
Semua tidak lagi sama dengan yang dulu. Fauzi yang sebelumnya akan bermalas-malasan di hari libur, sekarang bangun lebih awal untuk menggantikan pekerjaan yang tidak bisa istrinya lakukan lagi.
Tidak ada lagi sesi manja-manjaan yang biasa Fauzi layangkan pada istrinya di pagi hari, tidak ada lagi moment ia mendapati istrinya memasak dan memeluknya dari belakang di setiap harinya, moment yang menjadi favoritenya. Semua berubah, dan tidak ada yang bisa Fauzi lakukan selain menurut akan keadaan yang memaksanya untuk mengikuti perubahan ini.
Terdengar suara ribut dari dapur, entah apa lagi yang membuat istrinya mengomel disana. Selain perubahan cara berpikir dan perilaku, perubahan emosi Salwa juga jelas sekali terasa. Terkadang Salwa tiba-tiba marah tanpa alasan, dan dalam sekejap akan menjadi baik seolah tidak terjadi apa-apa. Fauzi hanya bisa memaklumi, mengerti akan emosi istrinya yang tidak stabil, karena tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain memahami kondisi wanita yang sangat dicintainya itu saat ini.
Fauzi yang tengah sibuk membersihkan, beralih menuju dapur ketika pendengarannya menangkap suara ribut dari istrinya yang tengah mengomel.
“Kenapa sayang??”
Salwa tidak menjawab, ia hanya mengangkat remot Tv. Dahi Fauzi berkerut, bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Salwa.
“Itu kenapa?”
“Aku nemu ini di dapur. Kamu bisa gak nyimpan barang-barang itu di tempatnya..”
Fauzi merasa tidak pernah membawa remot ke dapur. Dan lagi, sudah dua hari ia tidak memiliki waktu bahkan untuk sekedar menonton Tv. Karena selain kerjaan kantor, Fauzi juga merangkak melakukan beberapa pekerjaan rumah.
“Itu bukan aku yang bawa kesitu sayang..”
Fauzi tidak ingin mengiyakan apa saja yang dikatakan istrinya. Bukan karena ia tidak mau mengerti, dia hanya ingin agar istrinya tidak terus-terusan membenarkan apa yang ada di dalam pikirannya jika itu adalah sesuatu yang salah.
“Terus siapa yang bawa kesini? Aku? Mikayla?”
“Aku gak tahu sayang. Sudah, jangan marah-marah lagi ya, sini remotnya biar aku simpan”
“Gak..”
Fauzi hanya menatap Salwa yang terlihat begitu kesal sembari tetap menahan remot itu di tangannya.
“Aku gak suka kamu kayak gini. Nyimpan sesuatu bukan di tempatnya, ini bahaya kalau remotnya ada disini”
“Bukan aku sayang..”
“Terus siapa? Kalau kamu bilang bukan kamu, berarti kamu nuduh aku??”
“Aku gak nuduh kamu..”
“Ya berarti kamu kan..”
Nada bicara Salwa semakin tinggi. Fauzi yang awalnya tidak ingin membenarkan apa yang salah di pikiran istrinya itu, akhirnya ia benarkan saja. Dia tahu, tidak akan ada akhir dari perdebatan itu jika dia tidak mengalah. Dan lagi, saat ini Mikayla masih tidur, bisa saja Mikayla terbangun mendengar salwa yang marah dengan suaranya yang meninggi. Mikayla bisa semakin takut jika melihat ini nantinya.
“Iya aku. Yaudah, sini remotnya aku simpan..”
__ADS_1
“Tuh kan..”
“Iya sayang, sini remotnya biar aku simpan..”
Fauzi terus membujuk salwa untuk memberikan remot yang di pegangnya, dan mengakhiri perdebatan yang tidak seharusnya terjadi pagi ini.
“Kamu tuh sekarang udah berubah. Kamu udah gak mau ngakui kesalahan kamu. Apa susahnya sih ngaku dari awal kalau remot ini kamu yang bawa..”
“Aku tadi lupa sayang..”
“Awalnya lupa, nanti kebiasaan. Semalam aku sampai capek cari-cari remotnya sampai gak bisa nonton Tv”
Istrinya mulai delusi lagi, jelas-jelas semalam Salwa tidak menonton Tv.
Fauzi menghembuskan nafas panjang. Pekerjaannya yang terhambur diluar belum selesai, dan sekarang ia harus melayani istrinya yang mendebatnya hanya karena masalah remot.
“Pokoknya aku gak mau tahu kalau sampai ada kejadian seperti ini lagi. Kamu lama-lama bisa kebiasaan kalau begini”
“Iya sayang, aku gak gitu lagi”
“Kamu jangan bicaranya aja yang gak. Kemarin aku juga nemu sapu di kamar mandi”
Apalagi yang dikatakan istrinya sekaran? Mengapa Salwa terus-terusan berdelusi dan menjatuhkan semua kesalahan akan apa yang tidak terjadi, pada Fauzi.
Lelah yang berkalut semakin menjadi-jadi saja rasanya. Fauzi yang biasanya selalu sabar mengarahkan istrinya jika berpikiran sesuatu yang salah, sekarang hanya mengiyakan saja. Entah karena beban pekerjaan di kantor dan di rumah yang menghimpitnya, ataukah karena dia yang mulai kesulitan mengarahkan istrinya saat ini.
