Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kondisi Salwa (1)


__ADS_3

Fauzi yang memutuskan resign dari pekerjaannya, akhirnya meluangkan semua waktunya untuk menemani dan mengurusi istrinya. Meski sangat tidak ingin, namun Fauzi akhirnya memutuskan untuk membawa Mikayla tinggal bersama neneknya. Bukan karena dia tidak mampu mengurus istri sekaligus anaknya, Fauzi hanya tidak ingin keadaan Salwa yang melupakan segalanya mempengaruhi psiskis Mikayla. Fauzi tidak ingin, ada waktu Salwa akan bertanya pada Mikayla tentang siapa Mikayla. Jelas Mikayla akan terluka jika dirinya dipertanyakan oleh Ibunya sendiri.


Semakin hari, keadaan Salwa semakin buruk. Meski Salwa terlihat baik-baik saja dari segi fisik, namun sesuatu yang menjadi penghapus di otaknya semakin hari semakin ganas menelan ingatannya, membuat Salwa sering kali menatap dengan pandangan kosong, dan bingung menggerakkan tubuhnya.


Keadaan yang semakin buruk, tidak membuat Fauzi sang suami menyerah. Bahkan semakin hari, Fauzi semakin menyayangi istrinya dengan berusaha terus membantu Salwa agar tetap bisa menjalani kesehariannya seperti orang normal pada umumnya, meski itu bukan hal yang mudah.


Sekarang, bukan hanya ingatan Salwa mengenai kehidupannya yang perlahan ia lupakan, Ibu dari satu anak itu bahkan mulai kesulitan melakukan hal wajar pada umumnya.


Sesekali Salwa berdiri mematung di dapur dalam waktu yang cukup lama. Dia yang awalnya kehausan dan berniat mengambil segelas air, ketika tiba didapur ia mulai diterpa kebingungan. Bukan ia lupa bahwa dia tengah haus dan butuh minum, tapi dia tidak tahu, harus melakukan apa dan bagaimana untuk bisa mengambil air.


Hal yang demikian membuat Fauzi harus lebih ekstra lagi dalam mengurusi istrinya. Bukan hanya ingatan istrinya yang setiap hari harus Fauzi pacu, gerak dan fungsi benda sekitar juga harus Fauzi jelaskan setiap harinya agar istrinya bisa bertahan lebih lama.


Tidak jarang Fauzi dibuat kelelahan dengan keadaan istrinya saat ini. Tingkat pelupa dialami Salwa semakin menjadi-jadi, membuat ia sering kali melakukan sesuatu dan lupa mengakhirinya.


Pernah sekali, dimana Salwa menyalakan keran air dan lupa menutupnya. Fauzi yang baru saja selesai membersihkan rumah bagian depan, harus bekerja lagi membersihkan bagian belakang dikarenakan air yang sudah mulai menggenang disana.


Ya, Fauzi kini telah berformulasi menjadi laki-laki super dengan tenaga yang harus selalu siap untuk melakukan apapun jika dibutuhkan. Dia adalah Anpaman untuk istri yang sangat dicintainya.


.


.


.


Pagi telah datang setelah malam yang hitam berlalu. Fauzi terjaga, berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum memulai aktifitasnya yang jelas akan berat hari ini.


Tangan mungil nan mulus milik istrinya itu masih bertengger di pinggangnya, membuat Fauzi enggan beranjak karena takut istrinya akan terganggu jika ia memindahkan tangannya.


Fauzi memandang lekat wajah istrinya dengan penuh cinta. Wanita yang tengah tertidur nyenyak itu, seolah sedang baik-baik saja jika terlihat seperti sekarang. Wajah tanpa make up namun tetap terlihat cantik itu, membuat Fauzi tidak bosan-bosannya memandang wajah istrinya.


Berlalu sekitar 15 menit, wajah tenang yang sedari tadi menjadi tontonan Fauzi, perlahan sadar dari tidurnya.


“Selamat pagi sayang..” Sapa Fauzi, dengan tidak lupa memberikan kecupan hangat di kening istrinya.


Salwa yang baru saja terbangun, hanya menatap Fauzi tanpa memberikan respon ataupun balasan ucapan selamat pagi pada suaminya.


“Siapa aku??” Tanya Fauzi, yang menyadari bahwa istrinya itu terbangun dalam keadaan lupa akan diri dan statusnya.


Salwa masih saja terdiam, hingga akhirnya perlahan tersenyum dan menjawab pertanyaan Fauzi.


