Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Tidak Profesional


__ADS_3

Aku berkali-kali latihan, mengulang kembali gerakan-gerakan tariku. Ya matahari memang masih belum terlihat saat ini, tapi aku mencoba bangun lebih awal untuk mempermantap gerakanku. Aku tidak ingin ada kesalahan saat tampil nanti.


Hari ini adalah hari dimana aku dan teman-temanku akan berjuang diatas panggung untuk meraih juara Lomba Tari Tradisional antar Sekolah Menengah Tingkat Atas. Kami sudah latihan cukup lama, mempersiapkan segala perlengkapan termasuk kostum dan tata rias untuk perlombaan hari ini. Kami selalu berharap, semoga usaha kami dua bulan terakhir yang dengan tekun latihan bisa menghasilkan hasil yang baik. Ada pepatah mengatakan, 'Usaha tidak akan mengkhianati Hasil' Kami berharap pepatah itu juga berlaku buat kami.


Aku bergegas turun ketika teman-temanku sudah menjemput didepan rumah.


"Aku berangkat.."  Pesan singkat yang kukirimkan ke Fauzi.


Selang 8 menit tapi belum juga ada balasan dari Fauzi.


"Kamu jadi datang kan??" Kukirimkan ulang pesan singkat.


Namun dengan hasil yang sama, tidak ada jawaban.


Aku tiba ditempat perlombaan. Teman-teman yang lain sibuk dengan make up dan busana mereka. Yah, selain gerakan tubuh, tentunya Tata rias dan Kostum juga akan sangat berpengaruh pada penilaian nanti.


Aku kembali mengecek ponselku, berharap ada balasan pesan dari Fauzi. Tapi sama sekali tidak ada, hanya ada satu pesan singkat masuk dari Farhan. "Semangat.. jangan grogi" Isi pesan dari Farhan.


Penampilan pertama sudah ditampilkan dari sekolah lain dan kini yang tampil adalah penampilan urutan ke dua. Setelah ini adalah penampilan dari grup kami, tapi aku kehilangan konsentrasiku. Sampai sekarang belum ada kabar dari Fauzi, berapa kali aku menelfonnya tapi tidak ada jawaban. Aku sempat berjalan kebagian lokasi penonton sekedar mencari dengan berharap Fauzi ada diantara mereka, tapi pada kenyataannya Fauzi benar tidak ada.


Ponselku bergetar, dengan cepat aku membuka pesan. Satu pesan masuk dari Fauzi.


Tiba pada penampilan dari kami. Konsentrasiku sedikit terganggu, aku berusaha dengan keras untuk kembali fokus, berusaha menyembunyikan ekspresiku dengan selalu tersenyum. Aku tidak ingin ekspresi sakit ini akan merusak penampilanku dan akan berdampak pada teman-temanku juga. Seperti ada yang hilang, seperti ada lubang besar dihatiku, menari tanpa semangat tanpa energi. Ah, aku hanya bagus saat latihan, tidak pada saat penampilanku saat ini. Aku benar-benar buruk, aku benar-benar kacau.


Penampilan kami selesai, tidak ada kesalahan. Hanya saja beberapa komentar mengatakan bahwa mereka tidak menemukan feel pada centernya, ya itu aku. Aku sangat menyesali karena tidak bisa mengontrol perasaanku, aku sangat menyesal karena tidak bisa profesional dengan mengabaikan sejenak perasaanku pada saat tampil tadi.


"Heeyy.. Tidak apa, hanya sebagian orang saja yang berbisik tentang itu, toh penilaiannya belum keluar" Kata temanku mencoba menghiburku.


Aku hanya tersenyum lesuh.


"Sudah lah Salwa, jangan dibawa kepikiran.. Kalaupun nanti tidak menang itu bukan masalah, kalah dalam perlombaan itu hal wajar.. Toh, kita sudah berusaha menampilkan yang terbaik, kalau benar kita kalah itu bukan karena kita menampilkan yang buruk, tapi karena memang mereka yang menampilkannya luarbiasa" Mereka semua berusaha menghiburku.


"Tapi karena aku, aku yang jadi center harusnya bisa memberikan kesan yang kuat, tapi malah..." Aku benar-benar merasa bersalah.


"Udah gak papa, kita semua gak masalah kok.."


"Ya kan.. lagian yang nyeletuk tadi bukan jurinya kan, cuman beberapa penonton saja.."


Mereka benar-benar teman-teman yang baik.


Kurang lebih dua jam, pengunguman pemenang lomba diumumkan. Seperti yang aku khawatirkan, kami tidak masuk 3 besar. Aku sangat kecewa, aku merasa seolah membuat kerja keras teman-temanku menjadi sia-sia. Aku duduk tersungkur dikursi dan mulai menangis.


