
Kejadian kemarin belum bisa aku lupakan begitu saja, ada perasaan trauma dan takut sehingga aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah dulu hari ini.
Kemarin Farhan menjemputku dan mengantarku pulang, Farhan terus berusaha menenangkanku dan tidak meninggalkanku dirumah sendiri sebelum Annisa datang menemaniku. Aku tidak tahu pasti kapan Farhan pulang semalam, Annisa hanya bilang Farhan pulang setelah aku tertidur.
Sore ini Farhan mengajakku keluar untuk sekedar membuat perasaanku lebih baik lagi.
"Nis, sore ini aku mau keluar?" Pesan singkat yang kukirimkan pada Annisa. Annisa berniat kerumah sore ini jadi aku mengabarinya lebih awal agar tidak kerumah nantinya.
"Mau kemana? Kamu udah baikan?"
"Mau jalan-jalan aja buat nenangin pikiran. Hem, aku udah baikan kok"
"Yaudah kalau kamu mau jalan-jalan nanti aku temani, kamu jangan keluar sendiri dulu.."
"Gak usah, aku gak sendiri kok.."
"Lah terus sama siapa?"
"Kak Farhan.."
"Jiiahh.. Kayaknya sekarang bukan sekedar kakak kelas ya, aku merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekedar kakak kelas.. Hahha" Goda Annisa..
"Haha apaan sih.."
"Ngaku aja deh.. Gak usah pake malu kalau sama aku mah.."
"Emang cuman jalan doang kok.."
"Jalan apa ngedate?" Annisa terus menggodaku.
"Haha liat aja kelanjutannya nanti"
"Wah.. Sepertinya beneran nih?"
"Sssttt.. Bukan seperti yang kamu pikirkan.."
"Terserah kamu mau bilang apa, pokoknya aku udah berfikiran kayak gitu... Sukses ngedatenya ya beb.."
"Paan sih.."
"Haha.. Yaudah, aku mau lanjut Asistensi dulu. Sebelum jalan ngabari aku dulu.."
"Okey nyonyah.."
Annisa terus-terusan menggodaku semenjak Farhan membantuku mengerjakan tugas beberapa waktu lalu. Dan ejekannya makin menjadi-menjadi setelah semalam dia melihat bagaimana Farhan mengkhawatirkanku. Godaan Annisa sebennarnya receh sekali tapi entah kenapa sesekali aku merasa terbawa perasaan dengan kata-katanya.
"Kelasku udah selesai, bentar aku balik kerumah dulu terus ngejemput kamu.." Pesan singkat yang dikirm Farhan.
"Oke kak.."
Aku segera bersiap-siap, jangan sampai Farhan sudah datang menjemputku tapi aku belum juga siap.
Aku mengenakann setelan santai dengan memadupadankan celana wide leg pants berwarna coklat muda yang longgar dengan loose blus berwarna putih tulang. Setelan seperti ini rasanya nyaman sekali digunakan dan tidak terlalu mencolok. Aku menunggu Farhan sambil memainkan ponselku.
"Aku diluar.."
Melihat pesan masuk dari Farhan aku bergegas keluar, tidak lupa mengambil tas selempang mini dan kembali mengecek penampilanku dikaca. Aku tidak ingin terlihat buruk sore ini.
"Mau kemana?" Tanyanya sambil memasangkan sabuk pengamanku. Farhan selalu seperti ini, setiap dia menjemputku dia sendiri yang akan memastikan sabuk pengamanku terpasang dengan baik.
"Aku gak tau, kan yang lebih tahu daerah sini kakak.."
"Hem.. Mau outdoor atau indoor?"
__ADS_1
"Outdoor dekat pantai ada gak kak? Aku kepengen lihat sunset"
"Kalau dekat pantai pasti rame banget jam-jam begini, kamu bukannya nenangin pikiran yang ada pikiranmu tambah runyem nanti.."
"Tapi aku lagi kepengen lihat sunset.."
"Lihat sunset saja kan? Gak harus dipingir pantai kan?"
Aku mengangguk.
"Yasudah, aku akan nganter kamu dimana bisa lihat sunset tapi orangnya gak terlalu ramai.." Katanya tersenyum. Aku hanya balas tersenyum.
Mobil melaju, aku tidak tau kemana Farhan akan membawaku tapi aku yakin Farhan akan memanjakan mataku sore ini. Sepanjang perjalanan Farhan bercerita panjang lebar, entah itu masalah tugas sampai masalah pribadinya yang dia rasa lucu untuk diceritakan. Sesekali aku tertawa terpingkal-pingkal karena ceritanya yang tidak masuk akal itu.
"Kan bagus kalau kamu ketawa seperti itu.."
"Hahahaha habis cerita kakak lucu.."
"Ceritanya yang lucu atau akunya yang lucu?" Tanyanya menggodaku.
"Hahaha dua-duanya deh.."
"Hehe aku udah kayak pelawak.."
"Kak makasihh ya.."
"Ck.. 'Makasih' itu sudah seperti kata-kata wajib bagimu. Sepertinya kamu gak tenang kalau sehari aja gak ngucapin makasih"
"Bukan begitu, tapi aku benar-benar berterimakasih sama kakak, kakak sudah banyak nolongin aku.."
"Ya wajar kalau aku nolongin kamu Salwa" Katanya sambil mengelus kepalaku, yang lagi-lagi membuat jantungku berdetak tidak karuan "Karena kamu itu bukan lagi orang lain bagiku, sudah seperti adik perempuanku" Katanya tersenyum.
