Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Alzheimer


__ADS_3

Fauzi kembali melangkahkan kakinya masuk setelah taxi yang membawa istrinya itu berlalu. Sangat berat langkah Fauzi, ada ketidaksiapan dirinya untuk mendengar dan menerima fakta yang akan di tuturkan oleh dokter padanya nanti.


Fauzi berjalan sambil merenung. Jarak dari tempatnya dan ruangan dokter yang sebelumnya memeriksa Salwa tidak lah jauh. Namun dia memakan waktu lebih lama untuk sampai dikarenakan langkah kakinya yang begitu lamban dengan pergejolakan batin yang sedang menyerbunya.


Fauzi mengetuk pelan, dan masuk dengan langkah berat setelah mendapat izin dari pemilik ruangan.


Dokter yang sebelumnya menggunakan snelli tanpa pengenal itu, baru saja mengganti jas dokternya dengan yang lain. Snelli yang digunakannya sekarang telah tertera nama pada bagian dada sebelah kiri dan departemen spesialisnya pada dada bagian kanan.


Fauzi menyadari satu hal, bahwa dokter yang memiliki gelar Sp.N itu sengaja menyembunyikan identitasnya dari istrinya, mengingat Salwa akan tahu bahwa ia tengah ditangani oleh dokter ahli Neurologi atau spesialis syaraf, jika ia menggunakan snelli dengan tanda pengenal lengkap.


Fauzi semakin menyadari akan masalah yang tengah menimpa istrinya. Meski ia belum tahu jenis penyakit apa yang sedang menggrogoti istrinya saat ini, namun ia sudah bisa menebak bahwa istrinya sedang mengidap penyakit yang cukup serius, dilihat dari dokter yang menanganinya.


“Ja-jadi, bagaimana kondisi istri saya dok?”


Fauzi bertanya meski dari lubuk hatinya, ia menolak untuk mendengar jawaban yang tidak dia inginkan.


Dokter itu menghela nafas sejenak.


“Kami menemukan protein beta-amiloid pada hasil tes darah istri bapak. Meski kami masih menunggu hasil tes MRInya, tapi saya mulai bisa memberi gambaran pada bapak tentang apa yang sedang terjadi pada istri bapak sekarang”


“Ja-jadi istri saya??”


“Sebelumnya, istri bapak diperiksa oleh dokter lain. Dia bukan dokter ahli syaraf, dia adalah dokter umum. Ya wajar saja istri bapak memeriksakan dirinya pada dokter umum, karena seperti yang bapak tahu, istri bapak selalu mengira bahwa dia hanya kelelahan dan kehilangan konsentrasi sementara. Istri bapak tidak menyadari hal-hal yang terjadi pada dirinya. Namun, menanggapi keluhan istri bapak pada pemeriksaan awal, dokter umum akhirnya menyerahkan istri bapak sebagai pasien kepada saya. Dan saya harus menyembunyikan identitas saya sebagai dokter spesialis syaraf, karena untuk tahapan ini istri anda masih bisa mengetahui hal-hal seperti pasien apa yang seharusnya saya tangani”


Fauzi masih belum mengerti, kemana arah pembicaraan dokter. Namun ia tidak menyangkal dan hanya mendengarkan saja.


“Saat pemeriksaan awal, saya mulai mengetes kemampuan ingatan istri bapak, dan kemampuan mengingatnya sudah terganggu, hanya saja dia berasumsi bahwa itu hanya bagian dari dia yang kelelahan hingga sulit konsentrasi. Namun semakin ia larut bercerita, dia mulai membahas sesuatu yang tidak mungkin. Dia bercerita hal-hal yang terjadi 3 tahun lalu, namun dia anggap itu baru terjadi kemarin. Dia membenarkan hal yang tidak benar, dan hal-hal yang tidak rasional. Dia mulai mengalami delusi”


“De-delusi?”


“Ya, pemikiran yang tidak sesuai dengan realita. Dia berhalusinasi dan memutar ingatannya pada kejadian lampau”


Dokter itu menjelaskan tahap demi tahap sebelum mengungkapkan diagnosanya.

__ADS_1


“Dia mengalami susah tidur, dan penglihatannya juga terganggu. Dia mencari barang-barang yang sebelumnya rutin dia letakkan pada tempat tertentu. Dia tidak bisa memikirkan lebih rinci benda-benda yang ingin dia gunakan. Bahkan dia kebingungan dipagi hari, dan tidak tahu harus berbuat apa, sedang kesehariannya di pagi hari adalah memasak”


Dokter itu menjabarkan semua analisanya dari semua yang telah Salwa ceritakan padanya.


“Dan hari ini, dia bercerita bahwa dia tersesat. Dia sudah kesulitan mengetahui lokasinya, padahal itu adalah tempat yang sering dia kunjungi. Dan hal lainnya, seperti dia yang kesulitan dengan angka-angka. Selain kesulitan mengingat usia putri kalian, dia juga bahkan tidak bisa menebak usia putri kalian, bahkan ketika saya sudah menyebutkan tahun lahir putri kalian. Dia kehilangan kemampuan berhitungnya, padahal dia adalah seorang apoteker yang memiliki tingkat perhitungan tinggi”


Fauzi kembali mengingat hal-hal yang terjadi pada istrinya akhir-akhir ini.


“Dan hal lainnya yang sudah bapak lihat hari ini. Istri bapak menurut melakukan MRI, bahkan saat saya tidak memberinya penjelasan lanjut tentang apa yang terjadi padanya. Dia juga kehilangan pikiran rasionalnya, bagian dari dirinya hanya menurut saja karena tidak bisa mengungkapkan sanggahannya”


“Ja-jadi istri saya sakit apa dok?”


