
Seperti biasa, hari ini di jam istirahat kerja, Faiq dan Karin kembali memutuskan untuk makan siang bersama. Namun tidak seperti biasanya, dimana keduanya akan berbaur dalam obrolan dan saling bercerita satu sama lain, hari ini Faiq lebih diam dari biasanya. Ia hanya menanggapi beberapa pertanyaan dari Karin, dan merespon dengan senyuman dari apa yang Karin katakan.
Bukan tanpa sebab sehingga berbeda dari biasanya dan memilih diam. Sebenarnya bukan ia terdiam karena tidak memiliki pembahasan, melainkan karena pikirannya masih bermain di sekitar apa yang Ayahnya katakan semalam. Sesekali Faiq melirik Karin, meski sebenarnya tidak ada masalah jika ia menatap langsung perempuan yang tengah menikmati makan siangnya itu.
Entah kenapa, Faiq merasa sedikit canggung menatap Karin secara langsung ketika ia mengingat perkataan Ayahnya. Dia sendiri bingung, kenapa harus merasa canggung dan malu, padahal hampir setiap harinya pun dia memiliki waktu bersama dengan Karin seperti ini.
Faiq mencoba merasakan, dan meresapi perasaannya sendiri. Ia sedang mencari tahu, apakah benar ia merasa nyaman berada di sekitar Karin sehingga dia lebih sering tersenyum seperti yang dikatakan Ayahnya, atau itu hanya pandangan Ayahnya saja. Dan hal yang ditemui Faiq ialah, adalah bahwa benar dia merasa nyaman bersama Karin, meski dia tidak meyakini tentang rasa nyamannya itu berasal dari perasaan yang serius dalam cinta atau hanya sekedar rasa nyaman karena sering bertemu.
Pikiran Faiq yang mulai kalut memikirkan tentang dua hal kemungkinan perihal rasa nyamannya, terbuyarkan saat Karin sedikit menegaskan suaranya.
“Faiq.. Kamu baik-baik saja?”
“Ah? Eh, i-iya..” Jawabnya gugup. Faiq tertangkap basah tengah melamun, yang disebabkan oleh pikirannya yang sedang mencari tahu penyebab rasa nyaman yang dia rasakan.
Jelas Karin merasakan keanehan Faiq saat ini, namun ia tidak juga bertanya, karena menurutnya jika hal yang membuat Faiq saat ini merenung adalah hal yang sulit baginya, sudah pasti ia bercerita mengingat Faiq yang perlahan mulai berubah menjadi lebih terbuka padanya.
Namun karena Faiq tetap diam, Karin beranggapan, bahwa hal membuat Faiq berbeda dari hari-hari biasanya saat ini ialah, rasa lelah yang mungkin Faiq dapatkan dari pekerjaannya. Karin tahu, bahwa Faiq tengah menggarap satu proyek saat ini, dan itu pasti memakan banyak waktu yang dimiliki Faiq, sehingga membuatnya kurang istirahat.
Karin melanjutkan obrolannya, sekedar basa-basi agar mereka melewati makan siang hari ini tidak dengan saling diam. Karin sadar, jika bukan dia yang membuka obrolan dan bercerita, hari ini mereka akan makan siang dalam keadaan sunyi, melihat Faiq yang terlihat banyak pikiran saat ini sehingga nampak lebih kalem dari biasanya.
Ditengah Karin yang tengah sibuk dengan pembahasannya, Faiq masih saja curi-curi pandangan dengan melirik Karin sesekali sambil berpura-pura menikmati makanan yang tersaji di depannya.
Lelah dengan pikirannya yang terus mengusik untuk meminta jawaban atas rasa nyaman yang dia miliki, Faiq berusaha mengabaikannya dengan bertanya pada Karin, kiranya jawaban Karin nanti bisa membuat pikirannya yang tengah ribet-ribetnya itu bisa teralihkan.
“Karin, menurutmu apa yang akan dipikirkan perempuan yang akan menjadi istriku nanti kalau dia tahu aku punya masa lalu yang kelam seperti itu?”
Sialnya, sepertinya pertanyaann tiba-tiba yang Faiq tanyakan, malah semakin membuat pikirannya dipenuhi keambiguan. Rupanya ia tidak sepenuhnya bisa mengontrol diri yang terlanjur tenggelam akan perasaan dan pikirannya yang selalu berkecamuk di sekitar Karin.
Karin sedikit terkejut mendengar pertanyaan Faiq yang tiba-tiba namun mengandung unsur keseriusan yang mendalam. Melihat respon terkejut yang tidak bisa Karin sembunyikan itu, membuat Faiq mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa memilah pertanyaan yang lebih santai.
“Ke-kenapa tiba-tiba tanya hal seperti itu??”
__ADS_1
“Engg.. I-itu.. Anu.. Gak apa sih, aku cuman mau tahu pandanganmu saja. Ah sudah lupakan saja, pertanyaanku memang ngawur sekali..”
Faiq meraih gelas yang berisikan airputih, meneguknya lebih banyak agar kegugupannya akibat pertanyaannya yang memalukan itu, bisa hilang.
“Bu-bukan. Itu gak ngawur sih, aku cuman terkejut karena kamu tiba-tiba nanyain itu”
“Iya.. Udah gak usah di jawab, aku asal nanya aja tadi”
“Jadi dia masih tidak percaya diri, dan mikirin ini terus tadi makanya sampai gak banyak bicara hari ini” Gumam Karin dengan menyimpulkan apa yang dia baca dari gerak gerik dan pertanyaan Faiq
“Ah gak apa, ini juga bukan pertanyaan aneh kok”
Karin berusaha memahami apa yang menurutnya tengah menyibukkan pikiran Faiq sekarang, dan perlaham mulai mengeluarkan argumennya.
