Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Jalan (1)


__ADS_3

🎶🎶 Alarmku berdering



Tanganku menggapai-gapai meraba meja disamping tempat tidurku hingga kutemukan Jam weker berbentuk Tata karakter yang dibuat oleh idolaku.


Aku bergegas bangun dan menuju kamar mandi.


"Perasaan baru nutup mata sebentar" Keluhku sambil berjalan kembali ke kamar.



Yah.. Ini adalah tradisi, kebiasaan, ataukah semacam kecanduan setelah bangun tidur, rasanya tidak afdol sekali bangun pagi tanpa mengecek ponsel terlebih dahulu. Hemm.. Bukan aku saja kan? kurasa kalian-kalian juga sangat terbiasa mengecek ponsel setelah bangun pagi.



Kutemukan satu pesan dari Fauzi, dikirim sekitar 5 menit yang lalu.


"Maaf sayang, semalam aku ketiduran. Kenapa sayang?"


Melihat pesannya sepertinya Fauzi sudah melihat puluhan panggilan tak terjawabku.


Aku membiarkannya, entah mengapa tidak ada niat untuk merespon pesan Fauzi itu, mungkin karena masih bawaan kesal semalam.



Aku asyik mondar mandir di media sosial sebelum mandi dan bersiap-siap kesekolah. Menjenguk Facebook, jalan-jalan ke Instagram, dan menyapa Twitter.



🎶🎶 Tintong


Pesan Fauzi masuk lagi..


"Sayang, kamu belum bangun?"



Ckk.. Dia pikir aku pemalas sampai jam segini belum bangun??



"Udah.." Balasku.



Kuletakkan ponselku, bergegas mandi dan siap-siap kesekolah.



**



Matahari semakin terik, semakin panas dan semakin panjang juga pidato kepala sekolah di Apel pagi hari ini. Entah apa yang dibicarakannya. Kurasa bukan hanya aku, sebagian Siswa-Siswi mungkin sepertiku, mendengar perkataan pak Kepsek dari telinga kanan dan keluar dari telinga kanan juga. Pembicaraannya tidak sempat mampir dikepalaku, begitu masuk telinga kanan, langsung terpantul kembali keluar.



"Salwa.." kudengar seseorang memanggilku dari kerumunan siswa yang berhambur berjalan menuju kelas masing-masing setelah ceramah yang sangat tidak singkat dari pak kepsek selesai.



Aku menoleh, kulihat Fauzi berlari kecil menghampiriku.



"Pesanku kok gak dibalas?" Tanyanya.



"Kan udah.." jawabku



"Gak ada tuh.."



"Kan aku udah bilang 'udah' pas kamu nanya aku udah bangun apa enggak"



"Ya kan aku balas lagi setelah itu sayang.."



"Aku udah gak liat, lagian kamu juga liatkan kalau pesan kamu belum keRead"



"Iyaa.. Emm.. Semalam kenapa?"



"Gak papa" Jawabku cuek.



"Gak papa kok panggilannya banyak?"



"Gak boleh?"



"Bukannya gitu sayang.."



"Semalam aku cuman mau minta kamu nemenin aku beli buku hari ini"


Kataku berbohong..



Niatku untuk minta maaf seketika hilang dan berubah menjadi rasa kesal karena Fauzi yang tidak mengangkat telfonnya tadi malam.



"Harus hari ini ya?" Tanyanya.



Ah sepertinya Fauzi tidak bisa lagi untuk menemaniku membeli buku hari ini.



"Iya.. Kamu gak bisa lagi?"



Fauzi terdiam.



"Yaudah kalau gak bisa, nanti aku minta temen buat nemenin aku"



"Maaf..."

__ADS_1



"Gak papa, kamu mau motret lagi kan?"



Fauzi hanya mengangguk.



"Yaudah, aku ke kelas dulu.." kataku sambil berlalu.



"Salwa.." Fauzi menahanku dengan meraih pergelangan tanganku.



"Kamu marah?" Tanyanya.



"Gak.."



"Serius?"



Kuraih tangan Fauzi yang sedari tadi dengan erat menahan pergelangan tanganku.


Melihat wajahnya yang begitu memelas, rasanya aku gak sanggup marah. Aku kembali mengingat perkataan Farhan, yaa sebenarnya yang salah adalah aku, aku gak berhak marah sepihak mengingat Fauzi tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi.



"Aku gak marah sayang.." Kataku sambil melepas pegangan tangannya dan menggenggamnya..



Fauzi tersenyum.



"Udah sana kekelas, jam pertama bentar lagi dimulai.."



"Aku kangen sama kamu, setelah satu project ini selesai, aku bakal ngajak kamu keluar jalan"



Aku hanya tersenyum..



"Etdaahh.. Masih pagi woyy.." Seru seorang teman yang kebetulan lewat dan melihat aku menggenggam tangan Fauzi.



"Haha bilang aja Lu kalau iri sama Fauzi yang dapet sarapan pagi dengan semangkuk cinta yang hangat dari Salwa.." Seru teman yang lainnya sambil meledek..



"Yah, meskipun berat, gue mengakui ke-irian ini, sungguh pasangan ini tidak berprikejombolan" teman-teman yang lain saling melempar ejekan.



