Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
The truth told


__ADS_3

Kaki Faiq terayun langkah demi langkah mendekati Sasa yang begitu cantik dengan gaun pengantinnya. Seutas senyum tertoreh di bibirnya, ia tidak pernah menyangka bisa merasa ikhlas melihat wanita yang sangat dicintainya itu bersanding dengan orang lain di pelaminan.


Sasa turut memperhatikan dari singgasana, seolah tengah menunggu ucapan selamat dari mantan kekasihnya. Sasa tidak yakin bisa menatap Faiq malam ini dengan dia yang kini menjadi status oranglain, namun melihat Faiq yang terlihat tegar, juga turut memberi kekuatan bagi Sasa.


“Selamat ya..” Kata Faiq mengulurkan tangannya.


Sasa tersenyum dan meraih tangan Faiq. mereka terlihat dewasa bisa saling melempar senyum di situasi yang seperti ini, mengingat sebelumnya mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.


“Makasih..”


Faiq mengalihkan pandangannya dari Sasa, dan melihat Azka yang tampak tampan dengan tuxedo yang dia gunakan.


“Harusnya aku tidak bilang hal seperti ini, tapi rasanya aku ingin sekali mengatakannya”


“Katakan saja” Azka mempersilahkan Faiq menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.


“Jaga Sasa dengan baik. Aku tahu, ini tidak pantas dikatakan oleh orang yang sudah berkali-kali menyakiti Sasa, tapi... Aku benar-benar berharap kamu bisa menjaganya dengan baik. Aku mengenal Sasa, dia ribut tapi rapuh. Tapi, terlebih dari apa yang aku tahu, kamu lebih mengetahuinya sekarang”


Azka mengangguk, mengiyakan permintaan dari seseorang yang dia tahu sebagai orang yang sangat mencintai istrinya.


Tidak banyak kata-kata yang bisa Faiq katakan, hanya seutas pesan singkat tadi dan ucapan selamat, juga doa tulus yang dia harapkan bahwa Sasa dan Azka akan hidup bahagia.


Faiq kembali menemui Fauzi, Salwa dan Karin yang menunggunya. Ia tidak mengerti, mengapa perasaannya menjadi lega karena telah mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik untuk kedua mempelai. Mungkin karena keikhlasannya, atau saja karena sesuatu yang baru kini perlahan muncul dihatinya.


“Lu ceramah apaan diatas sana? Ngasih ucapan kok lama banget” Gerutu Fauzi setelah Faiq kembali bergabung dengan mereka.


“Biasa, wejangan seorang mantan” Jawab Faiq disusul tawa kecilnya, yang membuat Salwa dan juga Karin ikut tertawa.


“Gimana masalah kerjaan? Aman-aman aja?” Tanya Fauzi melempar pandangannya pada Faiq dan Karin.


“Aman..”


“Iya sih, dari gue liat malah kelewat aman” Goda Fauzi sembari melirik Karin. “Apa karena rekan bisnisnya ngebuat nyaman?”


Faiq tertawa kecil, ia tahu betul apa maksud dari ucapan Fauzi itu.


“Lu mau gue rujuk sama Karin?”


“Hah?? Apa??” Seolah Fauzi tengah menangkap sesuatu yang janggal, ia bertanya memperjelas apa yang baru saja dia dengar.


“Ah, gue belum pernah cerita ya.. Karin itu.. mantan istri gue”


Fauzi dan Salwa serasa sulit mencerna apa yang baru saja mereka dengar. Seolah Faiq tengah bergurau tentang sesuatu yang tidak mungkin.


“Gue nikah sama Karin beberapa tahun yang lalu, dan memutuskan pisah”


“Ja-jadi..” Fauzi menatap Karin, ingatannya teringat akan Karin yang dulunya pernah cerita perihal mantan suaminya.


“Iya, Faiq yang aku maksud waktu itu.. Dia”

__ADS_1


Fauzi makin syok saja mendengarnya, bahkan Salwa menepuk pelan pipinya untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar sekarang, bukan sesuatu yang dia dengar di alam mimpi.


“Ta-tapi.. Kenapa kalian gak bilang??”


“Ya karena aku udah gak ada hubungan lagi sama Faiq. Kita bilang juga gak ada gunanya. Lagian Faiq punya perempuan yang dia sukai kemarin, jadi lebih baik kalau masalah kita berdua, cukup kita saja yang tahu”


“Ada yang bilang, dunia selebar daun kelor. Dan sekarang aku percaya itu, kalian adalah bukti dari pepatah itu” Kata Salwa masih sulit percaya. Perempuan yang sempat membuatnya kesal semasa SMA dulu, ternyata adalah orang yang pernah diucapkan ijab qabul oleh laki-laki yang dulunya berjasa pada hubungannya dengan Fauzi.


Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan Salwa dan Fauzi yang masih saja merasa terheran-heran akan fakta baru yang disajikan pada mereka. Sesuatu yang tidak pernah mereka duga-duga, ternyata pernah terjadi.


.


.


.


.


Cukup lama Fauzi dan Salwa berdiam di pesta Sasa, hingga akhirnya mereka juga undur diri setelah tamu-tamu berpamitan pulang.


Salwa duduk di depan cermin rias, melepas beberapa perhiasan yang dia gunakan saat ke pesta tadi, dan menghapus make up di wajahnya.


