Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Forget


__ADS_3

Suara riuh terdengar dari kamar Mikayla. Entah apa lagi yang membuat putrinya itu menangis di awal hari. Fauzi yang masih menggunakan celemek, mematikan kompor dan melangkah menuju kamar putrinya.


Semenjak Fauzi tahu akan apa yang di derita Salwa, Fauzi tidak lagi mengizinkan Salwa untuk memasak atau melakukan pekerjaan rumah yang sekiranya bisa membahayakan istrinya itu. Pagi sebelum berangkat kerja, fauzi akan memasak terlebih dahulu dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sekiranya istrinya tidak bisa lakukan lagi.


Namun jelas Salwa masih sering ke dapur ketika ingatannya menyentuh akan dirinya sebagai Ibu rumah tangga yang harus melakukan kegiatan rumah tangga seperti itu. Fauzi yang tidak bisa serta merta melarang istrinya, akhirnya di dampingi setiap kali Salwa memaksa untuk memasak. Namun tetap saja Fauzi akan menutup saluran gas ketika akan berangkat kerja, sekedar pewaspadaan jika kiranya Salwa tiba-tiba berniat memasak.


Fauzi mempercepat langkahnya, ketika tangisan Mikayla makin terdengar jelas.


“Ada apa sayang?” Tanya Fauzi menghampiri putrinya yang tengah menangis tersedu-sedu disamping Ibunya.


“Papi..”


Mikayla berlari kecil menghampiri Fauzi, memeluk erat di kaki Fauzi sebelum Fauzi menunduk dan menggendong putrinya.


“Mikayla, jangan rewel. Cepat pakai bajunya, nanti kamu terlambat”


Salwa dengan nadanya yang sedikit tinggi itu, semakin membuat Mikayla takut dan berbalik memeluk Fauzi.


“Ada apa sih sayang? Kenapa marah-marah seperti itu sama Mikayla. Kamu ngebuat Mikayla takut”


Fauzi sendiri dibuat terkejut mendengar istrinya berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Sebelumnya Fauzi tidak pernah mendengar Salwa sampai berbicara dengan nada tinggi begitu pada Mikayla.


“Habisnya Mikayla rewel. Ini sudah siang, dan dia gak mau pakai bajunya. Nanti bisa terlambat kesekolah”


Fauzi berusaha menatap putrinya yang masih memeluk erat di lehernya.


“Sayang, kenapa bajunya gak di pakai? Itu Mami udah nyiapin bajunya”


“Ba-bajunya salah Papi..” Jawab Mikayla dengan tersikuk-sikuk.


Fauzi balik melihat baju yang dipegang Salwa, dan mencocokkan rok yang sudah di kenakan Mikayla.


Fauzi hanya menghela nafas panjang. Entah apa lagi yang ada dipikiran istrinya itu, ia menyiapkan seragam baju yang berbeda dengan roknya, yang membuat Mikayla menolak dan menangis setelah sedikit di bentak oleh Salwa. Fauzi tidak lagi terheran-heran seperti sebelumnya jika ada kesalahan-kesalahan seperti ini.


Fauzi mengusap pelan dahinya, berjalan dengan Mikayla yang masih di gendongannya. Mendekati Salwa dan seperti biasanya, memberikan pemahaman pada istrinya itu.


“Sayang, bukan baju yang ini. Kamu lihat rok Mikayla? Bukan baju ini pasangannya”


Salwa menatap baju yang di pegangnya, kemudian mengalihkan pandangannya menatap rok yang sudah dikenakan Mikayla.


“Bukan ini??” Tanya salwa dengan memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan.


“Bukan sayang..”


Fauzi melangkah, mengambil baju yang sepasangan dengan rok yang digunakan Mikayla.


“Pasangannya yang ini. Kamu lihat? Warnanya sama kan?”


Salwa yang semakin hari semakin lamban memahami sesuatu, berulang kali menatap rok yang di gunakan Mikayla, beralih ke baju yang dipegangnya, dan baju yang dipegang Fauzi. pandangannya terus bergantian beberapa menit.


“Ah iya ya.. Aku salah ambil baju” Gumam Salwa.


Salwa meletakkan baju yang dipegangnya, dan meraih baju yang di pegang Fauzi.

__ADS_1


“Sini sayang, bajunya udah gak salah lagi..” Bujuk Salwa pada Mikayla. Namun Mikayla yang terlanjur kaget, enggan kembali pada Ibunya, Mikayla semakin mempererat pelukannya pada Fauzi.


“Maafin Mami sayang, tadi Mami salah ambil bajunya. Sekarang bajunya sudah benar..”


Salwa masih berusaha membujuk Mikayla, yang jangankan ingin melepas pelukan dari Ayahnya, berbalikpun Mikayla tidak mau.


“Sayang.. Mami udah ngambil bajunya yang bener. Sekarang pakai bajunya ya, nanti Mikayla terlambat ke sekolah” Fauzi ikut membujuk Mikayla


“Mikayla takut Papi, Mami marah-marah” Jawab Mikayla masih memeluk erat Fauzi.


“Gak sayang, Mami gak marah-marah lagi, sini nak..”


Salwa terus-terusan membujuk Mikayla, namun Mikayla tetap bertengger, memeluk Fauzi dengan erat.


“Sayang, bajunya sudah benar. Sana ke Mami, nanti kamu terlambat ke sekolah..”


“Ma-mami marah-marah. Mikyla takut..”


Salwa tersentak mendengarkan penuturan putrinya. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, putrinya itu merasa takut padanya.


