
“Astagfirullah.. dek, adek tidak apa-apa?” seru wanita setengah baya yang melihatku terjatuh.
Mendengar ibu-ibu itu membuatku tersadar, aku bergegas bangkit.
“Sa.. saya gak papa bu” Jawabku.
“Kamu gimana dek?” Tanya ibu-ibu itu pada Farhan.
“Gak papa Bu..” Jawab Farhan tersenyum.
“Yaudah, hati-hati ya dek..”
“Iya bu” Jawabku serempak dengan Farhan.
Ibu-ibu itu berlalu.
Entah berapa lama kami saling bertatap-tatapan tadinya, aku jadi malu mengingatnya. Aku tidak tau apa yang di fikirkan Farhan saat ini, aku melirik melihatnya ia hanya terdiam. Ah mungkin dia hanya shock karena terjatuh tadi. Akupun demikian aku hanya shock karena terjatuh, hanya saja dibanding shock karena terjatuh aku lebih shock lagi setelah sadar kalau aku terjatuh tepat diatas Farhan. Anehnya lagi, bukannya bergegas berdiri ketika aku sadar saat menimpa Farhan, aku malah terdiam menatapnya... ck ck ck adegan tadi sudah seperti di Sinetron genre romantis anak remaja saja.
“Kamu gak papa?” Tanya Farhan memecah keheningan sejenak diantara kita berdua.
“A.. Aku gak papa, kakak gimana?” Jawabku terbata-bata
“Aku gak papa” Kata Farhan sambil menyingkirkan beberapa kotoran dari bajunya ketika terjatuh tadi.
“Ma.. maaf kak.. I itu baju kakak jadi kotor karena aku”
“Oh, ini gak papa” Katanya tersenyum.
Aku jadi merasa tidak enak, karena menolongku Farhan jadi terjatuh hingga bajunya menjadi kotor. Parahnya lagi aku menjadi bebannya saat terjatuh. Terlebih dari rasa tidak enakku karena membuat pakaian Farhan kotor, aku lebih tidak enak lagi mengingat dimana aku terjatuh tepat diatasnya.
“Yaudah ayo pulang” ajaknya
“Iya..”
Aku mengambil tasku yang tadinya jadi tergeletak ketika aku terjatuh.
“Aduhh...”
“Salwa, kamu kenapa?” Respon cepat dari Farhan.
“Gak tau, tadi gak kerasa sakit, tapi pas mau jalan baru terasa sakit” jelasku
“Yaudah ayo aku bantu, cari tempat duduk dulu” Kata Farhan memopangku
Farhan cukup jauh memopangku mencari tempat yang nyaman untuk duduk sejenak.
“Coba aku liat kakinya..” Kata Farhan jongkok didepanku.
“Jangan Kak..” Kataku sambil menarik kakiku. Rasanya tidak sopan sekali membuat Farhan harus memeriksa dan memegang kakiku.
Farhan menatapku. Aku hanya terdiam.
“Sini aku liat kakinya”
“Ta.. tapi..”
Farhan kembali menatapku.
Ia meraih kakiku tanpa meminta izinku lagi.
“Ma maaf kak”
Rasanya sungkan sekali membuat orang yang lebih tua jadi duduk lebih rendah hingga memegang kakiku.
“Maaf untuk?” Katanya tanpa mengalihkan pandangannya memeriksa kakiku.
“Kakak jadi harus megang kakiku..”
Dia menoleh menatapku sambil tersenyum.
“Ini keseleo kayaknya” katanya lalu kembali fokus pada kakiku.
Aku hanya terus memperhatikannya memeriksa kakiku.
“Bisa tahan gak?”
“Jalan? Bisa kok kalau pelan”
“Bukan, ini kamu gak bisa paksain buat jalan, entar tambah radang jadinya tambah lama sakitnya”
“Jadi?”
__ADS_1
“Tahan ya..”
“Haa??” belum aku tau apa yang Farhan maksud, ia sudah memutar pergelangan kakiku.
“Aduuhhh..” rasanya airmataku mau keluar menahan rasa sakit di pergelangan kakiku.
“Sakit banget ya?? Maaf maaf..” Serunya spontan
Ah, aku tidak lagi bisa menahan airmataku, kakiku benar-benar terasa sakit setelah Farhan memutar pergelangan kakiku tadi.
Aku hanya mengangguk sambil menyeka airmataku.
“Coba digerakkin sekarang”
Aku mencoba menggerakkan kakiku perlahan, berusaha sepelan mungkin agar tidak teralu terasa sakit.
“eh..??” Aku jadi kebingungan merasakan kakiku menjadi lebih baik.
“Masih sakit?”
“Udah gak terlalu” Jawabku.
“Syukurlah..” Katanya sambil beranjak dan duduk disampingku. Ia menyeka keringatnya, sepertinya ia cukup kelelahan tadi memopangku ditambah lagi ia harus membantuku menangani kaki yang sedang sakit.
