
Fauzi yang selalu tertarik dengan apapun yang berhubungan dengan Salwa akhirnya menanyai tentang alasan Salwa menyukai Oppa-oppa korea itu, apa Salwa menyukai mereka hanya karena wajah mereka seperti oranglain atau memang ada alasan lain.
"Jadi selain karena Oppa-oppa itu cakep, kamu suka mereka karena apa lagi??"
"Hem.. Sebenarnya sih gak ada alasan khusus yang buat aku suka sama mereka, toh untuk suka sama mereka syaratnya gak harus punya alasan" Jelas Salwa.
Jawaban Salwa membuat decak kagum di hati Fauzi
"Boleh aku telfon?" Fauzi tidak sekedar ingin berbalas chat saja dengan Salwa sekarang, dia butuh yang lebih dari saling balas mengirim pesan.
"Boleh.." Balas Salwa.
Fauzi dengan cepat menelfon Salwa.
"Tumben kakak minta nelfon, biasanya juga chat" Tanya Salwa saat telfonnya terhubung.
"Ha ha gak tahu juga, cuman kepengen aja. Hem terus??"
"Apanya?"
"Ya penyebab kamu suka sama Oppa-oppa itu.."
"Ha ha kok lucu ya ngedenger kak Fauzi segitu penasarannya aku suka sama Oppa-oppaku"
"Ha ha ya kali ntar aku bisa niru mereka biar kamu juga suka sama aku.."
"Ha ha ada-ada saja.. Ya gitu, gak ada alasan spesifik begitu sih. Awalnya aku cuman suka ngedenger lagunya, eh pas ngeliat siapa yang nyanyi makin kecantol deh, Ha ha ha"
"Jadi awal kamu suka mereka itu bukan karena wajahnya"
"Bukan, awalnya cuman suka lagunya jadi aku cari-cari tuh, lah malah dapat tampol sama visual mereka yang ah udahlah gak bisa lagi aku jelasin gimana tamvannya mereka.."
"Ha ha segitu tampannya ya.."
"Ha ha iya dong, sebenarnya dibanding tampannya yang lebih ngebuat aku suka itu karena kelakuan mereka dibalik stage. Dulu aku milih-milih sih diantara mereka berdasarkan tampannya, tapi lama-lama karena keseringan liat tingkah mereka itu ngebuat aku jadi suka mereka semua, toh kalau aku mau liat dari visual mereka, banyak kok yang lebih cakep dari mereka"
"Maksudnya mereka? Semua oppa-oppa yang ada disana??" tanya Fauzi terkejut.
"Ya gak lah kak, aku sukanya itu boy grup jadinya aku bilang mereka"
"Hem kesimpulannya bukan wajah mereka yang ngebuat kamu kecantol tapi kelakuan dan bakat mereka gitu??"
"Ya bisa dibilang begitu, selain itu aku juga suka sama lirik-lirik lagu mereka, kalau romantis itu liriknya bener-bener bisa bikin meleleh, kalau sedih bener-benar bisa sampai ngebuat aku nangis, kalau lagu mereka itu bermaksud menyindir pokoknya kata-katanya nyindir banget, ya ngena dan nyampai banget sih pesan lagunya ke aku"
"Oh gitu.. Hem jadi... ini buat jadi orang yang di suka sama Salwa harus jadi kayak Oppa-oppa itu ya??"
"Ha ha ya gak lah.. Aku suka mereka sebagai idolaku dan aku selalu nyadarin diriku sebagai Fans aja.."
"Kalau bukan kayak Oppa-oppa itu, terus tipe Salwa itu yang kayak gimana??" Tanya Fauzi mulai mengarah ke pertanyaan pribadi.
"Ha ha aku gak ada tipe tertentu sih.."
"Maksudnya??"
"Ya kalau udah nyaman ya itu aja. Lagian nentuin tipe itu bikin diri susah sendiri, toh tipe gak lagi berlaku kalau sudah nyaman.."
Lagi Fauzi merasa kagum dengan jawaban Salwa.
"Ha ha gitu ya??"
"Ha ha ya gitu.. Hem kak, nelfonnya udahan dulu ya, aku belum ada belajar buat persiapan mid semester.."
"Oh oke oke, maaf karena aku ngeganggu waktu kamu.."
"Ha ha ha gak kok kak, kapan-kapan kan bisa nelfon lagi.."
"Kapan-kapan?? Apa ini sinyal??" Tanya Fauzi dalam hati dengan kegirangan.
__ADS_1
"Oke oke, selamat belajar Salwa.."
"Kakak juga selamat belajar"
Telfonpun terputus. Ada perasaan bahagia di hati Fauzi setelah berbicara dengan Salwa, moodnya menjadi baik dan akhirnya dia beranjak kembali ke meja belajarnya. Sebelum mulai membuka buku pelajarannya, Fauzi kembali membuka buku catatannya dan menulis sesuatu.
"Apa aku laki-laki yang pantas untuk mencintaimu? Apa boleh?"
.
.
.
Waktu berlalu, tidak terasa sudah lima bulan Salwa menjadi seorang siswi sekolah tingkat menengah atas, musim Mid semester sudah mulai berlangsung untuk beberapa pelajaran. Sesekali Salwa meminta Fauzi mengajarinya beberapa soal yang sulit dia pecahkan sendiri. Ya Salwa semakin dekat dengan Fauzi meski mereka sesekali masih canggung jika bertemu langsung di sekolah, bukan cuman dengan Fauzi tapi dengan Farhan juga Salwa semakin akrab. Sebuah keberuntungan besar bagi Salwa bisa akrab dengan senior-seniornya yang sangat dikagumi perempuan-perempuan di sekolahnya.
