Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Miracle


__ADS_3

Matahari belum juga berkunjung meski waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Jam digital dengan pengingat mulai berdering, membuat Fauzi dan juga Salwa terjaga.


“Selamat pagi sayang..” Sapa Fauzi sembari memberi kecupan manis di kening istrinya.


Salwa hanya tersenyum.


“Hari ini, kamu tetap ingat sama aku kan?”


Fauzi kembali memastikan, apakah ingatan yang dimiliki istrinya lima hari terakhir ini masih bertahan, ataukah sudah kembali hilang seperti yang sudah terjadi beberapa bulan terakhir ini.


Salwa tersenyum dan mengangguk, membuat Fauzi mendekat dan memberi pelukan hangat pada istrinya.


“Aku ingin sekali percaya, bahwa kamu sudah kembali seperti yang dulu. Hanya saja, aku tidak ingin membuat diriku kembali terbuai dan berharap berlebihan”


“Apa dulu setiap pagi kamu nanya hal ini sama aku?” Tanya Salwa dengan tangan yang masih melingkar manja pada pinggang suaminya. “Sudah lima hari, setiap bangun pagi kamu pasti nanyain hal yang sama terus ke aku”


“Iya, sayang. Aku selalu memastikan setiap harinya kalau kamu selalu ingat sama aku”


“Aku masih gak percaya”


“Tentang apa?” Tanya Fauzi melepas pelukannya, dan memandangi wajah istrinya.


“Aku mengidap Alzheimer. Aku gak mungkin bisa bicara seperti ini sama kamu sekarang kalau benar aku penderita Alzheimer, Fauzi. Aku tidak mungkin bisa bicara lancar atau mengingat kamu seperti sekarang, kalau aku memang menderita alzheimer” Salwa mulai lagi memerangi suaminya.


Ya, wajar saja Salwa tidak bisa percaya akan apa yang dikatakan Fauzi. Secara logika, penderita alzheimer sangat sulit berkomunikasi dan fakta yang ada hingga sekarang, belum pernah ditemukan kasus penderita alzheimer sembuh.


“Sayang, hari ini hasil MRI-mu keluar. Aku juga sangat berharap bahwa apa yang terjadi kemarin itu hanya mimpi atau mungkin ilusi saja. Tapi itu terlalu nyata untuk bisa disebut mimpi, aku tidak mungkin membawa Mikayla tinggal bersama Ibu dan Ayah kalau kamu baik-baik saja selama ini. Sayang, aku bukannya mau ngebuat kamu merasa buruk dengan mengatakan semua ini, aku cuman gak mau menutupi hal mengenai diagnosa dokter tentang kesehatanmu”


Salwa terdiam sejenak. Dia tahu bahwa suaminya itu tidak mungkin berbohong padanya, terlebih lagi tentang hal serius seperti ini. Hanya saja, bagaimana bisa dia percaya akan apa yang dikatakan Fauzi, jika keadaannya sekarang sangat bertolak belakang.


“Sekarang kita beres-beres dulu, dan nanti ke Rumah sakit”


Salwa hanya mengangguk, hanya hasil tes MRI-nya yang akan memberinya penjelasan akan kebingungan yang dia rasakan saat ini.


.


.


.


Langkah kaki Fauzi yang beriringan dengan Salwa, berjalan dengan mantap menuju ruangan dokter yang memeriksa kesehatan Salwa selama ini. Perasaan was-was dan gelisah bercampur cemas mulai menghampiri Fauzi, rasanya dia sedikit takut untuk mengetahui hasil dari tes yang dilakukan istrinya beberapa hari yang lalu.


“Selamat pagi, dok” Sapa Fauzi.

__ADS_1


“Pagi” Balas dokter itu, sembari tersenyum. “Bagaimana keadaan Ibu Salwa beberapa hari terakhir ini?”


“Baik, dan semoga kedepannya akan seperti ini terus” Jawab Fauzi penuh harap.


