Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (3)


__ADS_3

Faiq menolak dengan tegas saat Ayahnya meminta agar dia melanjutkan obrolan hangat yang pernah terjadi antara dia dengan Karin. Namun kekuatannya menolak terbungkam akan keadaan yang benar mengharuskannya untuk kembali memulai obrolan dengan Karin, yang sebelumnya sudah ia niatkan untuk mengakhirinya.


“Kamu yang memulai semuanya Faiq. Ayah hanya memberimu pandangan tentang apa yang akan terjadi jika kamu menolak. Ayah sendiri terkejut saat orang-orang disana kembali membahas kejadian dimana kamu terlihat begitu akrab sama Karin”


“Aku hanya pura-pura waktu itu, aku tidak ada maksud untuk melanjutkan percakapan apapun lagi sama Karin”


“Kamu sudah memulainya, maka tuntaskan. Saat Ayah menghadiri pesta rekan bisnis tadi, mereka membahas hal menarik yang mereka temui saat di pesta Ayah Karin, dan hal menarik itu adalah kalian yang terlihat sangat akrab. Ayah sendiri tidak tahu harus berkata apa, saat Ayah Karin terbawa suasana dengan obrolan disana dan meminta Ayah untuk memberitahumu ini”


Faiq mengalihkan pandangannya, rasanya lelah sekali jika harus membahas hal yang sangat tidak penting seperti ini dengan Ayahnya.


“Tapi aku..”


“Ya terserah kamu, Ayah kembalikan semuanya sama kamu” Potong Ayahnya. “Kamu sendiri tahu akibatnya jika mengabaikan hal ini, Ayah sudah menyampaikan apa yang seharusnya Ayah sampaikan, selanjutnya Ayah serahkan sama kamu. Kamu sudah cukup terbiasa dengan dunia bisnis ini, jadi kamu tahu akibat apa yang akan kamu dapatkan. Urus masalahmu sendiri..”


Laki-laki tua dengan segelintir uban di rambutnya itu, melangkah keluar dari kamar putranya. Ia sadar akan ketidak mampuannya dalam mengatur putranya lagi, hanya hal sia-sia yang dia lakukan jika mendebat putranya untuk melakukan apa yang dia inginkan. Baginya sekarang, langkah yang Faiq ambil tidak lagi butuh campur tangannya.


Belum sampai langkahnya pada ambang pintu, ia kembali berbalik “Ayah ada saran untukmu, terserah mau kamu dengar atau hanya mengabaikannya”


Faiq menoleh menatap Ayahnya, meski pikirannya sedang kacau berantakan saat ini. Dia tidak menyangka, apa yang dia mulai malam itu berformulasi menjadi rumit seperti ini. Sesekali ia mengecam dalam hatinya, akan orang-orang elit disana yang dengan santainya menggerakkan lidah dan mengeluarkan argumennya perihal apa yang dia lihat malam itu.


“Lakukan saja apa yang Ayah Karin inginkan, kenali putrinya dan coba lebih akrab lagi. Hanya saja, buat image-mu sedikit buruk di depannya, sehingga Karin tidak akan berniat melanjutkan hubungan yang lebih sama kamu. Bukankah kamu sangat handal dengan permainan seperti ini? Kalau kamu bisa pura-pura menjadi menyenangkan seperti malam itu, tentu kamu lebih bisa menunjukkan sifat aslimu yang jauh dari kata baik dan menyenangkan. Ayah Karin tidak akan memaksa putrinya untuk tetap bersamamu kalau putrinya tidak menyukaimu” Kata Ayahnya dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Faiq dengan sekelebat pikirannya setelah memberikan sebuah saran yang menyelipkan kata-kata fakta tentang Faiq yang sudah sangat berubah saat ini.