"Haha Lu Jomblo jadi salah Gue gitu?" Timpal Fauzi balas meledek.



"Yahh.. Kurasa semua ini salah alam, dunia seolah mengutukku.." Jawab teman dengan nada penuh dramatis




"Duluan broo..." Kata teman yang lainnya sambil berlalu.



"Yoo..." Balas Fauzi



"Sana ke kelas.."



"Iya iya.. Aku ke kelas dulu sayang.." Kata Fauzi tersenyum dan berlalu.



Akupun berjalan menuju kelasku.



**



Pelajaran demi pelajaran berlalu, hari-hari yang kami lalui dengan belajar tidak jarang membuat hati dan pikiran menjadi lelah. Ah seperti inikah jalan yang harus kami tempuh untuk bertemu dengan sesuatu yang disebut sukses itu?


Jelas menempuh pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang bisa memastikan kelak kita akan sukses dikemudian hari, semua kembali ke Individu masing-masing. Tapi dengan hari-hari yang kita tempuh dengan belajar adalah jembatan, adalah tangga pertama yang kita lakukan untuk mengejar sebuah kesuksesan nantinya.


Sesulit apapun pendidikan yang sedang kita rasakan saat ini, percayalah itu tidak akan sia-sia.



Akhirnya tiba pada jam pelajaran terakhir. Aku meraih Ponselku yang kuletakkan dalam laci sebelum guru yang mengajar jam pelajaran terakhir datang.



"Kak sibuk gak?"


Pesan yang kukirimkan ke Farhan.



Aku menunggu cukup lama untuk menerima balasan dari Farhan.



"Sedikit, ya kan ini jam pelajaran" balas Farhan setelah sekitar 15 menit yang lalu pesanku kukirim.



Aku membaca dengan sembunyi-sembunyi balasan pesan dari Farhan karena guru yang mengajar sudah datang dan mulai menerangkan pelajarannya.



"Bukan sekarang, maksud aku sepulang sekolah nanti.." balasku.



"Emh.. Kayaknya gak.. Kenapa?"



"Kakak bilang, kalau aku mau pergi tapi gak punya temen, boleh ngajak kakak kan?"

__ADS_1



"Boleh, emang mau kemana?"



"Beli buku kak.."



"Oke, eh tapi kenapa gak ngajak Fauzi?"



"Hari ini Fauzi gak bisa nemenin aku, dia sibuk"



"Lah, gak nungguin Fauzi punya waktu dulu?"



"Ya kan butuhnya hari ini.. Kakak gak bisa nemenin aku?"



"Ya ngomong gak bisa itu siapa jubedaahhh..??"



Aku tertawa kecil membaca pesan Farhan sambil membayangkan lucunya ekspresinya ketika mengirimkan pesan dengan memanggilku jubedah.



"Ada apa Salwa?" Tegur guru yang mengajar melihat aku sempat tertawa.



"Ah, gak Bu..." Jawabku..



"Tolong konsentrasi yaa.."



"Iya Bu.." Jawabku..



Ah, aku nyaris ketahuan guru.



"Yaudah, jadi kakak bisa kan?"


Aku kembali membalas pesan Farhan sembunyi-sembunyi.



"Hemm.. Gak bisa kalo gratisan dong.."



"Yelah.. Kakak ngomongnya aku bisa ngajak kakak kalau aku gak punya temen, lah ternyata itu gak gratisan toh.."



"Jaman sekarang, pipis aja dibayar.."



"Hem.. Kakak mau bayaran apa?"



"Em.. Kebab Turki deh.."



"Oke.."



"Sekarung.."



"Eh buseett.. Bangkrut aku kak.."



"Haha yaudah satu aja kalau gitu, jadi kasian ngebayangin kamu jadi bangkrut 😂😂"



Melihat pesan yang disertai emoticon itu sepertinya Farhan membalas pesanku dengan tertawa. Apa iya dia tidak apa pelajaran terkahir hari ini.



"Jahat.."



"Hahaha.. Udah dulu, entar hubungi aja kalau udah mau ditemani, aku udah ditegur sama guru.."



Loh? Ini ternyata dia sambil belajar juga tapi bisa leluasa balas chatku.



"Haha sama, aku juga udah ditegur sama guru tadi.."



"Haha berasa jadi anak nakal, maenan Hp padahal gurunya lagi nerangin pelajaran"



"Hihi sekali-kali gak papa kan"



"Sekali-kali dengkulmu.. Yaudah, entar kalau selesai pelajaran juga baru aku ngomong sama Fauzi"



"Aku udah bilang kok sama Fauzi"



Aku berbohong lagi.. Entah sejak kapan aku jadi terbiasa berbohong seperti ini. Tidak tidak.. Kan aku udah bilang kalau akan pergi sama teman, jadi aku gak bohong kan?



"Oke deh kalau gitu.."



Aku seperti tidak memiliki teman lain yang bisa diajak pergi. Tapi toh Fauzi akan merasa lebih baik jika Farhan yang menemaniku.

__ADS_1



Aku meletakkan kembali Ponselku kedalam laci dan kembali Fokus pada pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru.


__ADS_2