Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 31


__ADS_3

Farhan yang akhirnya setuju untuk bertemu dengan putri pak Fatir hari ini sedang bersiap-siap menuju sebuah restoran dimana tempat janji pertemuannya dengan putri pak Fatir.


Farhan tiba dan duduk disalah satu meja kosong di restoran itu.


"Tetta kenapa gak ngereservasi tempat saja sih, kalau begini kan aku mana tahu yang mana anaknya pak Fatir, mau ngasih tahu aku di meja ini juga gak punya nomornya, mana nomornya Tetta gak aktif lagi dihubungi.." Keluh Farhan.


"Ingin pesan apa??" Tanya pelayan restoran yang sedang menghampiri Farhan.


"Ah nanti saja, saya sedang menunggu seseorang.." Jawab Farhan tersenyum ramah.


"Baiklah kalau begitu, kami akan menghampiri tuan lagi ketika teman yang ditunggu sudah datang.." Kata pelayan dengan ramah.


"Iya.." Jawab Farhan lagi dengan tersenyum ramah.


Farhan terus menunggu sambil terus-terusan melihat ke arah pintu restoran menunggu putri pak Fatir.


"Nina??" Kata Farhan pelan melihat Nina yang melangkah masuk kedalam restoran. "Eh..." Farhan dengan cepat mengambil buku menu dan menutupi wajahnya. "Nina itu kepo sekali, kalau dia ngeliat aku ada disini dia pasti nyamperin dan nanya-nanya ngapain aku ada disini. Masa iya aku bilang kalau aku lagi nunggu anak temennya Tetta yang di jodohin sama aku, bisa-bisa Nina ngeledek aku nanti.." Gumam Farhan berusaha menghindari Nina.


"Kak Farhan??" Tanya Nina ragu-ragu.


Ya sekuat apapun Farhan bersembunyi tetap saja terlihat oleh mata Nina.


"Ck, ngapa nih anak beneran ngehampiri aku sih??" Keluh Farhan dalam hati. "Eh Niina..." Farhan berusaha terenyum.


"Kak Farhan ngapain disini??"


"Ck aku bilang juga apa, Nina pasti nanya-nanya lagi entar.." Gumam Farhan dalam hati. "Ah, a aku lagi nungguin teman.." Jawab Farhan mencoba tersenyum dan berbohong.


"Aku duduk dikursi ini ya kak??" kata Nina izin pada Farhan.


"Ah i iya.." Kata Farhan terbata-bata. "Mampus.. Kalau anaknya pak Fatir nanti datang dan ngeliat Nina duduk di meja ini, dia bisa salah paham dan.. Ckk kenapa jadi begini sih???" Keluh Farhan dalam hati.


Pelayan kembali datang menghampiri Farhan saat melihat Nina yang sudah ada duduk menemani Farhan.


"Mau pesan apa pak?" Tanya pelayan itu dengan sopan. "Pelayan ini pasti ngira kalau yang aku tunggu itu Nina.." Keluh Farhan dalam hati.


Farhan memesan beberapa makanan begitupun juga Nina.


"Nina sendiri juga ngapain disini??" Tanya Farhan kembali.


"Ah aku?? Ah aku juga lagi nungguin temen kak, he he karena sekarang gak kuliah disini jadi tiap pulang ada aja yang ngajak ketemuan.." Kata Nina juga berbohong. "Masa iya aku bilang sama kak Farhan kalau mau ketemu sama anak laki-laki temannya Papa, kak Farhan bisa ngetawain aku ntar.." Gerutu Nina dalam hatinya.


"Oh ya, kamu gak kuliah disini??"


"Iya kak.."


"Kamu kuliah dimana??" Tanya Farhan.


"Aku di Palu, kalau kakak?"


"Aku kuliah di Makassar.."

__ADS_1


"Wah.. Kita sama-sama ngerantau.. Tapi bukannya kakak dulu kuliah disini??"


"Iya, sebelumnya aku kuliah disini tapi aku pindah ke Makassar, kepengen pindah jurusan.."


"Yaelah kak, kok ribet banget. Kenapa gak dari awal ngambil jurusan yang diambil sekarang aja??"


"Hm.. Gak tahu juga, pas udah masuk perkuliahan baru kepikiran.."


"Jadi sekarang ngambil jurusan apa kak??" Tanya Nina.


"Aku ngambil Farmasi.."


"Wah.. yang berhubungan dengan obat-obatan itu kan???" Tanya Nina antusias.


"He he he iya.."