“Maafin Mami nak, mami sudah gak marah lagi. Mami gak akan marah-marah lagi sama Mikayla. Maafin Mami...”


Salwa terisak, tidak mampu menahan perasaannya ketika Mikyla terus menolaknya. Fauzi sendiri merasa sangat sedih melihat istrinya, namun tidak bisa juga memaksa Mikayla yang masih ketakutan.


Mikyla berbalik mendengar isak tangis Ibunya.


“Sini sayang..”


Bujuk Salwa dengan mengulurkan tangannya.


Mikayla melepaskan pelukannya dari Fauzi, meraih tangan Ibunya dan pindah ke gendongan Salwa.


“Maafkan Mami nak, maafkan Mami karena udah ngebuat kamu takut. Maafin Mami karena salah ambil baju”


Salwa memeluk erat putri semata wayangnya itu.


“Mami jangan marah sama Mikayla lagi, Mikayla takut Mami..”


“ya Sayang, iya.. mami gak akan marah lagi. Mami sayang sama Mikayla”


Ciuman begitu dalam Salwa berikan pada putrinya dengan airmatanya yang masih saja menetes.


Hampir setiap hari, Fauzi mendapati drama-drama baru yang dimainkan oleh Salwa, atas kendali otaknya yang tidak lagi bisa membuatnya berpikiran rasional seperti biasanya.


.


.


.


.


Semenjak Salwa dalam keadaan tidak sehat, Fauzi selalu menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari sebelumnya agar bisa pulang lebih awal. Fauzi bahkan tidak menggunakan jam istirahat dan makan siangnya. Ia hanya fokus pada pekerjaannya, sehingga semuanya bisa selesai lebih awal dan Fauzi bisa lebih cepat menghampiri istrinya di rumah.

__ADS_1


Fauzi tengah menyetrika baju yang akan dia gunkan besok, juga menyiapkan baju Mikayla agar tampak rapi ke sekolah. Pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ia kerjakan, karena Salwa selalu telaten menyiapkan baju untk suami dan anaknya dengan rapi. Namun, mengingat keadaan Salwa yang tidak lagi baik saat ini, Fauzi tidak lagi mengizinkan Salwa untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga yang dianggapnya berbahaya, termasuk menyetrika. Fauzi tidak ingin, istrinya akan mencelakai dirinya sendiri dengan hawa panas yang dihasilkan oleh setrika.


“Sayang..” panggil Salwa.


Fauzi beranjak dari kegiatannya, tak lupa mematikan setrika sebelum menghampiri istrinya.


“Kenapa sayang?” Tanya Fauzi dari balik pintu.


Salwa lagi-lagi membereskan lemari. Itu menjadi kegiatan rutin yang dia lakukan beberapa hari terakhir ini. Bukan sekali dalam sehari, melainkan bisa tiga sampai empat kali sehari Salwa mengeluarkan isi lemarinya dan kembali menyusunnya.


Kegiatan Salwa yang tidak pernah Fauzi tegur. Umumnya, hal-hal ganjil atau salah yang dilakukan Salwa, Fauzi akan menegurnya, namun tidak dengan membereskan lemari ini. Fauzi beranggapan, dengan membereskan lemari setiap harinya, Salwa sedikit terlatih untuk melakukan sesuatu yang rapi, memisahkan pakaian sesuai jenisnya dan memisahkan pakaian untuknya sebagai wanita, dan pakaian Fauzi. Dan lagi, itu lebih aman di lakukan Salwa sehingga membuatnya tidak berpikiran untuk melakukan yang tidak-tidak.


“Ambilkan aku itu.. anu.. nggg... i-ituu.. yang....”


Salwa kebingungan, ia tidak tahu harus memberitahu Fauzi seperti apa untuk menyebutkan apa yang dia inginkan.


“Apa sayang?”


“Itu.. yang dipakaikan..”


“Dipakaian apa sayang..”


“Ck, masa kamu gak ngerti sih. Itu yang biasa kamu pegang juga”


“Sejenis kain?” Tanya Fauzi, berhubung Salwa tengah merapikan pakaian.


“Bukan.. itu loh.. yang kayak gini..”


Salwa menggambarkan sesuatu dengan tangannya, berusaha memberitahu Fauzi apa yang dia maksud.


“Sapu tangan?”


“Bukan..”


“Baju? Celana?”


“Bukan.. yang kayak..” Salwa terdiam sejenak. “Kayak apa?” tanyanya sendiri bingung. “Aku mau minta apa sih tadi..” gerakan impulsif Salwa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menandakan ia yang tengah kebingungan.


“Gak jadi. Aku lupa mau minta apa tadi..”


Salwa mengalihkan pandangannya, dan kembali sibuk merapikan pakaian-pakaian yang berhambur di depannya.


“Kamu gak tahu mau minta apa?”


Salwa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Fauzi, membuat Fauzi menyadari jika sesuatu yang menjadi penghapus di kepala istrinya itu, semakin berkembang sekarang.


Airmata Fauzi menggenang dipelupuk matanya, melihat keadaan istrinya yang perlahan kehilangan kemampuan verbalnya.


“Yaudah, aku kembali ke ruang kerja. Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu, panggil aku lagi..”


Fauzi menyeka airmataya, dan mencoba tersenyum. Sekiranya tiba-tiba Salwa berbalik, itu tidak akan membuat Salwa melihat airmatanya.


“Iya..”

__ADS_1


Fauzi berbalik dan melangkah kembali untuk melanjutkan kegiatan menyetrika yang sempat tertunda tadi.


Airmatanya tumpah, sekali lagi batinnya tersiksa melihat keadaan istrinya.


__ADS_2