Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Jawaban dari kesalahpahaman Salwa..


__ADS_3

Aku terburu-buru masuk kedalam kamarku, menutup pintu dan berusaha memahami apa saja yang baru terjadi.


Blussshhhhh... Kenapa Fauzi akhir-akhir bertingkah seperti ini yang membuatku jadi salah tingkah, malu dan ah perasaan yang tidak bisa aku jelaskan.


Aku duduk ditepi tempat tidur, memegangi jas yang diberikan Fauzi tadi untuk sekedar melindungiku dari hawa dingin tadi, aroma parfum Fauzi masih sangat melekat di jasnya. "Kenapa dia bertingkah hangat seperti ini sama aku sedangkan dia sudah memiliki perempuan... Tunggu tunggu, tadi Fauzi bilang kalau Afifah itu cuman sepupunya, jadi????" kataku dengan mulai berfikir keras.


Karena terlalu terbawa suasana dengan perlakuan Fauzi tadi aku sampai lupa tentang perkatan Fauzi dimana aku harus cari tahu sendiri tentang apa yang aku pikirkan selama ini mengenai dirinya yang sudah memiliki perempuan lain.


Kugantung jas Fauzi dengan rapi lalu dengan cepat meraih ponselku, aku harus cari tahu yang sebenarnya dan seseorang yang bisa menjawab semua pertanyaanku adalah Annisa. Aku dengan cepat langsung menelfon Annisa.


"Halo Nis.."


"Ya kenapa Wa?" Jawab Annisa.


"Kamu sibuk gak?" Tanyaku


"Gak sih, cuman lagi makan aja.."


"Makan? Bukannya kamu makan dengan puas di pesta Nina tadi??"


"Ya makan, cuman karena sekarang aku lagi begadang ngurus pelaporan Apotek jadi ya lapar lagi. Kamu udah pulang?" Tanya Annisa.


"Iya, baru saja sampai?"


"Baru sampai? Ck ck kenapa gak sekalian nemenin Nina sampai malam pertama?" Sindir Annisa sambil tertawa kecil.


"Ya ini kan malam bahagianya Nina, aku mau nemenin dia lebih lama.."


"Jadi kamu balik sendiri?"


"Diantar sama Fauzi.."


"Hem.. Seriusan aku curiga sama hubungan kalian berdua, gak mungkin Nina sama Farhan ngegoda kamu sama Fauzi terus-terusan kalau kalian cuman sebatas adik dan kakak kelas" Annisa mulai curiga.


"Itu.. Ya sebenarnya memang aku sama Fauzi bukan sebatas adik dan kakak kelas saja..." Ya kurasa sebagaimanapun aku menyembunyikan ini dari Annisa, cepat atau lambat suatu hari nanti dia pasti tahu.


"Nah kan, kecurigaanku benar. Jadi hubungan kalian itu apa?" Tanya Annisa yang mulai penasaran.


"Sebelumnya aku mau nanya sesuatu dulu sama kamu.."


"Jangan ngehindar, jangan mengalihkan pembicaraan.."


"Gak gak.. Aku bakal cerita semuanya nanti tapi sekarang aku benar-benar butuh jawaban kamu.."

__ADS_1


"Jawaban apa?"


"Nis, kemarin waktu kamu ngebahas undangan sama Fauzi, itu undangan siapa?"


"Undangan Afifah, kenapa?"


"Sama siapa?"


"Ya sama suaminya lah Wa, memangnya mau sama siapa lagi?"


"Nama suaminya?"


"Raka? Rafa? Raja? ah aku lupa, kenapa??"


"Bu bukan Fauzi??"


"Ya bukanlah, masa iya Fauzi nikah sama sepupunya sendiri??"


Fakta yang seperti sebuah bom waktu bagiku yang meledak membongkar semua kesalahpahamanku selama ini. Jadi selama ini aku sudah salah menduga, aku salah paham dengan status Fauzi dan hanya aku sendiri yang berpikiran seperti ini. Pantas saja Nina dan Farhan terus menggodaku bersama Fauzi dan Fauzi yang sesekali menggodaku secara langsung. Betul yang dikatakan Fauzi, aku masih saja seperti yang dulu selalu memutuskan kesimpulan dalam pikiranku sendiri tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.


"Wa..?? Halo Salwa, kamu ngedenger aku gak sih??"


"Eh i iya Nis.." Pikiranku sempat jauh sampai lupa kalau aku sedang berbicara dengan Annisa sekarang.


"I itu.. A aku kira Afifah itu calon istri Fauzi dan dia ketemu sama kamu itu untuk ngebahas masalah desain undangannya dia.."