Namun hal sulit yang sangat dirasakan Fauzi adalah, kemarahan istrinya yang terkdang meledak-ledak, mengingat sebelumnya Salwa bukanlah orang yang akan meninggikan suaranya ketika marah. Selain dirinya, yang paling membuat Fauzi takut adalah, ketika psikis Mikayla jadi terganggu akibat kemarahan Ibunya. Ia tidak ingin, Mikayla memberi nilai buruk pada Ibunya yang akan berakhir menjadi takut seperti yang terjadi tempo hari.
Salwa melempar pelan remot yang di pegangnya.
“Tuh.. Simpan ditempatnya!!”
“Sayang, kenapa pake acara di lempar sih?” Tanya Fauzi sembari meraih remot yang tergeletak di lantai.
Salwa hanya menatapnya dengan masih memperlihatkan wajah yang kesal.
“Kamu gak boleh lempar-lempar barang seperti ini Sayang..”
“Biar kamu gak nyimpan barang sembarangan lagi..”
Fauzi menghela nafas. Dia sedari tadi sudah menahan diri, tapi entah kenapa perlahan rasa kesal perlahan muncul, yang mungkin di sebabkan oleh rasa lelahnya.
“Kan aku udah minta maaf. Aku udah bilang kalau gak bakal gitu lagi”
__ADS_1
“Kenapa jadi kamu yang marah sih??”
“Kamu yang marah-marah dari tadi. Padahal ini cuman masalah sepele”
Fauzi lepas kendali dan balik marah. Nadanya meninggi tanpa dia sadari.
“Kamu itu masih bisa ngedenger, masih bisa paham sama apa yang aku bilang. Tapi kenapa masih aja ribet sama masalah begini. Aku capek..”
Salwa terkejut melihat Fauzi yang mulai marah.
“Banyak yang harus aku kerjain Salwa, banyak yang harus aku lakukan. Aku bukannya ada waktu meladeni kamu berdebat sama masalah kecil seperti ini. Lagian gak terjadi apa-apa juga kan.. ah sudahlah..”
Fauzi melangkah meninggalkan Salwa dengan rasa kesalnya. Sedang Salwa, yang sangat terkejut mendengar Fauzi marah dengan nadanya yang tinggi hanya terdiam, dengan airmatanya yang perlahan menetes.
.
.
.
Fauzi sadar, ia tidak seharusnya merasa kesal. Namun, Fauzi juga hanyalah manusia biasa, yang memiliki batas untuk menahan semua perasaannya dan harus melampiaskan apa yang sudah meluap dalam hatinya.
Fauzi tidak melanjutkan pekerjaan yang tertunda sebelumnya, ia melangkah dengan cepat masuk kedalam kamarnya, menghempaskan tubuhnya pada kasur, menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
“Argghhhhh....” geram Fauzi kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan amarahnya.
Perlahan Fauzi menurunkan tangannya. Memandangi langit-langit kamarnya dengan pikirannya yang berkecamuk. Apa yang terjadi pagi ini, benar-benar menyulitkannya.
Fauzi bangkit, duduk di tepi ranjang, menghela nafas panjang mencoba menjernihkan pikiran dan menenangkan perasaannya.
Baru saja ia mencoba menenangkan perasaannya, namun seketika menjadi kalut kembali. Bukan perasaan yang kesal seperti sebelumnya, melainkan perasaan sakit yang tak terjabarkan tatkala ia mendapati sebuah pisau dalam kamarnya.
Fauzi menyadari, kondisi istrinya saat ini sudah semakin buruk. Dari apa yang dilihatnya, sepertinya bukan lagi sekedar penurunan kemampuan verbal dan ingatan yang terganggu, hal-hal lain seperti kesulitan meletakkan sesuatu pada tempatnya juga mulai menyerang istrinya saat ini.
Remot yang berada di dapur pagi ini, bisa saja dia yang membawanya tanpa disadari. Sama halnya dengan pisau yang dia temukan di dalam kamarnya sekarang.
Perlahan rasa bersalah mulai merasuk kedalam perasaan Fauzi. ia baru saja membentak dan marah pada istrinya, sedang ia tahu hal yang di lakukan istrinya saat ini, bukanlah hal yang dia lakukan dengan kesadarannya.
Fauzi menangis tersedu-sedu. Perasaannya bercampur aduk tak karuan. Rasa sedih melihat istrinya yang semakin hari semakin buruk, juga perasaan bersalah akibat dari dia yang tidak bisa menahan emosinya dan perasaan buruk karena tidak mampu memperbesar rasa sabar dan pengertiannya pada istrinya.
“Maafkan aku Salwa, maafkan aku.. Aku suami yang payah, suami yang buruk. Maafkan aku... maafkan aku yang tidak bisa mengerti kondisimu. Kenapa aku seperti ini, kenapa aku menjadi laki-laki kejam yang memarahi istriku...”
Fauzi beranjak, berlari kecil menghampiri istrinya yang sebelumnya ditinggal begitu saja di dapur
__ADS_1