Faiq termenung sejenak, memikirkan tentang apa yang baru saja Ayahnya sampaikan, juga saran Ayahnya yang meski ia menolak untuk melanjutkan hidupnya dengan apa yang Ayahnya katakan, namun kali ini ia tidak bisa memungkiri, bahwa saran Ayahnya adalah satu-satunya tindakan yang bisa ia lakukan sekarang. Ya, apa yang di lakukannya beberapa hari lalu, seperti sebuah senjata yang menelannya sendiri.


Faiq masih terus-terusan mengecam para laki-laki tua yang ditemui Ayahnya hari ini, mereka yang menyampaikan argumen mereka sesuka hatinya, membahas hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan hidup mereka dan dengan mudahnya membuat orang lain mengambil keputusan yang berujung memberatkannya. “Mengapa mereka muda sekali terbawa suasana dan perasaan” Kecam Faiq.


Kekesalan Faiq semakin menjadi-jadi saat ia menyadari, bahwa apa yang terjadi hari ini adalah akibat dari ulahnya sendiri yang tidak berpikir jauh sebelum bertindak dan mengambil keputusan. Ia sangat menyesali pola pikirnya malam itu, yang hanya memikirkan keuntungan yang bisa dia ambil dari Karin, sehingga tidak memikirkan hal-hal seperti ini kedepannya.


Faiq meraih ponselnya yang sedang tercharger, membuka pesan Ayahnya yang mengiriminya kontak Karin. Cukup lama Faiq berpikir, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Karin.


.


.


.

__ADS_1


.


Karin masih duduk di depan meja hiasnya, kembali menoreh lipstik berwarna nude di bibirnya untuk menambah rasa percaya dirinya sebelum keluar siang ini.


“Ah, aku bisa terlambat” Kata Karin setelah melirik jam pada ponselnya yang sudah menunjukkan waktu pukul 11:50.


Karin bergegas, meraih tas kecil diatas tempat tidurnya dan belari kecil keluar dari kamarnya menuju bagasi dimana mobilnya sudah siap disana untuk digunakan.


Semalam, Karin mendapatkan pesan dari nomor yang tidak ia kenali, namun setelah bertanya pada pengirim pesan, Karin akhirnya mengetahui bahwa pengirim pesan adalah laki-laki tampan yang sebelumnya sempat membuatnya merasa nyaman dan larut dalam percakapan bersama di pesta Ayahnya beberapa waktu yang lalu.


Meski merasa sedikit aneh, namun Karin tetap menanggapi pesan dari Faiq dan menyetujui ajakan makan siang bersama yang Faiq tawarkan padanya siang ini.


Sembari menununggu Karin tiba, Faiq yang sudah lebih dulu tiba pada restaurant yang sudah mereka sepakati sebagai tempat bertemu itu, masih menyusun alur apa yang akan dia luncurkan hari ini untuk memberi kesan buruk dirinya di mata Karin hari ini. Sebenarnya begitu banyak cerita buruk yang Faiq miliki jika benar-benar ingin membuat Karin memandangnya buruk, namun Faiq tetap memilah-milah. Cerita buruk tentangnya adalah aib, dan sudah menjadi naluri seseorang untuk menutupi aibnya.


Faiq sempat berpikiran untuk bercerita mengenai bagaimana ia bisa mendapatkan persetujuan dengan perusahaan terbesar di bagian timur, namun kembali mengurungkan niatnya mengingat itu terlalu buruk dan terlalu kotor untuk di bahas pada seorang perempuan. Meski Faiq tahu, bahwa satu cerita itu saja sudah jelas bisa membuat Karin menjauhinya. Dan itu tidak akan berakibat fatal pada dirinya saja yang dianggap buruk oleh Karin, tapi bisa mencoreng nama perusahaannya juga beberapa hal buruk yang akan terjadi jika nanti Karin membahasnya pada oranglain.


“Hai..” Sapa Karin, membuyarkan susunan rencana yang tengah Faiq sediakan untuk melalui hari ini bersama Karin.


“Hai..” Sapa Faiq kembali dengan memperlihatkan senyumnya


“Maaf, aku terlambat” Kata Karin dan mengambil posisi duduk pada kursi kosong di depan Faiq.


