
sudah setengah tahun aku berdiam diri dirumah, tidak merasakan udara luar dan hanya mengurung diri di rumah menghukum diri sendiri. Tapi hari ini, aku mencoba untuk keluar lagi menuruti keinginan Ibu untuk aku ikut pelajaran tambahan persiapan untuk masuk Universitas.
Aku sedikit takut, aku seperti orang yang baru dilepas kealam bebas. Aku menolak Ibu mengantarku, aku ingin mencoba kembali seperti semula dan menjalankan hari-hariku seperti dulu lagi. Aku sadar sekuat apapun aku berusaha untuk bisa seperti dulu lagi itu tidak akan mudah atau mungkin tidak akan bisa, tapi aku tetap berusaha mencoba setidaknya aku bisa lebih baik dari diriku setengah tahun terakhir ini.
Aku melewati beberapa jalan yang biasa aku lewati bersama Fauzi membuat pikiranku kembali berputar di sekitar Fauzi. Apa yang sedang Fauzi lakukan sekarang? Apa dia mengingatku? Apa dia juga pernah memikirkanku. Aku berharap meski sekali saja semoga Fauzi pernah mengingatku.
Bbuukkk...
Sebuah bola menggelinding dan mengenaiku kemudian terpental-pental kearah yang berlawanan. Seorang anak kecil berlari tertatih-tatih menghampiri bola itu. Aku berjalan mengambil bola itu dan menyerahkannya.
"Hati-hati, lain kali jangan terlalu kencang nendang bolanya nanti bisa menggelinding terlalu jauh.." Kataku sambil menyerahkan bolanya. Anak kecil itu hanya menatapku, mungkin karena usianya baru sekitaran dua tahun dia belum mengerti dengan apa yang aku katakan. "Lucunyaa.." Pikirku.
"Maafkan putra saya.." Katanya berlari kecil menghampiri anaknya yang masih berdiri diam didepanku.
"Ah, tidak apa-apa" Jawabku tersenyum.
"Ya ampun sayang, kan Mama sudah bilang tunggu sebentar.." Katanya penuh perhatian.
Dia terlihat masih muda, tapi sudah bersikap dewasa karena sudah diberi amanah untuk memiliki anak.
"Sekali lagi maafkan anak saya.." Katanya tersenyum padaku
"Iya tidak apa.. Saya permisi" Aku melanjutkan langkahku.
"Tu tunggu.."
Aku menoleh.
"Ka Kamu bukannya Salwa?"
Siapa dia? Kenapa mengenalku? Rasanya aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
"I iya betul.. Maaf anda siapa?" Tanyaku bingung.
Karena masih memiliki waktu yang cukup, aku ikut duduk bersama perempuan itu sambil menikmati secangkir cappucino siap saji yang dia siapkan. Untung saja aku berangkat lebih awal tadi, niat awalku aku ingin berjalan-jalan dulu mengingat aku sudah lama sekali tidak keluar sebelum sampai ketempat kursus tapi akhirnya aku mengurungkan niat jalan-jalanku dan memilih untuk duduk dengan perempuan yang baru kutemui ini, aku sedikit penasaran bagaimana dia mengenalku.
"Aku Fira.." Katanya mengajukan tangannya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sa Salwa.." Aku menyalaminya.
"Dari reaksimu, sepertinya udah gak ingat sama aku.."
"Maaf"
"Hem kenapa minta maaf, kita memang tidak saling mengenal jadi wajar saja kalau sudah lupa sama aku.. Lagian kita hanya satu kali bertemu, itupun hanya sebentar sekali."
"Kita pernah ketemu? Kapan?"
"Hem.. sekitar dua tahun yang lalu.."
Aku kembali berusaha mengingat-ingat, apakah aku benar pernah bertemu sama perempuan ini dua tahun lalu? Aku benar-benar tidak ingat.
"Kita hanya bertemu sekilas waktu itu. Sebenarnya tidak bisa dikatakan sekilas juga karena hanya aku yang memperhatikanmu sedangkan kamu perhatianmu lebih terarah ke yang lain"
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud perempuan ini.
"Dua tahun yang lalu, kamu memergoki aku sama Fauzi disebuah tempat perbelanjaan accessories"
"Sepertinya kamu sudah ingat.. Aku mau minta maaf.."
