Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Mental..


__ADS_3

Setelah membujuk Ibu, akhirnya Ibu memberiku izin untuk menyusul Fauzi. Aku berangkat dan mengammbil penerbangan hari itu juga, tapi bukan Fauzi yang kutemui disana melainkan hanya kekecewaan yang semakin menjadi-jadi.


Berkali-kali aku menekan bel, mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil Fauzi tapi tak ada jawaban sampai akhirnya satpam perumahan mendatangiku.


"Maaf, cari siapa dek?"


"Cari Fauzi pak, orang yang tinggal dirumah ini.."


"Oh, anak laki-laki yang tinggi putih itu?"


"Iya pak betul"


"Dia sementara gak tinggal disini dulu dek.."


"Kenapa pak? Jadi sekarang tinggal dimana?"


"Katanya dia tinggal sama temannya dulu, rumahnya di titipkan di saya. Kalau masalah sekarang dia tinggal dimana saya juga gak tau dek.."


"Sejak kapan pindahnya pak?"


"Baru tadi pagi.."


"Oh begitu, terimakasih pak.."


"Iya dek.."


Aku memutar arah, aku tidak tahu mau kemana sekarang. Aku tidak tahu dimana Universitas Fauzi, aku juga tidak memiliki nomor telfon Sasa dan Faiq aku lupa meminta nomornya waktu itu.


Airmataku menetes, aku benar-benar merasa berada dititik terendah dari usahaku. Aku tidak tahu mau bagaimana lagi, seniat ini Fauzi ingin mengakhiri hubungan kita.


.


.


Aku kembali di hari yang sama, bukannya kembali kerumah aku langsung menuju rumah Fauzi. Aku yakin Ibu Fauzi akan memberiku alamat Fauzi yang baru seperti sebelumnya


Aku menekan bel-bel berkali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Apa lagi ini? Apa Ibu juga menghindariku? Apa Ibu juga sudah tidak suka lagi denganku? Mataku semakin sembab.


Aku menekan bel sekali.


"Nak Salwa.." Syukurlah Ibu Fauzi masih menyambutku, tidak seperti yang aku fikirkan. "Kamu kenapa Nak?" Tanyanya khawatir. "Ayo masuk.."


"Makasih Bu,.."


"Maaf Ibu terlambat membuka pintu, Ibu sedang masak.."


"Tidak apa, maaf karena mengganggu Ibu sore-sore begini.."


"Tidak apa sayang, kamu kenapa? Kenapa matamu merah begini?"


"Bu.. Apa Ibu tahu Fauzi pindah kemana?"


Ibunya terdiam sejenak, kemudian mengangguk.


"Fauzi pindah kemana Bu? Aku kesana mencarinya tapi tidak ketemu" Airmataku mulai menentes lagi.

__ADS_1


Ibu Fauzi membantuku menyeka airmataku dan membelai pipiku dengan lembut.


"Maafkan Ibu nak, Ibu tidak bisa memberitahumu. Fauzi sudah berpesan seperti itu.."


"Tapi Bu, aku butuh untuk ketemu sama Fauzi Bu.." Airmataku semakin deras, aku sudah tidak mengerti kemana perginya rasa maluku sampai aku menangis sejadi-jadinya seperti ini di depan Ibu Fauzi.


Ibu Fauzi meraihku dan memelukku sambil mengelus-ngelus rambutku dengan lembut.


"Ibu tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, Ibu hanya mengikuti permintaan Fauzi saja. Ibu sangat ingin memberi tahumu tapi Ibu tidak bisa sayang.."


"Bu, aku mau ketemu Fauzi.."


"Maafkan anak Ibu karena sudah membuatmu seperti ini. Ibu juga tidak ingin melihat kalian seperti ini tapi Ibu juga tidak ada pilihan lain Nak.."


"Bu.." Tangisku makin menjadi-jadi.


"Yang sabar sayang.." Kata Ibu terus memelukku dan semakin erat pelukannya.


.


.


.


.


Waktu berlalu, aku terpuruk dengan perasaanku sendiri. Aku seperti tidak ada gairah hidup, hari-hari yang kulalui semakin hari semakin kosong, sesekali aku berfikir mungkin ini karma yang datang padaku atas apa yang telah aku lakukan selama ini.


Tiada hari tanpa aku memikirkan Fauzi, tiada hari tanpa aku merindukan Fauzi dan tiada hari juga yang kulalui tanpa menangis. Ibu selalu kekamar untuk menenangkanku ketika hatiku kembali berkecamuk mengingat semua kenanganku bersama Fauzi. Seskali Ibu Fauzi datang menjengukku untuk memastikan aku baik-baik saja. Ya secara fisik aku terlihat baik-baik saja, tapi setengah dari mentalku sudah terganggu. Karma benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik padaku.