“Santai saja, aku juga gak ada kerjaan kok..” Jawab Karin tersenyum. “Sudah pesan makan?”


Faiq menggeleng. “Aku nungguin kamu..”


Karin menatap Faiq sejenak kemudian tersenyum dan kembali fokus pada buku menu yang sudah di pegangnya.


Sembari menunggu, Karin memulai obrolan.


“Kenapa tiba-tiba ngajak makan siang bareng?”


“Ah? Engg.. Tidak" Faiq tersenyum "A-aku gak ganggu waktu kamu kan??”


“Kan tadi aku udah bilang gak. Aku cuman ngerasa heran aja tiba-tiba pesan kamu masuk dan ngajak makan bareng”

__ADS_1


“Oh itu, aku cuman tiba-tiba kepikiran saja..”


Karin memulai obrolan, sedang Faiq masih bingung harus membahas apa agar ia terlihat buruk di mata Karin, sehingga Karin tidak akan berniat untuk memiliki hubungan lebih.


Hingga mereka selesai menyantap makanan yang tersaji, Faiq masih saja belum menemukan pembahasan yang kiranya bisa ia jadikan senjata untuk membuat Karin menjauh darinya. Beberapa sempat terpikirkan olehnya, namun dengan cepat ia urungkan ketika mempertimbangkan dampak yang akan dia dapatkan.


“Kamu kenapa?” Tanya Karin yang melihat gerak gerik yang sedikit aneh dari Faiq.


Ya, Faiq sedang sibuk memikirkan hal yang harus dia lakukan, sehingga dia sedikit tidak fokus pada Karin yang ada di depannya. Kebingungan Faiq yang tidak bisa ia sembunyikan membuat Karin berhasil menangkap keanehan gerak geriknya.


“Ah, ti-tidak apa-apa” Jawab Faiq tersenyum dan mencoba menormalkan ekspresinya.


“Kamu sedari tadi kayak gak tenang gitu?”


“Ah maaf-maaf kalau kamu jadi terganggu sama sikapku”


“Gak kok. Atau kamu udah harus kerja lagi? Kalau gitu kita pulang saja”


“Bu-bukan begitu..”


Karin menatap Faiq dengan bingung.


“A-anu.. Besok-besok kalau kamu ada waktu, kita bisa ketemu lagi?”


Faiq mengurungkan niatnya untuk memperlihatkan sisi buruknya hari ini, dia tidak memiliki persiapan yang matang sehingga terus-terusan merasa bingung akan apa yang ingin dia katakan pada Sasa.


Faiq berinisiatif untuk memulai rencananya di lain waktu, sehingga kembali mengusulkan pertemuan pada Karin. Faiq berpikiran untuk menyusun baik-baik rencanya kedepan, dan kembali bertemu dengan Karin.


Ajakan Faiq yang tiba-tiba untuk bertemu lagi, membuat Karin spechless. Apa yang ada dipikiran Faiq tidak lagi sinkron dengan apa yang dipikirkan Karin saat ini. Karin telah salah beranggapan dengan ajakan temu Faiq selanjutnya.


“Dia sedari tadi gugup, karena mau ngajak aku keluar lagi?”


Ya, wajar saja jika Karin salah paham. Bagaimana tidak, sikap Faiq yang sedari tadi terlihat sedikit aneh, ditambah dia yang kembali mengajak bertemu di hari yang lain, memang terlihat seperti orang yang tengah tertarik untuk melanjutkan hubungan dan saling mengenal satu sama lain. Namun Karin tidak menanggapi serius tentang apa yang ada dipikirannya saat ini mengenai Faiq.


“Bisa kan??” Tanya Faiq sedikit mendesak.

__ADS_1


Karin hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan Karin.


Faiq merasa lega setelah Karin mengiyakan permintaannya, terliihat jelas diwajahnya dengan senyumnya yang mengembang saat Karin mengangguk. Dan lagi, itu semakin membuat kesalahpahaman bagi Karin.


__ADS_2