Dokter itu menghela nafas sejenak, membuat Fauzi semakin gugup dan sedikit khawatir.


“Hasil tes MRI Ibu Salwa sudah keluar, dan itu...”


“Ke-kenapa dok?”


“Saya sedikit bingung. Ah bukan, tapi saya heran sekaligus merasa terkejut. Ini sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya”


“Ma-maksud dokter?” Tanya Fauzi yang mulai cemas.


“Begini Pak Fauzi, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa penderita alzheimer itu tidak bisa disembuhkan, saya tidak mengada-ngada untuk hal ini. Sampai sekarang, belum pernah ditemukan kasus bahwa penderita alzheimer itu bisa sembuh. Jangankan sembuh, bertahan hidup lebih lama saja biasanya itu hal yang sulit. Saya rasa, Ibu Salwa selaku tenaga medis pun tahu betul akan hal ini”


Salwa mengangguk, membenarkan penuturan dokter.


“Saya juga yakin, bahwa diagnosa yang saya berikan kemarin itu tidaklah keliru. Bapak Fauzi sendiri merasakan perubahan dari istri bapak bukan?”


Fauzi mengangguk. Rasanya begitu menyakitkan jika kembali mengingat apa yang terjadi pada istrinya beberapa bulan terakhir ini.


Apa yang dokter tuturkan, dan melihat respon Fauzi yang mengiyakan pernyataan dokter, membuat Salwa menyadari bahwa benar keadaannya pernah seperti itu, meski ia masih bingung hingga sekarang.


“Pak Fauzi” dokter itu menatap Fauzi, dengan raut wajah herannya yang perlahan berubah setelah melingkarkan senyum di bibirnya. “Mungkin ini bisa dikatakan keajaiban, karena hasil MRI istri bapak, memperlihat kondisi otaknya yang kembali normal”


Fauzi terdiam sejenak, sedikit terperangah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“A-apakah yang di maksud oleh dokter, bahwa is-istri saya sembuh?”


Dokter itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Fauzi.


Airmata yang tadinya masih bertengger dipelupuk mata, kini tumpah tanpa aba-aba. Pandangan Fauzi terkunci sejenak menatap dokter itu, seolah meminta kejelasan akan apa yang baru saja dia dengar.


“Pak Fauzi, istri anda sembuh”


Fauzi tidak lagi bisa menahan tangisnya, ia menangis tanpa memperdulikan pandangan dokter itu terhadapnya.


“Sayang..” Fauzi berbalik dan memeluk Salwa dengan erat. Pelukan yang menjelaskan bagaimana perasaan haru, lega, dan bahagia kini menyelimutinya.


“Awalnya saya tidak yakin saat melihat hasilnya, saya sendiripun berkali-kali mengamati hingga memperlihatkan hasil tesnya pada dokter yang lain, dan semuanya mengatakan bahwa kondisi otak ini benar dinyatakan normal”


“Dok..” Fauzi melepas pelukannya dari Salwa dan kembali menatap dokter yang duduk di depannya. “Apa yang saya dengar sekarang ini benar kan? Ini nyata kan???” Tanya Fauzi kembali memastikan.

__ADS_1


“Iya Pak, ini semua benar. Saya rasa, kecelakaan yang menimpa Ibu Salwa tempo hari berpengaruh pada otaknya. Hanya saja, saya tidak bisa memberikan penjelasan ilmiahnya, karena saya sendiri pun masih bingung sekaligus takjub. Kasus seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Ya, Tuhan mendengarkan doa-doa bapak selama ini”


“Terimakasih dok, terimakasih banyak” Kata Fauzi tersenyum meski airmatanya masih saja deras mengalir.


Dokter itu memperlihatkan beberapa hasil tes yang pernah dilakukan oleh Salwa. Dia memperlihatkan bagaimana dari waktu ke waktu keadaan otak Salwa yang semakin mengkerut, hingga memperlihatkan hasil tes hari ini dan membandingkan, dimana jelas terlihat bahwa otak yang berkerut itu kemarin kini kembali normal.


