
Waktu berlalu dengan cepat untuk orang-orang yang memiliki kesibukan, dan hal itu yang Faiq rasakan ketika ia memutuskan untuk meneruskan pendidikannya.
Faiq memutuskan untuk meneruskan pendidikan yang sudah Ayahnya siapkan untuk dirinya. Ya, dia telah mengubur mimpinya untuk menjadi arsitek dan akan beralih pada dunia bisnis. Yang menjadi tujuannya sekarang adalah, menjadi sukses lebih awal dan melampaui Ayahnya, sehingga dia bisa melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Dia tidak ingin lagi memberi Ayahnya hak untuk mengatur kehidupan yang dia miliki.
Wejangan yang dia terima dari laki-laki tua pemilik bar yang dia ketahui bernama Axiel itu, benar-benar bisa memberinya motivasi untuk menjadi yang lebih baik. Semalaman ia memikirkan tentang semua yang Axiel katakan padanya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa apa yang dikatakan Axiel adalah kebenaran yang harus dia lakukan agar terlepas dari belenggu Ayah yang telah memotong sayapnya.
Faiq yang sudah memutuskan untuk kembali fokus pada pendidikannya, tidak lagi memiliki waktu buat bersenang-senang seperti apa yang sudah dia lakukan beberapa bulan terakhir ini, semenjak ia tiba di negara yang berada di benua eropa itu.
Perubahan Faiq ini jelas membuat Jazz kebingungan dan bertanya-tanya dengan apa yang terjadi, hingga Faiq menjelaskan semuanya dan Jazz akhirnya mengerti. Bukan dari keinginan yang dia miliki saja sehingga tekadnya bulat untuk berubah dan belajar dengan baik, dukungan Jazz dan teman-teman lainnya juga merupakan hal yang sangat memopang mental Faiq dalam menempuh pendidikannya.
Meski waktu terus berlalu, namun rasa rindu yang dia miliki untuk ratu yang bertahta di hatinya itu, masih saja kuat menekankan keberadaannya. Rindu yang tidak pernah terusik dan beranjak dari perasaan Faiq, masih terus-terusan meronta meminta untuk di tebus. Namun tetap saja memiliki akhir yang sama, dengan tidak adanya jalan untuk menebusnya kerinduan pada pemiliknya.
Rindu dan perasaannya pada Sasa juga, yang membuat Faiq terus termotivasi dalam belajar dan melanjutkan pendidikannya. Ketika semangatnya menurun, ia akan kembali mengingat akan dirinya yang semakin jauh dan semakin sulit untuk meraih Sasa, sehingga kembali membuatnya bersemangat dan menolak untuk menjadi orang yang gagal.
Faiq masih sesekali mengunjungi bar milik Axiel, bercerita disana dan larut dalam saran-saran yang Axiel berikan padanya. Dia tidak bisa memungkiri akan peran penting Axiel dalam hidupnya.
.
.
.
.
Bertahun-tahun Faiq berada di belahan bumi yang jauh dari tempat kelahirannya, hingga akhirnya ia bisa kembali dan memijakkan kakinya pada negara dengan iklim tropis ini. Faiq telah kembali setelah menyelesaikan pendidikannya dan siap bekerja untuk memulai tahap balas dendam keren yang dia inginkan selama ini.
Tentu saja Ayahnya sangat senang dan merasa bangga akan apa yang sudah Faiq raih saat ini. Dia begitu bahagia ketika Faiq kembali dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan yang Ayahnya bangun selama ini. Ayahnya merasakan kelegaan setelah Faiq mulai turun tangan dalam mengurus perusahaan, dia merasa bahwa apa yang selama ini dia inginkan pada putranya akhirnya bisa terwujud, dia sudah lebih tenang mengingat Faiq sudah siap untuk menjadi penerus pada perusahaannya. Kebahagiaan yang dia miliki, tanpa dia tahu apa yang tengah membayanginya dibalik pikiran putranya yang sudah terlanjur terluka dan menyimpan dendamnya sendiri.
Faiq selalu tersenyum setiap kalinya Ayahnya memuji akan apa yang sudah ia pilih, dan berakhir dengan dia yang mau bergabung dalam usaha yang sudah Ayahnya bangun. Sebuah senyuman penuh makna, yang disertai dengan tatapan menakutkan setip kali Ayahnya mengalihkan pandangan dari wajahnya.
Faiq yang mulai bekerja di perusahaan, membuat perubahan yang sangat signifikan. Perushaan meningkat secara drastis, semuanya serba berjalan lancar di bawa kendali Faiq. Tawaran kerja sama datang dari berbagai arah, hingga harga saham meningkat secara menyeluruh.
__ADS_1
Apa yang Faiq telah raih semakin membuat Ayahnya bangga. Sesekali pula ia memuji diri karena telah mengarahkan Faiq ke jalan ini meski dengan sedikit paksaan. Dia hanya tidak tahu, bahwa yang membuat Faiq memilih jalan seperti ini dan sukses seperti sekarang adalah oranglain yang Faiq temui di negara dimana ia menempuh pendidikannya. Faiq hanya senyum smirik setiap kali Ayahnya berceloteh akan apa yang Faiq dapatkan saat ini.
