Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kekhawatiran Semu


__ADS_3

Aku masuk kelas, aku duduk diam sejenak. Aku berencana mencari referensi kostum yang akan kami gunakan saat perlombaan Tari Tradisional antar Sekolah Menengah Atas nantinya, tapi entah kenapa semenjak aku sudah mendengar percakapan mengenai bagaimana Fauzi sangat mengangumkan dimata oranglain, aku jadi kehilangan fokus.


 


Arrgghhhh... pikiran ini terlalu menggangguku. Kenapa aku harus terganggu dengan pikiran-pikiran seperti ini, toh aku tahu betul seperti apa Fauzi menyayangiku, sebanyak apapun wanita yang mengaguminya itu tidak akan membuat perasaannya berubah terhadapku. Tapi.. Mengingat akhir-akhir ini aku cuek sama Fauzi membuatku kembali berfikir, bagaimana jika Fauzi marah padaku? Bagaimana jika Fauzi tak tahan dengan perlakuanku akkhir-akhir ini? Bagaimana jika Fauzi akhirnya menyerah terhadapku? ARGGHH.... Aku terlalu takut mneghadapi hal-hal seperti ini.


 


Tunggu dulu... Selama ini Fauzi tetap baik terhadapku meskipun aku bersikap dingin. Fauzi tetap memperlakukanku dengan baik, bahkan Fauzi tidak marah ketika dia tau aku keluar dengan Farhan tanpa meminta izinnya. Bukankah ini terlalu baik? Apa jangan-jangan??? Ah, tidak.. tidak mungkin. Fauzi tidak mungkin berpura-pura baik padaku, yaa pasti karena memang Fauzi orang yang baik, Iya kan?? Tapi bagaimana jika benar kebaikan Fauzi selama ini hanya pura-pura? Bagaimana jika sebenarnya Fauzi punya yang lain sehingga ia bisa tetap baik terhadapku meski aku cukup jahat kepadanya? Bagaimana jika kebaikan Fauzi hanya pengalihan agar aku tidak mencurigainya. Kenapa jadi seperti ini? Kepalaku sampai sakit memikirkannya.


 


Kuraih ponselku. Aku mencoba menghubungi Fauzi sebelum waktu jam istirahat selesai.


 


Aku menelfon Fauzi berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Aku mengulang-ulang panggilanku tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Fauzi. Aku mulai resah dan gelisah.


 


Ah, Sebaiknya aku mencari referensi kostum saja, ketika Fauzi melihat panggilanku nanti dia akan segera menghbunngiku. Aku harus segera mencari referensi kostum agar rapat penentuan kostum sepulang sekolah nanti bisa selesai dengan cepat.


 


Jam Istirahat selesai, Ibu guru yang mengajar pelajaran berikutnya sudah datang, tapi belum juga ada notif pesan dari Fauzi.


 


"Jam pelajaran sudah dimulai lagi dan Fauzi masih saja tidak menghubungiku kembali? Hehh.. dia apakan Handphonenya itu? Apa Hp dibeli cuman untuk disimpan??" Gerutuku.


 


Aku tidak bisa konsen selama pelajaran, aku terus-terusan kepikiran Fauzi. Padahal ini bukan kali pertama Fauzi tidak mengangkat telfonku ketika sedang berada dilingkungan sekolah, tapi pada akhirnya Fauzi akan mengabariku. Tapi kenapa hari ini tidak seperti itu?. Aku terus gelisah karena pikiranku yang tidak pasti.


 


**


Jam pelajaran selesai, waktu pulang sekolah tiba. Aku kembali mengecek ponselku tapi masih saja tidak ada notif dari Fauzi. Pikiranku semakin kacau dan semakin tidak jelas, pikiran-pikiran buruk menghampiriku. Ah, rasanya aku ingin menangis. Tapi kenapa juga aku harus menangis hanya karena ini. Bukannya Fauzi memang terkadang tidak mengangkat telfon ketika sedang dilingkungan sekolah? Tapi kenapa sampai tidak mengabariku.


 


Aku kembali mengecek laci mejaku dan mengambil kertas persiapan untuk rapat nanti. Aku berjalan keluar kelas dengan cepat agar bisa ke toilet sebentar untuk mengusap wajahku dengan air agar perasaanku menjadi membaik dan mataku yang berkaca-kaca tidak terlihat. Akan menghasilkan banyak pertanyaan jika teman-teman melihatku seperti ini.


 


Ketika keadaan seperti ini, pintu kelaspun serasa jauh sekali. Aku mempercepat langkahku keluar dan.....


Aku melihat Fauzi berdiri didepan kelasku sambil membuka-buka beberapa lembaran.


 


Aku terdiam sejenak. Fauzi menoleh dan melihatku.


 


"Salwa..."


 


Aku hanya berdiri diam ditempatku. Perasaanku yang tak karuan seperti terhenti sejenak melihat Fauzi berdiri didepanku. Aku ini lebay sekali, kenapa harus merasa seperti ini? sudah seperti sinetron saja dimana lama ditinggal oleh suaminya merantau dan akhirnya sudah pulang. Tapi perasaaanku kali ini benar-benar berkecamuk tidak jelas.


 


"Salwa, kamu kenapa?" Tanya Fauzi khawatir menghampiriku melihatku yang perlahan meneteskan airmata.