“Fauzi..” Jawab Salwa dengan senyumnya yang manis. Fauzi balas tersenyum.


Setiap bangun pagi, Fauzi akan menyapa istrinya sebagai sambutan diawal hari untuk wanita yang dicintainya itu. Fauzi juga tak lupa selalu bertanya pada Salwa akan siapa dirinya dan apa statusnya bagi Salwa. Hal yang dia lakukan secara rutin setiap paginya itu bertujuan agar istri tercintanya bisa melatih ingatannya dan tidak akan melupakan dirinya. Meskipun itu hanya berlangsung sejenak, karena setiap harinya sesekali Salwa tetap melupakan suaminya setiap kali suaminya tidak berada dalam jangkauan pandangannya.


Fauzi beranjak dan duduk, diikuti oleh Salwa.


“Sekali lagi sayang. Siapa aku?” Tanya Fauzi sambil menggenggam lembut tangan istrinya.


“Fauzi..” Jawab Salwa tersenyum.


“Kamu siapa?”


“Aku Salwa..”


“Fauzi apanya Salwa?”


“Ozi?? Ozi pacarnya Salwa..” Jawab Salwa dengan mata berbinar-binar memperlihatkan dia yang bahagia mengakui Fauzi sebagai kekasihnya.


Ya, tidak sekali dua kali Salwa salah mengingat. Dalam sebulan, mungkin sekitar sepuluh kali ia lupa bahwa Fauzi sekarang adalah suaminya. Ingatannya sering bermain pada waktu dimana mereka masih berstatuskan sebagai sepasang kekasih dalam ikatan pacaran.


Fauzi tersenyum. “Bukan sayang, aku bukan pacar kamu lagi. Aku sekarang suamimu” Jelas Fauzi berusaha memberi penjelasan pada istri kesayangannya itu.


Salwa menatap lekat, jelas bagi Fauzi dia melihat tatapan Salwa yang kebingungan. Meski terkadang Salwa bisa menerima langsung fakta kalau mereka saat ini adalah sepasang suami istri saat Fauzi meluruskan jawabannya, namun sesekali juga Salwa masih butuh penjelasan ekstra untuk meyakinkan bahwa mereka adalah sepasang suami istri sekarang.


“Suami?” Tanya Salwa kebingungan.


“Iya sayang, sekarang aku adalah suamimu..”

__ADS_1


Fauzi bergerak sedikit, meraih sebuah album yang selalu ia letakkan diatas meja samping tempat tidurnya. Album yang dulunya diletakkan rapi dalam lemari, kini di simpan lebih dekat, agar tidak lagi sulit jika ia harus menjelaskan keadaan pada Salwa melalui bukti berupa foto.


Perlahan Fauzi mulai membuka album itu dan memperlihatkan beberapa foto pada Salwa. Sebuah album yang kini dipenuhi tempelan sticky note yang berisi beberapa penjelasan dan momen-momen tertentu.


“Lihat sayang, ini adalah aku, dan ini adalah kamu” Kata Fauzi sembari menunjuk foto pengantin mereka. “Kita sudah menikah, dan ini adalah foto pernikahan kita”


“Kita sudah menikah??”


Fauzi mengangguk sembari tersenyum.


“Ah iya, kita sudah menikah” Salwa tersenyum lebar saat ingatannya tentang pernikahan mereka telah kembali.


“Jadi, aku siapa?”


“Fauzi..”


“Apanya kamu??”


“Suamiku..” Jawab Salwa dan berhambur memeluk Fauzi. “Aku cinta kamu”


“Aku juga cinta kamu, sayang..” Fauzi balas memeluk istrinya dengan erat.


Meski setiap pagi Fauzi bertanya perihal dirinya dan apa hubungannya dengan Salwa, namun tetap saja ada waktu dimana Salwa melupakan suaminya itu.


“Kamu masih mau istirahat atau mau keluar juga? Aku harus buat sarapan untuk kita”


"Aku mau ikut keluar"


“Yasudah.. Ayo..”


Fauzi beranjak dari kamarnya dengan istrinya yang bergelut manja di lengannya. Langkah beriringan dengan senyuman membuat mereka merasakan kebahagiaan, meski entah berapa lama dari saat itu, Fauzi harus kembali menjelaskan dan mengingatkan akan siapa dirinya pada istri kesayangannya.


Belum sampai di dapur, langkah Salwa terhenti tatkala pandangannya mendapati beberapa tempelan sticky note di dinding rumahnya.


