Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Ditolak?


__ADS_3

“Aku merasa seperti De javu” Kata Faiq membuka obrolan di makan siang mereka.


“Dejavu? Tentang apa?” Tanya Karin sembari memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.


“Keadaan kita sekarang. Awal kenal dulu, kita selalu makan siang bareng kan tiap selesai kerja”


Karin tertawa kecil, dengan tangannya yang sibuk memainkan pisau dan juga garpu untuk membuat potongan daging yang lebih kecil.


“Iya ya.. Kita selalu seperti ini dulu”


“Bedanya, dulu kita membahas hal-hal yang ingin kamu ketahui tentang bisnis, sekarang kita sudah membahas bisnis yang sama”


“Kita sudah banyak berubah”


Beberapa kali Karin dan Faiq memutuskan untuk makan siang bersama tiap kali mereka selesai membahas pekerjaan. Proyek yang dulunya ditangani oleh Fauzi dan kini di serahkan oleh Faiq, mengharuskan keduanya untuk bertemu beberapa kali. Meski proyek sudah berjalan, namun tetap saja ada beberapa hal yang harus mereka selesaikan bersama.


“Bagaimana perasaanmu?”


“Pe-perasaan apa?” Tanya Faiq kebingungan yang mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Karin.


“Bukannya kamu masih cinta sama mantanmu yang sudah menikah itu? Sudah move on, atau...”


Faiq tersenyum, membuat Karin tidak melanjutkan pertanyaannya.


“Kalau dibilang sakit, jelas masih sakit. Aku sampai seperti ini untuk dia, aku ngelakuin semuanya demi dia. Tapi.. Semua yang aku lakukan untuk dia, gak akan ada gunanya kalau itu gak buat dia bahagia”


Karin menatap Faiq sejenak. Dia tidak pernah menyangka, laki-laki yang begitu egois dulunya, kini bisa berbicara seperti ini.


“Sebenarnya aku sadar, kalau aku tidak akan bisa membahagiakan Sasa. Aku tahu dunia kita berbeda, dan Sasa akan kesulitan menerimaku. Awalnya aku berpikir, kalau cintaku akan cukup untuk membuat Sasa bisa merasakan kebahagiaan, aku siap melakukan apapun demi dia pasti bisa membuatnya bahagia. Tapi pada akhirnya aku sadar, kalau cinta tak sehebat itu dalam mempertahankan suatu hubungan. Dan aku?? Sejauh mana aku bisa melakukan segalanya untuk Sasa, aku pasti menginginkan kehidupanku sendiri suatu hari nanti”


“Kalau kamu tahu, kamu gak bisa ngebahagiain Sasa, terus kenapa kamu ngejar dia terus”


“Karena aku mencintainya, perasaanku terlalu ku junjung tinggi dan mengabaikan logikaku. Aku seperti tidak ikhlas melepas Sasa mengingat apa yang sudah aku lakukan selama ini buat dia”


“Jadi, sejak kapan kamu merasa bisa melepas Sasa?”


“Entahlah.. Aku tidak tahu kapan pastinya. Yang aku tahu sekarang, kalau perasaanku sudah menjadi lebih baik. AKu bahkan merasa lega saat mengucapkan selamat untuk dia dengan ikhlas”


“Jadi sudah move on sekarang?”


“Hemm.. Dibilang move on, tidak juga. Tapi dibilang gak move on, juga gak. Ya intinya sekarang aku mau sibuk sama pekerjaan saja. Salwa bilang, cara terbaik untuk melupakan adalah dengan menyibukkan diri. Katanya itu ampuh buat dia, dan aku lagi coba sekarang”


“Kamu sempat ketemu Salwa?”


“Tadi pagi, sebelum aku ke kantormu membahas proyek itu. Aku ketemu dia di jalan, dia lagi ngantar anaknya ke sekolah”


“Yah.. Mungkin cara Salwa bisa manjur. Berusaha saja”


Faiq hanya tersenyum.


“Kamu sendiri bagaimana?”


“Apanya?”


“Bukannya kamu juga lagi sakit hati karena gak bisa ngedapatin seseorang?”


“Aku baik-baik aja sekarang”


“Secepat itu?”


“Karena aku gak seribet kamu. Aku cuman cinta sepihak, beda sama kamu yang sama-sama saling mencintai. Dan lagi dia suami orang”


“Kamu juga, kenapa nekat suka sama suami orang”

__ADS_1


“Ya karena dia menarik. Sedari SMA, Fauzi selalu menarik”


Faiq tertawa kecil.


“Apa hubungannya Fauzi sama...” Faiq tidak melanjutkan ucapannya, ia dengan cepat mengangkat pandangannya dan menatap Karin. Karin hanya tersenyum.


“Yang ada dipikiranmu itu benar”


“Uhuukk...” Begitu terkejutnya Faiq, ia sampai harus menahan nafas karena tersedak.


Karin dengan cepat memberikan segelas air pada Faiq.


