
~Fauzi~
~Salwa~
Pagi ini, Salwa akhirnya mengetahui penyebab dari apa yang membuat suaminya selalu ingin makan buah-buahan akhir-akhir ini. Awalnya ia ragu, namun setelah jadwal datang bulannya telat satu minggu, Salwa akhirnya periksa, dan alhasil ia tengah mengandung anak keduanya.
Fauzi begitu nyaman bersandar di sofa dengan terus mengelus-ngelus perut Salwa.
“Kok bisa ya, kamu yang hamil tapi aku yang kepengen makan terus?” Tanya Fauzi dengan wajah berseri-seri mengetahui buah hatinya kini berada dalam rahim istrinya.
“Aku dengar emang ada yang kayak gitu. Bukan ibu hamilnya yang ngidam, tapi suaminya..”
“Berarti aku harus makan semua yang mau aku makan, karena nafsu makanku ini berasal dari dalam sini” Kata Fauzi terus mengelus perut Salwa. Salwa yang tersenyum melihat kelakuan suaminya.
“Papi.. Papi kenapa pegang perut Mami terus? Mami sakit perut?” Tanya Mikayla dengan mata besarnya yang terlihat kebingungan.
“Gak sayang, sekarang di dalam perut Mami ada dede kecilnya”
Mikayla terdiam, menatap Ayahnya cukup lama.
“Papi, bohongin Mikayla ya.. Gimana bisa ada dede bayi di perut Mami”
“Papi gak bohong sayang..”
“Siapa yang masukin dede bayinya di perut Mami? Nanti dede bayinya nangis karena sesek dalam perut Mami”
“Tidak sayang, dede bayinya masih kecil banget, jadi dia gak merasa sesek dalam perut Mami..” Salwa berusaha menjelaskan sesuatu yang belum seharusnya Mikayla ketahui.
“Mami.. Berarti nanti Mikayla kayak kakak Fariz ya? Ade dede kecil di rumahnya”
“Iya sayang, nanti seperti itu. Kamu suka gak sama dede kecil?”
“Suka.. Nanti Mikayla ajakin main. Mikayla baik kok, nanti Mikayla pinjamin Barbie”
“Anak baik..”
Salwa mengecup penuh cinta putri kecilnya yang kini beranjak memasuki usia enam tahun.
“Sayang.. Kira-kira dia laki-laki atau perempuan?”
“Ya gak tahu lah sayang, kan masih kecil banget. Ini hitungannya baru masuk satu bulan”
“Kalau kamu maunya apa?”
“Aku? Emh.. sembarang aja, yang penting dia sehat”
“Ya aku juga gitu sayang, tapi kan pastinya punya keinginan sendiri. Jadi kamu mau cewek atau cowok?”
“Aku gak mau bilang, aku gak mau anak kita kecewa nanti. Takutnya aku bilang kepengen cewek, tapi yang di dalam cowok. Kan kasian anak kita sayang, padahal kan cewek atau cowok tetap aja aku sayang”
“Ah iya ya.. Maafin Papi ya Nak..” Kata Fauzi mengecup pelan perut istrinya.
Fauzi dan Salwa kini tengah menantikan buah hati mereka yang akan lahir delapan bulan ke depan.
~Farhan~
~Nina~
__ADS_1
“Fariz.. Adiknya jangan dicubit-cubit sayang, kasian pipi adiknya udah merah tuh” Tegur Nina yang melihat Fariz terus-terus menekan pipi adiknya karena gemas.
“Fariz gemes bunda, pipinya dede Naura juga kenyel kayak squishy, jadi Fariz suka”
“Iya sayang, tapi gak boleh seperti itu, kan kasian dede Naura. Nanti dia nangis loh kalau pipinya sakit”
Fariz yang berusia tujuh tahun itu, akhirnya menurut dengan apa yang Ibunya katakan.
“Bunda..”
“Iya Sayang..”
“Nanti, kalau dede Naura besar, Bunda tetap sayang sama Fariz kan”
Nina terkejut mendengar pertanyaan dari putranya. Entah apa yang menyebabkan putranya berpikir seperti itu.
Nina beranjak dari duduknya, mendekati Fariz yang berada di seberang Naura, putri kecilnya yang tengah tertidur lelap.
“Sayang.. Bunda akan tetap sayang sama kamu, apapun yang terjadi. Bunda Sayang sama kakak Fariz, sama seperti Bunda sayang sama dede Naura. Bunda sayang sama kalian berdua, nak” Nina meneteskan airmata, ia tak sanggup mendengar pertanyaan putranya yang terlihat khawatir.
“Sayang.. Kamu kenapa?” Tanya Farhan berlari kecil menghampiri istrinya yang tengah menangis memeluk putra sulungnya.
Tidak ada jawaban dari Nina, ia terus menangis dengan semakin mempererat pelukannya pada Fariz.
“Fariz, bunda kenapa?” Tidak mendapat jawaban dari Nina, Farhan balik bertanya pada putra sulungnya.
“Gak tahu Ayah, bunda bilang kalau bunda sayang sama Fariz dan dede Naura”
Perlahan Farhan mulai menyadari emosi yang tengah menghampiri perasaan istrinya sampai membuatnya menangis tersedu-sedu.