 


Oh Tuhan.. ada apa denganku hari ini? kenapa aku drama sekali di siang hari begini.


 


"Ozii...." Kataku sambil menahan tangisku.


 


"Kenapa sayang?" Tanyanya Khawatir.


 


Aku hanya menunduk dan menyeka airmataku.


 


 


 


***


Fauzi membawaku ketaman dekat sekolah untuk menenangkanku dan mencoba menjauhkanku dari lingkungan sekolah yang masih ramai dengan teman-teman.


 

__ADS_1


"Salwa, lain kali jangan seperti ini, kamu ngebuat aku khawatir sayang.." Kata Fauzi sambil berusaha menenangkanku yang terisak-isak.


 


Aku hanya mengangguk sambil terus terisak.


 


"Liat aku.." Kata Fauzi meraih wajahku. "Cerita sayang, kamu kenapa?" katanya sambil menatapku lekat dan sesekali membantuku menyeka airmataku.


 


Aku hanya menggeleng, aku juga tidak tau harus bicara seperti apa dan memulai dari mana. Aku sadar, aku hanya terbawa perasaanku.


 


"Sayang.. aku mana tau kalau kamu gak bilang, cerita sama aku kamu kenapa??"


 


Aku hanya terdiam.


 


"Heemm..." Fauzi menghela nafas panjang.


 


Ia meraih kepalaku dan meletakkan dibahunya.


 


"yaudah kalau gak mau cerita, kapan-kapan aja kalau udah siap.. sekarang tenangin diri dulu sayang.." Katanya sambil mengelus-ngelus kepalaku dan mengecup keningku.


 


Perlakuan Fauzi yang seperti semakin membuatku menangis. Kenapa aku harus berfikir yang tidak-tidak seperti orang bodoh. Fauzi memperlakukanku seperti ini, menyayangiku seperti ini, memperdulikanku seperti ini tapi kenapa aku masih saja dengan bodohnya berfikiran dan meragukan perasaan Fauzi terhadapku.


 


"Sayang... kamu kenapa?" Tanyanya semakin bingung.


 


Aku yang menangis semakin membuat Fauzi khawatir dan bingung. Fauzi hanya memelukku mencoba menenangkanku.


 


Handphoneku berdering.. Aku yang terisak-isak seperti sulit untuk menjawab telfonku, ya karena akan ada lagi pertanya-pertanyaan dari teman-temanku ketika mendengarku seperti ini.


 


 


"Halo.."


 


"Oh, Fauzi.. Salwa kemana?"


 


Fauzi menatapku.. "Salwa lagi toilet, ada apa?" Katanya berbohong


 


"Ini lagi ditungguin buat rapat.."


 


"Oh iya,, ntar aku sampein.."


 


"Sip.. Thankyou ya.. jangan lama-lama nyampeinnya, jangan nunggu kita bulukan dulu disini baru Salwanya datang.."


 


"Iya iyaa nyonya.. Apa perlu Salwa ku seret langsung keluar dari Toilet.."


 


"haha bisa bisa biar cepat.."


 


"Iya cepat, besok gue datang kesekolah matanya udah bengkak sebelah habis kecolok sama Salwa" Jawab Fauzi bercanda.


 


"Hahaha.. kok lucu ya ngebayanginnya. Yaudah, cepet sampein ke Salwa.."


 

__ADS_1


"Oke.." Jawab Fauzi menutup telfonnya.


 


Fauzi menatapku dengan lekat, tatapan matanya seolah-olah bertanya apakah aku baik-baik saja.


 


"Kamu bisa rapat?" Tanyanya Khawatir.


 


Aku hanya mengangguk sambil menyeka sisa-sisa airmataku.


 


"Yakin? Aku bisa minta izin buat kamu kalau kamu gak bisa"


 


Aku menggeleng.


 


"Lombanya kurang dari seminggu lagi, aku dan teman-teman harus cepet-cepet nentuin kostumnya"


 


"Tapi kamu..."


 


Aku menggeleng memotong kata-kata Fauzi.


 


"Aku baik-baik aja" Jawabku menatapnya sambil mencoba tersenyum


 


"Kamu yakin?" Tanyanya memastikan keadaanku.


 


Aku hanya mengangguk.


 


"Heemmm...." Fauzi menghela nafas panjang. "Yaudah, cuci muka dulu sayang, aku tungguin disini"


 


Aku hanya mengangguk lalu berlalu menuju toilet


 


**


 


Fauzi terus menatapku sepanjang jalan menuju ruangan club seni.


 


"Kamu baik-baik aja kan?" Katanya kembali memastikan setibaku didepan ruangan Klub seni.


 


Aku mengangguk sambil tersenyum untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.


 


"Yaudah sana masuk, udah ditungguin dari tadi.."


 


"Kamu nungguin aku kan?"


 


Fauzi hanya mengangguk tersenyum.


 


"Jangan pulang.."


 


"Iya sayang.." Jawab Fauzi sambil mengelus kepalaku.


 


"Yaudah aku masuk dulu.." Kataku sambil melangkah.

__ADS_1


 


Fauzi hanya tersenyum dan masih tetap berdiri didepan ruangan memastikan aku masuk dulu.~~~~


__ADS_2