"Wah kak Farhan ternyata anak kesehatan.. He he kalau nanti Nina sakit udah bisa nanya obat dong sama kak Farhan.."


"Ha ha ha kok ngomongnya kalau nanti sakit, emang Nina mau sakit??"


"Aish.. Maksud aku bukan gitu kak.. Lagian aku kan bukannya bakalan sehat terus.."


"Ha ha ha iya, aku ngerti kok maksud kamu.. Tapi aku masih semester satu sekarang, belum banyak tahu.."


"Belum banyak tahu tapi setidaknya kan lebih tahu dari pada aku.."


"He he iya.. Kalau Nina ngambil jurusan apa??"


"Ha ha ha jadi kamu kuliah management cuman karena suka sama pakaian orang kantoran yang elegan??"


"Ya bukan gitu juga sih kak.. eh tapi iya juga... Ah aku gak tahu.." Kata Nina kebingungan sendiri.


"Ha ha ha kamu lucu.." Kata Farhan tertawa.


Farhan dan Nina tanpa sadar larut dalam perbincangan mereka dan lupa bahwa mereka harus bertemu dengan anak dari teman orangtua mereka masing-masing.


Ponsel Nina berdering, satu panggilan dari Ayahnya.


"Kak, aku pamit angkat telfon dulu ya.." Kata Nina.


"Oh oke, silahkan.."


Nina berjalan menjauh beberapa langkah dari Farhan.


"Halo nak, kamu udah ketemu?


"Belum Pah, kayaknya dia gak datang deh. Aku udah dari tadi sampai di sini tapi aku gak ngeliat ada orang lain yang duduk sendirian.." Jelas Nina.


"Masa dia gak datang?? Kamu yakin gak ngeliat dia??"


"Iya Pah, Nina itu udah sampai dari tadi disini dan gak ngeliat ada orang yang datang sendiri atau duduk sendiri.."

__ADS_1


"Jadi kamu sendirian disitu??"


"Gak, untungnya aku ketemu sama kakak kelasku semasa SMA, jadi gak dongkol sendirian.."


"Yasudah, biar Papa nyusulin kamu kesana.."


"Cepat ya Pah.."


"Iya sayang..."


Telfon Nina berakhir. Nina kembali berjalan menuju meja Farhan dan makanan pesanannya sudah tersaji di meja itu.


"Siapa?? Temenmu??" Tanya Farhan setibanya Nina didepannya.


"Bukan, tapi Papa.."


"Jadi temenmu mana??"


"Kayaknya dia gak datang, teman kakak juga mana??"


"Gak tahu, kayaknya gak dateng juga.."


"Hem.. udah jauh-jauh pulang dari Palu malah gak ketemu.." Keluh Nina.


"Yang sabar, kita senasib.."


"Papa akan datang ngejemput aku, aku udah malas nunggunya.."


"Yasudah, makan saja dulu sambil nungguin Papamu datang, mubazzir makanannya kalau kamu gak makan.."


"Iya kak.."


Farhan dan Nina kembali larut dalam obrolan mereka sambil menikmati makanan yang tersaji diatas meja.


"Nina.." Panggil Ayah Nina sambil menghampiri putrinya.


"Papa..."


"Loh Nak Farhan???" Tanya pak Fatir kebingungan. Yang dikatakan putrinya kalau dia belum bertemu dengan anak dari temannya sedangkan yang dia lihat sekarang jelas-jelas kalau mereka sudah makan berdua, bahkan saat dia melihat dari jauh sebelumnya mereka sedang berbincang-bincang dengan sangat akrab.


Tapi dibandingkan pak Fatir, Farhan lebih bingung lagi saat melihat Nina memanggil pak Fatir dengan sebutan Papa. Kenapa Nina memanggil pak Fatir dengan sebutan Papa?? Apa jangan-jangaan......


Farhan dengan cepat menatap Nina dengan tatapan terkejut setelah sadar bahwaaa....


"Papa kenal sama kak Farhan??" Tanya Nina kebingungan.


"Loh, Farhan ini sayang anaknya temen Papa yang mau Papa kenalin sama kamu.."


Mata Nina membelalak, perlahan mengarahkan pandangannya melihat Farhan yang sudah lebih dulu menatapnya dengan tatapan terkejut. Kelopak mata Nina dan Farhan makin membesar saat mereka sudah saling bertatapan dan saling mengerti mengapa mereka ada ditempat itu sekarang dan siapa orang yang ingin mereka temui,


"WHAAATTTT?????????"

__ADS_1


__ADS_2