Akhirnya hari ini adalah hari terakhir mid semester dan bulan depan akan diakan ujian untuk semester ganjil di tahun pertama Salwa menajadi siswi SMA.
Ting tong..
Salwa dengan cepat membuka ponselnya setelah mendengar satu notifikasi pesan masuk.
"Hari ini bisa ketemu sebentar gak?" Pesan yang dikirim dari Farhan.
"Bisa, mau ketemu dimana kak?"
"Cafe depan sekolah gimana??"
"Oke kak.."
"Aku tunggu disana ya.."
"Sip kak.."
.
.
.
"Maaf kak aku telat.." Kata Salwa sambil meletakkan tasnya.
"Gak papa, mau minum apa?" Tanya Farhan sambil memberikan daftar menu pada Salwa.
"Hem.. Aku Ice chocolate saja.."
"Gimana mid semesternya??" Tanya Farhan membuka percakapan.
"Ya begitulah kak, beberapa soal perhitungan Fisika dan Reaksi kimia susah banget.." Keluh Salwa.
"Hehehe harus banyak latihan soal lagi kayaknya.."
"Ya sepertinya begitu.."
"Semangat dan belajarnya harus ditingkatkan lagi.."
"Iya kak.. Oh iya, kakak mau ngajak ketemu kenapa??"
"Ah.. Ha ha aku jadi ragu-ragu..."
"Ck apaan sih kak, kok gak jelas.." Kata Salwa sedikit cemberut sambil menyeruput ice chocolate yang baru saja datang diantar oleh pelayan cafe.
"Aku orangnya gak bisa basa basi dan gak bisa nyimpan perasaan lama-lama?"
"Perasaan apa?" Tanya Salwa dengan santai.
"Perasaan suka"
__ADS_1
"Wah kakak suka sama seseorang?? Ck cepat gih dibilang, entar di embat orang loh.."
"He he he rencananya sih begitu.."
"Emang suka sama siapa kak? Kali aja aku bisa bantu.." Kata Salwa kembali menyeruput ice coklatnya.
"Sama kamu, sama Salwa.." Jawab Farhan.
"Uhukkk uhukkk..." Ice chocolate yang diminum Salwa serasa menyangkut ditenggorokan, Salwa terbatuk-batuk karena terkejut mendengar perkataan Farhan.
Farhan dengan cepat memberikan Salwa selembar Tissue.
"Maaf maaf kalau aku ngebuat kamu kaget.."
Salwa hanya mengangguk dengan masih terbatuk-batuk.
"Kamu gak papa?" Tanya Farhan khawatir.
"Aku gak apa kak.." Jawab Salwa.
"Maaf, aku gak bermaksud ngebuat kamu terkejut.."
"Iya gak papa.."
"Seperti yang aku bilang sama kamu, aku gak bisa nyimpan perasaan lama-lama jadi aku milih buat bilang sama kamu sekarang. Aku suka sama Salwa.."
Salwa hanya terdiam sejenak, menatap Farhan lalu mengalihkan pandangannya.
"Ja jadi gi gimana??" Tanya Farhan sedikit ragu.
"A aku.. Aku mi minta maaf kak..." Kata Salwa tidak bisa menatap Farhan.
"Maaf??"
"I iya.. Selama ini aku cuman nganggap kakak sebagai kakak aja gak lebih.. Aku benar-benar gak berfikiran untuk sampai dihubungan yang lebih.."
"Ja jadi?? Kamu nolak??"
"Aku benar-benar minta maaf kak.. Aku minta maaf..." Salwa meminta maaf dengan penuh rasa bersalah.
"He he gak apa, kamu gak perlu minta maaf.."
"Ta tapi.."
"Menolak itu hak kamu kok, niatku untuk nyampein perasaanku setidaknya udah kesampaian, kamu mau atau tidak itu adalah hak mu dan aku harus nerima apapun keputusanmu" Kata Farhan dengan masih berusaha tersenyum.
"Aku minta maaf kak..."
"Ha ha ha gak apa, udah ah gak usah minta maaf terus, aku kesannya jadi orang jahat kalau kamu minta maaf terus"
"Kakak gak papa?"
"He he yang namanya ditolak ya pasti apa-apa tapi itu bukan masalah kok.."
"Maaf kak.."
"Hem, jangan minta maaf lagi.. Aku cuman berharap meskipun kamu gak bersedia buat jadi pacarku, setidaknya kamu tetap mau temenan sama aku"
"I itu pasti tetap kok kak.."
"Yaudah habisin minumnya.."
Tidak banyak pembahasan seperti sebelumnya dan tidak cukup lama sampai akhirnya Salwa pamit pada Farhan untuk pulang lebih dulu.
"Kamu ngejawab secepat itu tanpa berfikir dulu??" Gumam Farhan sambil terus menatap Salwa yang berlarian kecil menyebrang jalan.
Ada rasa kecewa dihati Farhan, bagaimana tidak dia sangat suka dengan Salwa tapi Salwa menolak perasaannya bahkan tidak untuk berfikir sejenak mempertimbangkan perasaan Farhan. Tapi Farhan dengan sisi dewasanya mencoba memahami posisi Salwa dan tetap berusaha ramah dan baik pada Salwa seperti sebelumnya.
__ADS_1