
Malam ini adalah malam resepsi acara pernikahan Nina dan Farhan. Aku sudah bersiap-siap namun tidak beranjak dari depan cermin untuk terus mengecek penampilanku.
"Sudah siap?" Pesan singkat yang dikirim Fauzi.
Bahkan hanya dengan membaca pesan singkat dan membalas pesan Fauzi saja membuat jantungku berdetak tidak karuan.
"Iya.." Balasku singkat. Beberapa kali aku mengetik pesan yang akan kukirim pada Fauzi tapi kemudian menghapusnya lagi sebelum kukirim sampai akhirnya hanya kata 'Iya' saja yang aku kirimkan.
"Yaudah kalau gitu aku jemput kamu sekarang.."
"Hati-hati.."
Jantungku semakin tidak karuan mengetahui sebentar lagi Fauzi akan datang menjemputku. Aku kembali mengecek penampilanku untuk memastikan kalau aku terlihat baik malam ini.
"Cantik sekali..." Puji Fauzi saat ia membukakan pintu mobil untukku.
"Ma makasih.." Jawabku.
Kenapa harus memujiku seperti itu, membuatku menjadi salah tingkah saja.
Aku dan Fauzi berangkat menuju gedung dimana resepsi pernikahan Farhan dan Nina berlangsung. Sepanjang perjalanan Fauzi bercerita beberapa dan aku hanya menaggapinya dengan tersenyum tanpa bercerita hal lainnya. Bukan aku tidak memiliki pembahasan yang bisa aku bahas dengan Fauzi, hanya saja rasanya aku tidak bisa santai saja atau sekedar jantungku ini berdetak normal saja saat bersama Fauzi seperti ini.
Sejenak aku mengesampingkan perasaanku dan fakta yang ku ketahui tentang Fauzi yang sudah memiliki perempuan lain. Aku akan mengurus perasaanku nanti tentang bagaimana cara mengikhlaskan Fauzi, kali ini aku hanya ingin menikmati waktu-waktu seperti ini bersama Fauzi meski untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak akan menyesal membiarkan perasaanku jatuh cinta lebih dalam lagi dengan Fauzi meski aku tahu dia sudah menjadi milik oranglain. Seperti yang Fauzi bilang, perasaan suka dan perasaan cinta bukanlah perasaan yang dengan mudah kita kendalikan.
Aku dan Fauzi tiba di tempat acara resepsi Nina dan Farhan. Aula sudah dipenuhi dengan beberapa tamu undangan dari pihak Nina maupun dari pihak Farhan. Aku dan Fauzi berpisah setelah memasuki tempat acara karena bergabung dengan teman masing-masing.
Nina yang dibalut dengan gaun yang modern berwana dusty dengan mahkota kecil yang menghias di kepalanya sedang sibuk tersenyum ramah dengan para tamu-tamunya didampingi Farhan suaminya. Farhan dengan tuxedo hitamnya juga terlihat gagah sekali malam ini.
Acara berlangsung meriah, sesekali aku berpapasan dengan Fauzi saat kami saling menyapa satu sama lain dengan tamu undangan lainnya. Aku masih saja canggung dan terkadang ada perasaan malu saat berpapasan dengan Fauzi dan dia memberikan senyuman manisnya. Sampai pada sesi foto-foto, aku dan Fauzi kembali naik berfoto di pelaminan bersama kedua mempelai yang sangat bahagia malam ini.
__ADS_1
"Ck, yang nikah kita tapi yang jadi bintang utama malah dua orang ini.." Gerutu Farhan.
"Bukan sayang, kita masih tetap bintang utamanya malam ini, hanya saja melihat Fauzi dan Salwa yang berfoto mendampingi kita berasa kayak mereka foto pasangan dengan pengantinnya.. Hahaha.." Goda Nina.
"Ha ha ha iya ya, kenapa aku gak kepikiran itu tadi.." Farhan ikut tertawa dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Sstt.. kalian berdua ketawa dipelaminan kayak sekarang sementara aku dan Salwa disni sama kalian. Bisa-bisa tamu yang lain salah-salah berfikiran.." Tegur Fauzi.
Mereka kembali saling melempar candaan dan aku hanya merespon dengan tersenyum karena tidak tahu harus berkata dan menanggapi bagaimana. Mereka selalu berbicara seolah Fauzi adalah laki-laki yang masih sendiri saat ini, ataukah memang mereka tidak tahu tentang pernikahan Fauzi. Tapi kenapa Fauzi menyembunyikannya bahkan sesekali ikut merespon seolah dia masih sendiri. Lalu Annisa juga, kenapa sering sekali membahas hal yang sama padahal dia yang menyusun desain undangann Fauzi. Ah aku makin tidak mengerti dengan mereka.
