Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 42


__ADS_3

Mereka berdua terdiam cukup lama setelah kejadian sebelummnya yang membuat suasan menjadi awkard. Fauzi sesekali melirik Salwa, ingin memulai percakapan lagi tapi tidak tahu harus memulainya dari mana.


"Kan.. Jadi seperti ini lagi.. Ck aku harus mulai bagaimana lagi??" Fauzi mulai kesal namun tidak bisa melakukan apapun dan masih berusaha tampil cool di depan Salwa.


"Engg.. anu.." Salwa mencoba memulai percakapan.


"I iya kenapa??" Respon Fauzi dengan gugup. "Shitt kesan cool ku akhirnya hilang gara-gara ngomong aja sampai gagap-gagap begini. Wahai jantungku cobalah untuk tenang agar cara bicaraku tidak terbata-bata dan tidak terlihat bodoh begini.." Keluh Fauzi.


"Kakak sudah baikan sama kak Farhan?" Tanya Salwa dengan nada rendah karena takut jika pertanyaannya menyinggung Fauzi nantinya.


"Ah iya, dia tidak tahu kalau aku sudah baikan, yang dia tahu pasti hanya Farhan yang tidak ingin bicara padaku lagi karena merasa tidak enak hati" Gumam Fauzi mengingat Salwa yang tidak tahu perihal hubungannya dengan Farhan yang sudah membaik.


"Iya.." Jawab Fauzi singkat. Jawaban Fauzi yang singkat membuat Salwa tidak puas dan membutuhkan jawaban lebih, itu terlihat dari sorot matanya yang masih menatap Fauzi menunggu penjelasan Fauzi selanjutnya.


"Sepertinya dia butuh penjelasan.." Gumam Fauzi dalam hati. "Aku pikir, kita sudah sama-sama dewasa. Kita sudah bukan lagi anak remaja yang mempertahankan ego dan saling mengabaikan satu sama lain, toh sebelumnya kita ini adalah teman" Jelas Fauzi menatap Salwa lebih dalam. Masih ada ketidakpuasan dimata Salwa dengan jawaban yang baru saja Fauzi jelaskan.


"Jadi...???"


"Apa semenarik itu hubunganku dengan Farhan sampai dia sepenasaran ini??" Pikir Fauzi. "Ya jadi aku baikan sama Farhan. Kejadian yang lalu biar saja berlalu, kita masih sangat muda waktu itu jadi wajar saja kalau kita melakukan kesalahan-kesalahan seperti itu, lagian siapa yang bisa menahan perasaan suka. Di umur sekarangpun kita tidak akan bisa menahan perasaan cinta kita ke seseorang, hanya saja kita sudah tahu mana perasaan yang layak dipertahankan dan mana yang harus dihentikan.."


Salwa mulai mengalihkan pandangannya dari Fauzi yang menandakan rasa ingin tahunya tentang hubungan Fauzi dan Farhan sudah tertebuskan. Sekarang yang balik penasaran adalah Fauzi.


"Kenapa nanyain ini?" Fauzi balik bertanya.


"Gak kenapa-kenapa, hanya saja waktu ketemu sama kak Farhan, kak Farhan pernah bilang sama aku kalau dia masih malu buat ngomong dan merasa gak enak sama kakak.."


"Whaatt?? Dia masing sering ketemu sama Farhan??" Fauzi tidak bisa memungkiri rasa cemburunya. "Kamu masih sering ketemu sama Farhan??" Tanya Fauzi dengan berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.


"Gak gak gak... Gak lagi, i itu maksudku waktu dulu.."

__ADS_1


"Ha ha ha.." Tawa Fauzi membuat Salwa tidak melanjutkan kata-katanya. "Kenapa Salwa lucu sekali sih? Ah ternyata hanya aku yang cemburu tidak jelas" Pikir Fauzi masih dengan tawanya. "kenapa responmu seperti itu Salwa? kamu seperti orang yang sedang kepergok saja.." Fauzi masih terus tertawa.


"Bu bukannya gitu, aku takutnya kakak ngiranya aku sama kak Farhan dan Nina.."


