
Sasa terus berusaha menguatkan hatinya agar tidak kembali goyah dan ingin kembali pada Faiq. Menurutnya, keputusan yang diambil sekarang merupakan keputusan yang terbaik bagi mereka berdua.
Seperti yang dikatakan Faiq. Laki-laki yang mencintainya itu benar tidak mengganggunya dengan ribuan panggilan di ponselnya, Faiq benar-benar memberi Sasa waktu untuk berpikir dan menenangkan perasaannya, tanpa dia ketahui bahwa Sasa sudah membulatkan tekadnya untuk tidak lagi kembali menjalin hubungan seperti sebelumnya.
Meski Faiq tidak menganggu dengan panggilannya, tapi ia sering kali datang dan menunggu di luar rumah sakit, dan jelas saja jika dia melihat Sasa, pastilah dihampiri dengan merengek-rengek meminta hubungan mereka bisa kembali seperti semula.
Sudah dua hari Faiq terus-terusan menunggu diluar, bahkan sesekali Sasa melihat mobil Faiq terparkir dijalan depan rumahnya. Membuat Sasa meminta tolong pada Azka untuk menjemput dan mengantarnya pulang agar ia bisa menghindari pertemuan dengan Faiq.
Azka pun tidak merasa keberaratan dan bersedia untuk menjemput dan mengantar Sasa pulang, toh sebelumnya mereka memang seperti itu karena rumah mereka yang searah dan berada dalam lingkungan yang sama.
.
.
.
Sasa yang hari mendapat tugas shift pagi, bersiap-siap pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua siang hari. Meski siap untuk pulang, Sasa tetap kembali duduk untuk menunggu Azka yang hari ini kembali menjenguk temannya yang masih di rawat
“Mau pulang, Sa?” Tanya Olla yang baru saja datang.
“Iya..” Jawab Sasa tersenyum.
“Nungguin Azka lagi?”
Sasa mengangguk.
“Wah, sepertinya sekarang bukan sekedar pulang dan berangkat bareng ya..” Goda Olla dengan senyum yang penuh artinya.
“Maksudnya??”
“Ya gitu. Dulu kamu sama Azka pulang bareng kan kalau kalian mau langsung pulang. Tapi sekarang, kalian saling tunggu-tungguan kalau salah satu dari kalian masih ada keperluan”
“Te-terus kenapa?” Tanya Sasa yang tidak mengerti bahwa Olla sedang menggodanya sekarang.
“Kalian jadian ya?” Olla langsung to the poin mengatakan apa yang ada dipikirannya. Karena percuma saja jika dia hanya menggoda Sasa, Sasa bukan orang yang mudah mengerti tentang hal kode-kodean.
“Ga-gak kok..”
“Ya gak usah gugup begitu lah. Aku gak bakal bilang sama yang lainnya kok”
“Beneran gak. Aku sama Azka cuman temenan aja, sama kayak kalian”
“Oh ya? Tapi Azka memperlakukan kamu berbeda tuh sama yang lainnya”
Sasa menatap Olla dengan tatapan bingung, dia masih saja tidak paham dengan apa yang di katakan Olla.
“Ck.. Maksud aku, Azka itu suka sama kamu, makanya dia memperlakukan kamu beda sama kita-kita”
“Suka sama aku? Gak kok, Azka ke aku sama ke kalian tuh sama aja”
“Yang ngeliat siapa? Aku kan. Jelas banget kok kalau Azka membedakan sikapnya ke kita sama ke kamu. Aku yakin, kalau Azka suka sama kamu..”
“Olla ngomong apaan sih, gak jelas banget”
__ADS_1
“Liat aja ntar..” Kata Olla tersenyum nyengir. “Udah ah, aku mau ngecek pasien dulu. Aku yakin, suatu hari nanti Azka pasti ngutarain perasaannya sama kamu” Kata Olla tertawa kecil sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Sasa.
Sasa terdiam sejenak, dia sama sekali tidak pernah terpikirkan dengan apa yang Olla katakan barusan. Baginya, apa yang Azka lakukan selama ini terhadapnya sama saja dengan apa yang Azka lakukan dengan teman-teman lainnya.
Pikiran Sasa jadi melayang-layang mencoba mengingat semua apa yang sudah dia lalui bersama Azka selama ini. Ingatannya menyentuh saat Azka menenangkannya, Azka yang memeluknya dan Azka yang rela tidak masuk kerja hanya untuk membawakannya sarapan saat ia memutuskan menginap di hotel.
“Apa iya Azka selama ini??”
“Aku kenapa?” Tanya Azka yang tiba-tiba muncul di belakang Sasa membuat Sasa terkejut.
“Eh...”
“Tadi kamu nyebut namaku. Aku kenapa?”
“Ga-gak.. Gak kenapa-kenapa” Jawab Sasa gugup dan tersenyum, menyembunyikan apa yang ada di pikirannya sekarang.
Dahi Azka berkerut bingung melihat Sasa.
“U-udah selesai ngejenguk temannya?”
“Iya. Ayo pulang..”
