
Hari semakin siang, suhu tubuhku sudah kembali normal seteleh meminum obat antipiretik dan obat dalam bentuk suplemen makanan untuk daya tahan tubuh.
Tubuhku yang kemarin terguyur hujan namun tidak dibasuh dengan air biasa rasanya lengket sekali, aku bertanya pada Sasa apa aku bisa mandi untuk menghilangkan gerah ditubuhku dan Sasa mengiyakan aku bisa mandi menggunakan air hangat.
"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baikan?" Tanya Fauzi. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
"Bajunya cocok sekali di kamu.. Bro Lu hebat milih baju cewek.."
"Hebat apanya, semalam gue ngejemput Sasa buat nemenin beli baju. Lu pikir gue ngerti apa sama baju perempuan.." Jawab Faiq tanpa menoleh karena terus fokus pada layar ponselnya sedang memainkan game.
"Ck.. pantas saja.."
"Ekspektasi Lu terlalu tinggi ke gue.." Katanya sedikit ketus.
"Sasa mana?" Tanyaku.
"Udah diantar pulang tadi sama Faiq, dia harus ke kampus sore ini.."
"Oh iya.."
"Yasudah, ayo aku antar. Kamu harus mengambil penerbangan sore ini biar sampai sananya gak kemalaman.."
"Iya.."
Fauzi meraih tanganku, menggandengku keluar.
"Fa, gue antar Salwa dulu.."
Faiq mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Salwa sudah mau balik?" Tanyanya.
"Iya.." Jawabku tersenyum. "Aku gak bisa lama disini, aku harus mempersiapkan Ujian masuk Universitas. Aku juga bakal nyusahin kalian disini kalau aku tinggal lebih lama, kalian pasti sibuk dengan kuliah kalian.."
"Kalau begitu hati-hati di jalan.."
"Makasih Faiq.."
"Sip.." Katanya mengacungkan jempolnya.
.
.
"Sampai disana nanti ada yang jemput kan?" Tanya Fauzi sambil menyetir.
"Gak ada yang jemput juga aku bisa, kesini aja aku bisa masa pulang kerumah sendiri gak bisa.."
"Ya tapi kan sekarang kesehatanmu sedang tidak baik.."
"Aku udah baikan Ozi, dibandingkan waktu kesini sekarang kesehatanku jauh lebih baik" Jawabku tersenyum.
Fauzi menatapku, mengelus kepalaku dengan hangat.
"Hem, jadi udah mutusin mau kuliah jurusan apa?"
"Iya, aku senang ngeliat Sasa tau banyak hal dan bisa langsung dia realisasikan, aku mau terjun kedunia kesehatan.."
"Dunia kesehatan kan banyak jenisnya, kamu mau yang mana?"
"Banyak jenisnya?"
__ADS_1
"Ya ampun sayang, kamu mau jadi anak kesehatan tapi gak tau apa aja yang ada disana. Hem.. Kamu mau jadi ahli obat dibidang Farmasi, atau ahli dalam mendiagnosa seperti dokter, atau ahli dalam penanganan medis seperti perawat. Hem atau kamu tertarik sama bagian Lab seperti analis atau mungkin bagian radiologi.. Dunia kesehatan itu luas sayang.." Jelas Fauzi.
"Aku gak tau.. aku cuman mau bisa seperti Sasa, tau apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang lagi sakit.."
"Nanti sampai rumah kamu bisa cari literatur-literatur unutk dunia kesehatan, jadi kamu bisa milih kamu lebih kepengen yang mana.."
"Iya nanti aku cari..."
Fauzi menggenggam tanganku dengan hangat.
"Maaf aku gak bisa nganter kamu pulang sampai rumah.."
"Gak apa, kuliahmu kan sedang sibuk-sibuknya.."
Fauzi tersenyum manis.
.
.
.
Aku tiba dirumah, aku menghempaskan tubuhku ditempat tidur. Ada perasaan lega dan bahagia karena sekali lagi bisa melalui hal tersulit dalam hubunganku dan Fauzi.
Tok tok..
"Salwa, Ibu masuk ya sayang.."
"Ah iya Bu.."
Ibu melangkah masuk dengan piring ditangannya berisi beberapa buah.
"Kata Fauzi kamu sakit disana?"
"Ini Ibu bawakan buah, kamu harus jaga kesehtanmu. Sebentar lagi kamu akan sibuk harus mempersiapkan Ujian masuk Universitas.."
