
Aku kembali bercermin untuk memastikan baju yang aku kenakan pagi ini terlihat baik-baik saja, aku sedang menunggu Farhan datang menjemputku. Awalnya aku tidak ingin pergi, toh selera makanku saat ini juga tidak ada, aku juga tidak akan mati hanya karena tidak sarapan sekali saja. Tapi Farhan sedikit memaksa untuk keluar sarapan bersama pagi ini, belum sempat aku menolak Farhan sudah keburu memutuskan telfon.
Karena pagi ini aku dan Farhan bertemu, aku berniat unutk menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi semalam. ya.. itu hanya kesalahpahaman yang terjadi.
Semalam setelah aku melihat Fauzi dan perempuan lain, hatiku sangat sakit dan spontan aku berlari menjauh dari Fauzi. Aku terjatuh tersungkur ditengah jalan ditengah derasanya guyuran hujan, saat itulah Farhan datang menghampiriku dan mencoba menenangkanku. Aku juga tidak tau pasti apa yang mendorong Farhan seketika mengungkapkan perasaannya terhadapku. Alih-alih ia ingin menenangkanku malah ikut serta mengungkapkan perasaannya. Aku sendiri bingung, aku masih ingat ketika Farhan mengatakan dia tidak lagi melihatku sebagai perempuan yang disukainya, ia melihatku tidak lebih dari seorang adik perempuannya. Tapi entah kenapa semalam ia malah menyatakan isi hatinya padaku, entah karena ia kasihan melihatku yang seperti itu atau karena hal lainnya.
Pikiran yang terus-terusan dipenuhi Fauzi dan perempuan itu semalam membuatku tidak bisa berfikir jernih dan mengambil tindakan yang benar. Aku mengerti maksud Farhan semalam, aku sadar Farhan sedang menyatakan cintanya, tapi aku menghambur memeluknya bukan dengan maksud mengiyakan pernyataannya, aku hanya merasa lega ada Farhan saat itu. Aku hanya merasa sedikit terharu Farhan masih bisa melihatku sebagai wanita yang mengangumkan hingga ia menyatakan cintanya padaku wanita yang nyaris terlihat setengah waras semalam.
Aku kembali mengingat potongan-potongan momen semalam yang menyebabkan kesalahpahaman ini.
"Salwa.. Jangan menangis lagi, aku bersamamu.. Aku akan terus ada untukmu dan akan terus menemanimu.."
Aku hanya terus menangis dipelukan Farhan.
"Sudah sudah.. ayo kita pulang.."
"Kaakk.. Fauzi kaakk..."
"Iyaa.. Lupakan itu, ada aku sekarang.. Sekarang ayo kita pulang, kamu akan sakit kalau terus-terusan kehujanan disini" Kata Farhan yang berusaha membantuku berdiri.
Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenagaku untuk berdiri, tapi rasanya tidak ada sisa tenaga lagi. Aku kembali jatuh tersungkur..
"Salwaa.. kamu tidak apa-apa?"
"Hiksss... akuu.. akuu..." tubuhku sangat lemah.
"Jangan dipaksa.." Kata Farhan lalu menggendongku. Aku hanya bisa melingkarkan tanganku dipundak Farhan agar tidak terjatuh dan semakin menyusahkan Farhan.
"Jangan seperti ini lagi Salwa, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu adalah Salwa yang periang. Maafkan aku terlambat datang hari ini, maafkan aku yang membiarkanmu kehujanan hari ini. Di waktu yang akan datang, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini lagi.." Kata Farhan sambil terus berjalan ditengah hujan menuju mobil sambil menggendongku.
Mungkin karena sudah terlalu lama menangis airmataku serasa sudah kering, hanya tetesan air hujan yang terus-terus jatuh membasahi kami.
Farhan menggendongku masuk ke mobilnya.
"Keringkan dulu wajahmu dari air hujan.." Kata Farhan sambil membantuku mengeringkan wajahku dengan Tissue, lalu memasangkanku sabuk pengaman dan akhirnya ia mengantarku pulang.
Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, pikiranku kosong. Aku seperti tidak yakin akan apa yang terjadi hari ini, rasanya sangat banyak hal yang terjadi hari ini yang membuatku lelah.
Aku tiba dirumah dan lagi lagi aku merepotkan Farhan karena harus menggendongku masuk kedalam rumah.
"Kamu baik-baik saja? mau aku panggilkan Nina untuk menemanimu?"
Aku menggelengkan.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu disini, dirumahmu sedang tidak ada orang dan aku tidak boleh disini. Aku panggilkan Nina ya.. aku tidak tenang meninggalkanmu sendiri disini.."
Aku kembali menggeleng.
"Salwaa..."
"Aku baik-baik saja.." Potongku dengan nada datar.
"Tapi..."
"Makasih karena sudah mengantarku, maaf merepotkan kakak lagi.." Kataku menunduk dan mulai menangis lagi.