"Ha ha kali ini gue serius Lu cepat nyusul gih, Lu jangan kelewat santai. Jangan lupa sama umur bro.."
"Elah Han, kan gue udah bilang kalau nanti jodohnya ketemu ya gue pasti nikah lah.."
"Noh itu Salwa nganggurr.." Kata Farhan sambil melirikku.
"Ha ha kalau orangnya mau, besok gue lamar deh.." Kata Fauzi tertawa ringan.
"Ha ha ha.. Salwa siap-siap gih besok bakal di lamar tuh.." Goda Annisa.
"Kalian jangan ngaco.. I itu tidak mungkin terjadi.." Jawabku sedikit terbata-bata meski aku sudah berusaha untuk bicara dengan biasa-biasa saja, tapi karena detak jantungku berdetak kencang sekali membuatku jadi gugup.
Ekspresi Fauzi seketika berubah mendengar jawabanku. Nina dan Farhan secara bersamaan menatapku kemudian kembali menatap Fauzi lalu mereka saling bertatapan. Suasana sejenak menjadi canggung.
"Apa? Kenapa mereka seperti ini? Kenapa ekspresi mereka semua berubah? Apa aku salah bicara? Aku kan cuman tidak ingin hal semacam ini di jadikan bercandaan, kekasih Fauzi bisa terluka kalau dia dengar pembahasan kita barusan" Pikirku kebingungan.
"Ha ha ha" Farhan tertawa dengan canggung berusaha mencairkan suasana. "Kenapa malah ngebahas kalian berdua sih, kan yang nikah aku sama Nina.."
"I iya nih.. Ha ha udah ayo lanjut foto-foto" Tambah Nina kemudian kembali menggandeng lenganku mengajakku foto bersama. Aku melirik Fauzi, dia hanya tersenyum dengan ekspresinya yang tidak karuan.
__ADS_1
Acara resepsi pernikahan Nina dan Fauzi akkhirnya hampir selesai. Beberapa tamu sudah izin pulang kepada kedua mempelai dan kerabat beserta keluarga mempelai. Perlahan tamu mulai pulang dan seisi gedung yang sedari tadi riuh perlahan menjadi sepi. Tinggal beberapa saja yang tinggal yang masih mengambil gambar dengan kedua mempelai dan kerabatnya. Aku dan Fauzi juga akhirnya pamit untuk pulang.
Fauzi kembali mengantarku pulang, dia tidak seperti saat kami berangkat tadi. Sekarang dia lebih diam dibanding sebelumnya, aku juga tidak mengerti akhirnya juga hanya bisa terdiam. Aku selalu berfikir dan berusaha mengingat kata-kata apa yang sudah aku ucapkan sampai suasananya seperti ini sekarang.
"Salwa, aku mau nanya sesuatu tapi ini sedikit pribadi, apa boleh?" Tanya Fauzi memecah keheningan diantara kami.
"Boleh, tanya apa?"
"Kamu punya tunangan?" Tanya Fauzi tetap fokus menyetir.
"A apa? Tu tunangan?" Pertanyaan Fauzi membuatku terkejut, kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal ini.
"Iya.." Jawabnya menatapku sejenak kemudian kembali fokus menyetir.
"Gak, aku gak punya.."
"Kalau pacar??"
"Gak jugaa.." Jawabku masih kebingungan. Kenapa dia bertanya seperti ini.
Aku melihat Fauzi sedikit tersenyum mendengar jawabanku. Kenapa tersenyum? Apa dia sedang mengejekku sekarang karena masih jomblo dan dia sudah punya kekasih. Kenapa ini membuatku sedikit kesal mengingatnya.
"Kenapa?" Tanyaku bingung dan sedikit kesal.
"Gak, aku cuman mau tau saja.." Jawabnya dengan wajahnya yang masih tersenyum, tidak jelas tapi membuatku kesal.
"Lagi ngejek aku?" Tanyaku kesal.
"Gak, kenapa juga aku ngejek kamu.." Tanya Fauzi kembali.
__ADS_1
Ah aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Fauzi saat ini, yang jelas aku merasa kesal melihat dia tersenyum saat dia tahu aku masih sendiri. Apa dia mau pamer padaku sekarang???