“Kalau kamu tanya masalah pandangannya sih, ya aku gak bisa jawab pasti. Kamu kan tahu kalau pandangan orang-orang itu berbeda, aku cuman bisa kasi tanggapan. Aku pikir, perempuan yang jadi istrimu nanti harusnya bisa nerima kamu apa adanya dan gak mempersalahin perihal masa lalumu. Dia harus bisa menerima kalau kamu punya waktu yang seperti itu dulu, dan harus bisa mendukungmu untuk tidak memandang dirimu buruk karena hal itu. Toh kamu sudah seperti ini sekarang, sudah jadi laki-laki yang hebat”
“Seandainya perempuan yang menjadi istriku nanti gak bisa nerima masa lalu aku yang seperti itu? Aku harus bagaimana?”
Faiq tertunduk mendengar jawaban Karin. Sejenak pikirannya kembali melayang hingga menyentuh ingatannya mengenai Sasa. Apakah Sasa akan mengerti akan dirinya yang seperti ini? Ataukah Sasa tidak bisa lagi menerimanya karena ia yang punya masalalu buruk.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Faiq dulu bukanlah hal yang bisa dikatakan begitu buruk. Sebelumnya dia pun tidak pernah menganggap dirinya buruk karena pernah menjadi pecandu alkohol, ia bahkan merasa apa yang dia lakukan dalam dunia bisnisnya beberapa waktu lalu itu, jauh lebih buruk.
Namun, karena Faiq telah mendengar jawaban Karin beberapa waktu lalu, pikirannya menjadi terdoktrin bahwa hal yang dia lakukan sebelumnya itu adalah hal teramat buruk, secara tidak langsung kebohongan yang pernah dia katakan perihal dirinya yang bermain perempuan, melekat pada dirinya seolah itu adalah benar. Belum lagi ketika dia menyangkut pautkan dengan apa yang dia lakukan pada Alesha, menjebak wanita cantik itu hanya untuk mendapat persetujuan bisnis dari Ayahnya.
Pertanyaan mengenai Sasa yang apakah bisa menerima dirinya, mulai memenuhi pikirannya dan sejenak lupa akan kehadiran Karin di depannya. Namun belum saja ia menentukan jawabannya yang berkemungkinan menjadi jawaban Sasa, ia kembali mengingat akan Sasa yang bisa saja membencinya. Lalu bagaimana mungkin Sasa bisa menerima dia dengan masa lalu yang tercoreng itu, jika Sasa berkemungkinan tengah membencinya saat ini.
“Faiq..”
Teguran Karin membuyarkan lamunan Faiq. Membuat Faiq perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Karin yang duduk di depannya.
“Hal seperti itu harusnya tidak menjadi sesuatu yang membebankan pikiranmu. Kamu harusnya berusaha menjadi lebih baik saja sekarang, maka perempuan yang baik pun akan datang untuk kamu. Dan perempuan baik yang datang itu, tidak akan membuatmu terluka dengan mempermasalahkan masa lalumu itu”
__ADS_1
Jawaban Karin, sedikit memberi kelegaan dihati Faiq. Ya, wanita yang tengah duduk didepannya itu, memang selalu bisa membuatnya merasa lebih baik, ketika ia mengutuk dan menilai buruk dirinya sendiri.
“Kalau kamu? Menurutmu aku orang seperti apa kalau memandang dari masa laluku”
“Bukannya hal ini sudah kita bahas ya?”
Dahi Faiq berkerut, memperlihatkan dia yang tidak mengingat atau mungkin tidak tahu bahwa mereka telah membahas hal itu sebelumnya.
“Aku kan sudah bilang, kalau yang aku lihat dari kamu itu, ya kamu yang sekarang. Laki-laki hebat yang sukses di bidangnya. Menurutku, laki-laki itu dilihat dari masa depannya, bukan dari masa lalunya” Jawab Karin mempertegas sekaligus mengulangi perkataannya beberapa hari yang lalu.
Karin yang menjawab demikian, tanpa sadar telah memperlihatkan pada Faiq kalau dia adalah perempuan yang bisa menerima Faiq apa adanya tanpa mempermasalahkan masa lalunya.
“Kamu tidak peduli seperti apa aku yang dulu”
“Kenapa harus peduli? Toh sudah berlalu”
Faiq menatap lekat ke dalam mata Karin, membuat Karin kebingungan.
“A-ada apa?” Tanya Karin sedikit terbata-bata karena Faiq tidak melepaskan tatapannya. Karin sedikit salah tingkah dibuatnya
“Berarti kamu perempuan yang baik itu?” Kata Faiq dengan sorot matanya yang masih tidak lepas dari Karin.
“Eh??”
Barulah Karin sadar, tentang perempuan yang sedari tadi ia sarankan untuk menjadi istri Faiq itu, memiliki kriteria yang persis seperti dirinya.
“Kamu tidak mempermasalahkan masa laluku, dan kamu mendukungku. Apa salah kalau aku bilang, kamu adalah perempuan baik itu?”
Karin tercengang, kedua kelopak matanya sercara refleks melebar.
“Kalau aku meminta kamu menjadi ‘perempuan baik’ untuk terus mendukungku dan menemaniku, apa kamu mau? Apa kamu mau menjadi istriku??
__ADS_1