Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 22


__ADS_3

Hari ini adalah akhir pekan, hari dimana seharusnya Fauzi pulang namun karena beberapa tugas yang harus diselelsaikan Fauzi jadi menggunakan hari liburnya untuk tetap mengerjakan tugas. Fauzi menyadari waktunya yang semakin hari semakin sedikit yang bisa dia habiskan bersama Salwa dan itu membuatnya merasa terbebani, Fauzi tidak ingin Salwa akan marah dan mempermasalahkan waktunya yang semakin tidak ada buat Salwa.


Fauzi meraih ponselnya, ya meskipun hari ini Fauzi tidak bisa pulang setidaknya Fauzi bisa memberi kabar pada Salwa.


"Halo" Jawab Salwa dari seberang telfon saat telfonnya terhubung.


Fauzi mulai menanyakan bagaimana kabar Salwa dan meminta maaf karena akhir-akhir kurang memiliki waktu buat Salwa.


"Oh iya, hari ini minggu..."


"Ah iya, kamu pulang ya??" Tanya Salwa memotong perkataan Fauzi.


"Salwa pasti nungguin aku??" Pikir Fauzi, meski dia tidak tahu bahwa Salwa malah khawatir kalau dia pulang karena Salwa sudah memiliki janji untuk jalan dengan Farhan hari ini.


"Maaf sayang aku gak bisa pulang, aku ada tugas kuliah yang lagi dikerjain dan harus cepat aku selesaiin" Kata Fauzi dengan penuh rasa bersalah.


"Iya gak apa, harus bagaimana lagi, kuliahmu kan penting.."


"Syukurlah, Salwa bisa mengerti" Gumam Fauzi dalam hati dengan perasaan lega. "Akhir-akhir ini kamu pengertian sekali, makasih ya sayang.."


"Iya, toh aku juga sibuk untuk mempersiapkan ujian akhirku.." Jawab Salwa.


"Ah iya, dia sudah kelas tiga sekarang dan sekarang juga sedang sibuk-sibuknya jadi itu ngebuat dia gak terlalu ngerasa kalau waktuku kurang banget buat dia.." Pikir Fauzi.


Fauzi dan Salwa berbincang-bincang sejenak sampai Fauzi harus undur diri mengakhiri obrolan mereka karena harus mengerjakan tugasnya.


.


.


Fauzi berjalan sambil menenteng tasnya menghampiri Faiq yang sudah menyiapkan sarapan pagi ini.


"Masihh pagi, itu muka kenapa di tekuk begitu?" Tegur Faiq.


"Ya permasalahan biasa.." Jawab Fauzi dengan lusuh.


"Marahan sama Salwa karena Lu gak bisa balik hari ini??" Tanya Faiq mengira-ngira.


"Ck, Lu ngedoain gue marahan sama Salwa.." Tanya Fauzi negatif thinking.


"Haiss.. Gue cuman nanya sarifuddinggg.."


"Ya Lu pertanyaannya jelek.." Dengus Fauzi sambil menyuap sesendok sereal.


"Ya biasanya kan yang ngebuat muka Lu jelek begini itu kalau Lu marahan sama Salwa..."


"Gue gak marahan, gue cuman lagi kangen.."


"Elaahh ya balik sono.."

__ADS_1


"Lah ini kita lagi banyak tugas, bisa makin numpuk kalau gak dikerjain.."


"Masalah tugas pemasaran biar gue aja yang kerja, nanti gue izinin Lu sama anak-anak yang lain.."


"Gak deh, Gue gak enak sama kalian, masa iya karena urusan pribadi gue ngesampingin tugas dan membebani di kalian semua.."


"Ya kalau Lu tetap mau ngerjain tugas bareng, itu muka diperbaiki. Seriusan ekspresi Lu yang kayak bunglon gak bisa berubah warna ngerusak suasana banget tau gak.."


"Emang ada bunglon yang gak bisa ngerubah warna.."


"Ada, bunglon galau kayak Lu..." Dengus Faiq kesal meninggalkan Fauzi di meja makan sendiri.


"Lah Lu mau kemana??" Tanya Fauzi melihat Faiq yang meninggalkannya.


"Mau buang air.. Kenapa?? Mau ikut??" Faiq dengan nadanya yang masih kesal.


Fauzi hanya menggeleng tidak jelas.


.


.


.


Fauzi berusaha berkonsentrasi mengerjakan tugasnya namun tetap saja pikirannya terus-terusan berputar di sekitar Salwa.


"Udah Lu balik gih.." Kata Faiq yang sudah tidak tahan melihat Fauzi yang terus-terusan memasang ekspresi tidak karu-karuan.


"Lu sakit??" Tanya salah satu temannya.


"Iya Fauzi sakit, udah gue larang tadi buat ikut tapi tetep aja maksa buat ikut.." Kata Faiq berbohong.


"Lah kalau sakit Lu balik aja. Ini dikit lagi selesai kok, lagian Lu kan udah banyak ngerjain bagian yang lain.." Kata temannya mencoba mengerti posisi Fauzi.


