Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 26


__ADS_3

Dengan sangat berat Fauzi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Salwa, jelas saja Salwa menolak namun sebagaiamanapun Salwa menolak untuk mengakhiri hubungannya, keputusan Fauzi sudah bulat untuk tetap mengakhirinya.


Setelah mengantar Salwa pulang kemarin dan mengatakan untuk mengakhiri hubungan mereka, Fauzi kembali kerumahnya dalam keadaannya yang sangat berantakan. Ibunya sangat khawatir melihat putranya yang kembali dalam keadaan yang buruk meski begitu Ibunya tidak banyak bertanya karena dia tahu putranya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.


Fauzi kembali dan berusaha untuk fokus pada perkuliahannya, meski begitu tetap saja perasaan sakit dihatinya tidak bisa dia lupakan begitu saja membuatnya murung. Faiq yang melihat keadaan Fauzi saat ini hanya terdiam, Faiq sendiri tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana untuk membuat Fauzi kembali seperti sebelumnya karena penyebab Fauzi yang menjadi murung dan dalam kondisi yang tidak baik seperti saat ini saja Faiq tidak tahu.


.


.


.


.


Fauzi bersandar di kursi setelah dosen yang memberikan mata kuliah hari ini keluar setelah jam mengajarnya selesai.


"Lu gak balik??" Tegur Faiq sambil menepuk pundak Fauzi.


Fauzi menggeleng. "Lu balik diluan aja, gue ntar.."


"Ini mau hujan, Lu juga mau ngapain lagi dikampus??"


"Gue mau ke perpus dulu, nyelesaiin tugas.. Kalau mau hujan Lu pake mobil gue aja, bisa kehujanan Lu kalau balik naik motor.."


"La terus ntar Lu baliknya gimana??"


"Tinggal telfon grab.."


"Motor gue???"


"Ya udah Lu balik naik motor aja, gak jadi nawarin mobil gue..."


"Ck haiss.. Lu beneran gak balik??"


Fauzi menggeleng.

__ADS_1


"Lu kenapa sih? Sedari tadi gue lihat murung terus, udah kek manusia yang setengah nyawanya hilang. Lu ada masalah??" Tanya Faiq kahawatir.


"Gue gak papa, cuman kecapean doang.."


"Mana adaa..."


"Udah, udah.. Lu balik sana.." Kata Fauzi memotong perkataan Faiq sambil mendorong Faiq menjauh.


"Lu.."


"Bawel.. sana balik, gue mau ke perpus.." Kata Fauzi berjalan meninggalkan Faiq.


"Woyy Zi..."


Fauzi hanya melambaikan tangannya.


Awan hitam mulai menutupi sebagian langit, sepertinya hujan akan turun deras malam ini. Fauzi duduk tersungkur di salah satu kursi perpustakaan dengan buku-buku yang masih tersusun rapi di meja depannya tanpa disentuh-sentuh. Hanya ada segelintir orang yang masih duduk mengerjakan tugas diperpustakaan, karena hari yang semakin sore dan hujan yang mulai turun perlahan satu persatu orang-orang dalam perpustakaan keluar. Tinggal sekitar lima atau mungkin enam orang saja yang tinggal.


Fauzi hanya menatap kosong buku-buku yang didepannya. Tubuhnya bisa saja ada di perpustakaan sekarang tapi entah pikirannya berkelana kemana. Hujan diluar makin deras, perasaan Fauzi makin tidak jelas dan pikirannya mulai kosong.


"Ah?? I iya... Makasih kak.." Jawab Fauzi kemudian meraih ponselnya. Entah apa yang dipikirkannya sedari tadi sampai ponsel yang bergetar didepannya tidak dia rasa.


"Kenapa??" Tanya Fauzi saat menjawab panggilan masuk dari Faiq.


"Lu dimana??"


"Masih di perpus, kenapa??"


"Ini ada orang dirumah nyariin Lu.."


"Siapa??"


"Cewek.. Gue gak tahu, gak ngeliat mukanya jelas soalnya dia gak mau masuk rumah katanya nungguin Lu.."


"Nungguin gue?? Kenapa??"

__ADS_1


"Ya mana gue tahu.. Lu mendingan cepat pulang deh.. Itu orangnya udah basah-basahan diluar.."


Fauzi kebingungan, dia tidak memiliki banyak teman perempuan disini, hanya beberapa teman kampusnya dan lagi jika itu teman kampusnya Faiq otomatis mengenalinya.


"Ck, Lu apa gak nanya namanya siapa.."


"Gue gak enak nanya namanya.. Tapi kayak ini Salwa deh.."


