
Seharian moodku buruk dan dua malam aku terus-terusan menangis.
Ponselku berdering..
"Halo..." Jawabku dengan setengah sadar dan mata masih tertutup.
"Kamu masih tidur??"
Seketika mataku terbuka dengan lebar mendengar suaranya.
"Aku dibawah.."
"A apaa??"
"Aku dibawah, nungguin kamu disini..."
Aku dengan cepat terbangun dan beranjak dari tempat tidurku membuka jendela, kulihat Fauzi sudah ada dibawah. Aku menoleh melihat jam dinding, pukul lima lewat empat puluh tujuh menit.
"Ka kamu ngapain pagi-pagi begini kesini??" Tanyaku bingung.
"Kamu gak baca pesanku? Semalam kan aku udah ngechat kalau aku akan datang subuh-subuh kerumahmu.."
"Tapi buat apa??"
"Bisa turun dulu gak? Aku pagi-pagi begini didepan rumahmu bisa dikira pencuri sama tetanggamu.."
Aku yang baru bangun berusaha mengumpulkan semua kesadaranku dan berlari turun mengampiri Fauzi dibawah. Yah sekejap aku lupa tentang sakitnya perasaanku karena menunggu kabar dari Fauzi setelah melihatnya di depan mataku sekarang. Aku berjalan menghampirinya.
"Kenapa gak pake jaket atau sweater, nanti kamu kedinginan.."
"Ga gak kok..."
"Gak apanya.. Ini masih pagi sekali, embun masih nutup beberapa tempat"
Fauzi melepas hoodie yang dia kenakan dan memakaikannya padaku. Aku bingung dan turut saja.
"Ayo.." Kata Fauzi menarikku.
"Ke kemana???"
"Kan aku udah chat semalam kalau aku mau ngebawa kamu pergi pagi-pagi"
"Ta tapi kemana???" Tanyaku bingung tapi tetap saja ikut masuk kedalam mobil Fauzi.
"Ke suatu tempat.."
"Tapi aku masih pakai piyama.."
"Gak papa, kan ada hoodieku jadi kamu gak akan kedinginan. Kalau dingin bisa meluk aku juga kok.." Kata Fauzi tersenyum.
"Ta tapi aku belum izin sama Ibu dan Ayah, nanti mereka.."
"Aku udah bilang sama Ibu semalam kalau aku akan ngebawa kamu pagi ini" Kata Fauzi membantu memasangkan sabuk pengamanku.
"Ka kamu.."
"Udah ikut aja.." Fauzi terus-terusan memperlihatkan senyumnya yang manis.
Aku tidak tahu kemana Fauzi akan membawaku, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Fauzi tiba-tiba datang menjemputku pagi-pagi buta dan membawaku pergi yang aku juga tidak tahu kemana. Aku membuka ponselku, ternyata benar semalam Fauzi mengirimiku pesan text memintaku untuk bersiap pagi ini karena ingin membawaku. Tapi karena tertidur aku jadi tidak membacanya.
.
.
__ADS_1
Waktu tidur yang sedikit dan kelelahan bekerja juga cuaca yang masih cukup dingin membuatku jadi mengantuk dan tidak sadar sampai tertidur dalam perjalanan yang aku tidak tahu kemana tujuannya.
"Selamat pagi.." Sapa Fauzi sambil tersenyum saat aku terbangun.
"Ehh..." Aku sedikit terkejut. Aku lupa kalau tadi Fauzi datang menjemputku dan memintaku ikut dengannya.
Dia terus-terusan menatapku, entah sejak kapan dia menatapku seperti ini karena saat pertama membuka mata dia sudah menatapku seperti ini.
"I ini jam berapa? Aku tidur berapa lama??"
"Jam tujuh, tidur sekitar satu jam.. Maaf karena menjemputmu pagi-pagi sekali, awalnya aku ingin melihat matahari terbit sama kamu tapi kamunya ketiduran"
"Ma maaf.."
"Kenapa minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf karena menganggu tidurmu.."
Aku terdiam sejenak.
"Kita dimana??"
"Ayo turun.."
Fauzi membantuku melepas sabuk pengamanku dan membukakan pintu untukku.
"Kita ngapain disini??" Tanyaku yang sedikit kesusahan berjalan karena embun yang membuat kakiku basah.
"Mau aku gendong??" Kata Fauzi menawarkan.
"Eh???"
Fauzi sudah duduk di depanku menyiapkan punggungnya.
"Ta tapi..."
Aku perlahan naik kepunggung Fauzi, memegangi pundaknya dan perlahan meyilangkan tanganku di lehernya. Fauzi menggendongku membawaku berjalan-jalan sebentar.
"Kita mau kemana? Kita mau ngapain disini??"
"Nanti juga kamu tahu.." Kata Fauzi terus berjalan sambil menggendongku.