"Tapi..."


"Udah balik aja.." Faiq menatap Fauzi dengan melotot memberikan kode pada Fauzi.


"Ini beneran gak apa kalau gue balik??" Tanya Fauzi memastikan.


"Ya gak apa, lagian udah banyak banget yang Lu kerjain sebelumnya.."


"Makasih banyak bro.."


Fauzi akhirnya pulang, sama saja bohong jika dia ikut mengerjakan tugas bersama teman-temannya karena tidak bisa berkonsentrasi. Entah ada apa dan kenapa, Fauzi tidak seperti biasanya, hari ini dia terus-terusan kepikiran Salwa.


Sepanjang perjalanan Fauzi terus menghubungi Salwa, tapi tidak ada jawaban dari Salwa bahkan hingga beberapa panggilannya bukan lagi panggilannya yang tidak terjawab namun nomor Salwa yang tidak bisa dihubungi yang membuat Fauzi semakin tidak tenang.


Karena nomor Salwa yang tidak bisa dihubungi akhirnya Fauzi mencoba menghubungi nomor Ibu Salwa.

__ADS_1


"Ya kenapa Fauzi??" Tanya Ibu Salwa saat menjawab panggilan Fauzi.


"Maaf Bu, aku ganggu waktu Ibu.."


"Gak apa sayang, ada apa??"


"I itu Bu, aku sedari tadi ngehubungi Salwa tapi panggilanku gak diangkat-angkat.."


"Oh iya Nak, Salwa gak bisa angkat telfonmu sekarang, Salwa lagi dirumah sakit.."


CKiitttt... Fauzi yang terkejut mendengar Salwa yang sedang dirumah sakit dengan cepat mengarahkan mobilnya ke tepi jalan dan berhenti. Dia bisa juga mendapat bahaya jika tetap mengemudi dalam keadaan pikirannya yang sedang tidak karu-karuan saat ini.


"Di dirumah sakit??? Salwa kenapa Bu???" Tanya Fauzi khawatir.


"Salwa baru saja kecelakaan Nak.."


"Ja jadi gimana keadaan Salwa sekarang Bu.."


"Tadi sebelum Ibu tinggal Salwa sudah siuman, dia baik-baik saja dan sekarang lagi nunggu hasil CT Scannya keluar.."


"Semoga semuanya baik-baik saja Bu.."


"Iya sayang.. Sudah dulu ya, Ibu harus pulang kerumah dulu buat nyiapin perlengkapan Salwa selama dirawat di Rumah sakit.."


"Iya Bu.."


Fauzi yang mendengar kabar buruk tentang Salwa memutar balik arah mobilnya menuju bandara. "Jadi ini yang ngebuat aku sedari tadi tidak tenang mikirin Salwa terus.." Pikir Fauzi.


.


.


.


Setelah pesawatnya mendarat, Fauzi dengan cepat mencari taxi menuju rumah sakit dimana Salwa dirawat. Tidak ada lagi yang lain dipikiran Fauzi selain Salwa, dia bahkan lupa mengabari Ibu dan Ayahnya bahwa dia pulang hari ini.


Fauzi berlari menuju resepsionis rumah sakit untuk mengetahui diruangan mana Salwa dirawat. Karena Fauzi yang terlalu terburu-buru, terhitung sudah ada sekitar tiga orang yang dia tabrak sedari dia di bandara sampai di Rumah sakit.


Fauzi dengan cepat mencari lift agar bisa sampai di kamar Salwa dengan cepat, namun lift yang sedang berjalan membuat Fauzi harus menunggu. Fauzi yang tidak sabar menunggu akhirnya berlari mencari tangga darurat, Fauzi tidak ingin membuang-buang waktunya menunggu untuk segera bisa melihat Salwa. Fauzi yang berlari terburu-buru hampir saja terjatuh ditangga, kakinya menjadi sedikit belur karena terbentur di beberapa anak tangga.


Fauzi akhirnya tiba di lantai dimana Salwa di rawat, dengan cepat berlari sambil mencari kamar Salwa..


"Ah itu.." Seru Fauzi saat melihat nomor kamar yang diberitahu resepsionis tadi sebagai nomor kamar rawat inap Salwa.


Khawatir yang sedari tadi mengusik perasaannya, lelah dan tenaga yang terkuras, nafas yang terengah-engah seketika hilang semua dan berubah menjadi sesak di dada setelah melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat dengan keadaannya yang sekarang.


Apa ini nyata???


Bukan lagi kesulitan mengambil nafas karena terlalu tergesa-gesa, melainkan karena hatinya yang seketika remuk melihat dua yang sangat dipercayainya berkhianat tepat di depan matanya. Airmata Fauzi menggenang dipelupuk matanya menonton drama romantisme yang diperankan oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Harus bagaimana dia menanggapinya??

__ADS_1


Airmatanya menetes.


__ADS_2