Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Marah?


__ADS_3

Tidak cukup lama aku menunggu Farhan ditepi jalan, kulihat dia berlari kecil menghampiriku setelah memarkir mobilnya di ujung jalan.


"Ayo aku antar.." Kata Farhan setibanya didepanku.


Aku diam saja.


"Ayo.." Katanya sambil menarik tanganku. Aku dengan cepat menarik kembali tanganku.


"Kenapa lagi sih?" Tanya Farhan.


"Kenapa lagi katamu? Setelah ngebuat aku nunggu berjam-jam depan gerbang kayak orang hilang terus kamu tanya kenapa lagi?"


"Iya, salahku.. Maafin aku.. Ayo aku antar pulang.."


"Gak.." Jawabku tegas.


"Udahlah Salwa, aku lagi gak mau berantem sama kamu.."


Aku terdiam saja.


"Terus sekarang kamu maunya apa? mau tetep berdiri disini.. Udah ayo aku antar pulang.."


"Gak..."


"Ya udah terserah kamu saja, aku capek.."


Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Farhan itu.


"Oh.." jawabku singkat lalu berbalik dan melangkah.


"Salwa..." Farhan mengikutiku.


Aku terus berjalan tanpa memperdulikannya yang mengekor dibelakangku, perlahan airmataku mulai menggenang dipelupuk mataku.


"Hey.. Kenapa seperti ini sih?" Farhan menarik tanganku dengan cukup kuat sampai tubuhku sedikit terhuyung. Airmataku yang sedari tadi menumpuk dipelupuk mataku akhirnya menetes juga.


"Sa.. Salwa.." Farhan sedikit terkejut melihatku menangis. Aku dengan cepat memalingkan wajahku dan menyeka airmataku.


"Ka.. kamu menangis.. Ka.. kamu.."


"Aku gak papa.." Jawabku memotong perkataan Farhan.


"Maafkan aku.. aku gak bermaksud.."


"Kakak pulang saja, biar aku pulang sendiri saja hari ini.."


"Gak, aku gak akan ngebiarin kamu pulang sendiri.. ayo aku antar.."


"Gak.."


"Salwa, aku minta maaf.. Kalau mau marah denganku marah saja tapi kamu gak bisa pulang sendiri dalam keadaan seperti ini.."


"Keadaan seperti ini apanya? Aku baik-baik saja.."


"Apanya yang baik-baik saja? Sesiapapun yang melihatmu tau kalau sekarang kamu.."


"Terus kenapa? kenapa kalau keadaanku sedang tidak baik? aku masih bisa pulang sendiri..."

__ADS_1


"Salwa, apa harus masalah seperti ini kamu besar-besarkan lagi?"


"Iya, cuman masalah 'Seperti ini' menurut kakak.. iya emang cuman masalah seperti ini.."


"Sudahlah Salwa, iya aku salah.. Aku minta maaf, aku juga bukannya dengan sengaja ngebuat kamu menunggu..."


"Apa segitu susahnya ngabarin aku kalau emang gak bisa jemput??"


"Kan aku udah bilang, aku bukannya gak bisa jemput kamu tapi karena ada hal mendadak yang harus..."


"Terus kenapa gak ngabarin aku.. aku nunggu kakak hampir sejam depan gerbang kayak orang bego..."


"Kamu kenapa sih gak bisa ngertiin aku, kamu pikir aku yang mau punya kegiatan mendadak? kamu pikir aku tau kalau bakal seperti ini..."


"Sudahlah.. aku mau pulang sendiri saja.."


"Gak, sini aku antar... " Kata Farhan menarikku dengan kuat menuju mobilnya.


"Gak, aku gak mau..."


"Salwa, jangan keras kepala begini.."


"Kakak emang gak bisa ngertiin aku, kakak emang gak bakalan bisa kayak Fauzi yang selalu ngertiin dan ada buat aku..." Kataku semakin kesal.


Farhan terdiam, tangannya yang sedari tadi memegangku dengan kuat dilepasnya.


"Apa kamu pikir kita ada dalam situasi ini seandainya Fauzi selalu ada buat kamu?"


Aku terdiam.


"Aku selalu berusaha ngasih yang terbaik buat kamu Salwa, aku selalu berusaha bisa menjadi Farhan yang lebih baik dari Fauzi buat kamu.. Apa yang kurang dari aku dibandingkan Fauzi? Aku selalu ada buat kamu, aku mencintaimu lebih dan aku.."


"Ngehadapin gimana? Aku selalu nurutin semua kemauan kamu.."


"Kemauan aku yang mana? bukannya selama ini aku yang selalu nurutin maunya kakak. Aku minta jemput karena kakak juga kan yang minta??"


"Salwaa.."


"Udahlah.. Selama ini aku teralu berekspektasi tinggi tentang kakak, pada kenyataannya kakak emang bukan Fauzi yang bisa..."


