Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Cerita Nina (1)


__ADS_3

Aku masih sangat sulit percaya dengan fakta yang ku ketahui sekarang. Aku sama sekali tidak pernah berfikir tentang hubungan Nina dan Farhan, bahkan membayangkannya saja rasanya itu mustahil sekali. Tapi semua kembali lagi pada takdir, tidak ada yang bisa mengubahnya dan semua bisa saja terjadi meski itu terasa mustahil.


Berkali-kali aku berusaha menerima kenyataan ini, aku meyakinan diriku kalau aku baik-baik saja meski bagian daru sudut hatiku merasa sakit dan kecewa. Sekali lagi aku menyadari, kebaikan Farhan selalma ini padaku tidak lain karena dia hanya menganggapku sebagai adik perempuannya dan hanya ekspektasiku saja yang bermain-main beranggapan kalau Farhan menyukaiku.


Farhan mengantarku pulang bersama Nina. Nina merengek meminta untuk menginap denganku malam ini dan aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan Nina, meski sebenarnya malam ini aku ingin sendiri saja melepaskan semua sesak perasaanku.


Bukan hanya Nina, aku sendiripun sangat merindukan Nina. Bagaimana tidak, tiga tahun aku di sekolah menengah atas, tiga tahun itu juga aku lewati hari-hariku bersama Nina. Aku bohong jika mengatakan aku tidak merindukannya, hanya saja keberadaan Nina yang sekarang seperti boomerang tersendiri bagiku. Andaikan aku bertemu Nina tidak dengan statusnya yang sekarang sebagai tunangan Farhan, mungkin aku akan sama riangnya dengan Nina sekarang. Tapi harus bagaimana, mengendalikan perasaan agar bisa riang seperti Nina itu tidaklah mudah.


"Salwa.. Aku kangen.." Kata Nina memelukku dengan manja.


"Aku juga kangen Nina.." Kataku balik memeluknya.


Aku merasakan sedikit perbedaan yang ada pada Nina. Jika Nina yang dulu, dia akan menghambur memelukku dengan riang dan ribut, tapi Nina yang sekarang sisi manjanya lebih terliihat. Ya mungkin karena dia terbiasa diperlakukan manja oleh Farhan.


Aku masih mengingat pandangan Nina tentang pacaran, dia sangat memikirkan keuntungan apa yang harus diterima dari pasangan kita, dia selalu befikiran realistis dan sedikit mengabaikan tentang perasaan. Dulu aku berfikir Nina yang berfikiran seperti itu karena dia yang belum merasakan Cinta dan sekarang benar saja, Nina akhirnya berubah setelah dia merasa jatuh cinta, dan lagi Farhan adalah tipe yang tidak kurang apapun di mata Nina waktu dulu mengingat dia menggerutu waktu aku menolak Farhan sewaktu duduk di kursi sekolah menengah atas.


Farhan mungkin pacar pertama Nina dan sekarang bahkan sudah menjadi tunangannya. Aku bersyukur Nina bertemu dengan seseorang yang seperti Farhan di pengalaman pertamanya sebagai seorang kekasih, setidaknya Farhan tidak akan melukainya terlebih lagi Farhan yang sekarang terlihat seperti laki-laki bucin yang sangat mengedepankan keinginan kekasihnya.  Yah, sebagaimanapun hatiku kecewa saat ini tetap saja aku merasa bahagia untuk Nina.


"Na.. A aku mau tanya.."


"Apa?" Tanya Nina mengalihkan perhatiannya dari ponselnya yang berbaring disampingku.


"Kamu sama kak Farhan kenapa bisa seperti ini?"


Nina meletakkan ponselnya.

__ADS_1


"Banyak sekali kejadian yang tidak terduga sampai akhirnya aku bisa seperti ini sama kak Farhan" Kata Nina mulai menceritakan bagaimana dia bisa terikat dengan Farhan sekarang. Jujur saja aku penasaran tentang hubungan mereka dan bagaimana bisa mereka terikat dalam hubungan pertunangan.


"Kamu ingat gak waktu kita SMA kelas tiga aku bilang kalau aku mau di jodohin sama Mama?"


"Iya.. Jadi waktu itu??" Tanyaku dan mulai menebak-nebak.


"Iya.." Jawab Nina tersenyum. "Orang yang mau dijodohin sama aku itu kak Farhan"


"Kok bisa?" Tanyaku semakin pensaran.