Ayah setiap pulang kerja selalu datang ke kamarku, menceritakan berbagai hal dari kesehariannya ditempat kerja sampai apa-apa saja yang dia temui di jalan saat pulang. Aku tahu Ayah sedang berusaha mengajakku mengobrol agar pikiranku tidak selalu berputar disekitar Fauzi, yah itu berhasil tapi hanya berhasil disaat Ayah bercerita saja, saat Ayah keluar dari kamarku pikiranku kembali bermain-main tentang kenanganku bersama Fauzi.


Ayah tidak pernah marah atau menuntutku karena sudah seperti ini sekarang, Ayah selalu yakin jika Ibu masih diam itu berarti aku masih bisa mengatasi diriku. Ayah tidak mau membebani pikiranku dengan desakannya. Mungkin saja Ayah tahu tentang apa yang terjadi sehingga Ayah tidak ribut padaku dan tidak mempermasalahkan keputusan Fauzi.


Sudah setengah tahun aku seperti ini hanya tinggal dirumah, keluar kamar jika perlu saja makan dan minum seadanya sehingga berat badanku menurun. Andaikan semuanya baik-baik saja, mungkin sekarang aku sedang sibuk belajar mempersiapkan Ujian akhir semester pertama diperkuliahanku. Sekali lagi, karma benar-benar memainkan perannya padaku.


Tok tok..


"Salwa, Ibu masuk sayang.."


Aku diam saja, Ibu juga sudah terbiasa meminta izin masuk tapi aku tidak meresponnya.


"Sayang Ibu ada sesuatu untukmu.."


Aku menoleh menatap Ibu.


"Apa Bu?"


Ibu memberiku selembar formulir.


"Ini apa?"


"Ini formulir kelas tambahan sayang, kamu bisa mencoba latihan-latihan soal untuk masuk Universitas tahun depan"


Aku meletakkan formulir itu.

__ADS_1


"Aku tidak ingin Bu.."


"Sayang.. Kamu mau sampai kapan seperti ini. Kamu tidak bisa menunda pendidikanmu sampai tahun depan lagi. Semester depan kamu harus bisa memulai pendidikanmu lagi.."


"Tapi Salwa gak mau Bu.."


"Cobalah dulu sayang. Sudah setengah tahun kamu mengurung diri dirumah, ini tidak baik untuk kesehatanmu.."


Aku diam saja.


"Sayang, Ibu tidak bisa melihatmu seperti ini terus. Mau sampai kapan kamu begini, ini tidak ada gunanya. Dibandingkan kamu yang terus-terusan menyesali kepergian Fauzi ada baiknya kalau kamu berusaha menjadi yang lebih baik lagi.."


"Aku gak bibsa Bu, pikiranku saja tidak bisa tenang lalu bagaimana aku bisa menerima pelajaran"


"Salwa apa kamu tidak berfikir. Fauzi yang pergi itu karena kesalahanmu sendiri" Nada Ibu mulai meninggi, ini pertama kalinya aku melihat Ibu seperti ini dan pertama kalinya Ibu menyalahkanku secara langsung. "Kamu harusnya memperbaiki kesalahan itu, bukannya membuatnya semakin salah begini"


Aku terkejut melihat Ibu yang seperti itu, mataku mulai berkaca-kaca dan perlahan airmataku menetes. Ibu menyadari nada bicaranya yang tinggi dan terkejut melihat responku.


"Maafkan Ibu Nak, Ibu tidak bermaksud.." Kata Ibu berhambur memelukku. Ibu mulai menangis


"Salwa yang minta maaf Bu, maafkan karena sudah membuat Ibu khawatir"


"Ibu cuman tidak tahan melihatmu seperti ini terus sayang.."


Aku dan Ibu terbawa suasana dan menangis bersama.


"Aku akan mencobanya" Kataku ketika perasaanku mulai tenang"


"Sungguh?"


Aku mengangguk.


"Terimakasih sayang, semoga dengan ini kamu bisa kembali seperti yang dulu.."


Aku hanya tersenyum.


.


.


.


.


.


Bukkk...


"Aduh.."


"Maafkan anak saya.."


"Iya tidak apa" Jawabku tersenyum.


"Ka kamu, Salwa kan?"

__ADS_1


Siapa perempuan ini? Kenapa mengenalku? Rasanya aku belum pernah melihatnya sebelumnya.


__ADS_2