Aku menyodorkan Tissue. Ia menoleh dan mengambil sehelai tissue sambil tersenyum.
Aku memeriksa Tasku dan kutemukan Tissue basah. Aku meraih tangan Farhan dan membersihkan tangannya yang kotor karena sudah memegang kakiku.
Dia hanya menatapku yang sedang membersihkan tangannya.
“Maaf, tangan kakak jadi kotor karena memegang kakiku”
Ia tersenyum mengalihkan pandangannya dariku
“Bukan apa-apa, ini juga kakimu sampai keseleo begini karena aku yang narik kamu sampai kamu jatuh”
“Ya tapi itu kan buat nyelamatin aku kak”
Farhan menarik tangannya dan mengambil tissue dari tanganku. Mungkin dia sedikit risih jika aku yang membersihkan tangannya.
“Udah gak papa...” Katanya tersenyum.
“hari ini aku benar-benar ngerepotin kakak, maaf kak..” Kataku dengan rasa penuh penyesalan.
“gak papa Salwa, kan aku sendiri yang nawarin diri buat nolongin kamu” Katanya tersenyum.
Aku hanya balas tersenyum. “Makasih ya kak..”
“Hemm.. udah baikan kan? Yaudah ayo pulang, ini udah mau sore”
“Iya..” Jawabku tersenyum.
“Mau aku antar?” Katanya menawarkan diri.
“Ah, gak usah.. aku jadi tambah ngerepotin kakak”
“Kamu mana bisa bawa sepeda kalau kakimu masih sakit begitu”
“Bisa kok, asal pelan-pelan”
“Yakin??”
“Iya kak..”
“ Jangan buat aku khawatir, khawatir itu gak enak rasanya”
Aku terdiam. Apa ia benar mengkhawatirkanku?
“Yah.. pokoknya sini aku antar, belum juga pulang kamu udah bikin khawatir duluan, pake acara bengong lagi..” katanya sambil berdiri lalu menarikku dengan pelan. Aku ikut saja.
**
Aku menghempaskan tubuh keatas tempat tidur. Ah.. rasanya nyaman sekali. Kakiku masih agak sakit sehigga jalanku pincang-pincang, udah kek kakek-kakek saja..
Aku menatap langit-langit kamarku, bohlam lampu terlihat lebih terang dari biasanya. Tiba-tiba..
“eh.. apa barusann??” Seru sendiri. “Gak, gak boleh seperti ini..” Kataku menggeleng-gelengkan kepalaku.
Entah karena seharian jalan sama Farhan sampai aku sempat terbayang wajah Farhan dilangit-langit kamarku tadi.
“Ishh... Salwa kenapa sih??” Tanyaku pada diriku sendiri sambil menepuk-nepuk pipi sendiri.
__ADS_1
Tingg tongg..
Satu pesan masuk dari Fauzi.
“Sayang...”
“Ya?” Jawabku singkat.
“Gimana? Bukunya dapat?”
“Iya...”
“Maaf sayang, aku jadi gak bisa nemenin kamu tadi”
“Gak papa, kan kamu lagi sibuk”
“Makasih ya udah ngertiin aku“
Belum sempat aku balas pesan Fauzi, Ponselku berdering telfon masuk darinya.
“Iya..?” Jawabku.
“Legaa..”
“Apanya?” Tanyaku bingung
“Ya rindunya lah sayang..”
“Apaan sih, perasaan tadi siang juga ketemu disekolah..”
“Lah emangnya kalau sudah ketemu gak boleh rindu lagi gitu?”
“Ya boleh sih..”
“ Sayangg..”
“Hem?”
“Tadi kamu ke Toko bukunya sama Farhan”
“Iyaa.. kenapa?”
“Gak papa, aku nanya doang”
“Gak boleh?”
“Ya Allah sayang.. yang bilang gak boleh siapa sih?”
“Ya terus kenapa nanyain itu?”
“ya aku nanya aja Sayang..”
“Kamu tau darimana?”
“Tadi ada temen yang liat kalian jalan terus bilang ke aku”
“Temen siapa?”
“Temen sekelas sayang.. kok aku berasa diInterview sih?”
“Kok kamu ngerasa kayak gitu?”
“Ya habis kamunya dari tadi nanya terus..”
“Kamu gak suka..”
“Bukannya gak suka sayang..”
“Terus?”
“Ya aku cuman bilang aja”
“Oh..”
“Lain kalau jalan sama Farhan bisa bilang sama aku dulu kan?”
“Kamu curiga?”
“Ya Allah sayang enggak, aku cuman khawatirin kamu doang”
“Oh..” Jawabku singkat.
__ADS_1
“Kamu kenapa sayang?”
Aku kenapa? Aku juga tidak tau aku kenapa.. aku hanya merasa lain saja ketika Fauzi membahas aku yang ditemani Farhan siang tadi.