"Iya, aku bukan Fauzi, aku bukan orang yang selalu bisa nurutin semua kemauan kamu. Aku bukan orang yang selalu bisa mengalah demi kamu.. Selama ini aku berusaha untuk jadi yang terbaik buat kamu Salwa, aku sudah berusaha semampuku. Tapi sepertinya itu belum juga cukup buat kamu..."


Aku terdiam saja.. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca dan memerah.


"Aku bukan Fauzi yang mencintaimu dengan cara menuruti semua kemauanmu, aku dan Fauzi adalah orang berbeda.." Katanya dengan nada sedikit meninggi "Sepertinya kamu butuh waktu tanpa aku.. Kabari kalau sudah butuh aku lagi.." Kata Farhan melangkah pergi meninggalkanku sendiri di tepi jalan. Aku hanya terus-terusan melihat Farhan yang semakin menjauh menuju mobilnya yang diparkir diseberang jalan, tidak sekalipun Farhan menoleh sampai akhirnya dia benar-benar berlalu.


Aku terdiam beberapa saat mematung ditempatku, berusaha mencerna apa saja yang baru terjadi. "Farhan meninggalkanku?" Kuulang-ulang pertanyaan itu untuk memastikan bahwa benar untuk pertama kalinya Farhan meninggalkanku sendiri.


.


.


.


Aku tiba dirumah menggunakan Taxi, sepanjang perjalanan pikiranku masih saja bergelut tentang kenyataan dimana Farhan meninggalkanku tanpa menoleh. "Apa aku terlalu kasar?" Pikirku kemudian. Tapi tadi aku benar-benar emosional sehingga tidak berpikir dengan jernih dan hanya mengungkapkan apa yang ada dipikiranku. Aku tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya Farhan akan marah seperti ini.


"Salwaa.." Kudengar panggilan Ibu dari balik pintu..

__ADS_1


"Ya Bu.." Jawabku sambil bergegas membuka pintu.


"Ada Fauzi dibawah.."


"Ada siapa? Fauzi? dibawah??" Tanyaku terkejut. Aku tau betul ini bukan waktu libur dan lagi baru tadi Fauzi menelfonku yang katanya dia sedang menunggu dosennya, lalu bagaimana bisa..


"Maksud Ibu telfonnya, katanya nomormu tidak aktif jadi Fauzi menelfon kerumah.." Jelas Ibu..


"Ah iyaa.."


Aku yang tadinya sangat terkejut seketika menjadi lesuh. Ya bagaimana mungkin Fauzi bisa tiba-tiba ada disini.


"Anak Ibu kecewa, sepertinya ada yang sedang rindu.."


"Apaan sih Bu..."


"Hehe keliatan kok dari muka Salwa.."


"Jangan ngegoda Salwa deh Bu..."


"Hem.. Yaudah sana angkat telfon Fauzi, dia udah nunggu dari tadi.."


"Apanya yang dari tadi, Ibu juga baru sebentar kekamar Salwa.." Kataku sambil berjalan santai menghampiri telfon dibawah.


"Iya, Ibu baru sebentar dikamar Salwa, tapi udah dari tadi ngobrol duluan sama Fauzi.."


"Ya ampun Ibu kok gak ngomong,,," Kataku bergegas..


"Lagian itu HP kenapa dimatiin? lagi berantem?" Kata Ibu menyusulku yang sudah jalan terburu-buru.


"Lobet Bu..." Kataku mempercepat langkahku..


"Hem.. yasudah angkat telfon Fauzi.."


Aku bergegas menghampiri telfon rumah.


"Kenapa?" Tanyaku dengan nafas sedikit tidak teratur.


"Kamu kenapa?"


"Ah gak papa.. "


"Hem.. udah sampai rumah?"


"Iya.."


"Sama siapa? Tadi aku ngobrol sama Ibu tapi katanya kamu gak minta jemput sama Ibu.."


"Oh.. itu anu.. Sebelum aku minta Ibu ngejemput aku sempat kepikiran buat jalan sama Nina dulu tapi karena gak jadi jalan, aku jadi pulang naik Taxi.."


"Tapi tadi katanya kamu udah nungguin Ibu, tapi ibu bilang.."


"Hem.. apaan sih?" Kataku memotong pembicaraan Fauzi. "Masa kamunya nelfon cuman mau ngebahas aku pulang dijemput sama Ibu atau naik Taxi.."


"Bu.. Bukannya begitu, aku cuman.."


"Udah gak usah dibahas.. Kenapa nelfon?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Jika dipikir-pikir benar terasa ganjil sekali keadaanya. Aku jelas-jelas sudah berkata kalau aku sedang menunggu jemputan tapi pada kenyataannya Ibu membenarkan kalau aku gak pernah minta Ibu buat menjemputku. Daripada Fauzi terus bertanya lebih baik pembahasannya aku alihkan saja.

__ADS_1


Aku jadi semakin bisa saja berbohong seperti ini.


__ADS_2