"Heyy... Kenapa menangis lagi.. sudahlah Salwa, aku semakin tidak tenang meninggalkanmu sendiri disini. Apa kamu mau ikut pulang kerumahku? Dirumah ada Tetta sama Mamaku.."
*Panggilan untuk orangtua laki-laki
Aku menggeleng "Aku tidak ingin merepotkanmu lagi.."
__ADS_1
"Aku malah makin repot kalau terus-terusan khawatir ingat kamu sendirian dirumah.."
Aku menyeka airmataku. "Aku baik-baik saja, aku juga butuh waktu sendiri sekarang. Makasih banyak udah nganterin aku pulang".
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk.
"Kamu belum makan kan? sebentar aku keluar carikan makan dulu.."
Aku menarik pergelangan tangan Farhan.
"Gak usah kak.." Kataku sambil menggeleng.. "Aku tidak lapar.."
"Tapi kamu belum makan Salwa.."
"Kakak pulang saja, kakak sudah basah basah begini bisa sakit nantinya.."
"Kamu masih sempat-sempatnya ngekhawatirin aku? Kamu sendiripun tidak tau keadaanmu seperti apa sekarang ini.."
"Kak.. Aku hanya ingin sendiri, biarkan aku sendiri malam ini.."
Farhan menyeka airmataku.
"Yasudah, istirahat Salwa.. tenangkan perasaanmu, jika ada apa-apa hubungi aku.. Aku pasti datang.."
Aku hanya mengangguk..
"Kalau kamu flu atau demam hubungi aku, biar aku belikan obat di Apotek.."
"Iyaa.."
**
Tungguu... Farhan?Semalam mengecup keningku?? Aku tidak salah mengingat bukan??.
ASTAGAAAA... AKU LUPA... IYA FARHAN MENGECUP KENINGKU SEMALAM.....
Aku shock sendiri mengingatnya. Ah apa yang terjadi semalam? Karena perasaanku yang tak karuan dan pikiranku yang berantakan aku sampai tidak sadar dan tidak ingat kalau Farhan mengecup keningku..
"Apa-apaan aku ini..??" Kataku sambil menggosok-gosok keningku sendiri.
Shitttt... Kenapa bisa aku tidak merespon, ahh bodoh sekali...
Tingtoongggg...
Seseorang memencet bel. Aku bergegas turun membuka pintu.
"Selamat pagi Salwa.."
"Paa.. pagi kak.."
"Ayo berangkat, semalam kamu gak makan kan jadi pagi ini harus makan banyak"
Aku terdiam sejenak didepan pintu, pikiranku masih berputar-putar sekitar ingatanku tentang kecupan Farhan dikeningku semalam.
"Heyy.. ada apa? kenapa melamun??"
"engg.. ah tidakk.."
"Ayo cari makan.." Kata Farhan menarik tanganku, aku ikut saja.
__ADS_1
**
"Bagaimana keadaanmu? baik-baik aja kan?" Tanya Farhan sambil mengemudi.
"I.. iya aku baik-baik aja.."
"Syukurlah kalau gitu.."
Aku hanya tersenyum.
"Kamu mau sarapan apa hari ini?"
"Terserah kamu aja?"
"Kok terserah aku.. kamu kepengennya apa?"
"Aku sembarang aja.."
"Gak ada makanan sembarang loh.. emh.. gimana kalau bubur ayam aja.."
Dulu.. setiap aku malas sarapan, Fauzi akan datang kerumah sambil membawa bubur ayam untukku. Apa Fauzi masih sibuk menghubungiku? Nomornya sudah masuk dalam blacklist panggilan tolak di Ponselku, nomor baru yang ia gunakan mengirimiku pesan tadi pagi juga sudah ku blacklist.
"Heyy.. kok melamun? kamu kurang enak badan?" Tanya Farhan mengejutkanku.
"Ah.. hehe mungkin karena masih mengantuk saja.."
"Aku ngeganggu tidur kamu?"
"Gak kok.."
"Kalau masih ngantuk kita putar balik aja dulu, entar siang baru aku jemput lagi.."
"Gak kak.. Lagian ada juga yang aku mau ngomongin sama kakak?"
"Apa?"
"Entar aja, kakak kan lagi nyetir.."
"Kalau cuman ngedengerin kamu aku bisa kok sambil nyetir.."
"Gak, nanti aja.. kakak fokus aja nyetirnya.."
"Oh oke..."
Farhan kembali fokus mengendarai..
.
.
.
.
Sebelumnya saya betul-betul minta maaf, karena mungkin seminggu kedepan tidak Up karena kesehatan saya benar-benar menurun :'(
Ceritanya sudah ada, hanya saja butuh diedit lagi sebelum direview, tapi rasanya sudah tidak kuat.. :"(
Sekali lagi maaf, dan mohon untuk tetap menunggu episode berikutnya :)
Untuk itu saya Up langsung 2 episode..
__ADS_1