Saat ini, dinding rumah mereka telah disulap dengan ratusan sticky note yang menempel di dinding rumah mereka. Fauzi memenuhi rumahnya dengan sticky note yang berisi tulisan tangannya dengan penjelasan-penjelasan umum. Beberapa benda pun dipenuhi sticky note, yang menjelaskan nama benda dan kegunaan benda itu.


Beberapa hal yang tertulis pada sticky note yang menempel di dinding rumah mereka adalah penjelasan keseharian dan segala hal yang berhubungan dengan mereka. Tidak hanya sticky note, beberapa foto juga Fauzi tempelkan di dinding rumah mereka agar Salwa bisa tetap melihat dan mengingat akan orang-orang penting dalam hidupnya dan hubungan apa yang mereka miliki.


Hal penting lainnya yang tak lupa Fauzi tulis, adalah alamat rumah mereka dan nomor telfon. Meski Fauzi bisa mengontrol istrinya, namun ia tetap waspada jika kiranya ia kecolongan Salwa yang keluar rumah tanpa sepengetahuannya.


“Kamu mau liat-liat itu?”


Salwa menoleh menatap Fauzi, kemudian tersenyum dan mengangguk.


“Yasudah, kamu baca-baca saja beberapa hal disana, sementara aku masak dulu”


“Iya..” Jawab Salwa dengan anggukannya.


Fauzi akhirnya meneruskan langkahnya tanpa istrinya yang sebelumnya ingin ikut bersamanya. Salwa yang sudah terpikat oleh tempelan sticky note di dinding rumahnya, memilih untuk berjalan dan menghampiri kumpulan sticky note itu. Salwa seolah baru pertama kali melihat keadaan rumahnya yang seperti itu, padahal sticky note itu sudah menempel dari saat Fauzi memutuskan untuk berhenti bekerja.


Salwa memperhatikan satu persatu dan membaca sticky note itu. Beberapa tulisan berhasil membawa ingatannya pada kejadian-kejadian dimasa lalu dan itu membuatnya bahagia hingga dia tersenyum lebar.


Cukup lama Salwa berdiri dan membaca semua tulisan yang tertera disana. Ia sama sekali tidak merasakan lelah pada kakinya meski sudah berdiri sekitar setengah jam. Rasa ketertarikannya pada tulisan-tulisan di sticky note membuatnya tidak merasakan lelah sama sekali.


Salwa beralih dari kumpulan sticky note tentang penjelasan keseharian dan waktu-waktu yang sudah ia lalui, menuju beberapa foto yang tertempel di dinding dengan masih dipenuhi sticky note penjelasan dari foto-foto itu.


Salwa diam termenung, tatkala ia mendapati foto Mikayla saat bayi dan foto keluarga mereka yang terdiri atas dirinya, Fauzi dan juga Mikayla. Ingatan yang dia miliki saat ini tidak menyentuh keberadaan sosok Mikayla, ia tidak mengingat bahwa sekarang dia adalah seorang Ibu.


Salwa terus memandangi foto itu dengan kebingungan, meski ia sudah membaca keterangan pada foto itu, tapi tetap saja ia tidak bisa mengingat sosok Mikayla, putri mungil nan cantik yang kini tidak tinggal bersama mereka.


“Ada apa sayang?” tanya Fauzi yang melihat Salwa memandangi foto Mikayla dengan kebingungan.


Fauzi berjalan menghampiri istrinya, dan memberikan pelukan dari belakang. Fauzi menyandarkan dagunya dengan manja dibahu Salwa yang lebih pendek darinya.


“Di-diaa??” Salwa menunjuk foto Mikayla.


“Dia Mikayla, anak kita”

__ADS_1


“Anak kita??”


“Iya sayang, dia anak kita. Dia cantik seperti kamu..”


“Mikayla? Anak kita??”


Ingatan Salwa masih saja belum menyentuh akan sosok Mikayla. Ia masih terlihat ragu-ragu dengan penjelasan Fauzi.


Fauzi menggerakkan perlahan tubuh Salwa kearah kanan, dimana disana tertempel beberapa foto Mikayla bersama Salwa juga dirinya, saat Mikayla masih bayi hingga batita.


“Lihat, ini adalah kita saat liburan. Dan ini adalah saat kita mengantar Mikayla pertama kali masuk sekolah” Kata Fauzi sembari menunjuk foto yang dia maksud.


Salwa memandangi foto itu cukup lama, berusaha membangkitkan kembali ingatannya yang sedang terkubur.


