
Hari semakin terik, ini adalah hari terakhir ujian untuk semester ganjil tahun ini. Ya seperti dikatakan Fauzi, akan ada waktu dimana terasa singkat sekali meskipun oranglain merasa bahwa waktu itu terasa lama.
Sudah sekitar lima menit aku menunggu Farhan setelah mengirim pesan memintanya menjemputku, tapi sampai saat ini batang hidung Farhan belum juga terlihat sampai sekarang.
"Udah dimana?" Aku kembali mengirim pesan ke Farhan.
"Iya tunggu bentar lagi sayang.." Balasan pesan dari Farhan.
Aku kembali menunggu Farhan "Sedari tadi sebentar lagi sebentar lagi tapi masih juga belum ada sampai sekarang" Gerutuku.
Andaikan batu-batu yang ada didepanku ini bisa berbicara mungkin saja dia sudah mengomel dan menggerutu karena sedari tadi kulempar kesana kesini karena bosan menunggu.
Ponselku berdering, aku dengan cepat melihat ponselku berharap itu adalah panggilan masuk dari Farhan.
"Halo.." Jawabku malas setelah melihat panggilan masuk bukannya dari Farhan tapi dari Fauzi,
"Kamu kenapa sayang?"
"Apanya?"
"Kok suaranya kayak gitu..?"
"Gak papa.."
"Gimana ujiannya? Lancar?"
"Iya.." Jawabku singkat.
"Syukurlah.. Jadi sekarang dimana?"
"Depan sekolah lagi nunggu jemputan.."
"Tumben, biasanya kamu selalu naik sepeda meskipun lagi ujian.."
"Gak tau akhir-akhir ini aku malas bawa sepeda.."
"Yang jemput nanti siapa?"
"Eng? eh Ibu.." Jawabku sedikit tergugup-gugup.
"Hem.. Kepengennya aku jemput kamu kesana, tapi ya mau gimana lagi, ini aja aku nelfon sambil nunggu dosennya datang.. Maaf sayang.."
"Ah iya gak apa.."
"Yaudah nanti aku telfon lagi, dosennya udah datang.. Bye sayang.."
"Bye.."
"Ck.. katanya punya pacar dua, tapi sama sekali gak ada yang bisa datang ngejemput.." Gerutuku
"Serius ini Farhan kemana sih? Udah mau setengah jam nunggu tapi belum nongol-nongol juga.." Kataku kembali mengecek ponselku sambil kembali mencoba menghubungi Farhan.
Berkali-kali aku menelfon Farhan tapi tidak ada jawaban.
"Kalau gak bisa jemput harusnya bilang.. kan aku bisa pulang sendiri bukannya malah ngebiarin aku nunggu gak jelas kayakk orang bego disini.." Gerutuku.
Aku kembali mencoba menelfon Farhan, entah sudah ada berapa panggilan tak terjawabku di Ponselnya.
__ADS_1
Ah, akhinya diangkat.. "Kamu dimana?" Tanyaku seketika telfonku terhubung.
"Halo.."
"Eh.." Aku terkejut, bukan suara Farhan dari seberang telfon, melainkan suara oranglain yang tidak aku kenali, suara perempuan.
"Maaf ini siapa?" Tanyaku.
"Oh.. Kenapa? Farhan lagi gak bisa jawab telfonnya.."
"Ck.. Siapa sih mahluk satu ini, bukannya ngejawab pertanyaanku malah nyelonong ngomong.." Gerutku semakin kesal.
"Kenapa? Farhannya kemana?"
"Lagi ada urusan.." Jawabnya jutek. Aku semakin kesal mendengarnya.
"Bisa tolong antarin telfonnya ke dia dulu? Aku mau ngomong sama Farhan.."
"Maaf tapi Farhan lagi gak bisa ngangkat telfonnya, dia lagi ngomong sama Dekan. Kenapa? ada hal yang penting yang mau disampein? Bilang aja nanti aku sampein ke Farhan.."
Sekarang lagi sibuk terus kenapa gak bilang dari tadi, yang ada aku menunggu gak jelas seperti ini. Belum lagi telfonnya diangkat sama perempuan yang cara bicaranya sangat menyebalkan.
"Siapa Fi?" Kudengar seseorang bertanya dari seberang telfon.
"Gak tau.. Mau ngomong sama Farhan katanya.."
"Ceweknya?"
"Mana gue tau, kayaknya bukan.. kalau ceweknya harusnya ini dia nyimpen nama kontaknya pakai sayang atau apalah.."
Aku semakin kesal saja mendengar percakapan perempuan itu dengan temannya dari seberang telfon.
"Halo.."
"Tolong bilang aja sama Farhan nanti kalau aku nelfon.."
