
Seperti yang aku harapkan, rapat jadi selesai lebih awal karena adanya referensi-referensi kostum yang aku sediakan. Teman-teman yang lainpun bisa menghemat waktu dan menyelesaikan pekerjaan yang lainnya.
Aku berjalan keluar diiringi dengan teman-teman yang lainnya.
"Ckckck Romeo nunggu Juliet sampai ketiduran begitu.."
Aku menoleh, kulihat Fauzi masih ada menungguku dengan duduk tersungkur tertidur. Sepertinya dia cukup kelelahan.
"Hemm.. Jadi iri deh sama Salwa, mau dong ada yang tungguin juga.." Kata seorang teman dengan sedikit mengeluh.
Aku hanya tersenyum.
"Yaudah, kita duluan ya.. samperin tuh babangmu yang ketiduran.."
"Oke.. hati-hati.." Seruku. Teman-teman yang lain berlalu sambil melambaikan tangannya.
Aku menghampiri Fauzi, duduk disebelahnya. Kulihat raut wajahnya yang tertidur dengan tenang, sangat teduh dan manis.
"Maafin aku Ozi, kalau ngasih kamu waktu-waktu yang sulit.." Kataku dengan pelan.
Rasanya aku tidak ingin membangunkannya, tidak ingin menganggu tidurnya yang lelap. Aku meraih ponselku dan memainkannya sambil menunggu Fauzi terbangun. Toh, baru setengah empat sore, masih banyak siswa-siswi yang berkeliaran disekolah, biarkan saja Fauzi beristirahat sejenak.
Selang 30 menit berlalu.
"emhh..." Fauzi terjaga dari tidurnya. Ia berusaha menyadarkan dirinya dari tidurnya.
"Salwa? Rapatnya udah selesai?"
"Iya" Jawabku tersenyum.
"Udah lama?"
"Sekitar 30 menit yang lalu.."
"Loh, kok gak ngebangunin aku?"
"Habis kamu tidurnya lelap sekali.."
"Ya kan aku jadi ngebuat kamu nungguin aku tidur sayang.."
"Gak papa, lagian masih ada satu dua jam lagi kok baru sekolah ditutup.."
"Maaf udah ngebuat kamu nungguin aku tidur.."
Aku menatap Fauzi.
"Aku yang minta maaf sayang, udah ngebuat kamu nungguin aku sampai ketiduran.."
"Gak papa, emhh... jadi ini mau langsung pulang atau mau kemana lagi?"
"Aku masih malas pulang, lagian dirumah gak ada orang.."
"Yaudah ayo jalan.."
"Kamu gak ada kegiatan motret hari ini?"
"Udah aku tunda, lagian tinggal satu lokasi lagi dan acara nikahnya masih dua bulan kedepan, jadi bisa ditunda dulu" Jelasnya
"Karena aku??" Tanyaku.
__ADS_1
Aku jadi merasa sedikit bersalah membuat Fauzi harus menunda pekerjaannya hanya karena aku..
"Jiaahh.. pede bangett...." Jawabnya sambil tertawa.
"Lalu??"
"Ya untuk aku sendiri lah, yang mau nunda pekerjaan kan aku.."
"Ya tapi penyebabnya karena aku kan?"
"Bukan sayang, karena aku sendiri yang kepengen sama kamu hari ini.."
"Beneran?" Tanyaku meyakinkan.
"Iya.. Aku kangen kamu.." Katanya tersenyum. Aku balas tersenyum.
"Yaudah, mau kemana?" Tanyanya.
"Makan? Aku lapar.."
"Yaudah ayoo.." Katanya sambil menggandeng tanganku. Aku hanya mengikut.
"Mau aku bawain tasnya?"
"Gak usah, gak berat kok.." Jawabku.
***
Aku duduk dibangku dibangku taman sambil menunggu Fauzi yang sedang berbelanja di supermarket terdekat. Selepas makan tadi, meskipun perut sudah kekenyangan tapi masih saja rasanya kurang lengkap jika tidak menutup dengan sesuatu yang manis-manis, meskipun senyumanku manis tapi ya kan butuh melipatgandakan rasa manis dengan es cream.
Fauzi berlari kecil sambil menenteng kantong plastik yang berisi 2 pot es cream.
"Kamu kok sendiri dirumah?" Tanya Fauzi sambil mencicipi es cream rasa vanila campur coklat yang dibelinya tadi.
"Pasti sepi.."
"Ya begitulah.. makanya aku malas pulang.."
"Yaudah, main aja sama aku dulu.."
"Kamu dateng kan nanti.."
"Kemana?"
"Ke Balai Kotalah, Ayah sama Ibu gak ada buat nyemangatin aku lomba nanti, jadi kamu harus dateng.."
"Ya datang lah sayang, Ayah sama Ibu ada juga aku bakalan tetep dateng, apalagi kalau ibu sama Ayah gak ada"
"Beneran loh ya..." Kataku memastikan.
Fauzi mengangguk sambil mengelus kepalaku.