“Alzheimer”


“Alz.. Alz?? Apa??”


“Alzheimer”


“Penyakit seperti apa itu?”


“Belum seberapa? Maksud dokter?”


“Apa yang terjadi pada istri bapak saat ini, adalah tahap awal dari Alzheimer. Akan ada tahapan berikutnya yang lebih memperparah keadaannya. Saat ini, istri bapak mengalami penurunan daya ingat, sering merasa kebingungan, merasa tersesat ditempat yang sering dia lewati, tidak menyanggah karena kesulitan menyusun kalimatnya, bertanya hal yang baru saja saya sampaikan dan dia bahkan tidak tahu hal-hal umum seperti warna lampu lalu lintas”


Fauzi tercengang. Hal yang terjadi pada istrinya saat ini adalah hal yang sudah teramat buruk baginya, dan dokter mengatakan itu hanya tahapan awal? Lalu apa lagi yang akan terjadi pada istrinya nanti.


“Akan ada waktunya nanti, dimana istri bapak tidak bisa mengingat bapak, putrinya, keluarganya bahkan dirinya sendiri, dia melupakan semua hal, tidak tersisa satu apapun dalam ingatannya. Hingga pada tahapan akhir, dia kehilangan kemampuan bertahan hidup. Dia tidak akan bisa beraktivitas seperti oranglain pada umumnya. Dia tidak mampu lagi beraktivitas normal akibat hilangnya ingatan mengenai tahapan melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti mandi, makan, buang air dan semua hal sehari-hari yang biasa dilakukan. Bahkan bisa saja dia kehilangan kemampuan berbicara”


Tanpa sadar, Fauzi meneteskan airmata. Apa yang baru saja dokter jabarkan tentang istrinya, adalah hal yang sangat menyakitkan.


“Penderita Alzheimer umumnya memiliki dua tipe. Penderita yang menyadari perubahan pada dirinya, atau dia yang tidak bisa menyadari dirinya sehingga orang sekitarnya yang menyadari perubahan perilakunya. Untuk kasus istri anda, bisa kita lihat bahwa dia tidak menyadari kondisinya, dan orang sekitarnya lah yang merasakan perubahan perilakunya”


Fauzi hanya terdiam, pikirannya masih terus-terusan ingin menolak apa yang dikatakan dokter.

__ADS_1


“Karena ini, saya menyembunyikan kebenaran yang terjadi pada istri bapak. Pasien Alzheimer, ketika dia menyadari dirinya yang menderita Alzheimer, dia akan menarik diri dari lingkungannya sehingga kita akan kesulitan untuk membantunya tetap bertahan dan bisa mengingat kejadian-kejadian yang ada dalam hidupnya”


“A-apa yang harus saya lakukan dok..”


“Bantu dia untuk bertahan. Sering-seringlah membahas kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya, bimbing dia agar tetap bisa melakukan aktifitas seperti biasanya”


“Obat, apa tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan agar istri saya bisa sembuh?”


Dokter menggeleng pelan, membuat kornea mata Fauzi melebar menerima jawaban dokter itu.


“Sampai saat ini, tidak ada satupun kasus pasien Alzheimer bisa sembuh. Belum ada obat yang bisa menyembuhkan Alzheimer. Obat yang di berikan pada pasien Alzheimer hanyalah obat-obat yang membantu memperlambat Alzheimer sampai pada tahap akhir. Hanya obat yang membantu pasien untuk tetap bisa bertahan lebih lama, dan memacuh agar tetap bisa melakukan aktifitas sehari-hari”


“Ma-maksud dokter?? Is-istri saya..”


“Kami sangat minta maaf karena tidak bisa melakukan apapun untuk ini”


“Operasi? Cangkok atau apalah itu. Bukannya dunia medis sekarang bahkan bisa mengkloning manusia, bisa membuat jantung buatan. Pasti ada cara juga untuk menyembuhkan Alzheimer”


“Kami juga sangat menyayangkan ini Pak. Sampai saat ini, para peneliti masih bergelut mencari dan mengusahan kesembuhan untuk pasien Alzheimer, tapi benar belum ada obat atau cara untuk menyembuhkan pasien Alzheimer..”


“Ti-tidak mungkin.. tidak mungkin...”


“Pak..”


“Apa ini berarti, istri saya tidak akan sembuh??”


Dokter itu mengangguk pelan.


Airmata Fauzi mulai membasahi pipinya, ia tidak peduli dengan pandangan dokter itu terhadapnya.


“Dokter.. tolong periksa ulang istri saya. Tolong di cek ulang, bisa saja dokter salah mengira kan. Dan lagi, hasil tes MRI nya juga belum keluar..”


“Saya juga sangat berharap bahwa apa yang saya katakan ini tidak benar pak. Tapi bapak bisa melihat sendiri seperti apa kondisi istri bapak saat ini”

__ADS_1


Mata yang sebelumnya hanya berkaca-kaca, lalu airmata yang mulai menetes hingga akhirnya tangisnya pecah. Pikiran dan perasaan Fauzi hancur tak terjabarkan, sebuah rasa sakit yang luar biasa tengah menghantam hatinya saat ini.


Dokter itu hanya diam. Memberi Fauzi waktu untuk meluapkan semua rasa sakitnya. Ya, sesiapun di posisi Fauzi, jelas ini adalah hal yang sangat sulit diterima


__ADS_2