
Dari awal aku tahu kalau ini salah tapi aku masih saja melanjutkannya bahkan membuatnya semakin rumit. Aku yang awalnya selalu merasa terganggu dengan hubungan cinta segitiga ini entah mengapa dengan mudahnya dikalahkan oleh perasaanku sendiri. Aku tahu dengan mengatakan perasaanku pada Farhan itu berarti membuat boomerang pada diriku sendiri, tapi aku tetap saja mengatakannya dengan dalih mempertahankan keberadaan Farhan di sisiku selagi tidak ada Fauzi.
Betapa egoisnya aku ini, betapa aku tidak bisa menahan diri. Aku sendiri pada dasarnya tidak mengerti dengan perasaanku pada Farhan, hanya karena menghalau rasa sepiku aku sampai meminta Farhan untuk tetap ada padaku dengan cara mengatakan perasaanku. Alhasil yang kudapat adalah hubungan yang semakin rumit.
Sesadar apapun aku saat ini tentang kesalahanku yang mendua, itu tidak akan bisa aku perbaiki dengan mudah meskipun aku ingin memperbaikinya. Meminta Farhan untuk mengakhiri ini tidak akan mudah.
Farhan mundur beberapa langkah menjauh dariku mendengar Fauzi mengetuk pintu dan meminta izin masuk. Aku tidak tau apa yang ada difikiran Fauzi saat ini dan apa yang akan terjadi setelahnya. Aku hanya berusaha siap menerima apapun yang akan terjadi kedepannya meski aku sangat takut untuk melihat respon Fauzi. Aku tidak siap kehilangan Fauzi. Terlebih setelah mendengar perkataan Ibu tadi semakin membuatku kepikiran.
Fauzi berjalan mendekatiku..
"Oh ada Farhan?" Kata Fauzi melemparkan pandangannya ke Farhan yang berdiri agak menjauh dariku. "Ngapain Lu berdiri disitu?" Tanya Fauzi.
"Tunggu.. Maksudnya Fauzi baru sadar kalau Farhan ada dalam ruangan ini?" Pikirku, aku semakin bingung saja dengan keadaan ini. Aku melemparkan pandanganku ke Farhan, Farhan juga terlihat bingung disana.
"Ya ya ngapain lagi kalau gak ngejenguk Salwa.." Jawab Farhan sedikit gugup.
"Lu udah dari tadi disini?"
"Dari tadi disini? Fauzi bertanya seperti itu apa karena gak tau atau bagaimana?" Aku semakin bingung saja.
"Dari tadi.." Jawab Farhan kebingungan sambil mendekati Fauzi. "Lu gak liat gue disini tadi?" Tanya Farhan memperjelas.
"Kapan?"
"Ya pas Lu pertama masuk tadi.."
"Oh Lu sudah ada dari sejak itu?"
Farhan mengerutkan keningnya, ekspresi bingungnya tidak bisa dia sembunyikan.
"Lu beneran gak liat gue tadi??" Tanya Farhan sekali lagi untuk memperjelas.
Fauzi hanya menggeleng.
Hufftt ada perasaan lega, jika Fauzi tidak menyadari keberadaan Farhan tadi bagaimana bisa dia mendengar percakapanku dengan Farhan, ah aku hanya khawatir tidak jelas tadi. Kulirik Farhan, sepertinya dia juga merasa sedikit lega.
"Kenapa? lah kok pada ngehh.." *menghembuskan nafas.
"Ya gak papa, emang gak boleh nafas?" Jawab Farhan.
"Ya boleh, cuman maksud gue.."
"Lu kesini mau ngejenguk Salwa apa sibuk ngebahas gue yang lagi bernafas?" Potong Farhan untuk mengalihkan pembahasan.
"Ah, iya juga.." Kata Fauzi menggaruk kepalanya.
"Ini udah sore, besok kamu kuliah dan sekarang masih disini?" Tanyaku.
"Kenapa jadi ngekhawatirin kuliahku, ini keadaan kamu udah kayak gini.."
"Iya, tapi kuliah kamu.."
"Gak usah dipikirin, besok baru aku urus lagi. Aku juga gak kuliah dulu dekat-dekat ini.."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena mau jagain kamu dulu.."
Aku melirik Farhan. Farhan juga berencana cuti kuliah unutk menemaniku selama di Rumah sakit tapi kalau Fauzi ada disini untuk menemaniku Farhan tidak akan bisa tinggal disini untuk menemaniku.
"Kuliah kamu gimana?"
"Hem.. dibilangin gak usah mikirin itu.. sekarang kamu fokus aja dulu untuk sembuh.."