"Iya Bu.."
"Bagaimana hubunganmu dengan Fauzi? Semuanya sudah baikan?"
"Iya Bu" Jawabku tersenyum.
"Lain kali jangan diulangi lagi sayang, kamu harus mengambil pelajaran dari apa yang terjadi kemarin.."
"Iya Bu, aku gak akan seperti itu lagi.."
"Hem.. kamu sudah mau memutuskan mau lanjut kuliah dimana?"
"Belum Bu, aku cuman baru nentuin jurusannya. Bu aku mau kuliah kesehatan boleh kan Bu?"
"Boleh sayang, Ibu selalu mendukung apapun yang kamu mau. Kamu yang akan menjalani hidupmu jadi apapun yang kamu putuskan Ibu akan mendukungmu selagi itu baik buatmu. Juga masalah Universitasnya itu juga tergantung kamu sayang. Kampus asal sudah mendapat akreditasi itu semuanya baik, semua kembali ke individu masing-masing kalau masalah kualitas pendidikan.."
"Iya Bu.."
"Yasudah makan buahnya. Ibu keluar dulu, kalau kamu butuh sesuatu panggil Ibu ya.."
"Iya Bu.."
Ibu mengecup keningku kemudian berlalu.
Aku mencoba mencari-cari tentang beberapa jurusan di dunia kesehatan. Pengetahuan Sasa kemarin membuatku terinspirasi dan bisa menentukan mau jadi apa aku kedepannya.
__ADS_1
Aku membuka beberapa website yang membahas beberapa jurusan-jurusan tertentu mengenai kesehatan. Membacanya membuatku jadi tertarik dengan semuanya. Semua ada tingkat kesulitannya sendiri.
Malam menunjukkan pukul sembilan malam, aku masih sibuk browsing mencari-cari jurusan yang sekiranya baik buatku.
Ponselku yang kuletakkan tidak jauh dariku berdering.
"Kamu udah sampai rumah kan sayang?" Tanya Fauzi setelah aku menjawab panggilannya.
"Iya, Ibu menjemputku di Bandara.."
"Syukurlah, maaf aku baru bisa ngehubungi kamu sekarag. Tadi aku ada kegiatan jadi gak bisa ngehubungi kamu.."
"Gak apa, toh aku udah sampai dengan selamat"
"Bagaimana kesehatanmu?"
"Aku udah sembuh, rasanya udah jauh lebih baik sekarang.."
"Syukurlah, hem sekarang tidur gih ini udah jam sembilan. Kamu harus tidur cepat.."
"Terus kamu?"
"Aku masih harus nyelesaiin tugasku dulu, bentar lagi aku juga tidur"
"Tapi kamu udah dirumah kan?"
"Iya.."
"Yaudah, kalau tugasnya udah selesai kamu juga tidur gih.."
"Pasti sayang.. Hem rasanya sudah lama sekali aku gak nelfon kamu dengan perasaan yang senang kayak gini"
"Emangnya selama ini kamu gak senang nelfon aku?" Tanyaku.
"Semenjak kejadian di Rumah sakit kemarin, aku selalu kepikiran. Bahkan saat bicara dengan kamu di telfon pikiranku masih tidak tenang.."
"Soal itu.. Maafkan aku.."
"Iya sayang, semua sudah berlalu.."
"Aku gak akan seperti itu lagi Ozi, aku sayang sama kamu.."
"Aku juga sayang.. Terimakasih sudah berjuang sampai kesini untuk memperbaiki hubungan kita. Yasudah kamu istirahat ya.. Love you Salwa.."
"Aku juga Ozi.."
Telfon kami terputus. Ya seperti yang dikatakan Fauzi, sudah lama sekali semenjak kami telfonan dengan suasana yang seperti ini.
Aku kembali meletakkan ponselku, menutup pencarian browserku dan bersiap-siap untuk tidur malam ini.
Ting tongg..
Satu notifikasi masuk di ponselku.
"Salwa, bisa ketemu besok?" Pesan singkat yang masuk dari nomor ponsel yang tidak dikenal.
"Maaf siapa?"
Ponselku berdering, panggilan masuk dari nomor yang sama dari pengirim pesan tadi.
"Halo.."
__ADS_1
"Halo Salwa, besok aku mau ketemu kamu bisa?" Dia tidak memperkenalkan diri, tapi suara ini tidak asing.
"Ka Kak Farhan??"....