“Ah iya.. Mikayla, putri kesayangan Mami...” Usahanya mengingat Mikayla dibantu oleh Fauzi, akhirnya bisa ia temukan. “Dimana Mikayla sekarang, apa dia masih tidur dikamarnya??”


“Gak sayang, Mikayla hari ini nginep dirumah neneknya..”


“Kapan pulang??”


“Emhh.. Mungkin besok. Tunggu saja sayang..”


Fauzi tahu, Mikayla tidak akan kembali dalam waktu dekat, namun jika berterus terang pada Salwa, istrinya itu akan ngotot dan meminta untuk segera menjemput Mikayla. Sedang tidak bisa dipastikan, bahwa ia masih mengingat Mikayla setelah satu jam dari saat ini.


“Kita sarapan dulu yuk.. Aku sudah masakin kamu makanan yang enak”


Salwa mengangguk, dan mengikuti langkah Fauzi yang membawanya menuju meja makan.


Sama seperti biasanya, hari ini pun sebelum mereka menyantap makanannya, Fauzi akan memberikan penjelasan kecil tentang apa yang sedang mereka santap saat ini. Dari nama makanan, jenis masakannya hingga bahan dan bumbu yang diberikan. Fauzi tahu, kalau istrinya itu tidak akan memasak saat ini, bahkan jika Salwa memaksa untuk memasak, Fauzi tetap akan menghalanginya. Namun Fauzi tetap menjelaskan semuanya, dia ingin istrinya itu bisa tahu bahwa makanan seperti ini, seperti inilah rasanya.


Keduanya menikmati sarapan mereka dengan baik, diselingi obrolan dan beberapa penjelasan yang tidak bosan-bosannya Fauzi berikan pada istrinya. Dia ingin, wanita kesayangannya itu bisa tetap mengingat beberapa hal keseharian meski sedikit dan walau hanya sejenak.


Fauzi merapikan meja saat sarapan bersama mereka selesai. Ia begitu telaten mengerjakan pekerjaan rumah dan hal-hal lainnya yang tidak lagi bisa istrinya lakukan.


“Sayang, aku harus bersih-bersih, kamu mau ngapain?” Tanya Fauzi. Sekiranya ia tahu akan apa yang istrinya inginkan, jadi dia bisa menuntun Salwa melakukan hal yang di inginkan istrinya itu, sebelum ia melakukan aktifitas bersih-bersih rumah. Fauzi tidak ingin meninggalkan istrinya dalam keadaan tidak melakukan apa-apa, karena itu bisa membuat istri kesayangannya merasa bosan.


“Aku?? Aku gak tahu mau ngapain..”


“Kamu mau nonton??”


“Nonton?”


“Iya, biar kamu gak bosan selagi nungguin aku bersih-bersih rumah”


Salwa mengangguk pelan. “Iya, aku mau nonton saja”


Fauzi membawa istrinya kedepan Tv, menyalakan Tv dan tak lupa memutarkan siaran yang dulunya sering Salwa nonton, sekiranya itu bisa membawa ingatannya, meskipun sedikit. Fauzi juga tak lupa menyiapkan cemilan kecil, agar Ibu dari anaknya itu bisa lebih menikmati tontonannya dengan lebih nyaman.


Fauzi berlalu meninggalkan Salwa yang mulai fokus pada layar Tv. Ia harus membersihkan rumah sebelum mengajak istrinya mandi bersama nanti. Meski sangat banyak pekerjaan yang harus Fauzi lakukan, namun ia tidak lupa bahwa kebersihan itu penting.


Fauzi kembali bergegas menghampiri istrinya di ruang tengah saat ia selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Namun Salwa yang sebelumnya duduk manis di sofa menikmati layanan Tv, kini sudah tidak ada ditempat.


“Sayang.. Kamu dimana?” Panggil Fauzi.


Setiap kali Salwa tidak berada dalam pandangannya, Fauzi akan merasa khawatir. Dia sadar akan keadaan istrinya yang sering melakukan tindakan impulsif, sehingga sejenak saja ia tidak melihat Salwa ditempat yang sebelumnya ia tinggalkan, rasa khawatir akan menghampirinya.


Fauzi berjalan mencari keberadaan istrinya, dari di kamar, ruang tamu hingga dapur.


“Astagfirullah.. Sayang jangan lakukan ituu!!!!”


.


.


Rumah mereka yang di penuhi Sticky note


__ADS_1




__ADS_2