
Fauzi akhirnya berhasil mengingat wanita yang tengah duduk bersamanya pagi ini. Wanita yang membuatnya harus menggali ingatannya lebih dalam agar bisa mengingatnya. Namun usahanya itu tidak memberikan hasil jika bukan Karin yang membantu Fauzi mengingat dirinya, dengan menceritakan hal sedikit nyentrik yang pernah terjadi diantara keduanya.
*Kalau masih gak ingat Karin itu siapa, yuhu cek lagi, episode Review 13 đ
Ingatan Fauzi kembali bermain di masa lalu. Kembali Fauzi mengingat bagaimana Salwa yang marah waktu itu, saat Fauzi mencoba jujur bahwa dirinya mendapat pernyataan cinta dari Karin. Juga ingatan tentang Fauzi yang sempat marah, ketika Karin menyebut dirinya sebagai orang yang merebut Salwa dari Farhan. Kemarahan Fauzi dikarenakan Karin yang menurutnya dengan sengaja membuat cerita palsu akan Farhan yang memiliki perasaan pada Salwa, kemarahan seorang sahabat ketika mendapat cerita yang membuat pandangan buruk pada sahabatnya.
Namun akhirnya Fauzi menyadari saat ini, bahwa yang dikatakan Karin waktu itu adalah benar.
âTerus bagaimana sama kamu? Kudengar kamu putus sama Salwa?â
Pertanyaan yang terdengar memiliki sedikit desakan untuk mendapat jawaban.
âYa, kami sempat putusâ Jawab fauzi diselingi dengan senyumannya.
âSempat??â
Sorot mata Karin berubah menjadi sedikit lebih serius dari sebelumnya.
âIya, sempat. Ya walau kami pernah putus, pada akhirnya kami kembali bersama lagiâ
Terlihat jelas dimata Karin, rasa tak senang akan apa yang baru saja Fauzi katakan.
âOh begitu, syukurlah..â
Karin mencoba menepis rasa tak senangnya, ia masih membentuk senyum dibibirnya meski terkesan terpaksa.
âJadi, kamu masih pacaran dengan Salwa atau sudah menikah sekarang??â Tanya Karin kemudian.
Walau rasa tak senang menghampirinya setelah mengetahui hubungan Fauzi dan Salwa, namun rasa penasaran masih juga mengusiknya. Membuatnya kembali bertanya perihal status apa yang mengikat hubungan Fauzi dan Salwa.
âKami sudah menikah, sekarang juga aku sudah punya satu putri kecilâ Jelas Fauzi, memperlihatkan ekspresi bahagianya yang membuat Karin sadar, jika kehidupan yang dimiliki Fauzi sekarang adalah kehidupan bahagia yang memang sudah di rancangnya sedari dulu.
âOh begitu..â
Karin masih memperlihatkan senyumnya. Ia tidak ingin memperlihatkan kekecewaannya di depan Fauzi.
âKamu bagaimana? Sudah punya buah hati juga?â Tanya Fauzi, yang juga ingin mendapat cerita bahagia dari kehidupan rumah tangga Karin.
Karin hanya menunduk dengan senyumannya yang mulai memudar. Melihat ekspresi Karin itu membuat Fauzi menyadari, bahwa pertanyaannya cukup sensitif dan tidak seharusnya ia ajukan.
âMa maaf, kalau pertanyaanku..â
âTidak apaâ Pungkas Karin, mulai mengangkat wajahnya dan memasang senyum dibibirnya. âHal wajar juga kan kamu bertanya seperti itu, karena aku yang lebih dulu nanya sama kamu perihal keluargaâ
Fauzi hanya tersenyum simpul. Dia merasa begitu bersalah menanyakan hal yang membuat Karin sampai terkejut dan terdiam sejenak. Sepertinya bukan hal membahagiakan yang Karin miliki perihal rumah tangganya.