“Sudah lama sekali kita lost contact dengan Faiq, saat Faiq kembali yang aku tahu dia tetap temanku yang masih bujang, dengan perasaannya yang masih membara-bara pada Sasa. Tanpa di duga..” Fauzi kembali membahas hal yang sangat mengejutkan baginya. Dia duduk tersungkur dan bersandar di punggung ranjang.


“Takdir memang tidak ada yang tahu sayang. Aku sama kamu yang sempat terpisah, akhirnya bisa bersama kan sekarang..”


“Ya karena tidak cocok” Jawab Salwa singkat dengan masih sibuk merapikan wajahnya dari make-up yang sebelumnya menumpuk di wajahnya.


“Terus kenapa menikah kalau tidak cocok?” Fauzi masih saja penasaran dengan apa yang terjadi pada Faiq dan Karin di masa lalu.


Dengan sedikit kesal, Salwa berbalik menatap suaminya yang sudah lebih dulu berganti pakaian.


“Kamu kenapa kepikiran itu, itu kan urusan mereka. Yang penting sekarang mereka tetap berhubungan baik meskipun statusnya bukan suami istri lagi” Gerutu Salwa.


Fauzi terdiam, rupanya ia telah memancing emosi istrinya.


“Aku kan cuman tanya sayang..”


Salwa beranjak dari duduknya dengan wajah yang sudah bebas dari make-up dengan bantuan baby oil dan toner.


“Daripada kamu mikirin itu, mendingan bantu aku ngelepas gaunku”


Salwa menghampiri Fauzi, meminta tolong pada suaminya untuk melepas resleting panjang dibagian belakang pada gaunnya. Tangannya tidak akan sampai jika ingin membukanya sendiri.


Fauzi turut saja, toh sebelum berangkat tadi, ia sudah menjadi asisten istrinya.


Fauzi yang melihat punggung mulus milik istrinya, tidak tahan untuk tidak meninggal bekas kecupannya disana, sedang Salwa sudah terbiasa mendapat perlakuan yang demikian dari Fauzi.


Hanya saja, malam ini bukan hanya punggungnya yang mendapat kecupan dari Fauzi, tengkuknya pun menjadi sasaran empuk bibir suaminya. Hembusan nafas Fauzi dan kecupan kecil yang menyentuh tengkuknya, membuat Salwa bergidik.

__ADS_1


“Sayang...” Nada merengek mulai terdengar dari Fauzi.


“Hem?”


“Mikayla sudah enam tahun sekarang, sepertinya dia sudah butuh adik untuk ditemani bermain”


“Usianya masih kecil, Mikayla masih butuh perhatian penuh dari kita” Kata Salwa beranjak setelah res belakang bajunya terlepas.


“Mau kemana?”


“Ganti baju, aku gak mungkin tidur pakai gaun kan?”


Fauzi dengan cepat meraih pergelangan tangan Salwa, menarik istrinya dengan satu kali tarikan hingga mendekat ke arahnya.


“Aku bilang, Mikayla sudah besar.. Jadi..”


“Sayang, aku harus ganti pakaian.. Gak nyaman pakai gaun, aku harus pakai piyama”


“Bukannya lebih nyaman lagi kalau tidak pakai apa-apa”


Salwa cukup mengerti dengan apa yang diinginkan suaminya sekarang.


“Kalau aku kedinginan?”


“Kan ada aku, aku lebih hangat dari piyama mana pun, bahkan lebih hangat dari selimut tebal”


“Masa?”


“Tidak percaya? Mau coba?”


Belum Salwa memberi jawaban, Fauzi sudah mendekat ke wajah istrinya dan memberi kecupan manis yang perlahan menjadi liar di bibir istrinya.


Cukup lama keduanya berpaut, hingga Salwa melepaskan diri dari ganasnya sang suami. Fauzi menatap Salwa dengan memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan dan sedikit tidak puas.


“Sayang, percaya sama aku, Mikayla beneran udah besar dan udah butuh adik sekarang..”


“Gak usah ngejadiin usia Mikayla jadi alasan. Aku belum mau ngasih Mikayla adik, bukan berarti kamu gak bakalan dapat jatah. Hanya saja, gaunku.. Rasanya tidak nyaman”


Fauzi tersenyum nakal, menatap istrinya dengan penuh cinta. Gaun yang pengait belakangnya telah terbuka, lolos begitu saja dari tubuh Salwa hanya dengan satu kali tarikan dari Fauzi.


“Sudah aku bilang, tidak menggunakan apa-apa lebih nyaman.. lebih nyaman kupandangi”


Salwa tersenyum kecil, suaminya itu sangat nakal malam ini.


Salwa melangkahkan kakinya keluar dari lingkaran gaun yang sudah terjatuh di lantai. Ia tidak perlu menunggu suaminya menyambut dengan ciumannya lagi, kini ia yang akan memulai dari apa yang sudah sangat diinginkan suaminya sedari tadi.


“Aku mencintaimu..” Bisik Fauzi di telinga Salwa. Sebuah pernyataan yang selalu Fauzi ucapkan sebelum berpaut dalam hubungan yang intiim bersama istrinya.


Malam yang panjang mereka lewati, saling menikmati satu sama lain dari aktifitas yang tengah mereka lakukan. Keduanya saling meluapkan perasaan cinta dengan penyatuan yang tidak akan terpisahkan sebelum mereka sampai pada apa yang mereka inginkan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2