Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kejadian..


__ADS_3

Hari ini rasanya melelahkan sekali, mata kuliahku penuh disertai beberapa praktikum. Aku membereskan alat praktikumku, menyimpannya dengan pelan-pelan dan rapi. Aku kembali mengingat Farhan yang menemaniku membeli peralatan Labku. "Syukurlah ada kak Farhan, aku jadi bisa sedikit tertolong" Gumamku sambil tersenyum kecil.


Aku semakin akrab lagi dengan Farhan, yang dulunya kalau berpapasan dikampus hanya saling menyapa tapi sekarang sesekali kami sempatkan untuk mengobrol dan melempar gurauan jika ada waktu. Karena sudah seperti ini dengan Farhan, aku sesekali terbawa perasaan saat bersamanya. Aku tahu mungkin Farhan hanya melihatku sebagai temannya saat ini tapi di sisi pikiranku yang lainnya beranggapan Farhan tidak akan sebaik ini padaku jika tidak menyangkutpautkan dengan perasaannya yang dulu.


Aku berlarian kecil turun dari lantai dua, aku menyalakan ponselku melihat jam "Sudah hampir jam tujuh malam" Gumamku. Aku mempercepat langkahku, dikoridor mulai sepi tinggal segelintir mahasiswa yang sepertinya masih ada keperluan dikampus. Cleaning service mulai terlihat lalu lalang yang menandakan sebentar lagi kampus akan tutup.


Aku keluar halaman kampus "Kenapa gak ada taxi yang mangkir disini sih? Biasanya juga banyak" Gerutuku. "Mana lagi kebelet.."


Mungkin karena sekarang sedang waktu Maghrib sehingga tidak banyak Taxi yang biasanya terparkir di dekat kampus.


Aku memutuskan berjalan sebentar dengan berharap akan ada Taxi atau setidaknya ojek yang bisa kutemui. Beberapa angkutan umum lalu lalang, tapi karena aku tidak terbiasa menggunakannya aku jadi tidak tau angkutan umum yang mana yang mengarah ketempat tinggalku.


Seperti kesialan yang bertubi, di saat malam yang mulai datang, Taxi tak kunjung ada disaat seperti ini juga rasa kebelet pipis yang tidak tertahankan. Ah aku harus bagaimana ini? Pikirku.


Aku tidak ada cara lain aku harus bisa tiba dirumah dengan cepat, aku berniat memotong kompas dengan berjalan di gang kecil yang bisa membuat jarak kerumah lebih dekat.


Tiba-tiba..


"Tasnya.." Seseorang tiba-tiba muncul disampingku menodongkan pisau ke leherku.


Aku terkejut, nafasku tertahan dan suaraku tidak bisa ku keluarkan. Airmataku mulai menetes.


"To.."


"Jangan teriak kalau mau selamat.." Katanya memotong perkataanku dan makin mendekatkan pisaunya ke leherku.


Aku mulai menangis.


"Sini tas Lo.." Tas ku mulai ditarik paksa, aku masih berusaha mempertahankan tasku. Tidak seberapa uang tunaiĀ  yang kumiliki, hanya beberapa kartu dan laporanku semua ada dalam tas.


"Gue bilang sini tasnya.." Tenagaku yang tidak cukup kuat tidak bisa lagi mempertahankan tasku yang ditarik dengan paksa dan kuat.


Orang itu mendapatkan tasku, dia terus-terusan menodongkan pisaunya ke arahku sambil berjalan mundur menjauhiku sampai akhirnya dia berlari semakin jauh.


Sendi-sendi dilututku terasa ngilu dan BRUUKKK.. Aku jatuh tersungkur karena tidak bisa lagi menahan tubuhku. Jantungku berdetak tidak karuan, airmataku semakin deras, nafasku tertahan dan aku tidak mampu mengeluarkan suaraku.


"Hu hu hu.." Perlahan suaraku mulai keluar dan hanya suara tangis yang bisa terdengar. Aku terlalu terkejut sampai membuatku tidak bisa berkata-kata.


"I Ibu..." Keluhku, aku tidak tau harus bagaimana sekarang.


Ponselku bergetar, oh syukurlah masih ada ponselku. Selepas aku melihat jam tadi, aku tidak kembali menyimpan ponselku kedalam tas agar mempermudahku mengambilnya ketika butuh.


Aku yang tadinya tidak tau harus berbuat apa akhirnya bisa sedikit tertolong saat menyadari ponselku masih ada.


"Halo.." Kata Farhan saat menjawab panggilanku.


Farhan adalah orang pertama yang terlintas dipikiranku saat aku membuka ponselku.