"Tapi.."
"Aku gak bakal balik kesana kalau kamu belum sembuh, jadi kalau mau aku cepetan balik kuliah ya kamu harus cepetan sembuh.." Jelas Fauzi.
Aku diam saja..
"Kamu kenapa sampai bisa kecelakaan seperti ini?" Tanya Fauzi sambil memperbaiki rambutku yang acak-acakan. "Waktu Ibu bilang kamu kecelakaan aku kaget banget, untungnya ada tiket jadi aku bisa langsung pulang ngeliat kamu, saking khawatirnya aku, aku sampai gak sadar kalau Farhan ada disini dari tadi.."
"Jadi karena khawatir sampai Fauzi tidak menyadari keberadaan Farhan disini tadi? Untunglah.."
"Segitunya sampai gak sadar kalau gue ada disini dari tadi.." Tanya Farhan
"Ya mau gimana lagi yang dpikiran gue cuman Salwa, ngeliat Salwa kayak gini bikin gue gak bisa merhatiin keadaan sekitar bahkan Orangtua gue aja sampai lupa gue kabari.."
"Badan besar begini tapi Lu gak liat.."
"Namanya juga khawatir. Eh tapi Lu masih disini? Ini udah maghrib Lu gak balik?"
"Ngusir gue?"
"Lah terus?"
"Ya Lu udah dari tadi disini, ini udah maghrib Lu belum balik juga?"
Aku menatap Farhan, memberinya isyarat untuk pulang dulu Fauzi akan curiga jika Farhan terus disini.
"Yaudah Gue pulang dulu, Lu juga udah disini.. Salwa, aku balik dulu.."
"Iya.." Jawabku singkat.
"Eh Farhan.." Panggil Fauzi. Farhan yang sudah didepan pintu kembali menoleh.
"Kenapa?"
"Gue cuman mau bilang makasih udah nemenein Salwa tadi.."
"Hem.." Jawab Farhan tersenyum kecil kemudian berlalu.
Fauzi terdiam sejenak entah apa yang dipikirkannya, pandangannya kosong hanya duduk tersungkur di kursi samping brangkar tempatku terbaring.
"Ozi.." Aku berusaha memecah keheningan.
"Eng? Iya?"
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Ah aku? Aku gak papa.." Katanya tersenyum tipis.
"Kok diam.."
"Aku cuman ngekhawatirin kamu.." Jawab Fauzi sambil membelai pipiku. "Kamu mau makan?"
Aku menggeleng.
"Oh iya.." Jawab Fauzi kemudian kembali melamun dengan pandangannya yang kosong.
Aku tidak tau apa yang dipikirkan Fauzi sampai ia mengabaikanku yang sekarang ada didepannya, dia seperti bukan Fauzi yang kukenal sebelumnya.
"Kamu gak balik?" Tanyaku lagi. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, diam-diam seperti ini terasa canggung sekali.
"Kenapa? Kamu gak senang aku disini?"
"Bu bukannya begitu, ini kan sudah malam.."
"Aku disini buat nemenin kamu.. Aku udah izin sama Ibuku"
" Terus Ibuku?"
"Sebentar lagi datang kesini, kenapa? Mau aku panggilin sekarang? Kamu butuh sesuatu? Bilang sama aku saja.."
"Gak, aku cuman nyari aja.."
"Kalau ada sesuatu bilang sama aku saja.."
"Iya.."
"Cepat sembuh sayang, aku gak suka ngeliat kamu seperti ini.." Kata Fauzi memegang tanganku dengan pelan karena jarum intravena chateter masih menempel dipunggung tanganku.
"Aku juga maunya gitu.."
"Kamu kenapa bisa kayak gini? Gak biasanya kamu nyebrang jalan sampai gak merhatiin sekitar"
"Aku juga gak tau, terakhir yang aku ingat aku terlalu senang sama wangi parfume yang baru aku beli"
"Hem.. Lain kali jangan seperti ini lagi, apapun yang ada disekitarmu abaikan dulu kalau mau nyebrang jalan"
"Iya.." Jawabku tersenyum.
"Yaudah istirahat gih, nanti aku bangunin kalau Ibu udah datang.."
"Aku gak ngantuk, kamu aja yang tiduran dulu. Kamu belum ada istirahat semenjak sampai disini tadi.."
"Aku tidurnya nanti aja, nunggu kamu tiduran dulu. Lagian aku akan disini terus.."
"Kamu nginap disini?"
Fauzi mengangguk. "Aku mau nemenin kamu sampai kamu bener-bener sembuh".
__ADS_1
Aku hanya tersenyum menanggapi Fauzi.