âAku cerai sama suamiku 3 tahun yang lalu, padahal usia pernikahan kami waktu itu masih terbilang sangat mudaâ
âMaaf, sepertinya pertanyaanku membuat kamu jadi mengingat hal burukâ
âTidak apa. Tapi karena kamu sudah bertanya, apa aku bisa meluangkan perasaanku sebentar sama kamu?. Aku sudah 3 tahun berpisah dari suamiku, dan aku tidak punya teman untuk berbagiâ
Fauzi hanya mengangguk mengiyakan. Fauzi sendiri tidak punya alasan untuk menolak.
__ADS_1
âMungkin ini sedikit aneh, aku cerita hal seperti ini sama kamu. Padahal kita bukan orang yang akrab, apalagi ini adalah kali pertama kita bertemu lagiâ
âTidak apa. Sekiranya perasaanmu bisa sedikit lega kalau sudah ceritaâ
Karin tersenyum. Baginya, Fauzi adalah laki-laki yang sangat pengertian, Fauzi siap mendengar ceritanya bahkan saat hubungan mereka tidak terbilang akrab.
âAku menikah 3 tahun yang lalu. Suamiku itu anak dari rekan bisnis Ayahku. Kami bertemu saat Ayah sedang mengadakan pesta, merayakan berdirinya salah satu anak perusahaan Ayah yang ada diluar kotaâ
Fauzi mendengarkan dengan baik cerita Karin.
âDia itu cukup tampan, di pesta itu tidak sedikit perempuan yang meliriknya, tapi meski dilirik banyak perempuan, dia tetap cuek. Dia selalu menyendiri di pesta, sampai akhirnya aku beranikan diri buat ngajak dia ngobrol. Awalnya dia sedikit sulit diajak mengobrol, karena dia yang cukup dingin dan cuek. Tapi perlahan, kami memiliki topik obrolan yang sama dan akhirnya menjadi akrabâ
Karin menjeda sejenak ceritanya.
âPertemuan kami sampai disitu saja. Setelahnya aku tidak tahu lagi dan bahkan aku sempat lupa sama dia. Sampai akhirnya, aku terima telfon dari nomor baru dan ternyata itu adalah dia. Aku tahu, panggilannya waktu itu pasti ada campur tangan orangtua kami, karena Ayah dengan cepat menanyakan tentang diaâ
Fauzi benar-benar menjadi pendengar yang baik.
âSingkat cerita, kami akhirnya menjadi akrab. Aku tidak tahu apa yang terjadi, meski aku merasa dia selalu menjaga jarak saat jalan sama aku, tapi akhirnya dia melamarku. Awalnya aku cukup bingung, aku sempat bimbang dan berfikiran cukup lama untuk menerima lamarannya. Lagian, saat aku berfikir untuk menerima lamarannya, dia tidak mendesak sama sekali untuk meminta jawabankuâ
âJadi kamu tidak yakin waktu itu? Terus kenapa diterima?â
âYa, bodohnya aku waktu ituâ Senyum yang tak terartikan berhias di sudut bibir Karin. âAku menerimanya waktu itu karena berfikir, kalau aku adalah perempuan yang beruntung. Dia tampan, mapan dan dari keluarga yang terpandang. Tidak satu atau dua perempuan yang mendekatinya, dia menolak semua perempuan yang mendekatinya dan memilihku. Aku berfikir waktu itu, bahwa ini adalahh kemenanganku sebagai perempuan, menjadi pilihan laki-laki hebat yang menolak wanita lain. Sayangnya aku yang bodoh waktu itu tidak memikirkan lebih jauh akibat yang akan aku dapatkanâ
Karin menghela nafas sejenak. Wajahnya menunjukkan betapa menyesalnya dia karena mengambil keputusan atas dasar rasa kepuasan sementara.
âKami akhirnya menikah, pernikahan kami berlangsung begitu meriah, aku menjadi wanita yang sangat bahagia waktu itu. Namun, sepertinya itu adalah kebahagiaan terakhir yang aku miliki setelah menikahâ
Alis fauzi berkerut, memperlihatkan ekspresinya yang bingung.
Karin mengangkat wajahnya, airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.
