzi"


"Jangan.."


"Kenapa? Kak Farhan sama kak Fauzi kan sahabatan, bisa saja kak Fauzi mau ngedengerin kalau kak Farhan yang ngomong"


"Jangan Nin, aku gak mau masalahku sama Fauzi ngebawa-bawa kalian" Jelasku. Bagaimana bisa Farhan berbicara pada Fauzi tentang ini kalau penyebab aku berakhir dari Fauzi salahsatunya adalah Farhan. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Farhan saat Nina memintanya bicara dengan Fauzi nanti. Farhan belum berani buat bicara dengan Fauzi dan Farhan juga tidak bisa menolak permintaan Nina, itu akan membuat Farhan dalam posisi yang sulit.


"Ini gak bisa dibiarin gitu aja Wa, kak Fauzi udah keterlaluan. Dia mutusin kamu lewat pesan dan gak pernah ngabarin kamu sekalipun? Ini keterlaluan Salwa, pokoknya kamu ngebolehin atau gak aku akan tetap minta kak Farhan buat bicara sama kak Fauzi atau kalau perlu biar aku sendiri yang langsung bicara sama kak Fauzi"


"Gak Nin.."


"Apanya yang gak Wa? Kamu ngorbanin satu tahun pendidikanmu karena terus-terusan terpuruk dengan keputusan kak Fauzi itu, kamu.."


"Aku selingkuh.." Kataku memotong perkataan Nina.


Aku sebenarnya tidak ingin memberitahu hal ini pada Nina, tapi aku tidak punya pilihan lain selain memberitahunya. Nina akan terus-terusan beranggapan kalau penyebab dari berakhirnya hubunganku adalah kesalahan Fauzi dan dia akan meminta Farhan untuk membicarakan hal ini pada Fauzi.

__ADS_1


"Ka kamu bilang apa??"


"Aku selingkuh.." Jawabku menunduk karena tidak bisa menatap wajah Nina.


"Kamu selingkuh?" Tanya Nina memperjelas perkataanku.


Aku mengangguk.


Nina terdiam sejenak, aku tahu dia sangat terkejut dengan apa yang aku katakan karena dia tidak tidak akan pernah meyangka aku yang seperti ini.


"Kenapa Salwa? Kenapa kamu seperti ini?"


Aku menggeleng, aku tidak tahu harus menjelaskan apa pada Nina. Aku tahu apapun jawabanku aku akan tetap salah dimata Nina.


"Apa yang kurang dari kak Fauzi Salwa? dan lagi aku gak percaya kalau kamu sengaja buat selingkuh"


"Iya, awalnya semua kesalahpahaman tapi akhirnya aku juga terus-terusan melakukannya"


"Kesalapahaman seperti apa?"


Aku menceritakan semua kebenarannya pada Nina, dari awal sampai akhir tapi tetap menyembunyikan identitas kak Farhan, aku tidak mau Nina akan kecewa jika tau kebenarannya tentang kak Farhan. Aku hanya bilang kalau seseorang yang kukenal datang malam itu ketika aku menangis karena melihat Fauzi dengan perempuan lain. Aku juga tidak menceritakan pada Nina kalau aku sempat aku melupakan Fauzi karena kehadiran Farhan baru-baru ini yang memberiku perhatian. Aku rasa Nina cukup tau sampai saat aku tidak melanjutkan pendidikanku dan terpuruk karena Fauzi meninggalkanku. Nina mendengarkanku denganĀ  baik.


"Jadi bagaimana perasaanmu padaa kak Fauzi sekarang?" Tanya Nina setelah aku menceritakan semuanya.


"Masih sama Nin, masih sayang, masih cinta dan masih berharap Fauzi akan kembali suatu hari nanti"


Nina mendekat lalu memelukku.


"Aku gak akan ngebela kamu atau membenarkan kelakuanmu ini Salwa, semua orang juga tau kalau perselingkuhan itu sesuatu yang salah. Tapi aku akan tetap mendukungmu, kamu sudah menyadari kesalahanmu dan berusaha menjadi lebih baik sekarang"


"Iya aku tahu aku salah Nin, maka dari itu aku tidak akan menyalahkan Fauzi dengan keputusannya dan perasaanku akan terus-terusan ada buat Fauzi, dan aku tetap berharap suatu hari nanti Fauzi kembali sama aku lagi"


Nina melepas pelukannya.


"Sebenarnya kamu cukup egois kalau ngarepin kak Fauzi kembali lagi, tapi aku memahaminya. Kamu mengharapkan kak Fauzi kembali itu karena perasaanmu yang sangat besar ke kak Fauzi dan aku berharap kak Fauzi mau ngasih kamu kesempatan lagi.."


"Aku gak berharap banyak sih Nin, sekarangpun aku gak tau kabar Fauzi kayak gimana. Dia masih sendiri atau sudah punya pasanganpun aku tidak tau sekarang.."


"Kamu harus ingat kata-kata kak Fauzi, kalau memang jodoh kak Fauzi tetap akan kembali sama kamu.."


"Nin, kamu cuman ngebuat aku makin berharap padahal kamu sendiri tau kalau sampai sekarang sekalipun Fauzi ngabarin aku tidak pernah dan aku juga sama sekali tidak tau kabar Fauzi sekarang"


"Gak apa Wa, kamu tidak salah kalau masih berharap kak Fauzi kembali. Kamu mau menyerahpun tidak akan bisa karena perasaanmu masih sangat-sangat mencintai kak Fauzi.. Coba pikir keputusan apa yang kamu bisa ambil sekarang?"


Aku terdiam

__ADS_1


__ADS_2