"Gak tau juga kenapa bisa, Mama sama Papa gak pernah cerita lebih jelas sama aku tentang itu hanya saja Mama bilang kalau kak Farhan itu anak temannya Papa"


"Jadi??"


"Awalnya aku sempat nolak buat ketemu dia, dan seperti yang kamu tahu kalau Mama gak pernah memaksakan kehendaknya buat aku nurutin semua kemauannya, tapi Papa tetap minta aku buat ketemu anak temannya itu. Kata Papa setidaknya aku ngehargai niat baik temannya Papa untuk ngejadiin aku bagian dari keluarganya, jadi aku setuju buat ketemu hari itu. Toh Mama sama Papa bilang kalau aku gak suka aku boleh kok bilang gak mau, yang penting udah ketemu dulu.."


"Ya karena dulunya kak Farhan nyebelin. Aku pernah diam-diam ngedenger Mama bilang sama Papa buat ngebatalin aja perjodohan ini karena alasan kami gak pernah ketemu sampai kita lulus SMA itu karena kak Farhan sibuk banget katanya. Mama sempat berfikir kalau pihak keluarga kak Farhan gak serius tanganin masalah perjodohan ini dan Mama gak mau aku terluka karena itu nantinya"


"Karena selama kita masih SMA Farhan lagi sama aku Na, bagaimana bisa dia mau ketemu sama kamu waktu itu sedangkan waktu itu dia cintanya sama aku" Pikirku.


"Terus?" Tanyaku karena masih terus-terusan penasaran dengan cerita Nina.


"Tapi Papa bilang, dia tetap mau aku ketemu sama kak Farhan. Papa bilang keluargaku gak boleh menunjukkan sikap yang sama seperti itu, bagaimanapun juga Papa kak Farhan adalah teman Papaku"


"Tapi kamu gak pernah dipaksa kan?"

__ADS_1


"Gak, Mama gak akan tega maksa-maksa aku. Aku ketemu sama kak Farhan pas aku udah kuliah, Papa minta aku pulang sebentar buat ketemu sama kak Farhan waktu itu dan akhirnya aku ketemu. Haha awalnya kami sama-sama terkejut pas tau kalau udah di jodohin" Nina tertawa sendiri menceritakan awal pertemuannya sama Farhan dengan status mereka yang sedang di jodohkan. "Tapi lama-lama seiring berjalannya waktu kami terus-terusan saling mengenal satu sama lain dan akhirnya bisa seperti ini" Lanjutnya.


"Benar-benar gak terduga, aku gak nyangka kalau orang yang bakal dijodohin sama kamu itu ternyata kak Farhan"


"Jangankan kamu Wa, aku juga gak nyangka banget. Udah kek sinetron aja.."


"Tapi syukurlah kalau itu kak Farhan, bukan.."


"Bukan Om-om seperti yang dipikiranmu dulu. hahaha" Kata Nina memotong perkataanku disertai tawanya.


"Haha iya ya.."


Melihat Nina yang ceria begitu membuat perasaanku juga menjadi turut bahagia. Sudahlah, aku memang tidak seharusnya beranggapan yang lain tentang kebaikan Farhan padaku selama ini. Yang harus aku rasakan sekaranga adalah rasa bahagia juga seperti rasa bahagia yang dirasakan Nina.


"Ck, kenapa juga aku gak kepikiran kalau kak Farhan punya nomor ponselmu, kalau aku tahu nomor ponselmu aku pasti bakal langsung nelfon kamu pas aku tahu kalau orang yang dijodohin sama aku itu kak Farhan" Keluh Nina agak kesal. "Kan aku pengen ngejutin kamu.."


"Sekarangpun aku sudah sangat terkejut Nina" Batinku.


"Hehe sekarang aku juga terkejut kok.."


"Ya tapi gak seru, kamu sekarang terkejut sendiri. Kalau waktu itu aku langsung ngomong sama kamu kan kita bisa sama-sama terkejut"


"Haha ngapain juga harus terkejut berjamaah"


"Haha iya yah, kok niat samaannya gak berfaedah banget" Kata Nina sambil tertawa.

__ADS_1


Takdir benar-benar tidak ada yang tahu seperti apa, Nina yang dulunya hanya sebatas mengagumi Farhan tanpa ada rasa sedikitpun untuk ingin memlikinya sekarang malah menjadi calon pendamping hidupnya.


__ADS_2