âSaat aku tanya alasan dia yang seperti itu. Dia bilang, kalau sebenarnya dia punya perempuan lain yang dia cintai, hanya saja orangtuanya tidak merestui mereka. Lalu aku tanya lagi, kenapa dia melamarku sedang dia cinta sama perempuan lainâ
âJawabannya??â
âDia mengira, aku bisa membuat dia lupa sama perempuan itu. Tapi yang terjadi, bukannya dia lupa sama perempuan itu, dia malah bersalah karena tidak memperjuangkan perempuan itu dan memilih menikah sama aku. Hatiku hancur sekali waktu ituâ
Fauzi menyodorkan sekotak tissue pada Karin yang airmatanya mulai menetes, mengingat kenangan buruk tentang pernikahannya.
âUsia pernikahanku hanya lima bulan, aku akhirnya menggugat cerai Faiq dan kita berpisah..â
âTunggu.. Siapa? Siapa nama suamimu tadi??â
âFaiq, kenapa?â
Fauzi terdiam sejenak.
âAh, tidak apa-apaâ Jawab fauzi kemudian setelah berpikir sejenak. âJadi sekarang??â
âYa begitu, setelah aku berpisah dari Faiq, aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Aku gak pernah lagi dengar kabar tentang dia, terakhir yang aku tahu, dia pergi dari sini dan memulai usahanya sendiriâ
Fauzi tersenyum.
__ADS_1
âMungkin Tuhan mau kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari diaâ Kata Fauzi dengan berusaha sedikit menenangkan.
âYa mungkin, aku juga berharap seperti ituâ
Karin menyeka sisa airmatanya. Rasa sakit yang dia rasakan saat itu kembali ia rasakan saat ini.
âTadi kamu sedikit terkejut waktu aku sebut nama mantan suamiku, kenapa??â
âAh gak, mungkin aku salah mengira karena dia punya nama yang sama dengan temankuâ
âBisa jadi itu benar diaâ
âAku rasa bukan. Faiq temanku itu orangnya ribut dan mudah bergaul, bukan seperti watak suamimu yang pendiam dan dingin seperti yang kamu bilang tadi, dan lagi dia bukan orang yang mahir dalam bidang bisnis, dia bukan tipe orang yang akan menjalankan sebuah perusahaanâ
âOh, sepertinya benar bukan. Mereka punya watak yang beda sekaliâ
âIya, aku sudah lama gak dapat kabarnya, makanya aku sedikit terkejut saat kamu sebut nama mantan suamimu tadiâ
âTeman kuliahmu?â
âIya, dia teman yang kabur dari rumahnya dan menumpang dirumahku waktu ituâ
âAku rasa benar bukan, Faiq yang ku kenal bukan tipe orang yang asal-asalan kabur dari rumahnya dan menumpang di rumah oranglain seperti ituâ Karin tersenyum simpul. Watak Faiq yang disebutkan Fauzi jelas sangat berbeda dengan watak Faiq mantan suaminya.
Keduanya terdiam sejenak. Riuh suara kendaraan mulai ramai bermain di gendang telinga.
âFauzi.. Makasih karena udah bersedia dengarin ceritaku. Aku masih merasa aneh karena cerita hal seperti ini sama kamu, bahkan saat kita baru pertama ketemu lagiâ
âTidak apaâ Jawab Fauzi tersenyum.
âAku hanya merasa nyaman saat cerita sama kamu tadi, sampai aku terdorong untuk curhat seperti ini. Ha ha ha, aku sedikit memalukanâ
âAh tidak. Aku senang kok dengar...â
Belum Fauzi menyelesaikan perkataannya, ponsel yang ia letakkan dalam saku bergetar.
âAh sebentar..â
Karin hanya mengangguk, memberi ruang pada Fauzi untuk menjawab panggilan telfonnya.
Fauzi melangkah beberapa langkah dari Karin, menjawab telfon masuk yang tak lain adalah panggilan masuk dari Salwa.
âYa kenapa sayang??â
Tidak ada jawaban dari seberang telfon, membuat Fauzi mengulang berkali-kali mengatakan halo.
âFa Fauzi..â
Terdengar suara Salwa yang sedikit gugup, membuat Fauzi menjadi khawatir.
âIya kenapa sayang? Kamu kenapa???â
âA aku.. Aku..â
__ADS_1
âSalwa... Salwa kamu kenapa?? Halo??? Jawab aku Salwa...â