__ADS_1


"Ka Kak..." Aku berusaha berbicara untuk memberitahu Farhan kondisiku saat ini, tapi rasanya sulit sekali untuk mengucapkan satu dua kata.


"Salwa kamu kenapa?" Tanya Farhan khawatir.


Aku tidak bisa lagi berkata-kata, aku masih sangat terkejut dan hanya terus menangis.


"Hey Salwa, kamu kenapa? Jawab aku!!"


"Kak.. Hu hu hu hu" Tangisku pecah, entah karena ketakutanku yang tidak bisa aku atasi atau perasaan legaku karena setidaknya ada Farhan yang bisa datang menolongku.


"Salwa kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Farhan dengan nadanya yang mulai meninggi.


"A aku.. Aku di rampok kak.. Hu hu hu "


"Di di rampokk?? Bagaimana bisa??"


"A aku.." Aku tidak bisa lagi melanjutkan kata-kataku.


"Salwa kamu dimana?"


"Aku gak tahu.." Jawabku. Aku memang masih tidak terlalu tahu jalan disekitar sini, tapi aku tahu dimana aku sekarang hanya saja aku tidak bisa berfikir jernih untuk menjelaskan lokasiku.


"Kamu yang tenang.."


"Aku takut kak.. Aku takut.. Hu hu hu..."


"Dengar aku.. Coba lihat sekelilingmu apa yang bisa kamu lihat? Beritahu aku!!"


"Lorong dekat kampus?? Jalan pintas kerumahmu??"


"Hikss.. I iyaa.."


"Oke, sekarang tenang dulu.. Tunggu aku, aku kesana sekarang.."


"Kak.."


"Iya kenapa Salwa?"


"Ja jangan matikan telfonnya, aku takut..."


"Oke.. Sekarang aku akan kesana.."


Aku sedikit lega, setidaknya Farhan akan datang menemuiku disini. Aku bisa mendengar Farhan yang berlarian sampai Farhan yang mulai mengendara. Sesekali Farhan memanggilku untuk memastikan aku masih bisa mendengarnya. Aku hanya bisa duduk tersungkur menunggu Farhan datang.


"Salwaaa..." Farhan berlari menghampiri dan memelukku.


"Kakk.. Hu hu hu.."

__ADS_1


"Tenang Salwa, aku disini.. Sekarang aku disini.." Farhan berusaha menenangkanku.


"Aku takut kak.. Aku takut sekali.."


"Sekarang jangan takut.. Tenang ada aku.." Farhan mempererat pelukannya.


.


.


.


Aku masih sedikit syok dengan kejadian semalam. Semalam Farhan menenangkanku dan mengantarku pulang, Farhan terus menyediakanku makanan dan menjaga sampai akhirnya Annisa datang menemaniku dirumah. Farhan tidak bisa membiarkanku sendiri dirumah sedangkan keadaanku masih kurang baik jadi dia memanggil Annisa untuk menemaniku dirumah.


Farhan memintaku untuk memberitahu hal ini pada Ibu dan Ayah tapi aku menolak, Farhan bahkan sempat ingin memberitahu Ibu tapi aku melarangnya. Memberitahu Ibu tentang ini akan membuatnya khawatir, bisa saja Ibu memutuskan pindah disini sedangkan Ayah juga membutuhkan Ibu disana dan pekerjaan Ayah tidak memungkinkan Ayah ikut pindah bersamaku disini.


"Wa, kamu gak papa aku tinggal kuliah?" Tanya Annisa.


"Iya gak apa, aku baik-baik saja.." Jawabku.


Aku mulai membaik, aku sudah bisa mengatasi kepanikanku semalam. Tapi aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah dulu hari ini.


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk mengiyakan. "Sudah, sana kuliah. Kamu bisa telat nanti.."


"Yaudah, aku kuliah dulu. Nanti kalau aku bisa aku ngisi absenmu tapi kalau gak aku akan jelasin ke dosen tentang keadaanmu sekarang.."


"Iya, makasih Nis.."


"Hem.." Nisa memelukku. "Kalau ada apa-apa hubungi aku, pulang kuliah nanti aku kesini lagi.."


"Iya.."


Annisa berlalu.


Ting tongg.. Satu notif pesan.


"Gimana keadaanmu?" Pesan singkat yang dikirim Farhan.


"Aku udah baikan.." Balasku.


"Syukurlah, maaf aku gak bisa kesana pagi ini ngeliat kamu. Aku ada kelas pagi"


"Iya kak, aku juga sudah baikan.."


"Yaudah, pulang kuliah aku kesana. Kita makan diluar sama-sama"

__ADS_1


"Oke.."


Farhan begitu memperhatikanku, itu membuatku sedikit tenang.


__ADS_2