Degg.. Fauzi sedikit terkejut mendengar Faiq menyebut nama Salwa. "Ck gak mungkin, ngapain Salwa disini.." Gumam Fauzi dalam hati. "Ck Lu ada-ada aja, gak mungkin Salwa disini.."


"Tapi kayaknya mukanya agak mirip sama foto cewek yang Lu pajang di kamar Lu.." Jelas Faiq sedikit tidak yakin. "Ah kayaknya ini beneran Salwa deh Zi.. cep.." Fauzi mematikan telfonnya. "Mprett nih bocahh.." Dengus Faiq kesal.


Fauzi dengan cepat turun dan menuju parkiran. Faiq sering sekali melihat foto Salwa dikamarnya karena sesekali Fauzi membanggakan Salwa didepan Faiq sehingga bukan tidak mungkin Faiq mengenali Salwa,


"Kalau itu benar Salwa? Bagaimana bisa dia sampai disini?? Ngapain dia kesini dan lagi.." Fauzi mendongkak melihat hujan yang sangat deras.. "Haisss sudah berapa lama dia nungguin aku dan sudah berapa lama dia kehujanan.." Kata Fauzi dengan cemas. Rasa kesal dan sakit hatinya yang kemarin meledak-meledak yang mulai surut dan berubah menjadi perasaan galau satu harian seketika hilang dan berubah menjadi perasaan khawatir setelah tahu Salwa sedang menunggunya sekarang dirumah dalam keadaan basah kuyup


Mobil Fauzi melaju dengan kencang, Fauzi ingin cepat sampai untuk memastikan apakah itu benar Salwa dan jika benar itu Salwa dia tidak akan bisa mengendalikan perasaan khawatirnya mengingat perempuan yang dicintainya itu sedang menunggunya dalam keadaan tidak baik sekarang.


Semarah dan sekecewa apapun Fauzi saat ini, itu tidak bisa memungkiri perasaan cintanya pada Salwa dan perasaan khawatirnya. Yah, perasaan cintanya masih mendominan dihatinya dan menyingkirkan semua perasaan sakitnya pasca kemarin.


Fauzi tiba dirumahnya dan benar yang menunggunya saat ini adalah Salwa. "Ck, anak bodoh ini ngapain nyusul aku kesini dan lagi ngapain dia hujan-hujanan diluarr..." Gerutu Fauzi khawatir.


"Ozi..." Panggil Salwa saat Fauzi menghampirinya, tapi panggilan itu nyaris tidak terdengar ditelinga Fauzi karena pikirannya yang dipenuhi rasa khawatir melihat salwa yang kebasahan. Fauzi dengan cepat mengambil sebuah selimut dan menyelimuti Salwa yang menggigil kedinginan.


"Ayo masuk, ngapain kamu diluar??" Kata Fauzi menuntun Salwa berjalan masuk.


Fauzi tidak bisa berkata apa-apa. Sejenak perasaan sakit hatinya hilang saat perasaannya dipenuhi dengan rasa khawatir saat mengingat Salwa yang kehujanan, tapi setelah melihat Salwa didepannya saat ini, bayangan salwa yang dipeluk Farhan kembali bermain diingatannya membuat rasa sakit kembali merasuki perasaannya. Meski begitu Fauzi tetap berusaha menjaga Salwa yang sekarang duduk didepannya dalam keadaan basah kuyup.


Fauzi memberikan kehangatan dengan membasuh minyak kayu putih di kaki salwa lalu memasangkannya kaos kaki. Tak satu katapun yang terucap dari bibir Fauzi, sejenak perasaannya kembali berkecamuk setelah mengingat semua apa yang Salwa telah lakukan terhadapnya.


Fauzi meminta Faiq untuk membelikan Salwa sepasang baju agar salwa bisa mengganti pakaiannya yang basah, memasak untuk Salwa bahkan menyuapi Salwa. Fauzi menyiapkan semua kebutuhan salwa selagi Salwa tinggal malam ini.


"Aku akan mengantarmu pulang besok, jadi malam ini tidur disini dulu.." kata Fauzi tanpa menatap Salwa.


"Gak, aku gak mau pulang.. Ozi.. Maafkan aku.."

__ADS_1


Salwa kembali berusaha meminta maaf pada Fauzi meski Fauzi terus-terusan menolak. Salwa sampai merengek-rengek untuk membuat Fauzi tetap tinggal disisinya, semua hal dilakukan Salwa agar hubungannya dengan Fauzi bisa membaik. Fauzi kembali melampiaskan kekecewaannya dengan mengungkapkan semua rasa sakit dihatinya, malam menjadi serasa panjang.


__ADS_2