"Oh oke.." Katanya dan langsung memutuskan telfon.
"Ck.. serius ini perempuan siapa? Dia bilang bukan pacarnya? dasar sok tau.. Udah gak sopan ngangkat telfon orang, ngomongnya kasar sok tau lagi.. Cih menyebalkan sekali" Umpatku.
Aku memanggil taksi dan pulang sendiri. Aku kesal sekali, Farhan yang tidak datang menjemputku dan membuatku menunggu ditambah lagi perempuan yang menjawab telfonnya tadi. Aku terus menatap keluar, mataku perlahan berkaca-kaca karena kesal.
Ponselku berdering. Panggilan masuk dari Farhan.
"Kamu dimana?" Tanyanya setelah aku menjawab telfonnya.
"Dijalan pulang.." Jawabku kesal.
"Kok dijalan pulang, kamu minta aku jemputin kamu didepan sekolah, aku sampai sini tapi kamu udah pulang sendiri??"
"Aku udah nungguin kamu dari tadi, aku capek nunggu tapi kamunya gak datang-datang.."
"Ya ampun Salwa.. tadi aku ada keperluan mendesak, aku lama bukannya aku gak bisa ngejmput kamu.."
"Ya terus kamu mau aku ngenunggu kamu kayak orang bego gitu??"
"Bukannya gitu, tapi kamu kan bisa nunggu sebentar lagi , kalau emang mau pulang sendiri kan bisa bilang sama aku dulu bukannya langsung pulang. Aku udah buru-buru kesini tapi kamunya malah udah gak ada disini.."
__ADS_1
Sebenarnya siapa sih disini yang harus marah? kenapa jadi dia yang marah?
"Aku sedari tadi nelfon kamu, tapi gak ada jawaban dari kamu.. yang ngangkat malah perempuan gak jelas yang ngomongnya gak benar.."
"Siapa??"
"Ya aku mana tau.. aku udah bilang ke dia buat sampein ke kamu kalau tadi aku nelfon.."
"Tapi.."
"Tapi dia gak ngomong kan??" Kataku memotong pembicaraannya. "Cewek gak jelas emang.." Sungutku.
"Hey.. kok kamu ngomongnya jadi kasar begitu??"
"Kasar? aku kamu bilang kasar?? Emang temanmu saja yang ngomongnya gak jelas dan sekarang dia gak nyampein pesan aku ke kamu kan?"
"Bukannya dia.."
"Apa.. kenapa kamu jadi ngebelain dia sih??"
"Bukannya aku.."
"Alah terserah kamu sajaa.." Kataku langsung memutuskan telfonnya.
Aku semakin kesal saja.
Ponselku kembali berdering, panggilan Farhan terus masuk..
"Apalagi sih?"
"Kamu dimana sekarang?"
"Kan aku udah bilang dijalan pulang.."
"Udah dibagian mana?"
"Emang kenapa?"
"Berhenti disitu.."
"Apaan sih??"
"Berhenti disitu, tunggu aku disitu.. aku kesana sekarang.."
"Gak.."
"Salwa.."
"Aku gak mau.."
"Pleasee berhenti disitu, aku kesana sekarangg.."
"Kamu mau aku nungguin kamu kayak orang bego lagi sekarang??"
"Tunggu sebentar, aku udah sambil jalan.. tunggu disitu..”
Aku berhenti dan menunggu dipinggir jalan, sekali lagi Farhan membuatku menunggu seperti orang bodoh. Aku juga tidak tau dan tidak secara langsung sadar akan apa yang terjadi, yang aku tau aku selalu menuruti apa yang Farhan katakan walaupun itu termasuk hal yang menyebalkan bagiku, aku selalu melakukan apa yang Farhan bialng meskipun aku mengomel dengan kuat sebelumnya. Farhan seolah bisa mengendalikanku. Ah entahlah Farhan yang mengendalikanku atau aku yang dengan sengaja membuat diriku dikendalikan oleh Farhan. Sangat berbeda dengan Fauzi, Fauzi selalu menuruti apa yang aku mau, Fauzi selalu berusaha mengiyakan permintaanku. Fauzi yang seperti itu juga yang membuatku semakin semau-maunya jika bersama Fauzi. Aku pernahh bertanya pada Fauzi perihal itu dan Fauzi hanya menjawab “Daripada ribut denganmu, lebih baik mengikuti apa yang kamu mau selagi itu bukan hal yang buruk”. Karena dibiasakan Fauzi yang selalu menurut juga membuatku langsung kesal ketika ada hal yang aku inginkan tapi Fauzi tidak bisa menurutinya.
__ADS_1
Mereka dua orang yang berbeda, dengan cara yang berbeda juga memperlakukanku.