Fauzi yang sedari tadi  tertawa seketika terdiam. "Dia panggil aku apa barusan?? Dia bilang kakak? Jadi aku hanya sebatas kakak kelas baginya sekarang??" Fauzi cukup kecewa mendengarnya. "Yah, wajar saja.. Karena aku yang lebih dulu mengakui dia sebagai adik kelas" Gumam Fauzi kecewa. Fauzi mengangkat wajahnya dan melihat Salwa yang seperti kebingungan melihatnya.


"Sekarang aku juga udah dipanggil kakak ya?" Tanya Fauzi yang secara tidak langsung memberitahu Salwa bahwa hal itu yang membuat tawanya tadi seketika menjadi hilang.


"Te terus aku harus manggil apa?" Tanya Salwa nampak bingung.


"Panggil sayang lagi juga boleh, hahaha.." Jawab Fauzi seolah bercanda. "Aku rindu kamu yang manggil aku dengan panggilan sayang, aku rindu cara bicaramu yang manja.. Hah, aku hanya sekedar rindu.." Gumam Fauzi masih sedikit tertawa untuk menyembunyikan perasaannya.


"Puas ketawa ketiwinya???" Tanya Farhan dengan nada datar tanpa ekspresi yang membuat Fauzi seketika berhenti tertawa karena terkejut dengan keberadaan Farhan.


Entah sejak kapan Farhan berdiri dengan wajah datarnya itu menonton Fauzi yang tertawa dan Salwa yang masih kebingunan. Farhan datang secara khusus menjemput dua tamunya itu untuk berfoto bersama dengan mereka diatas pelaminan.


.


.


.


"Fauzi sama Salwa???" Tanya Annisa bingung sambil mengarahkan pandangannya pada Salwa dan Fauzi.


"Ha ha ha.. Gak ada apa-apa Annisa, mereka cuman bercanda.." Jawab Salwa.


JLEBBB.. Ada rasa sakit yang menusuk di relung hati Fauzi mendengar jawaban Salwa. Fauzi sempat terdiam sejenak menatap Salwa kemudian mengalihkan pandangannya dan tertunduk sebelum akhirnya dia kembali mengangkat wajahnya sambil tersenyum kecil.


"Ha ha ha.. Gue belum maju aja udah di tolak.." Kata Fauzi berusaha mengendalikan perasaannya.

__ADS_1


Farhan dan Nina juga cukup terkejut mendengar perkataan Salwa, dan sembari melirik Fauzi yang sedang kesulitan mengendalikan ekspresinya. Farhan dan Nina saling menatap seolah berbicara melalui telepati tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Ha ha ha kok ngenes banget ya kesannya.." Timpal Nina mencoba mengendalikan kondisi agar kembali seperti semula.


"Ha ha yang sabar broo.." Kata Farhan tertawa mengejek Fauzi meski sangat terlihat bagaimana canggungnya dia sekarang.


Fauzi mencoba tersenyum, dia tidak ingin suasana menjadi tidak menyenangkan dihari bahagia Nina dan Farhan.


.


.


.


Fauzi masih saja kepikiran dengan jawaban Salwa tadi. "Aku tahu, aku mengatakannya sambil bercanda, tapi apa Salwa benar-benar berfikir kalau ini hanya sekedar bercanda??" Pikir Fauzi sambil berjalan keluar. "Kenapa rasanya semakin jauh saja hubunganku dengan Salwa" Keluh Fauzi dengan perasaan kecewa.


Fauzi dengan perasaan kecewanya masih saja terus menggerutu dalam hatinya.


"Salwa.." Gumam Fauzi yang melihat Salwa sedang berdiri didepan gedung sambil sibuk dengan ponselnya yang entah apa yang terjadi sampai membuat Salwa memperlihatkan ekspresinya yang tidak senang.


"Ah, sepertinya dia mau pulang.." Gumam Fauzi sambil berjalan menghampiri Salwa. Semakin cepat langkahnya, semakin dekat juga jaraknya dengan Salwa dan semakin kencang juga detak jantungnya.


"Mau pulang??" Tanya Fauzi menghampiri Salwa.


Salwa berbalik menatap Fauzi.


"Iya.." Jawab Salwa singkat.


"Kesempatan nih buat ajak dia pulang bareng, sekalian mulai pendekatan lagi sama Salwa" Pikir Fauzi. "Mau ikut sama aku?" Fauzi mencoba menawarkan.

__ADS_1


Fauzi sangat berharap Salwa akan mengiyakan ajakan pulang bersamamya kali ini.


__ADS_2