“Thanks..”


Faiq menarik nafas dalam-dalam, sembari berusaha mengatur nafasnya.


“Se-serius? Orang yang kamu sukai itu Fauzi??” Tanya Faiq memperjelas.


Karin hanya mengangguk.


“Wah.. Aku jadi keingat kata-kata Salwa, kalau dunia ini emang cuman selebar daun kelor”


Keduanya masih melanjutkan obrolan mereka hingga jam makan siang selesai.


.


.


.


.


Hari demi hari, Karin dan Faiq makin sering bertemu. Sekarang bukan lagi mereka bertemu karena urusan pekerjaan, mereka bahkan sering keluar bersama hanya untuk menghabiskan waktu bersama.


“Kamu kenapa?” Tanya Karin yang melihat Faiq tidak terlihat seperti biasanya.


“Ah, gak apa-apa” Jawab Faiq menyembunyikan apa yang tengah membuatnya gundah gulana saat ini.


“Serius?”


Faiq mengangguk sembari tersenyum.


Karin mengangkat pergelangan tangannya, melihat jam yang begitu cantik berhias di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang.


“Kamu ada janji ketemu sama orang lain hari ini?” Tebak Karin


“Ah gak gak.. Aku gak mungkin ngajak kamu keluar pagi ini kan kalau semisal aku ada janji sama orang lain”


“Terus kenapa? Kamu sedari tadi gelisah..”


“Aku gak apa-apa..”


Karin tidak tahu apa yang tengah menganggu pikiran Faiq. Ia sudah menanyai Faiq perihal apa yang membuatnya tidak nyaman, namun Faiq terus mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.


“Karin..”


“Hem?”


“Se-selain Fauzi, kamu suka sama orang lain lagi?”


“Maksud kamu?”


“Engg.. Maksudku, setelah Fauzi, apa ada orang lain yang kamu suka sekarang”

__ADS_1


Karin tertawa kecil.


“Aku sudah terlalu tua untuk mencoba suka sama orang lain lagi. Ya, aku jalani saja hidupku sekarang. Aku baik-baik aja kok meski sendiri”


“Jadi kamu gak kepikiran buat nikah lagi?”


Karin menggeleng.


“Kamu gak mau nikah lagi??”


“Bukannya aku bilang gak mau, cuman kalau dibilang mikirin itu, aku gak terlalu mikirin. Toh aku sudah pernah nikah sama kamu dulu, setidaknya aku udah pernah ngerasain gimana rasanya jadi pengantin”


“Oh gitu..”


“Kenapa? Kok tiba-tiba nanya?”


“Gak, aku cuman mau tau saja”


“Kalau kamu? Mau nikah lagi?”


“Entahlah, tadinya aku mantap mau nikah lagi, tapi dengar jawabanmu aku jadi mikir-mikir”


“Hey, kenapa ngikutin aku. Kamu kalau beneran niat mau nikah, nikah aja lagi. Kamu memang butuh pendamping kan..”


“Aku ragu mau bilang...”


“Bilang sama ceweknya?”


Faiq mengangguk.


“Udah, jangan ragu.. Bilang aja, toh kamu ngajaknya untuk hal yang baik. Aku juga bisa saja kepikiran untuk nikah lagi, suatu hari nanti”


“Karin?”


“Hem?”


“A-aku... Aku berniat mau ngelamar kamu lagi”


“Ha?” Spontan Karin terdiam dengan ekspresinya yang terkejut. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


“A-aku tahu.. Aku bukan laki-laki yang baik, aku juga sadar kalau aku tidak seharusnya minta kamu buat jadi istriku lagi, mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya. Tapi.. Akhir-akhir ini, aku merasa kalau...”


“Kamu bukannya lupa dengan apa yang kamu lakukan sama aku kan dulu?”


Faiq tertunduk dalam, ia merasa seperti laki-laki bejat yang tidak tahu malu. Perlahan ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Karin.


“Aku gak akan sanggup kamu sakiti lagi seperti dulu lagi Faiq. Jadi tolong pikirkan ulang apa yang kamu bilang sekarang. Pastikan ulang di hatimu, kalau kamu beneran ngomong ini sesuai dengan perasaanmu”


“Iya, aku sadar kalau aku gak seharusnya seperti ini. Tapi..”


“Aku bukannya kamu jadikan pelampiasan kan, karena orang yang kamu cintai sudah nikah?”


“Gak... Gak Karin, aku..”


“Tapi tadi kamu bilang, kalau kamu masih cinta sama dia..”


“Bukan perasaan seperti itu, tapi..”


“Faiq, pikirkan ulang dulu apa yang kamu bilang sekarang ini..”


Karin beranjak dari duduknya. “Aku duluan, kamu perlu sendiri untuk menyadari apa yang kamu rasakan”


“Karin..”

__ADS_1


Karin hanya tersenyum dan beranjak meninggalkan Faiq sendiri. Faiq hanya terdiam di tempatnya, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.


__ADS_2