
Aku menjalani hari-hariku dengan terus mengikuti kursus untuk mempersiapkan ujian masuk Universitas yang sudah aku lewatkan tahun lalu, tahun ini aku harus bisa kuliah dan memperbaiki hidup yang sempat kacau sebelumnya. Sekarang sudah mulai membaik, sebenarnya tidak juga bisa dikatakan mulai membaik karena yang berubah hanya aku yang mulai ikut kelas kursus. Aku masih dibayang-bayangngi tentang Fauzi dan masih sesekali tangisku pecah mengingat semua yang telah terjadi. Aku sering sekali mengutuk diriku sendiri.
Aku sempat menyerah dan tidak ingin melanjutkan mengambil kelas kursus waktu itu. Setelah mendengar cerita Fira, aku tidak melanjutkan niatku menuju tempat kursus waktu itu melainkan pulang dan kembali menangis sejadi-jadinya, aku semakin menyesali hubunganku yang berakhir dengan Fauzi setelah tahu kebenarannya waktu itu. Aku selalu menyalahkan Fauzi waktu itu, aku menjadi pemutus impiannya untuk menjadi photograph. Tapi apa yang dilakukan Fauzi itu, dia tetap menurutiku meski aku tidak tahu kebenarannya. Apa aku bisa menemukan seseorang yang seperti Fauzi lagi?
Meski aku pernah menyerah untuk melanjutkan kursus ini, tapi sekarang aku tetap menjalaninya karena bujukan Ibu waktu itu. Terbesit juga pikiranku waktu itu, bagaimana jika nanti Fauzi kembali datang menemuiku, aku yang saat itu nanti tidak seharusnya ditemukan dalam keadaan buruk, saat Fauzi menemukanku nanti aku harusnya sudah menjadi perempuan yang lebih baik agar pantas mendampingi Fauzi. Aku tahu sekarang Fauzi sedang berusaha menjadi laki-laki yang hebat sehinggaa aku harus menjadi perempuan yang hebat juga untuk mengimbanginya nanti. Aku tahu Fauzi kembali itu hanya khayalan dan keinginanku semata, tapi aku tetap berharap itu menjadi kenyataan.
Sekitar empat bulan aku menjalani hari-hariku mengikuti kursus tiap harinya. Bukan hanya untuk ujian Universitas tapi juga mulai meraba-raba kegiatan perkuliahan. Aku menganggur setahun dan itu membuatku sedikit kaku dalam pembelajaran, belum lagi pikiranku yang sesekali menjadi kacau dan aku yang terkadang tantrum ketika kembali tidak bisa menerima kepergian Fauzi.
Untuk semua yang telah berlalu, aku harusnya sudah bisa mengambil beberapa pelajaran. Aku tidak seharusnya menyia-nyiakan seseorang yang mencintaiku hanya karena dia tidak bisa selalu ada untukku. Aku tidak seharusnya menggali lubangku sendiri dengan mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku tahu dia menyukaiku hanya karena membuatnya tetap tinggal bersamaku, dan aku tidak boleh menjadi orang plin-plan yang tidak bisa mengambil keputusan dengan tegas dan hanya mengandalkan kata terpaksa untuk bersembunyi dari rasa ketidkapuasanku.
.
.
.
Waktu berlalu, hari ini adalah hari pertama aku masuk kelas dalam dunia perkuliahan. Berbeda dengan masa-masa SMA dimana usia kita dominan sama dengan usia teman sekelas, saat kuliah kita tidak bisa memberi range pada usia atau menjadikan usia sebagai patokan sudah berapa lama seseorang hidup dalam dunia perkuliahan. Awalnya aku sempat memikirkan bagaimana jika usiaku sendiri yang lebih tua dibandingkan yang lainnya, tapi ternyata itu hanya pikiran yang sama sekali tidak berguna, ada beberapa teman yang lahir sekitar 2 sampai 3 bahkan 5 tahun lebih dulu dariku juga ada yang usianya berkisar setahun sampai dua tahun dariku.
Aku sudah cukup lama menginginkan melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan dan hari ini adalah pembuktian bahwa aku bisa mewujudkan keinginanku itu. Setelah banyak searching dan mengkaji tentang dunia kesehatan aku akhirnya memutuskan untuk mengambil jurusan Farmasi, Setiap jurusan ada tingkat kesulitannya sendiri dan kurasa selain dari tingkat kesulitannya aku juga lebih tertarik pada dunia tentang obat-obatan dibandingkan dengan yang lainnya.