Tidak cukup jauh dari tempat mobil di parkir tapi cukup lama Fauzi berjalan menggendongku, dia sendiri kesusahan berjalan apalagi ada aku sebagai bebannya saat ini.
"Udah turunin aku, kamu pasti capek.."
"Gak kok.. Bentar lagi juga sampai.." Kata Fauzi terus berjalan.
Fauzi berhenti, dia berdiri menatap tempat lepas landas pesawat yang disekitarnya di kelilingin rerumputan hijau.
"Kita mau ngapain disini??" Tanyaku ulang.
Fauzi menurunkanku. Lalu berbalik menghadapku.
"Salwa.. Selamat ulangtahun.." Katanya tersenyum.
Sedikit terkejut, terharu dan sedikit kesal. Kenapa baru sekarang dia mengucapkan selamat ulangtahun untukku? Meski begitu aku tetap senang karena ini adalah kali pertama Fauzi mengucapkan selamat ulangtahun setelah tujuh tahun yang lalu.
"Boleh aku memelukmu??" Tanyanya. Jika ini adalah saat yang dulu, Fauzi tidak akan meminta izinku untuk memelukku.
Aku tidak mengatakan iya atau tidak, tapi berjalan mendekatinya dan memeluknya lebih dulu.
"Terimakasih udah ngucapin selamat ulangtahun buatku.." Kataku melingkarkan tanganku dipinggangnya dan memeluknya dengan erat.
"Aku terlambat sehari kan??" Fauzi balas memeluk.
__ADS_1
"Iya.. Telat sekali.."
"Maaf.."
"Hemm..." Jawabku menyandarkan kepalaku di dada Fauzi yang bidang.
Perlahan Fauzi melepas pelukannya.
"Kamu ingat tempat ini??"
Aku mengarahkan pandanganku. Sejenak kenangan buruk melintas dipikiranku, rasanya sakit mengingat waktu itu.
"Tempat ini dimana aku marah sama kamu, aku membentakmu dan aku melukaimu waktu itu. Ditempat ini aku meluapkan emosiku padamu dan ditempat ini pertama kali niatku ingin berpisah denganmu"
Ya ditempat ini, dimana Fauzi melarikan diri setelah melihatku dengan Farhan pasca pelulusan SMAku.
"Aku tahu ada kenangan buruk bagimu ditempat ini, aku juga begitu dan hari ini aku ingin mengubah itu semua.."
Aku menatap Fauzi kebingungan tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Salwa.." Fauzi memegangi pundakku, dan aku hanya menatapnya. "Aku akan menghapus semua kenangan buruk ditempat ini dan mengubahnya menjadi kenangan yang Indah.." Katanya tersenyum. Aku diam saja dan masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Fauzi.
Fauzi mengambil sesuatu dalam saku hoodienya yang aku kenakan sekarang.
"Apa kamu mau menjadi istriku??" Kata Fauzi sambil menyodorkan sebuah kotak berisikan cincin yang dia ambil dari saku hoodienya.
Aku diam sejenak, terperangah dan sangat terkejut. Aku tidak tahu Fauzi akan mengatakan ini disini, aku sudah sempat mengira bahwa Fauzi tidak akan mengatakan hal ini padaku karena apa yang dikatakannya sewaktu sakit hanyalah bagian dari kata-kata yang diucapkan oleh orang yang setengah sadar.
"Aku sudah berjanji akan melamarmu kan? Tapi maaf karena ini sudah lewat dari hari ulangtahunmu.."
Mataku mulai berkaca-kaca "Ja jadi.. wak waktu itu kamu gak mengigau? Kamu gak setengah sadar ngomong mau ngelamar aku? Ka kamu..."
"Iya.. Aku sepenuhnya sadar waktu ngomong seperti itu. Aku serius dengan apa yang aku katakan waktu itu dan aku membuktikannya sekarang... Kamu sudah melihat rencana hidupku dari bukuku yang kamu baca kan? Aku sudah mulai mendekatimu kembali dan siap memintamu untuk jadi istriku.."
Aku mulai menangis, haru dan bahagia memenuhi perasaanku.
"Sekali lagi.. Salwa apa kamu mau jadi istriku? Menikah denganku, memiliki keluarga bersamaku, menua bersamaku, bangun pagi melihatku, menyiapkan sarapanku, menjaga anak-anak bersamaku dan..."
Aku berhambur memeluk Fauzi.
"Bodohh.. Kenapa bertanya sesuatu yang kamu sudah tahu jawabannya. Kenapa bertanya segitu banyaknya sedang kamu hanya butuh satu jawaban dari aku.."
"Jadi..."
"Kenapa tanya lagi??" Kataku menatapnya sejenak. "Aku pasti mau..." Sambungku kembali memeluknya.
"Serius beneran????"
Aku hanya mengangguk.
"Terimakasih Salwaa... Terimakasih.. Aku mencintaimuu..." Fauzi balas memelukku lebih erat.
"Aku juga..."
.
.
.
.
.
__ADS_1