"A adik perempuan?" Tanyaku memperjelas.
Ingin rasanya aku bilang pada Farhan kalau aku bukan lagi Salwa yang dulu yang akan marah kalau dia beranggapan seperti itu. Dia sampai memintaku untuk tidak marah dengan candaannya yang seperti itu. Aku tidak tau, apa itu benar hanya candaannya atau itu perasaannya yang sedang berusaha dia kubur agar hubungan kami tetap baik-baik saja seperti sekarang.
"Lah diam?" Tanyanya melihatku yang tidak meresponnya. "Ka kamu marah? Maaf maaf, aku gak ada maksud yang lain, beneran aku cuman bercanda.."
"Haha gak apa kak, aku tahu kakak cuman bercanda.." Jawabku. Bukan aku tidak ingin meresponnya tadi, tapi karena pikiranku yang sedang menebak apakah Farhan benar hanya bercanda atau dia sedang menyembunyikan perasaannya lagi. Aku hanya mengikuti alurnya, pura-pura saja untuk menganggapnya hanya bercanda.
"Aku takut kalau kamu marah lagi.."
"Kenapa juga aku harus marah?"
Farhan menatapku. "Ha ha ha, iya ya kenapa juga kamu harus marah, kan aku cuman bercanda" Kata Farhan dengan sedikit terbata-bata.
.
.
Kami tiba disebuah Cafe outdoor, pemandangannya benar-benar sangat memanjakan mata. Seperti yang dikatakan Farhan, kita akan melihat sunset dengan indah disini.
"Kakak kok bisa tau tempat seperti ini?" Tanyaku dengan terus-terusan merasa kagum dengan pemandangannya.
"Kan aku sudah bilang, aku menjelajahi wilayah ini sebelum masuk kuliah" Jawab Farhan.
"Beneran cantik.."
"Hem.. Cantik sih, tapi tempat ini bisa terlihat buruk juga dimata oranglain.."
"Maksud kakak?" Tanyaku bingung.
Farhan melempar pandangannya kesemua pengunjung yang ada ditempat ini.
__ADS_1
"Ke kenapa?" Tanyaku ikut memandangi pengunjung lainnya.
"Semua yang datang kesini berpasang-pasangan, jadi kalau kesininya sendiri ya pemandangannya gak jadi indah tapi horor.."
"Hahaha iya ya.." Jawabku yang baru menyadari pengunjung yang datang.
"Makanya mau kesini harus bawa pasangan. Mau pasangan yang asli atau fake pokoknya yang penting bawa biar gak ngenes-ngenes banget.. Hahaha"
Apa Farhan menganggap kita sekarang adalah pasangan?
"I itu.. Dulu kakak waktu kesini sama siapa? Bawa pasangan juga?"
"Gak.. Sendiri.."
"Jadi..??"
"Haha pemandangannya gak terlihat horor bagi orang yang galau Salwa, kalau sudah galau pak Jokowi lewat saja mungkin gak disadari apalagi kalau cuman pasangan-pasangan itu.."
"Haha segitunya ya? Berarti dulu kakak kesini pas lagi galau-galaunya?"
"Lah iya, kan habis putus dari kamu waktu itu.."
"Eh.." Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Farhan.
"Haha udah gak usah dibahas. Pesan makanan gih.." Farhan memberiku daftar menu makanan.
"Ah iya kak.."
"Aku pesanannya disamain sama kamu saja.. Aku ketoilet dulu, titip ponsel sama dompet"
"Oh oke kak.."
Farhan berlalu.
Bukan hanya pemandangannya yang indah, tapi cafe outdoor ini juga menyiapkan banyak menu makanan dan minuman juga dessert. Cafe yang patut diberi bintang lima untuk penilaiannya meskipun harganya sedikit diatas rata-rata.
Ponsel Farhan berdering, aku hanya meliriknya sebentar. Aku tidak punya lagi hak untuk menjawab telfon Farhan, aku kembali melihat beberapa menu yang tertulis didaftar menu.
Ponsel Farhan kembali berdering, karena layar ponselnya menghadap kebawah aku jadi tidak bisa melihat panggilan masuk dari siapa. Ponselnya terus berdering selama Farhan di toilet.
"Ck.." Keluh Farhan kesal.
Farhan kembali dengan bajunya yang sedikit basah dibagian lengan.
"Kenapa kak?"
"Pelayannya gak sengaja nyenggol aku tadi, jadi basah.. Hufftt"
"Keringkan dengan tissue dulu kak.." Kataku memberinya beberapa lembar Tissue..
"Makasih Salwa.." Katanya dengan tersenyum.
"Oh iya, ponsel kakak tadi berdering terus"
"Oh ya.." Farhan membuka ponsel. "Aduh.. Tiga panggilan tak terjawab, bisa-bisa dia marah" Keluh Farhan.
Siapa? Siapa orang yang menelfon Farhan tadi yang sampai marah karena Farhan tidak mengangkatnya.
Farhan bergegaas memanggil ulang nomor itu.
"Halo, maaf sayang tadi aku lagi di toilet.."
Sayang?? Siapa orang yang dipanggil sayang oleh Farhan? Hubungan apa orang itu dengan Farhan sampai Farhan memanggilnya sayang. Entah kenapa ada sedikit rasa sakit dihatiku dan kecewa.
__ADS_1