"Salwa, sudahlah.. tidak apa, toh tahun depan kita bisa ikut lomba ini lagi, juga bukan cuman ini saja kan lomba yang bisa kita ikuti.."

__ADS_1


"Iya Salwa, gak usah terlalu dipikirkan.."


"Hikss... hikss... tapi karena aku, karena aku sampai kita tidak bisa menang hari ini, karena akuu...." Kataku terisak-isak


"Gak ada yang nyalahin kamu Salwa, kita semua tidak masalah dengan ini, kita sudah berjuang dan itu sudah cukup.."


"Salwa, kemengan bukan hal yang kita kejar.. Bisa tampil dengan baik, bisa memukau dan bisa membuat para penonton bertepuk tangan itu sudah cukup. Kita menari bukan untuk kemenangan, tapi untuk rasa kepuasan dan kebahagiaan kita berdiri dan memperlihatkannya di atas panggung.."


Mereka bergantian menyemangatiku. Berusaha membuatku tenang dan membuatku berhenti menyalahkan diri sendiri.


"Udah ya.. sekarang kamu tenang dulu.." Katanya sambil menyodorkan segelas air kepadaku.


"Hem.. gimana kalau kita makan-makan.."


Ah, mereka masih terlihat gembira meskipun kita tidak meraih kemenangan.


"Woaahh.. Ide bagus tu.. Oke.. Dimana?"


"Cafe samping Maleo Mall aja, katanya disana ada menu baru, cita rasa masakan disana juga unik, lumayan juga kan habis makan bisa belanja dulu baru pulang.. hahaha"


"Wahh.. Idemu cemerlang sekali nak, Oke goo..."


"Weii... Hapus makeup mu dulu maemunah, jangan malu-maluin jalan di Mall dengan mukamu yang kayak ondel-ondel itu.."


"Ayoo ke toilet.." Panggilnya sambil menarikku.


Aku menggeleng..


"Kenapa?" Tanyanya bingung.


"Kalian duluan aja, aku butuh nenangin diri dulu sebentar sekalian ngeredahin mata bengkak ini.." Jawabku.


"Tapi janji ntar nyusul yaa..."


"Iya.. aku janji.."


"Oke, ntar aku share lokasinya, aku tungguin disana.."


Aku hanya mengangguk..


"Salwa.." Seperti seorang anak laki-laki memanggilku, aku tidak bisa mengenali suaranya karena telingaku yang sedikit berdengung selepas menangis.


"Loh kamu kenapa??" Tanyanya khawatir.

__ADS_1


Aku menggeleng...


"Kalian berangkat duluan saja.." Kataku pada teman-teman.


"Kamu yakin?" Tanyanya memastikan.


Aku hanya mengangguk..


"Emhh.. yaudah kami duluan yaa.. Kak Farhan, tolong bantu nenangin Salwa ya.."


Farhan hanya mengangguk meskipun masih sedikit bingung dengan situasi saat ini.


Teman-temanku berlalu pergi, kurasa mereka lebih baik jalan duluan daripada menungguku yang masih berusaha keras memperbaiki perasaanku.


"Kamu kenapa?" Tanya Farhan yang masih tidak mengerti dengan situasi barusan.


Aku hanya menggeleng.


"Heem... kamu menggeleng, tapi kenyataannya mata kamu sampai bengkak kayak gitu.."


Aku hanya tersenyum kecut.


"Yaudah kalau belum bisa cerita.. Nih minum dulu.." Kata Farhan sambil menyodorkan minuman dingin.


"Makasih kak.." Jawabku.


"Kamu kesal karena kalah?"


Aku menggeleng..


"Lalu?"


Aku hanya terdiam.


"Kalah menang itu soal biasa.. Bukan hal yang harus ditangisi seperti ini. Namanya juga perlombaan, gak mungkin kan mau menang semua..." Kata Farhan terus mengoceh.


Aku terdiam saja mendengarnya terus berbicara panjang lebar, aku tahu dia bermaksud menenangkanku.


"Oh iya.. Fauzi kemana? kok gak keliatan? " Katanya sambil melempar pandangannya ketiap sudut ruangan.


Perlahan aku kembali menangis, mendengar pertanyaan Farhan itu seolah mengingatkan penyebab aku menjadi seperti saat ini.


"Loh.. loh Salwaa..." Farhan jadi semakin bingung.

__ADS_1


Aku benar-benar tidak bisa mengatasi perasaanku, mengingat Fauzi tidak datang hari ini benar-benar membuatku menjadi sakit.


__ADS_2