"Sayang..."
"Heemm..." Jawabnya.
"Kamu.. kamu gak punya yang lain kan?" Tanyaku ragu-ragu.
Uhuukk uhuukkk... mungkin saking terkejutnya Fauzi sampai terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Kamu tanya apa barusan?" Tanyanya memastikan pertanyaanku dan berusaha mengambil nafas selepas batuk-batuk karena tersedat es cream tadi. Matanya memerah.
"Maaf..." Kataku menunduk, melihat eskpresi Fauzi yang seperti itu membuatku merasa bersalah, sepertinya Fauzi sangat terkejut aku bertanya seperti itu, lagian buat apa juga aku bertanya seperti itu, seharusnya aku bisa tau hanya dengan melihat perlakuan Fauzi terhadapku.
Fauzi memelukku.
"Ada apa? Kamu kenapa sampai bertanya seperti itu?"
Aku hanya terdiam.
"Ada hal yang kamu khawatirin?" Tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk pelan. Fauzi mempererat pelukannya.
"Jangan berfikiran seperti itu lagi, apapun alasannya jangann berfikiran seperti itu lagi. Buang semua kekhawatiran kamu yang kayak gitu, aku gak mau pikiran yang gak penting seperti itu ngeganggu kamu" Jelasnya.
Perlahan mataku mulai berkaca-kaca.
"Maafin Aku, maafin kelakuanku yang ngebuat kamu sampai berfikiran kayak gitu"
Aku menggeleng. "Gak, aku yang bego.. mikirin hal yang gak jelas seperti itu.."
"Stt... jangan ngomong seperti itu.." Katanya sambil melepas pelukannya.
Airmataku perlahan menetes. Fauzi membantuku menyekanya."Cerita sama aku, kenapa sampai kamu berfikiran kayak gitu.. Biar aku tau, biar aku bisa memperbaiki kelakuanku, biar kamu gak kepikiran lagi sama hal-hal yang seperti ini.."
Aku menggeleng.
"Sayang.." Fauzi mengangkat wajahku, "Liat aku..!!" Perlahan aku menatapnya."Bilang sama aku, kelakuanku yang kayak gimana yang ngebuat kamu sampai berfikiran seperti ini, aku gak bakalan ngerubah ngelakuanku kalau aku gak tau.."
"Ii.. itu.. Akhir-akhir ini aku ngecuekin kamu, tapi kamu tetep baik sama aku. Aku jahatin kamu, tapi kamu masih tetep baik, masih tetep ngomong ramah, masih tetep sayang sama aku. A.. Aku pikir kamu ada yang lain dan cuman berpura-pura baik sama aku buat nutupin itu.."
Fauzi tertawa kecil..
"Dengerin aku sayang... gak ada alasan buat aku marah kalau kamu jadi cuek, gak ada alasan buat aku jadi gak baik lagi sama kamu kalau kamu gak baik sama aku.. aku sayang sama kamu, sekuat apapun aku mau marah, tapi rasa sayangku lebih besar yang ngebuat aku gak bakal bisa marah sama kamu sayang.. Udah ya.. Jangan kepikiran sama hal-hal seperti itu lagi. Apa yang aku lakuin buat kamu itu semata-mata karena aku sayang sama kamu, karena aku cinta sama kamu, karena aku mau kamu seneng. Aku bukannya sengaja mau baik terus sama kamu, tapi karena emang hatiku yang memaksa aku buat terus-terus baik sama kamu. Karena aku cinta sama kamu sayang.."
Rasanya terharu sekali mendengar Fauzi berkata seperti itu.
"Maafin aku udah nanya kayak gini sama kamu.."
"Gak, kamu nanya gini juga ada baiknya, biar kamu gak menduga-duga terus, gak terus-terusan mikir yang aneh-aneh"
Aku hanya tersenyum.
"Jadi karena ini kamu nangis tadi siang?"
Aku mengangguk..
"Hahaha.. Ya Ampun sayang.. Pacarnya siapa sih ini??"Fauzi meraih dan memelukku.
"Kamu lucu sekali, manis sekali.. berfikiran aneh-aneh sampai cemburu gak jelas begini.."
"Aku cuman khawatir.."
Fauzi mempererat pelukannya.
"Aku sayang sama kamu Salwa, sedikitpun terniat dipikiranku buat oranglain itu gak ada, kamu udah penuhin seluruh isi hatiku, cuman kamu, kamu lagi dan hanya ada kamu dihatiku.. Aku gak tau mau ngegambarin kayak gimana perasaanku kekamu, yang harus kamu tahu aku sayang banget sama kamu dan gak ada niatan buat ngeduain kamu apalagi ngeganti kamu dengan yang lain.."
Aku membalas pelukan erat Fauzi.
__ADS_1
"Aku juga.." Jawabku.
"Aku seneng ngeliat kamu cemburu kayak gini, ini ngebuktiin kalau kamu sayang sama aku.." Kata Fauzi tersenyum. Aku hanya balas tersenyum