“Saya minta maaf Pak, karena saya tidak bisa memberikan penjelasan ilmiahnya. Saya pun masih sedikit bingung dengan kondisi istri anda sekarang, karena ini benar-benar hal yang belum pernah terjadi”


“Tidak apa dok, tidak apa-apa. Saya tidak perlu penjelasan itu, fakta bahwa istri saya sembuh sekarang, itu sudah lebih dari segalanya. Terimakasih banyak dok, terimakasih banyak”


“Sama-sama pak. Saya ucapkan selamat atas sembuhnya istri bapak” Kata dokter itu yang turut merasa bahagia akan kesembuhan Salwa. “Ibu Salwa mungkin bingung dan masih sulit percaya, tapi benar seperti inilah kenyataannya. Saya tahu, Ibu paham mengenai alzheimer dan menganggap kejadian ini adalah hal yang tidak mungkin, tapi faktanya benar seperti ini Bu”


Salwa hanya tersenyum, meski jelas terlihat dia masih kebingungan.


Fauzi tidak bisa membendung rasa bahagia yang dia rasakan saat ini. Segala sakit dan duka yang dia rasakan saat keadaan Salwa memburuk, seolah lenyap begitu saja. Haru yang menyelimuti perasaannya, membuat airmatanya tidak berhenti menetes. Kebahagiaan yang dia rasakan, lebih besar dari saat dimana Salwa menerima lamarannya dulu.


Terimakasih karena sudah kembali sayang, kau membuatku menjadi laki-laki yang paling beruntung dengan kepulanganmu. Aku tidak akan membiarkanmu lagi, untuk melupakan hal sekecil apapun tentang kita. Aku, kamu dan semua kenangan kita, akan abadi dalam memori yang kita miliki.


Akan tiba waktu, dimana rambutku dan rambutmu memutih, tulang belakangku dan tulang belakangmu tidak lagi lurus, juga gigi kita yang perlahan lepas satu persatu. Hingga waktu itu datang, kamu tidak aku izinkan untuk melupakan sekecil apapun dari apa yang sudah kita lalui bersama. Sungguh, ingatanmu pernah menyiksaku, namun itu membuat cintaku semakin meluas dan meraja untukmu.


Aku mencintaimu, Istriku.


.


.


.


.


.


Note*


Ini benar-benar hanya imajinasiku saja cinta-cintaku. Jadi jangan beranggapan kalau Alzheimer bisa sembuh, (meski kita berharap bahwa suatu hari nanti penderita alzheimer bisa disembuhkan) Karena sampai saat ini, belum ada kasus penderita Alzheimer yang sembuh. Hihi ini hanya fiksi, 100% Fiksi.. Tolong jangan percaya.


Dan, maafkan diriku yang baru Up. Huhuhu karena kesibukan dan beberapa hal, juga karena aku yang sempat bimbang mau ngebuat ending Salwa sembuh total, atau hanya sementara saja kemarin, sampai aku benar-benar telat banget Up-nya. Dan setelah bertapa, akhirnya aku memutuskan seperti ini. Hehe kita buat lelahnya Fauzi tertebus saja dengan kesembuhan Salwa ya, kalian setuju kan??. Soalnya aku gak suka cerita Sad ending 😟


Tapi meski begitu, aku rela dimarahin 😣Huhuhu aku memang pantas dimarahi karena teralu lama gak Up. aku siap dimarahi 😭😭


Aku mau ucapin makasih, buat yang tetap nunggu, meski Lina setengah bulan gak muncul-muncul, juga yang khawatirin Lina. Huaa aku sayang kaliaan 😭💜💜💜


Hawa-hawa tamat sudah terasa belum??😅😁😁

__ADS_1


__ADS_2