Hari ini adalah hari perkenalan kuliah. Aku melangkah masuk kedalam kelas, berjalan pelan menuju kursi yang masih kosong. Aku menatap ruangan kelas semuanya sudah asyik mengobrol, sepertinya mereka sudah pada kenal sebelumnya atau mungkin saja baru saling berkenalan tapi karena memiliki pembahasan yang sama akhirnya mereka bisa akrab dengan cepat.
Aku yang dulu juga seperti itu, loyal, cerewet dan ribut sehingga membuatku mudah mendapatkan teman. Tapi aku yang sekarang tidak lagi seperti dulu, aku sedikit sulit berkomunikasi dengan oranglain sehingga membuatku tidak mudah mendapatkan teman. Andaikan Salwa yang sekarang adalah Salwa yang dulu, mungkin saja sekarang aku sudah ikut ribut dengan yang lainnya.
Aku duduk terdiam sendiri, aku juga tidak tau bagaimana mendekati teman atau bagaimana caranya bisa berbaur dengan mereka sedangkan mereka sudah seperti kenal sama satu sama lain. Mungkin jika aku bergabung aku hanya akan canggung sendiri diantara mereka.
"Yasudahlah.. Nanti juga akan akrab dengan sendirinya" Pikirku.
Inilah aku yang sekarang, Salwa yang dulu ceria dan mudah bergaul sudah hilang bersama luka-lukanya yang lalu. Sekarang yang ditinggalkan hanya Salwa yang pendiam.
__ADS_1
"Permisi, apa kursi ini kosong?" Tanyanya sambil menunjuk kursi kosong disampingku.
Pertanyaan seseorang yang menyadarkanku dari lamunanku.
"Ah iya.." Jawabku.
Ia meletakkan tasnya dan duduk disampingku.
"Annisa.." Katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Salwa.." Jawabku sambil menyalaminya.
"Semoga kedepannya kita bisa berteman" Katanya dengan tersenyum ramah memperlihatkan cacat di pipinya yang disebut lesung pipi.
"Iya.." Jawabku balas tersenyum.
Dia cantik sekali, wajahnya kecil matanya sayu dengan bulumatanya panjang meski tidak lentik menjadi ciri khasnya sendiri. Dagunya lancip dan rahangnya yang tirus semakin menambah auranya. Jilbabnya yang menutup dadanya dan pakaiannya yang sopan dan rapi. Dia adalah orang pertama yang mengajakku bicara selama aku tiba dikelas.
"Aku berpakaian seperti ini bukan berarti membatasi aktifitasku, bukan berarti aku harus kalem dan lembut. Aku menggunakannya karena ini kewajibanku sebagai perempuan. Hehe sebenarnya perempuan memang harus lebih kalem tapi apalah daya aku yang sudah dilahirkan dalam model seperti ini" Katanya ketika aku memandangnya bingung dengan sikapnya yang ceria.
Mata kuliah perkenalan selesai. Awalnya aku takut nantinya kesulitan mengikuti pelajaran tapi rasanya ini tidak sesulit dengan apa yang aku pikirkan.
"Mau makan?" Ajak Annisa yang seringnya kupanggil Nisa.
"Boleh, mau makan dimana?" Tanyaku sambil merapikan buku dan catatanku.
"Di kantin saja, kan nanti masih ada kuliah.."
"Okey.."
__ADS_1
Perlahan aku mulai akrab dengan Annisa, mungkin karena dia orang yang supel dan cerewet.
"Kamu kenapa ambil jurusan Farmasi? Suka?" Tanyanya saat dalam perjalanan menuju kantin.
"Dibilang suka sih juga gak, cuman kepengen aja kalau ada yang sakit kita tau apa yang harus dilakuin.."
"Lah kalau itu kenapa gak jadi dokter?"
"Hem gak tau juga, pas seraching lebih tertarik sama Farmasi saja.."
"Farmasi sebenarnya lumayan susah"
"Beneran?"
"Iya, aku lulusan Sekolah menengah kejuruan Farmasi. Hehe sebenarnya sih aku tertarik buat jadi Wedding organizer, cuman kasian Ilmu Farmasinya kalau gak dilanjutin nanti mubazzir"Katanya tertawa kecil.
"Haha iya sih, apalagi pelajarannya gak tanggung-tanggung, beneran mubazzir kalau gak dilanjutin"
Aku asyik mengobrol dengan Annisa sepanjang perjalanan ke kantin.
Bruukk...
"Aduh, maaf maaf aku gak sengaja" Responku cepat membantu memungut laporannya yang berhamburan dilantai.
Aku terlalu asyik berbincang-bincang dengan Annisa sampai menabrak seseorang karena tidak memperhatikan sekitar.
"Loh Salwa????"
.
__ADS_1
.
.