Sasa hanya mengangguk dan mulai mengekor di belakang Azka.
Pikiran Sasa kembali bermain dengan apa yang dikatakan Olla tadi, juga dia mulai menghubung-hubungkan dengan apa yang sudah terjadi selama ini.
Bukk..
Sasa yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak lagi memperhatikan jalan dengan baik sehingga tidak melihat saat Azka berhenti dan ditabraknya begitu saja.
“Ayo masuk lagi. Pulangnya nanti saja”
“Tapi kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa, ayo masuk dulu”
“Ta-tapi..”
Sasa yang bingung dengan sikap Azka yang tiba-tiba meminta kembali masuk padahal mereka sudah berniat pulang sebelumnya.
“Ada apa, Ka? Kena..”
Belum selesai Sasa menyelesaikan ucapannya, matanya sudah menangkap apa yang sepertinya Azka halangi-halangi agar tidak ia lihat.
Dari jendela yang hanya diberi kaca bening, Sasa dapat melihat Faiq diluar tengah berbincang-bincang dengan seorang wanita. Faiq terlihat begitu menikmati obrolannya hingga tersenyum dan sesekali tertawa.
Sasa mematung melihatnya, dia tidak bisa memungkiri bahwa ada perasaan tak senang melihat Faiq bersama seorang perempuan meski ia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
“Sa, ayo masuk..”
Azka menarik pelan Sasa, dan Sasa hanya mengikut saja. Ia duduk dengan pandangannya yang kosong. Sasa sadar bahwa perasaan seperti ini seharusnya tidak lagi mengganggunya, mengingat hubungan mereka yang sudah berakhir. Namun tetap saja semua serasa tidak menyenangkan.
“Jangan dipikirkan” Kata Azka yang duduk disamping Sasa dan tahu apa yang tengah Sasa pikirkan sekarang.
__ADS_1
“Kenapa aku ngerasa sakit ngelihat itu? Padahal aku sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubunganku”
“Kamu hanya belum terbiasa”
Airmata Sasa menetes, dan dengan cepat ia seka. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian disana.
Sasa terdiam cukup lama, dan Azka pun tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia memberi Sasa waktu untuk menenangkan perasaannya.
“Sa, kamu mau coba ambil cuti?”
“Cuti? Untuk apa?”
“Jalan-jalan”
Sasa berbalik menatap Azka. Meski pikirannya belum lepas sepenuhnya tentang apa yang dilihatnya tadi mengenai Faiq, namun pertanyaan Azka berhasil membuatnya tertarik.
“Jalan-jalan kemana? Dan kenapa harus ambil cuti? Kan bisa pas hari libur”
“Ya jalan-jalannya jangan disekitaran sini”
“Terus?”
“Mau pulang ke rumahku??”
“Ke rumahmu??”
“Ah, maksudku rumah orangtuaku. Ayah sama Ibuku pernah ngajak kamu buat main kesana kan?”
“Iya, ta-tapi..”
“Kalau kamu disana sekitar satu minggu saja, kamu mungkin bisa merasa lebih baikan. Semua hal yang ada disini, yang membebani pikiranmu bisa ngebuat kamu sedikit melupakannya kalau disana”
Sasa terdiam sejenak. Ya, dia butuh tempat dan suasana baru untuk membuat perasaannya jadi lebih baik. Dia perlu meniggalkan rutinitasnya sejenak untuk menenangkan perasaannya dan menyegarkan kembali pikirannya. Tapi kalau untuk di rumah Azka, rasanya Sasa sedikit canggung.
“Kamu kan sudah kenal sama Mbak Azika, Ibu dan Ayahku, mereka pasti senang kalau kamu main kesana”
Sasa terdiam sejenak, kemudian perlahan mengarahkan pandangannya pada Azka.
“Apa aku boleh kesana? Apa kata orang-orang nanti”
“Tentu saja boleh, kamu tidak harus kepikiran sama kata orang-orang disana. Karena sebelum kamu masuk di wilayah sana, kamu akan dimintai identitas lengkap, berkunjung dirumah siapa dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Jadi sebelum kamu bergabung disana, beberapa dari mereka sudah tahu tentang kamu”
“Kampung halamanmu sepertinya punya kerjasama yang baik antar masyarakatnya”
“Ya bisa dibilang begitu. Jadi gimana? Mau coba kesana?”
Setelah berpikir beberapa saat, Sasa akhirnya mengangguk mengiyakan ajakan Azka.
“Nanti aku telfon Ibu sama Ayah, ngasih tahu mereka kalau kita akan kesana”
Sasa mengangguk. “Makasih ya, Ka. Aku selalu ngerepotin kamu dan kamu selalu nolongin aku”
Azka tersenyum. “Itulah gunanya ada aku”
__ADS_1
Sasa merasa lega, karena selalu ada Azka yang siap menemanninya dan membantunya dalam keadaan apapun. Azka yang selalu ada untuknya membuat Sasa menjadi lebih kuat.
Menyadari apa yang terjadi sekarang, membuat Sasa kembali mengingat apa yang dikatakan Olla padanya tadi.