“Iya sayang, Bunda sayang sama kakak Fariz, dan dede Naura. Ayah juga sayang sama kalian” Kata Farhan ikut memeluk istri tercinta dan buah hatinya.
“Nah sekarang, ayo kita makan. Ayah udah masak makanan yang enak”
Setelah perasaan Nina sedikit membaik, mereka akhirnya keluar dan menikmati santapan yang di masak oleh Farhan.
Farhan mengambil alih beberapa pekerjaan rumah, ia tidak ingin membuat Nina kelelahan mengingat ia harus menyusui putri mereka.
“Makan yang banyak sayang, karena si cantik akan memakan semua jatahmu” Kata Farhan dengan senyuman.
Farhan dan Nina kini menjadi orangtua dari dua orang anak. Jelas sulit mengurus keduanya, namun rasa cinta yang terbangun diantara mereka, membuat mereka bisa melewatinya.
~Azka~
~Sasa~
Jari-jari Azka tidak lepas dari kaki Sasa, entah sudah berapa lama ia memijat kaki istri kesayangannya. Sasa yang tengah hamil muda saat ini, sedang mengalami ngidam berat yang membuat tubuhnya serasa sakit semua, dan harus pulang balik kamar mandi karena merasa mual.
“Gimana perasaanmu sayang? Udah agak baikan?” Tanya Azka dengan khawatir.
Ia begitu tidak tega melihat istrinya yang terlihat kepayahan dalam masa ngidamnya. Sasa terlihat pucat, dan kehilangan nafsu makan.
“Agak baikan” Jawabnya dengan lesuh.
“Mau makan sesuatu?”
Sasa menggeleng pelan.
“Sayang, kamu sedari tadi belum makan dan muntah terus. Kamu mau makan apa? Nanti aku cariin”
“Tapi aku..”
“Sayang.. Ingat anak kita” Azka terus membujuk Sasa sebisanya. “Mungkin kepengen makan apa gitu, biar nanti aku cariin”
Sasa terdiam sejenak.
“Nasi kuning”
“Nasi kuning??”
__ADS_1
“Iya, aku kepengen makan nasi kuning”
“Oke sayang, tunggu aku cariin sebentar..”
Azka dengan cepat beranjak, ia tidak ingin istri kesayangannya sampai menunggu.
Belum lama Azka berlalu, ia kembali masuk ke dalam kamar, membuat Sasa bingung melihatnya.
“Kenapa? Kok balik lagi?”
“Ayah sama Ibu yang beli nasi kuningnya”
“Kenapa Ayah sama Ibu? Gak baik minta orangtua yang beliin”
“Bukan aku sayang, Ayah sama Ibu yang maksa. Kata Ibu aku gak boleh ninggalin kamu, jadi biar Ibu sama Ayah yang pergi”
“Tapi sayang...”
“Sayang.. Aku bisa kena marah lagi kalau keluar. Aku ninggalin kamu sebentar tadi, udah diamukin Ayah sama Ibu diluar”
Sasa tersenyum melihat rengekan suaminya. Mertuanya dan suaminya benar-benar memanjakannya, membuat Sasa menjalani masa-masa ngidam menjadi lebih baik.
“Makasih sayang..”
Azka memberi kecupan kecil di kening Sasa. “Aku mencintaimu”
~Faiq~
~Karin~
Menara Eiffel terlihat begitu kerlap kerlip di malam hari. Suasana kota Paris memang selalu memanjakkan mata di malam hari, dengan menara Eiffel sebagai miniatur utamanya.
Desiran angin malam masih saja tidak membuat Karin beranjak, ia masih sangat menikmati pemandangan malam dengan angin yang seolah tengah melantunkan nyanyian.
“Sayang, kamu belum masuk? Disini dingin?” Sebuah pelukan hangat dari belakang, Faiq persembahkan untuk istrinya.
“Gak, disini gak dingin”
“Gimana gak dingin? Ini anginnnya juga agak kencang”
“Kan ada kamu, jadi hangat” Senyum manis terpancar di wajah Karin.
Wajah Faiq sedikit merona karena ucapan manis yang baru saja diucapkan Karin.
“Apa aku hangat?” Tanya Faiq mempererat pelukannya.
Karin hanya mengangguk dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Faiq.
“Sayang, maafin aku karena tidak mempersembahkan hal seperti ini sama kamu sedari dulu. Harusnya honeymoon yang manis seperti ini sudah kamu rasakan di beberapa tahun yang lalu”
“Semua karena kamu, aku baru ngerasain hal seperti ini di usiaku sekarang gara-gara kamu” Gerutu Karin, meski nada bicaranya jelas terdengar manja.
“Maafin aku sayang..”
“Jangan cuman minta maaf, kamu harus menebusnya”
“Menebusnya? Aku harus bagaimana?” Tanya Faiq bingung.
Karin memutar balik tubuhnya, memandangi wajah maskulin milik suaminya dengan tajam.
“Pikirkan saja” Kata Karin memperlihatkan senyum smirik yang penuh arti.
“Oh.. Aku tahu sekarang..”
“Tahu apa??”
“Tahu cara untuk menebusnya”
“Apa?”
__ADS_1
Bukan jawaban, tapi dengan cepat Faiq membawa Karin dalam gendongannya, meninggalkan balkon tempat mereka saling meluapkan perasaan sebelumnya.