Reputasi Faiq semakin menanjak, tidak ada proyek yang tidak berhasil dia jalankan. Hal yang demikian semakin menimbun ambisi dalam dirinya. Perlahan Faiq menjadi orang yang ambisius dengan keegoisan yang perlahan hadir dalam dirinya juga. Faiq tidak terima arti penolakan atau sebuah kekalahan. Patokannya akan ketidakinginan menjadi gagal telah berubah menjadi menolak gagal, sehingga melakukan cara apapun agar apa yang diinginkannya terwujud.
Semua keberhasilan yang Faiq raih dalam dunia bisnis, tidaklah ia raih dengan kebersihan seutuhnya, sebuah permainan kotor juga bercampur di dalamnya. Ambisi perlahan telah menelan jati dirinya dan sedikit demi sedikit mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda dengan dia yang dulunya.
Dia yang awalnya hanya ingin menjadi orang yang sukses agar bisa menekan keinginan Ayahnya atas dirinya, kini telah berfomulasi menjadi menginginkan hal-hal lebih dari sekedar sukses, dia tidak hanya ingin di kenal sebagai orang yang sukses pada bidangnya, tapi juga menginginkan kekuasaan dimana tidak akan ada orang yang bisa memandangnya setara. Dia ingin lebih diatas.
Tentu saja, meski pribadi dan cara berpikirnya berubah, Faiq tidak pernah sekalipun lupa dengan siapa yang bertahta di hatinya. Meski tahun berganti, musim berganti dan segala hal yang ada di sekitarnya berganti, namun di hatinya tidak ada yang berubah. Dia masih menyimpan satu nama yang abadi disana. Hanya saja, dia masih belum berani melangkahkan kakinya untuk mencari wanita yang dicintainya itu. Juga langkah kakiknya yang terhalang akan pekerjaan yang dia tekuni sekarang dan ambisi yang selalu harus terpenuhi agar dia memiliki kepuasaannya.
.
.
.
.
Kabarnya, perusahaan tersebut belum pernah menerima ajakan kerja sama, atau menggunakan jasa dari perusahaan lain. Perusahaan tersebut hanya menerima ajakan kerjasama dari perusahaan luar yang jangkauannya sudah memasuki ranah internasional. Perusahaan yang berdiri kokoh diatas pemilik yang diketahui adalah orang asing dan memiliki segalanya itu, sangat sulit untuk mendapatkan percikan dari sana. Sedangkan keberhasilan yang dimiliki perusahaan itu, jelas menarik perusahaan besar lainnya untuk membentuk kerja sama saling menguntungkan agar mendapatkan hasil dan keuntungan yang lebih besar.
Datangnya surat akan diterimanya ajakan kerja sama yang diajukan oleh Ayah Faiq beberapa bulan yang lalu, jelas adalah kabar yang sangat menggembirakan. Ini adalah sebuah jackpot besar, dan karena ini juga akhirnya perusahaan milik Ayah Faiq menjadi perusahaan pertama dan satu-satunya perusahaan lokal yang berhasil menembus kekuatan perusahaan itu.
Dengan sangat bahagia, Ayah Faiq memberi kabar keberhasilan ajakan kerjasama itu.
“Kamu benar-benar hebat nak. Ayah tahu kamu hebat, tapi Ayah benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa mendapatkan hal yang luarbiasa seperti ini. Ayah bangga”
Faiq hanya merespon dengan senyumannya.
“Oh ya, bagaiamana caranya sampai kamu bisa membuat mereka menerima tawaran kita? Apa kamu kesana langsung buat bicara sama mereka?”
“Ya seperti itu, tapi tentunya Ayah tahu kalau kita tidak akan bisa mendapatkan hal seperti ini kalau hanya mengandalkan kemampuan berbicara dalam menawarkan”
__ADS_1
“Terus apa yang kamu lakukan??”
Faiq mengeluarkan ponselnya, dan mengarahkan layar ponsel pada Ayahnya dengan foto perempuan cantik terpampang disana.
“Ayah kenal dengan perempuan ini??”
“Tentu saja. Dia Alesha bukan? Putri dari pemilik perusahaan itu”
“Sepertinya dia benar-benar perempuan yang terkenal, sampai Ayah yang lanjut usia juga kenal sama dia..”
“Lalu apa hubungannya sama dia?? Oh tunggu tunggu.. Apa kamu sama dia punya hubungan spesial? Kalian berkencan??” Tanya Ayahnya antusias dengan wajah sumringah.
Faiq tertawa kecil sembari memperlihatkan senyum smriknya.
Fauzi menggeser layar ponselnya, dan kembali mengarahkan pada Ayahnya.
“Apa Ayah melihat wajah yang sama dengan foto ini?”
Dahi Ayahnya berkerut, dan tatapannya berubah, juga senyum sumringahnya meredup.
“Ke-kenapa foto seperti itu kamu perlihatkan pada Ayah??”
“Ayah pikirkan saja..” Jawab Faiq santai.
“Apa yang sudah kamu lakukan, Faiq???”
.
.
.
__ADS_1
.