"Lah bukan, hari itu dia datang karena sepupunya gak sempet datang karena katanya asam lambungnya naik, jadi Fauzi yang ngegantiin dia buat ketemu sama aku. Lagian foto prewedding mereka yang fotoin juga Fauzi jadi semua file foto prewedding yang mau dimasukkin dalam undangan ada sama Fauzi.." Jelas Annisa.


Gleebb.. Berarti selama ini benar aku sendiri menyimpulkan sesuatu dan terus-terusan salah paham.


"Kenapa nanyain itu?" Tanya Annisa.


"Selama ini aku ngehindar dari Fauzi, aku gak balas chatnya sampai aku ganti nomor agar Fauzi gak bisa ngehubungi aku lagi.."


"Ah iya, Fauzi minta nomor kamu dari aku, gak lama pas kamu udah ganti nomor Fauzi minta lagi nomor kamu yang baru.."


Rupanya dari Annisa dia dapatkan nomor telfonku.


"Ini sebenarnya ada apa sih Wa?" Tanya Annisa bingung.


Aku akhirnya menceritakan semuanya pada Annisa, dari awal hubunganku dengan Fauzi yang kumulai sejak aku masih duduk di bangku kelas satu SMA, sampai kami yang putus dan penyebab aku sampai telat satu tahun melanjutkan pendidikanku. Tidak ada satupun yang aku lewatkan ceritakan pada Annisa, hanya saja sekali lagi aku tetap menyembunyikan tentang Farhan, aku rasa aku tidak bisa menceritakan bahwa Farhan adalah salah satu pemeran dalam cinta segitiga yang sempat kujalani.


"Ja jadi kamu sama Fauzi??"

__ADS_1


"Iya, kami pernah punya hubungan yang seperti itu tapi aku merusaknya.."


"Wah, bagaimana bisa Fauzi setenang itu sekarang setelah apa semua yang telah terjadi.."


Beginipun Annisa sudah terheran-heran dibuat dengan kekuatan perasaan Fauzi, lalu bagaimana jika dia tahu kalau sahabat Fauzi yang aku maksud itu adalah Farhan, dia tidak akan bisa membayangkan bagaimana kuatnya perasaan Fauzi melihat Farhan dan Fauzi sekarang seperti sepasang sahabat yang tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.


"Ya begitulah Fauzi.."


"Dari yang kulihat sekarang Fauzi sepertinya masih suka sama kamu, dia selalu ngedekatin kamu dan setiap Farhan dan Nina ngegoda kamu Fauzi selalu menanggapinya.."


"Kurasa juga seperti itu, akhir-akhir ini Fauzi memperlakukanku dengan baik sekali.."


"Kalau perasaanmu sendiri bagaimana?"


"Dari apa yang aku ceritakan tadi menurutmu perasaanku seperti apa sekarang??" Tanyaku kembali.


"Ka kamu masih cinta juga sama Fauzi.."


"Iya.." Jawabku cepat dengan tegas dan tanpa keraguan.


"Kalau gitu balikan aja..."


"Kita lihat saja nanti.. Hem yaudah aku matiin dulu telfonnya, makasih ya Nis.."


"Oke, semoga semuanya berjalan baik nanti, ingat kalau mau mesen undangan sama aku pokoknya"


"Ha ha ha dasarrr.. Yaudah bye Nis.."


Telfonku berakhir.


Aku sejenak merenungi semua yang telah aku lakukan selama aku salah paham dengan Fauzi. Aku tidak membalas pesannya dan sesekali berusaha menghindarinya. Aku benar-benar tidak belajar dari pengalaman dan selalu saja mengambil kesimpulan sendiri.


Aku jadi mengingat kejadian tadi, bagaimana perasaan Fauzi ketika aku mengatakan kalau kita 'tidak mungkin' bersama. Aku jadi mengerti maksud tatapan Farhan dan Nina saat itu dan aku merasa bersalah sekali karena sudah mengatakan hal itu. Fauzi pasti terluka mendengarnya.


Argghhhh Salwa.. Kamu benar-benar bodoh, gegabah dan tidak bisa belajar dari pengalaman yang sebelum-sebelumnya, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua pada Fauzi? Aku melirik jas Fauzi yang aku gantung dengan rapi, shiittt rasa bersalahku makin besar saja. Ah sudahlah, sebaiknya sekarang aku membersihkan diri dulu lalu bersiap-siap untuk tidur, besok pagi aku harus berangkat kerja aku bisa saja terlambat jika tidak tidur sekarang.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku masih punya satu episode lagi buat malam ini :)


__ADS_2