Maaf? Dua tahun yang lalu dia berselingkuh dengan Fauzi, kenapa baru sekarang meminta maaf.
"Ah tidak apa, semuanya sudah berlalu" Jawabku mencoba tersenyum meski aku agak kesal mengingatnya.
"Maaf karena sudah membuatmu salah paham sampai harus mengalami masa-masa sulit pada hubunganmu dengan Fauzi"
Salah paham? Apa maksudnya?.
"Maaf, aku gak ngerti maksud kamu apa.."
Dia terlihat sedikit terkejut melihatku tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Fauzi gak cerita sama kamu? Dia gak menjelaskan semuanya sama kamu?"
"Te tentang apa?"
__ADS_1
Dia semakin terkejut melihatku yang benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Hari itu kamu salah paham tentang apa yang kamu lihat antara aku dan Fauzi"
Dia selalu mengatakan salah paham, Salah paham apa yang dia maksud?
"Temanku mengenalkan suamiku dengan orang yang katanya pengambilan gambarnya bagus, dan yang dia kenalkan itu Fauzi. Hari itu sebenarnya bukan hari yang kami sepakati untuk pengambilan foto praweedding terakhir, hari terakhir pengambilan set foto sebelumnya juga Fauzi sudah meminta izin untuk tidak mengambil foto hari itu, karena katanya ada janji sama kamu"
"Iya, hari itu aku tampil dalam lomba Tari, dan Fauzi janji buat datang ngeliat aku. Tapi pada akhirnya hari itu dia gak datang"
"Sebenarnya Fauzi sangat ingin datang ngelihat kamu, dia sudah bilang jauh-jauh hari sebelumnya agar kami gak take foto prawedding hari itu. Tapi karena aku.. karena aku Fauzi jadi gak bisa datang untuk lihat perlombaanmu"
"Kenapa?"
"Pagi-pagi sekali suamiku minta Fauzi melakukan take terakhir prawedding kami, awalnya Fauzi menolak karena gak mau ingkar janji sama kamu, tapi pada akhirnya dia menurut karena keadaan saat itu"
Dia terdiam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam.
"Hari itu Ayahku marah sekali dan meminta pernikahan kami dipercepat bagaimanapun keadaannya. Ayah tau kalau aku.."Dia sedikit ragu-ragu mengatakannya. "Kalau aku hamil waktu itu, Ayah gak mau kami mengulur-ngulur waktu lagi"
Jadi selama ini aku benar-benar salah paham pada Fauzi.
"Hari itu aku mengandung putra pertamaku.." Katanya sambil melihat putranya penuh cinta yang sedang sibuk dengan bolanya. "Usia kandunganku baru satu bulan, Ayah memaksaku untuk menikah lebih cepat dari waktu yang ditentukan agar ketika anakku lahir kami bisa alibi kalau putraku prematur dan lahir tujuh bulan jadi orang-orang tidak akan tahu kalau sebenarnya aku sudah hamil saat menikah.."
Aku tertegun mendengar ceritanya. Segitu rumitnya keadaan waktu itu.
"Karena aku sangat ingin punya foto prawedding pakai gaun pengantin, akhirnya hari itu langsung diputuskan untuk take foto prawedding terakhir. Fauzi mengorbankan kepentingan pribadinya untuk melindungi martabat keluargaku, aku sangat berterimakasih untuk itu" Katanya dengan tersenyum, aku balas tersenyum.
"Ta tapi, aku ngeliat Fauzi.."
"Membelai rambutku?" Tanyanya memotong pembicaraanku.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Semuanya tidak seperti yang kamu kira, Fauzi bukan membelai rambutku dengan maksud tertentu, dia cuman mencoba buat nenangin aku saja. Mungkin karena terlalu terburu-buru dan kurang persiapan hari itu, suamiku makan sesuatu yang membuat perutnya jadi sakit. Seperti yang kamu lihat aku hanya berdua dengan Fauzi waktu itu, karena suamiku sedang ke kamar mandi dan yang lainnya sedang mengambil set yang masih diluar, kamu ingat kan kalau hari itu hujan jadi yang lain sibuk menyelamatkan set yang kami gunakan saat take foto outdoor"
Dia menceritakan semuanya.
__ADS_1